Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Cerita Yodha bag. 2


__ADS_3

Lanjut flashback 2 tahun lalu...


"Lalu, bagaimana dengan dunia spirit?" Tanya sang ratu dengan raut wajah serius.


"Tentang dunia spirit, rumor yang beredar berasal dari sebuah buku tentang ilmuwan termasyhur. Beliau bernama Rudolf Ethan, seorang ilmuwan pengembara yang asal-usul nya tak jelas. Ia pernah mengembara ke kota Igor di kerajaan Allain dan bersahabat dekat dengan kepala wilayah di sana,"


"Menurut cerita keluarga dari kepala wilayah yang bersahabat dengan ilmuwan Rudolf, Rudolf pernah menolong putri bungsu dari kepala wilayah tersebut. Dikatakan bahwa putri nya itu telah koma sejak terjatuh dari tangga sejak ia masih berumur lima tahun,"


"Saat Rudolf menolong nya, sang putri sudah berumur delapan belas tahun. Itu berarti sudah tiga belas tahun lama nya sang putri tertidur dalam koma nya,"


Rudolf lalu mengumpulkan banyak sekali tanaman herbal. Lalu tanaman-tanaman itu dikeringkan, ditumbuk, dicampurkan menjadi satu, untuk selanjutnya dibakar sedikit demi sedikit di dalam wadah yang terbuat dari tembikar merah,"


"Dari proses pembakaran itu akan keluar asap kehijauan yang menjalar ke seisi ruangan tempat sang putri berada,selama tujuh hari tujuh malam lama nya,"


"Selama masa tujuh hari tujuh malam itu, ilmuwan Rudolf duduk bersemedi di dekat pembaringan sang putri. Sebuah tali merah yang terbuat dari ekor sapi betina merah yang masih perawan, diikatkan ke pergelangan tangan sang putri dan juga ilmuwan Rudolf,"


Setelah itu ilmuwan Rudolf memperingatkan kepala pemerintah agar tak ada yang mengganggu semedi nya selama tujuh hari dan tujuh malam tersebut. Walau apapun kondisi yang terjadi," tutur Yodha Azkar bercerita.


"Lalu, apa yang terjadi?" Tanya Tasya penasaran.


Mendengar cerita Yodha, membuat sang ratu jadi tertarik dengan dunia lain selain dunia ini. Apalagi Tasya sudah pernah pergi ke salah dua dari dunia lain itu. Yakni bumi dan Nevarest.


"Setelah lewat tujuh hari tujuh malam, tiba-tiba saja ilmuwan Rudolf terbangun dari semedi nya. Diikuti kemudian oleh sang putri yamg juga ikut terbangun tak lama setelah nya,"


"Semua orang jelas sangat terkejut sekaligus juga bahagia. Karena akhirnya putri bungsu sang kepala wilayah tersadar juga dari tidur koma nya selama belasan tahun,"


"Sejak saat itu lah ilmuwan Rudolf terkenal dan mendapat gelar cenayang pembangkit kematian. Semua bahan dan apa yang dilakukan oleh ilmuwan tersebut dicatat dengan cukup apik oleh saudara sang putri yang koma. Selanjut nya catatan itu pun beredar ke kalangan ilmuwan lain nya," Yodha Azkar menutup cerita nya.


"Lalu, bagaimana dengan ilmuwan tersebut?" Tanya Tasya penasaran.

__ADS_1


"Tiga pekan setelah sang putri terbangun dari koma nya, diadakan lah pesta perayaan terbangun nya sang putri. Sekaligus juga pesta pernikahan sang putri dengan ilmuwan Rudolf. Sepekan setelah acara pesta, pasangan itu lalu pergi dari kota Igor untuk melanjutkan perjalanan nya mengelilingi negeri,"


"Tak ada yang tahu ke mana persis nya tujuan akhir dari ilmuwan Rudolf. Kepala wilayah saat itu hanya mendengar dari Rudolf kalau ilmuwan tersebut hendak menemukan batu mulia ruby dan juga batu mulia azzura,"


"Jika benar apa yang didengar oleh kepala wilayah saat itu, maka besar kemungkinan ilmuwan Rudolf mengajak serta istri nya ke negeri Goluth. Tempat bertebaran nya batu-batu mulia di bumi ini," Yodha Azkar mengakhiri penjelasan nya.


Tasya khusyu mencermati penjelasan Yodha Azkar dengan rasa tertarik yang cukup tinggi. Sampai ketika ia mendengar tentang batu ruby dan batu azzura lah, kemudian Tasya tiba-tiba teringat dengan kalung liontin milik nya dan juga milik Kak Anna.


Tanpa sadar tangan nya meraih bandul liontin berwarna merah ruby yang ia kenakan. Sebuah dugaan pun lalu muncul ke dalam benak sang ratu.


'Apa jangan-jangan..'


Tasya langsung menyuarakan dugaan nya itu ke ilmuwan Yodha Azkar. Sebelum nya, terlebih dulu ia memastikan sesuatu pada sang ilmuwan.


"Maaf, Tuan. Siapa tadi nama panjang ilmuwan Rudolf?" Tanya Tasya dengan jantung yang berdebum lebih cepat dibanding beberapa menit sebelum nya.


Meski pun tak mengerti alasan dibalik pertanyaan sang ratu, ilmuwan Yodha tetap menjawab pertanyaan dari Tasya itu.


"Rudolf Ethan.. Rudolf Ethan. R. E. Scholinszky.. apa benar.. ah! Aku harus menanyakan nya langsung ke Daffa!"


Tasya pun bergegas pamitan ke sang ilmuwan yang memberi nya tatapan bingung.


Sang ratu lalu mencari raja ke ruang balairung. Dengan telepati nya, Tasya memanggil nama Daffa berkali-kali. Sampai kemudian ia menjumpai Daffa di lorong jalan.


Kemudian Tasya langsung memeluk Daffa sebagai bentuk kamuflase nya agar tak dicurigai oleh pasukan bayangan. Sementara dengan telepati nya, Tasya pun bertanya kepada Daffa.


'Yang! Nama kakek mu yang ilmuwan itu siapa? Aku lupa!' Seru Tasya bersemangat.


'Huh? Kamu kenapa, Dear? Tiba-tiba peluk dan nanya soal kakek buyut ku?' tanya Daffa lewat telepati pula.

__ADS_1


Masih sambil memeluk Daffa, Tasya lalu kembali berkata.


'Cepat bilang aja. Siapa nama panjang kakek mu yang ilmuwan itu!' desak Tasya tak sabar.


'err.. nama panjang eyang adalah.. Rudolf Ethania Scholinszky..' jawab Daffa.


'Tuh kan! Dugaan ku memang benar!' Tasya melompat-lompat kesenangan sambil memeluk Daffa.


Membuat perhatian beberapa pengawal yang berdiri di belakang Daffa jadi tertuju kepada nya.


Daffa pun susah payah menahan geli karena ingin menertawakan tingkah sang ratu. Ia membalas senyuman lebar Tasya dengan senyuman lebar milik nya sendiri.


Kemudian pandangan Tasga menangkap tatapan para pengawal di belakang Daffa. Seketika itu jua ia pun terdiam dan digempur oleh rasa malu.


'Ya ampun! Lupa banget aku, kalau ada pengawal di belakang kamu, Yang. Kenapa gak ingetin aku sih?!' cecar Tasya yang kini kembali menyembunyikan wajah nya ke dada bidang Daffa.


Sontak saja tawa Daffa pun pecah membahana di lorong panjang tempat mereka berada saat itu. Tawa yang terdengar renyah dan membuat siapapun yang mendengar nya jadi terkejut dan lalu tersenyum.


Raja muda dari Nevarest itu memang dikenal sebagai raja yang tegas, cerdas dan juga simpatik. Bersama dengan Ratu Tasya, kekuasaan Raja Daffa disambut baik oleh seluruh rakyat nya. Terlebih dengan adanya kemajuan di seantero wilayah Nevarest. Sehingga kehidupan penduduk di negeri itu pun berangsur lebih baik dari kekuasaan raja dan ratu sebelum nya.


Merasa malu sekaligus kesal karena ditertawakan oleh Daffa, Tasya pun memutuskan untuk langsung berbalik dan kembali ke kamar mereka. Meninggalkan Daffa yang masih kesulitan untuk menahan kekehan nya.


"Hahaha.. dear, mau ke mana? Tunggu saya dong!" Pamggil Daffa di belakang Tasya.


Seketika itu juga Tasya langsung menoleh dan memelototi Daffa. Ia lalu mengedikkan kepala nya ke arah para pengawal di belakang Daffa. Sehingga Daffa pun tersadar kalau ia sudah memanggil nama kesayangan nya terhadap Tasya di depan para pengawal nya.


Gantian Daffa yang kini susah payah menahan malu. Raja muda tersebut lalu berdehem dan menggegaskan langkah nya menuju Tasya.


Sementara itu Tasya merasa lebih baik saat melihat Daffa yang bertingkah menahan rasa malu beberapa detik sebelum nya. Ia pun membalas kekehan Daffa tadi dengan cengiran lebar.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu pun pergi menuju kamar mereka dengan kedua tangan yang saling bergenggaman.


***


__ADS_2