
"Tapi akhirnya hamba bertemu dengan Tuan Bahm. Dan sejak hari itu lah hamba tak pernah lagi merasa kelaparan. Hamba bisa belanja barang-barang yang tak pernah bisa hamba beli. Atau pun pergi ke tempat-tempat yang tak pernah hamba kunjungi. Semua ini karena kebaikan hati dari Tuan Bahm," Soraya menyimpulkan kisah hidup nya yang penuh derita.
Mendengar penuturan Soraya tersebut, Karina masih tak rela rasanya untuk membiarkan Soraya dalam status nya sebagai simpanan bangsawan bernama Bahm. Entah kenapa Karina justru menyimpan rasa tak suka terhadap lelaki yang sama sekali tak ia ketahui rupa wajah nya itu.
Menurut Karina, bangsawan Bahm datang di waktu yang tidak tepat. Lelaki itu tak seharusnya nya mengangkat derajat Soraya menjadi seorang wanita simpanan. Karena status tersebut justru lebih menyedihkan bila dibandingkan dengan status Soraya saat masih menjadi pelayan nya dulu.
"Jadi, Yang Mulia hendak ke mana sekarang?" Tanya Soraya kemudian.
Karina baru mau menjawab pertanyaan eks pelayan pribadi nya itu, namun ia teringat kalau ia tak bisa bicara lagi.
"Oh! Tunggu sebentar! Seperti nya hamba mempunyai pulpen di suatu tempat. Sebentar ya, Yang Mulia!" Seru Soraya sambil beranjak bangun dan mencari pulpen yang dimaksud.
Tak sampai lima menit, wanita muda tersebut kembali dengan selembar buku dan juga pulpen. Soraya lalu menyerahkan dua benda itu ke tangan Karina.
Karina paham dengan maksud Soraya. Sehingga tanpa menunda waktu lagi, ia langsung menuliskan apa yang ingin dikatakan nya kepada Soraya.
'Aku harus menemui Daffa!' tulis Karina pada kertas tersebut.
Selesai membaca apa yang ditulis Karina, Soraya pun bertanya.
"Daffa.. maksud nya baginda raja Daffa, Yang Mulia??" Tanya Soraya.
Karina mengangguk.
"Kenapa tidak langsung ke kediaman nya saja? Bukan kah baginda raja dan ratu Nevarest tinggal di hotel yang sama dengan tempat Yang Mulia menginap?" Tanya Soraya kebingungan.
'Elfran tak akan membiarkan ku bertemu dengan nya sendirian. Aku pasti akan kembali ditangkap nya. Dan.. kau tahu sendiri bukan bagaimana Elfran?' tulis Karina lagi.
Selesai membaca tulisan Karina, Soraya terlihat mengusap tengkuk nya yang tiba-tiba terasa dingin. Ia jelas tahu sekali bagaimana kekejaman raja Goluth tersebut.
__ADS_1
Sang raja muda yang tiba-tiba muncul menggantikan raja sebelum nya yang sakit parah sekitar enam tahun lalu. Telah menetapkan banyak peraturan baru yang membuat rakyat Goluth semakin sengsara.
Raja Elfran menebarkan teror mengerikan di antara rakyat. Seperti misal nya memasung kepala rakyat pemberontak di alun-alun kota, atau menjadikan seorang terhukum sebagai makanan bagi singa-singa lapar dan menjadikan nya tontonan orang-orang.
Raja Elfran adalah seorang penguasa yang dikenal keji dan lagi kuat. Ada rumor yang mengatakan kalau sang raja muda adalah anak bungsu mendiang raja sebelum nya yang sengaja dibuang karena membawa ramalan buruk bagi negeri Goluth.
Sayang nya, mendiang raja sebelum nya tak tega untuk melenyapkan putra bungsu nya itu sejak diramalkan sebagai pembawa petaka. Dan hanya membuang nya ke tempat yang tak siapa pun mengetahui nya.
Sang bayi yang dulu terbuang, tiba-tiba muncul kembali. Wajah nya adalah copy an mendiang sang raja. Namun kekejian nya berkali-kali lipat dari raja-raja sebelum nya.
Tak ada yang berani melawan sang raja baru. Karena semua orang meyakini, bahwa siapapun yang melawan raja Elfran, maka tak ada lagi hari esok untuk dilihat nya lagi.
"Baginda raja pastilah akan marah besar kepada Yang Mulia. Kalau begitu, Yang Mulia harus segera pergi dari sini! Karena pasti akan dilakukan pencarian sampai ke tempat ini, Yang Mulia! Apalagi Yang Mulia membawa putri Rinaya pula. Tentu tak akan sulit untuk mencari seorang ibu dan anak dengan ciri-ciri fisik seperti Yang Mulia!" Seru Soraya dengan teror di wajah nya.
Hati Karina mencelos. Ia kira Soraya bisa membantu nya untuk bisa bertemu dengan Daffa. Karena ia tak tahu lagi kepada siapa ia akan meminta bantuan.
'Jadi Mama Rinai mau bertemu Ayahanda Daffa?' tanya sosok makhluk halus di samping Rinai.
'Tunggu dulu! Apa kata nya tadi? Ayahanda?' Karina menatap heran pada spirit Huna.
Sementara Huna membalas balik tatapan Karina dengan pandangan bertanya. Ia pun mengulangi pertanyaan nya lagi.
'Jadi Mama Rinai mau bertemu Ayahanda Daffa? Kalau begitu, biar Huna bawa Ayahanda ke tempat ini bagaimana?' sang spirit menawarkan bantuan.
Ucapan Huna itu tak langsung mendapat respons dari Karina. Karena ia sempat melongo terlebih dulu selama beberapa waktu.
Sampai ketika ia menyadari makna ucapan sang spirit, barulah Karina memberikan respons nya.
Tiba-tiba saja wajah Karina menjadi berseri. Ia pun menganggukkan kepala nya berkali-kali ke arah spirit Huna. Tahu kalau Huna mungkin belum bisa membaca bila ia menuliskan persetujuan nya di selembar kertas.
__ADS_1
Karena menurut perkiraan Karina usia sang arwah mungkin tak lebih dari enam tahun. Rinaya pun baru belajar beberapa huruf saja. Jadi kemungkinan besar Huna pun sama-sama tak bisa membaca.
'Oh, baiklah. Kalau begitu, Huna pergi dulu ya Mama Rinai, dan Rinai. Kalian tunggu dulu ya di sini. Huna akan segera kembali,' ucap Huna sebelum akhirnya melayang menembus dinding.
Karina masih tampak berseri-seri sambil melihat ke arah tembok tempat spirit Huna menghilang. Pemandangan sang ratu yang tiba-tiba saja berubah jadi ceria itu tentu membuat Soraya jadi terheran-heran.
Soraya tak bisa melihat arwah seperti Karina. Meski begitu ia tahu dengan kemampuan Karina yang bisa melihat arwah saat ia masih bekerja di istana. Kemampuan Karina itu sering membuatnya bergidik ngeri.
Karena nya Soraya selalu meminta Karina untuk tak mengatakan kepada nya bila ada arwah di dekat-dekat mereka.
"Apa.. baru saja ada hantu di sini, Yang Mulia?" Tanya Soraya takut-takut.
Perhatian Karina pun kembali teralih ke Soraya. Dan ia menyadari kalau ia telah membuat Soraya menjadi takut.
Meski merasa bersalah, Karina tetap menjawab pertanyaan Soraya dengan sejujur-jujur nya. Ia menganggukkan kepala nya sekali. Kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas yang ia pegang.
'Ya. Dia teman Rinaya. Hantu yang baik, kok!' tulis Karina.
Membaca apa yang ditulis oleh sang ratu, Soraya tetap saja bergidik ngeri. Diusap-usap lengan nya berkali-kali demi mengusir aura merinding yang tiba-tiba mendera nya. Mata nya lalu melirik ke sekitar dengan pandangan takut.
"Te..teman putri Rinaya? Hantu baik?" Soraya membeo ucapan Karina dengan nada tak percaya.
Dalam hati nya ia bergumam, 'sekalipun hantu nya baik. Tapi tetap saja mereka itu hantu. Iih.. kenapa juga putri Rinaya mewarisi kemampuan seperti Ratu ya?' gumam Soraya sambil memandang iba pada Rinaya.
***
Sementara itu, spirit Huna langsung melesat pergi menuju kamar Hima. Ia sebenarnya masih kesal dengan saudara kembar nya itu.
Tega-tega nya Hima tak mau membantu Rinai! Kali ini, Huna akan memaksa Hima untuk menolong teman baru nya itu. Ia harus membawa Ayahanda menemui Mama Rinai.
__ADS_1
Walau dengan cara apapun jua.
***