Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Bangsawan Scholinszky


__ADS_3

Setengah jam berikutnya, Tasya membincangkan hal lainnya bersama Anna dan Zizi. Baru kemudian ia mengikuti Daffa untuk mengunjungi rumah keluarga suami nya itu.


Rumah keluarga bangsawan Linszky terletak di tepi pusat kota Nevarest. Luas nya sekitar 300 meter persegi.


Keluarga bangsawan Scholinszky dikenal sebagai keluarga yang rendah hati dan terpelajar. Sejarah mencatat bahwa keluarga Scholinszky telah mengabdi pada keluarga kerajaan sejak 6 generasi sebelum nya.


Menghilang nya Daffa secara tiba-tiba sekitar enam tahun yang lalu membawa duka mendalam bagi keluarga tersebut. Karena Daffa adalah satu-satu nya penerus dalam keluarga bangsawan itu.


Daffa sebenar nya memiliki seorang kakak kembar laki-laki. Akan tetapi kakak Daffa telah meninggal sejak ia terlahir ke dunia. Dan semenjak itu, ibunda Daffa tak lagi bisa mengandung seorang anak pun.


Karena nya, kepulangan Daffa kembali ke Nevarest menjadi kejutan besar bagi keluarga Scholinszky pada sore hari itu.


Sebelum Daffa datang ke halaman rumah nya, Tuan Arca Scholinzky (Ayah Daffa) telah mendapat kabar dari salah seorang guru di sana. Bahwasanya Daffa pulang bersama Tuan Putri Tasya.


Yang membuat Tuan Arca terkejut adalah berita bahwasanya putra nya itu telah menikah dan bahkan memiliki seorang bayi dengan Tuan Putri Tasya.


Pada mula nya Tuan Arca mengira kalau teman nya yang bekerja sebagai guru di istana itu sedang mencandai nya. Namun sekitar dua jam setelah ia mendnegar berita itu, sebuah surat dikirim oleh seorang kasim di istana.


Dari kasim itu ia mendengar kabar serupa seperti yang disampaikan oleh teman nya sekitar beberapa jam yang lalu.


Yang membuat Tuan Arca percaya adalag saat ia membaca tulisan putra kandung nya itu pada secarik surat yang dibawakan oleh kasim tersebut.


Arca sangat mengenali tulisan Daffa. Karena ia telah mengajarkan putra nya itu menulis sejak Daffa masih kecil.


Arca juga sering mendiskusikan beberapa hal terkait jurnal milik almarhum kakek nya, ilmuwan R.E. Scholinszky bersama Daffa di ruang perpustakaan rumah nya. Karena nya, hanya dalam sekali lihat, Arca langsung bisa memastikan keaslian surat dari Daffa tersebut.


Daffa mengabarkan kalau sore nanti, ia akan pulang ke rumah.


Setelah membaca surat dari putra nya itu, Arca lanfsunf memberi kabar pada istri nya. Saat itu Miura, sang istri, sedang merapihkan daun tanaman bonsai yang ia tanam di pekarangan samping rumah mereka.


Sejak menghilang nya Daffa,selain Arca, yang paling merasa bersedih di rumah tersebut tentu saja adalah Miura. Namun Miura adalah seorang yang penyabar. Ia berusaha mengalihkan rasa sedih nya kepada pohon-pohon hias yang ia tanam dan rawat dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Bagi Miura, menyibukkan diri dalam merawat tanaman terasa jauh lebih baij dibanding harus berkumpul bersama tetangga dan teman-teman nya. Karena setiap kali Miura bertemu mereka, selalu saja akan ada yang membahas perihal hilang nya Daffa. Dan itu membuat Miura jadi semakin sedih.


Setelah mendengar berita menggembirakan dari sang suami, Miura merasa seperti matahari nya telah kembali. Tanpa perlu pikir panjang, ia meletakkan gunting yang ia pegang ke dekat pohon bonsai, lalu mengambil surat Daffa dari tangan Arca.


Miura ingin melihat sendiri surat yang telah ditulis oleh putra nya yang telah menghilang lebih dari enam tahun yang lalu itu.


Selesai membaca surat itu sekali, Miura tak merasa puas. Karena nya ia membaca surat itu untuk yang kedua, ketiga, dan hampir saja akan membacanya untuk yang keempat kali jika saja Arca tak menghentikan nya.


"Kita harus menyiapkan rumah ini untuk kepulangan putra Kita, De.. Apalagi Ai dengar Daffa telah menikah dengan putri Tasya dan memiliki seorang bayi," tegur Arca kemudian.


"Apa?! Kanda ucap apakah tadi? Apakah Titiang salah mendengar nya?" Tanya Miura tak percaya.


(Ai dan titiang memiliki makna yang sama, yaitu "saya". Umum nya digunakan untuk menyebut diri sendiri saat berhadapan dengan orang terkasih).


Arca meraih tangan sang istri dan mere mas nya kuat. Berusaha menyadarkan Miura bahwa mereka sedang tak bermimpi dan ia sungguh telah mengatakan yang sebenar nya.


"Ai selalu mengatakan kebenaran kepada mu, De.. Daffa, putra kita sungguh akan pulang ke rumah ini sore nanti. Jadi kita harus mempersiapkan rumah ini seindah mungkin!" Seru Arca bersemangat.


"Ah! Tentu! Tentu! Dan makanan, dan kamar, dan semua nya, Kanda! Kita harus mempersiapkan semua nya untuk Daffa dan putri dan juga.. juga.. cucu kita? Kanda benar kah kita sedang tak bermimpi saat ini? Titiang merasa terlalu bahagia saat ini!" Seru Miura.


Tanpa sadar, dua bulir air menganak sungai dari ujung kedua mata milik Miura. Ia sungguh merasa kelewat bahagia dengan berita mengejutkan ini.


Setelah bertahun-tahun ia hidup dalam rasa duka nya karena kehilangan satu-satu nya putra yang tersisa yang ia miliki. Dan sekarang putra nya dikabarkan akan kembali lagi? Miura merasa sulit untuk mempercayai ini.


Melihat pendamping hidup nya selama tiga puluh tahun lebih itu menangis, hati Arca ikut bersedih untuk Miura.


Arca mengerti dengan apa yang dirasakan oleh istri nya itu saat ini. Karena ia pun sebenar nya masih meyakinkan diri nya bahwa berita Daffa itu sungguh benar ada nya. Dibuktikan oleh secarik surat yang kini berada dalam genggaman istri nya itu.


Dengan lemah lembut, Arca langsung menarik Miura ke dalam pelukan nya. Diusapny rambut putih Miura yang tergerai panjang hingga sepinggang berkali-kali.


Arca berusaha menabahkan hati snag istri yang sangat dicintai nya itu. Sepanjang ia mengenal Miura, hanya dua kali saja ia pernah melihat air mata sang istri.

__ADS_1


Yang pertama adalah saat menerima kabar kalau saudara kembar Daffa terlahir mati selagi bayi. Dan kedua adalah saat mereka menerima kabar kalau Daffa telah menghilang, menyusul putri Tasya yang sebelum nya juga dikabarkan telah menghilang.


Dengan begitu, kali ini adalah kali ketiga bagi Arca melihat Miura menangis. Untuk sebab itu lah ia pun merasa hati nya ikut merasakan sakit seperti yang dirasakan oleh Miura saat ini.


Masih sambil mengusap-usap rambut halus Miura, Arca pun berkata.


"Ini sungguh berita yang benar ada nya, De. Daffa kita akan kembali. Surat ini adalah bukti nya. Tidak kah De bisa mengenali tulisan putra kita itu? Lihat saja bentuk hurur A di awal kalimat nya. Bukankah Daffa selalu memberikan ekor yang lebih panjang pada huruf A di banding tulisan orang-orang lain nya?" Ujar Arca sambil tiba-tiba menunjuk ke huruf A yang dimaksud.


Miura ikut melihat huruf yang ditunjuk oleh Arca. Dan memang benar. Ia sangat mengenali gaya tulisan putra nya itu. Mengingat hampir setiap tahun Daffa selalu menuliskan surat untuk nya di hari peringatan Ibu.


Dua alitan air di wajah Miura kian menderas hingga mengaburkan pandangan nya pada apa yang tertulis di atas kertas. Dengan tergesa-gesa, Miura menghapus bekas tangis nya dengan kain yang tersampir di saku gaun yang ia kenakan.


Tak ingin surat dari Daffa menjadi basah terkena air mata nya.


Dengan hati-hati, Miura langsung melipat surat itu kembali dan mendekap nya erat ke dada. Berharap sangat ia akan bisa memeluk penulis surat tersebut pada sore hari nanti.


"Kalu begitu, Titiang akan menyiapkan semua nya, Nda! Cucu! Ya Maha Raja! Aku sudah mempunyai seorang cucu!" Ucap Miura sambil bergegas pergi untuk mencari pelayan setia nya, Ande.


"Ande.. Ndee.. " panggil Miura pada pelayan setia nya itu.


Arca melihat gelagat sang istri dengan hati bahagia. Rasa syukur itu merajai hati nya saat ini, manakala ia melihat senyuman lebar yang terpampang di wajah sang istri sesaat tadi.


Arca berharap pertemuan sore nanti akan benar-benar terjadi. Jika saja ia mampu, Arca sevenar nya ingin pergi ke istana langsung saat ini jua.


Namun bila Arca mengingat pada apa yang menguasai istana saat ini, ia langsung dihinggali oleh rasa enggan dan juga was-was.


Istana bagi nya saat ini tampak seperti medan peperangan tak terlihat di antara keluarga kerajaan dan juga musuh asing yang belum diketahui identitas nya.


Jika benar kalau putra nya, Daffa telah menikah dengan putri Tasya, Arca sudah bisa membayangkan kehidupan pelik yang harus dihadapi oleh putra dan menantu nya itu.


Sebuah kerutan dalam pun muncul di antara kedua alis sang bangsawan Scholinszky. Dalam hati nya, lelaki paroh baya itu melantunkan doa dan pengharapan yang baik untuk masa depan Daffa, keluarga baru nya, dan juga negeri Nevarest ini.

__ADS_1


***


__ADS_2