Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Percakapan Boru dan Magenta


__ADS_3

Di sebuah kota tertinggal di perbatasan kerajaan Goluth..


Sepasang ibu dan anak tinggal di sebuah rumah sederhana yang tersusun dari tumpukan batu. Rumah itu hanya terdiri dari empat ruangan berukuran kecil. Di mana pada salah satu kamar tidurnya, seorang anak kecil berambut merah menyala kini sedang pulas tertidur.


Usia anak itu sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Nama nya adalah Dion.


Magenta, wanita bertubuh gempal yang menghuni rumah batu itu pertama kali menemukan Dion berjalan sendirian di jalanan.


Saat ini wanita paro baya itu sedang memasak sup sagu yang ia campur dengan daun seledri. Ini adalah cemilan wajib yang biasa ia siapkan untuk putra satu-satu nya yang bernama Boru.


"Bu, Boru pulang!" Sapa Boru yang baru saja masuk ke dalam rumah. Setumpuk ranting kering ia letakkan di dekat tungku perapian.


"Bagus! Kemari lah, Nak! Sup sagu nya sudah matang," ujar Magenta yang menyajikan semangkok sup sagu untuk Boru.


Terlebih dulu Boru membersihkan diri. Baru kemudian mendekati meja makan berbentuk bundar yang ada di pojok ruangan. Tak butuh waktu lama, sup sagu itu pun tandas di lahap nya.


Setelah menenggak segelas air putih, Boru bertanya pada ibu nya.


"Anak itu masih tidur, Bu?" Tanya Boru.


"Maksud mu Dion, Nak? Ya. Seperti nya demam nya sudah turun. Biarkan saja ia pulas tidur. Mungkin ia memang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Entah apa yang sudah dialami oleh anak itu saat sendirian di jalanan. Kau lihat juga kan semua luka yang ada di tangan nya?" Magenta mengoceh panjang lebar.


Ya. Boru pun telah melihat banyak nya luka seperti bekas tusukan di tangan anak lelaki itu. Sebersit rasa iba pun bercokol di benak Boru yang ditujukan nya pada anak yang bernama Dion itu.


Telah tiga hari Dion ikut tinggal bersama dengan nya dan sang ibu. Dan persis di malam pertama saat anak itu tinggal, Dion dilanda demam yang sangat tinggi.


Magenta pun bergegas membuat popokan bawang dan asam hitam yang kemudian dibalurkan ke seluruh tubuh Dion. Sebuah upaya sederhana untuk menurunkan panas dan juga demam.


Sebenarnya nya Boru tak suka bila Dion tinggal di rumah mereka. Karena itu berarti ada tambahan mulut yang harus ia pikirkan untuk diberi makan. Sementara untuk kehidupan berdua dengan ibu nya pun Boru sudah pas-pas an.


Tapi tentu saja. Boru selalu dikalahkan oleh kebaikan hati yang dimiliki oleh ibu nya, Magenta. Menurut Magenta, membiarkan orang lain kesusahan ketika kita bisa menolong nya itu bukan tindakan yang bisa dibenarkan. Jadi lah akhir nya Boru harus menerima keberadaan Dion di rumah mereka.


"Ibu heran. Sebenar nya dari mana ya Dion berasal? Ciri fisik nya tak seperti dari Goluth," ujar Magenta bergumam.

__ADS_1


Penduduk Goluth terbagi menjadi dua ras. Ras berkulit putih dan ras berkulit hitam. Untuk ras berkulit putih biasa nya memiliki mata pencaharian yang lebih baik dibanding ras berkulit hitam. Karena penduduk berkulit hitam (seperti Boru dan Magenta) umum nya hanya menjadi kuli kasar dan pemulung saja.


Kecuali jika mereka memiliki inner power yang cukup bagus. Baru lah mereka akan di rekrut untuk menjadi prajurit istana.


Boru memiliki inner power pencipta api. Sayang nya ia hanya mampu membuat api seukuran api unggun saja. Jadi kemampuan nya itu tak cukup baik untuk membuat nya jadi prajurit istana.


Kembali tentang Dion yang masih pulas tidur di kamar Boru.


"Mungkin dia anak bangsawan dari ras putih. bu. Bukankah akhir-akhir ini banyak bangsawan yang bangkrut sehingga bahkan mereka begitu tega menjual anak mereka sendiri?" Jawab Boru berasumsi.


Magenta menghela napas kasar.


"Hh.. kalau benar begitu, kasihan sekali ya anak itu. Ibu tak bisa membayangkan, bagaimana bisa orang tua Dion menjual putra mereka sendiri. Entah apa yang bisa dilakukan oleh anak sekecil itu!" Magenta mendengus gusar.


"Orang kaya kebanyakan memang seperti itu kan, Bu. Mereka melupakan hati nurani demi keuntungan yang bisa diraih sendiri," tutur Boru dengan nada ketus.


"Hh.. tak semua orang kaya seperti itu Boru.. jangan menghakimi seluruh golongan hanya dari satu atau dua bagian nya saja," tegur Magenta.


Magenta kini ikut duduk di samping Boru. Ia pun kini melahap sup sagu yang dibuat nya sendiri.


Magenta tak menyahut lagi. Putra nya itu memang selalu memiliki pandangan sinis terhadap orang asing. Terutama pada golongan bangsawan dan orang-orang kaya. Karena ayah Boru pernah diperlakukan tidak adil oleh bangsawan yang menjadi tempat nya bekerja dulu. Bahkan karena bangsawan itu pula Ayah Boru meregang nyawa nya dengan cara yang tragis.


Jadi Magenta mengerti benar penyebab Boru selalu bersikap sinis terhadap orang kaya. Karen Boru kehilangan ayah yang sangat dekat dengan nya di tangan orang-orang kaya.


"Bu, Boru mendengar berita. Katanya kota Byak baru saja dikuasai oleh pasukan nya raja Daffa," tutur Boru bercerita.


"Kota Byak? Secepat itu?!" Tanya Magenta terheran-heran.


"Ya. Sekitar tiga hari yang lalu. Begitu kata pedagang kayu bakar yang Boru temui di hutan tadi," Boru menerangkan by lebih detail.


"Tapi kata pedagang kayu bakar itu ya Bu, raja Daffa bersikap aneh sekali terhadap wilayah yang baru dikuasai nya itu!"


"Aneh bagaimana, Nak?"

__ADS_1


"Tak ada harta penduduk yang dijarah oleh pasukan raja Daffa. Bahkan kata nya raja Daffa melarang prajurit nya untuk berlaku kasar terhadap penduduk kota Byak."


"Sungguh?"


"Iya. Begitu kata pedagang kayu bakar itu, Bu. Kebetulan ada saudara pedagang itu yang tinggal di kota Byak. Dan ia bercerita kalau sejak pendudukan raja Daffa di kota itu, ada banyak kebijakan baru yang membuat penduduk nya merasa senang," imbuh Boru kembali.


"Seperti apa kebijakan nya, Nak?" Kini perhatian Magenta benar-benar tertarik pada cerita yang disampaikan oleh putra nya. Ia bahkan melupakan sup sagu yang masih ada separuh pada mangkok di depan nya.


"Seperti misal nya raja Daffa menyita harta perbendaharaan wali kota di sana. Menurut pedagang kayu bakar yang Boru temui, wali kota Byak dikenal suka menjarah harta penduduk secara paksa. Dan ia juga mengenakan tarif okre (pajak) yang sangat tinggi."


"Ya. Ya. Ibu pun pernah mendengar nya. Wali kota Byak bahkan dikenal juga sebagai si penghisap darah rakyat! Begitu yang ibu pernah dengar," imbuh Magenta.


"Ya. Jadi, raja Daffa lalu menyita semua harta wali kota Byak dan mengurung nya dalam penjara dengan dalih telah berlaku korupsi. Entah apa itu korupsi. Tapi seperti nya itu perbuatan yang sangat buruk!"


"Apa? Kongsi?" Tanya Magenta yang kurang mendengar dengan jelas.


"Bukan. Korupsi, Bu. Entah apa arti nya itu."


"Hhmm.. lalu? Apa yang dilakukan raja Daffa dengan semua harta itu?"


"Ibu pasti tak akan percaya ini. Karena raja Daffa lalu membagikan semua harta itu secara percuma kepada para penduduk Byak. Bahkan melebihkan nya bagi para lansia dan juga kaum gelandangan!"


"Tak mungkin!" Sanggah Magenta tak percaya.


"Ya. Boru pun sulit untuk mempercayai nya Bu. Tapi begitulah cerita dari pedagang kayu bakar yang Boru temui di hutan. Entah ucapan nya itu benar atau tidak, Boru juga tak tahu."


"Rasa nya ibu sulit untuk mempercayai nya, Nak. Tapi jika itu berita yang benar, maka ibu juga mau kalau raja Daffa menguasai kota kecil kita ini, Nak. Tentu akan sangat menyenangkan bila raja Daffa juga bisa menyita harta para taipan di kota ini yang telah sewenang-wenang dengan rakyat kecil seperti kita!" Magenta pun berandai-andai.


"Ya. Boru pun berharap begitu, Bu. Tapi kita tak tahu juga kan ke mana lagi raja Daffa akan membawa prajurit nya. Semua peperangan ini membuat kehidupan jadi semakin sulit. Orang-orang jarang ada yang mau diajak barter makanan lagi, Bu. Mereka takut peperangan ini akan berlangsung lama. Jadi mereka menyetok persediaan makanan untuk keluarga nya sendiri," oceh Boru yang mengeluhkan situasi nya saat ini.


"Yahh.. apa lagi yang bisa dilakukan oleh rakyat jelata seperti kita, Nak? Kita hanya perlu menyambung hidup dari hari ke hari saja. Sambil berharap, agar peperangan ini bisa segera berakhir."


"Aamiin.."

__ADS_1


***


__ADS_2