Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Audiensi


__ADS_3

Keesokan hari nya..


Kemarin, Daffa dan Tasya langsung pulang ke puri Anyelir selepas mengunjungi rumah bangsawan Scholinszky. Bersama mereka juga mengikut dua orang pelayan setia yang telah lama bekerja kepada keluarga Arca dan Miura.


Rencana nya, dua pelayan wanita itu akan mengikuti Daffa dan Tasya tinggal di istana sambil membantu menjaga baby Hima. Dengan keberadaan dua pelayan kepercayaan Miura itu pun akhirnya Tasya bisa bernapas lega.


Akhir nya malam pertama nya di istana pun ia bisa melepaskan baby Hima untuk tidur bersama Damsi dan juga Afni, dua pelayan baru nya.


Itu pun dengan bujuk rayu dari Daffa yang menagih es krim kepada Tasya pada malam itu juga.


Tasya dan Daffa bangun shubuh keesokan pagi nya. Selesai shalat, Tasya langsung menghampiri kamar baby Hima. Dan ia merasa tenang karena Hima tak rewel semalaman tadi. Begitu menurut Damsi dan Afni.


Selepas sarapan, Tasya dan Daffa langsung pergi menuju ruang balairung istana. Di depan pintu, ia bertemu dengan kedua saudari nya, yakni Anna dan juga Zizi.


Anna memandang khawatir kepada Tasya. Namun Tasya berusaha menenangkan saudari nya itu dengan sebuah senyuman. Lewat telepati, Tasya pun berkata langsung ke dalam hati sang kakak.


'Tenang lah, Kak. Aku dan Daffa sudah mempunyai rencana untuk audiensi nanti,' ucap Tasya lewat telepati.


Anna memandang penasaran pada sang adik. Dengan mulut nya, ia pun menyahut.


"Apa itu cukup aman?" Tanya Anna.


"Aman. Tenang lah.." sahut Tasya.


Setelah beberapa detik berlalu, Tasya menambahkan. "Baby Hima tidur pulas semalam tadi. Jadi cukup aman lah, Kak," imbuh Tasya lagi.

__ADS_1


Dengan ucapan terakhir nya itu Tasya berharap ia bisa mengecoh para pengintai yang mungkin saja masih mencuri dengar percakapan diri nya dan Anna saat ini.


Mengingat kemarin sore, pengintai itu terhambat di luar ruangan tempat ia berbincang dengan ayah dan ibunda nya Daffa.


Memasuki ruang balairung, Tasya langsung menempati kursi di samping Kak Anna. Sementara kursi tahta dibiarkan kosong begitu saja.


Melihat ke arah kursi tahta, membuat Tasya merasakan sentilan di hati nya. Ia berharap, di manapun ayah mereka berada saat ini, ia berada dalam kondisi sehat.


"Hari ini kita berkumpul di balairung ini untuk menyambut kepulangan kembali putri di kerajaan ini, Putri Tasyafa Maharania!" Ucap penasihat kerajaan baru, penasihat Dabar.


Gemuruh riuh suara pejabat istana pun membahana dalam ruangan itu. Mereka semua menyampaikan salam keselamatan bagi Tasya.


"Selamat sejahtera bagi Putri Tasya! Selamat sejahtera bagi Nevarest!" Seru semua nya setengah hati.


Dalam sekilas pandnag, Tasya langsung bisa menangkap beberapa ekspresi berbeda dari wajah para pejabat istana.


Dan ternyata jumlah pejabat yang antusias dengan kepulangan nya saat ini terbilang sedikit. Mungkin hanya berkisar seperlima saja dari jumlah audien yang hadir.


Tasya lalu melangkah maju ke atas podium yang berada sedikit di bawah kursi tahta raja. Ia pun menyampaikan kalimat resmi pertama nya sebagai putri dari negeri Nevarest ini.


"Salam sejahtera bagi kita semua nya. Sebelum nya Da ucapkan terima kasih yang tak terbatas untuk kesempatan dan sambutan hangat yang Da terima dari semua nya. Da tak menyangka kalau Da akan bisa kembali menjejak ke negeri asal Da. Karena nya kesempatan untuk bisa berada di atas podium ini kembali tentu menjadi hadiah terbaik dari Yang Maha Pemberi," ucap Tasya dalam pidato nya.


"Kepulangan Da kembali membawa serta berita baik bagi negeri ini. Karena Da kembali pulang dengan suami Da yang dulu nya adalah tunangan Da sedari kecil dulu.


"Beliau rela menyelamatkan dan menjemput Da dari suatu tempat yang sulit untuk Da sebutkan di sini. Inti nya adalah beliau telah menolong Da agar bisa kembali ke istana ini bersama kalian semua nya. Terima kasih Da ucapkan kepada suami Da, Daffa Scholinszky!" Seru Tasya berapi-api.

__ADS_1


Seketika itu juga perhatian para audien tertuju pada sosok Daffa yang telah berdiri sedikit di belakang Tasya.


Daffa memberikan anggukan singkat sekali kepada semua orang. Dan ada banyak mata yang memberikan penilaian pada pemuda itu.


Bisik-bisik pun santer terdengar memenuhi ruang balairung. Rata-rata semua orang menyangsikan keabsahan pernikahan sang putri dengan tunangan nya itu. Karena tak ada bukti yang menguatkan kalau kedua nya benar telah menikah.


Anna mengernyit khawatir. Hal ini lah yang paling ditakutkan nya untuk terjadi. Sebelum nya ia sudah mengingatkan Tasya perihal topik pernikahan nya itu. Namun Tasya tak menganggap pusing peringatan dari Anna.


"Suami Da ini adalah satu-satu nya penerus terakhir dari keluarga bangsawan Scholinszky yang termasyhur," imbuh Tasya mengenalkan Daffa kepada semua nya.


"Bersama dengan suami, Da juga membawa pulang bayi lelaki kami yang bernama Himada Malik. Ia adalah anggota baru di keluarga kerajaan ini," Imbuh Tasya kembali.


"Selanjut nya, Da akan menyerahkan topik pembicaraan di audiensi kali ini kembali ke penasihat Dabar," ucap Tasya melemparkan topik pembicaraan kepada snag penasihat.


"Terima kasih hamba sanjungkan kepada Tuan Putri Tasyafa yang telah berkenan untuk kembali ke negeri kita. Salam sejahtera bagia Tuan Putri Tasyafa! Salam sejahtera bagi Nevarest!" Seru penasihat Dabar kemudian.


Kembali, gemuruh seruan pun membahana di ruang audiensi itu.


"Selanjut nya, ijinkan hamba untuk menyampaikan petisi dari beberapa golongan rakyat yang ada. Mengingat tampuk kepemimpinan yang saat ini kembali kosong, banyak penduduk dan para pihak terpelajar yang ingin mengangkat Putri Tasya untuk menjadi ratu berikut nya di negeri ini," ucap Penasihat Dabar.


"Mohon maaf, Penasihat Dabar, apakah petisi itu tergolong otentik? Bagaimana bisa para pelajar mengetahui status keberadaan Putri Tasya. Terlebih lagi dengan status pernikahan nya. Akan sulit untuk memeprcayai kalau para pelajar lah yag mengirimkan surat petisi tersebut!" Ucap Alul Lazam tak jauh dari posisi Tasya berdiri.


Serentak saja banyak mata yang memandang takjub ke arah sang menteri Alul. Mengakui keberanian nya mengemukakan pendapat kontroversial nya tadi.


"Apa maksud ucapan mu itu wahai menteri? Apa engkau menuduh ku yang telah membuat petisi itu? Kalau begitu ucapan ku ini harus ku kembalikan kepada mu!" Tasya menyerobot masuk ke pembicaraan.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya Da merasa heran, wahai menteri seluruh nya. Bagaimana bisa Da yang baru datang kembali ke Nevarest bisa mempunyai pengaruh terhadap para pelajar tadi? Da justru menduga kalau ada pihak asing yang ingin menempatkan Da di kursi tahta. Padahal Da masih yakin kalau raja kita, yakni Raja Jordan akan kembali kepada kita," tutur Tasya panjang kali lebar.


**


__ADS_2