
Setelah mendapati bahwa pencarian mereka berakhir sia-sia, rombongan raja Daffa dan ratu Tasya pun kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Setelah di ruangan hanya tinggal ada Daffa, Tasya, Hima, Afni dan juga spirit Huna, obrolan pun kemudian tercipta.
'Huna gak tahu. Ke mana Rinai dan Mama nya pergi. Padahal Huna udah bilang untuk menunggu Huna di sana,' ucap spirit Huna merasa sedih.
Sang spirit bersedih karena Rinai pergi tanpa berpamitan terlebih dulu kepada nya. Entah di mana sekarang Rinai berada. Padahal Huna baru saja merasa senang karena memiliki teman baru yang bisa diajak nya mengobrol.
"Jangan sedih, Huna. Nanti kita cari Rinai lagi ya!" Hibur pangeran Hima pada saudari hantu nya.
Daffa terperangah heran. Ini adalah kali pertama ia menyaksikan sang putra satu-satu nya mengobrol dengan sosok teman hantu nya. Daffa lalu bertukar pandang dengan Tasya.
Dalam tatapan nya Tasya seolah ingin mengatakan kepada sang raja. 'Tuh kan, ku bilang juga apa! Hima memang sering mengobrol seperti ini dengan teman hantu nya!'
Daffa berdehem cukup keras. Ia mencoba untuk menjernihkan pikiran nya dari berbagai hal yang mengganggu nya.
Setelah itu, Daffa pun bertanya kepada Hima.
"Hima, Sayang.. apa teman hantu mu telah salah memberi tahu lokasi keberadaan Mama Rinai? Apa dia hanya bercanda tentang hal itu?" Tanya Daffa dengan suara pelan.
Untuk sesaat, Daffa merasakan nyeri singkat di bagian lengan kanan nya. Entah karena apa.
Daffa tak tahu, kalau spirit Huna baru saja menggigit lengan nya sekuat tenaga. Sang spirit merasa kesal karena ayahanda nya sendiri memanggil nya dengan nama 'teman hantu'. Ia bersedih sekaligus tersinggung dengan nama panggilan itu.
Sayang nya, hanya Hima yang menyadari kekesalan spirit Huna. Karena itu lah kemudian ia langsung menegur Daffa. Tanpa menjawab pertanyaan ayahanda nya tersebut.
"Jangan panggil Huna dengan nama hantu, Ayah.. Huna kan jadi sedih. Huna juga kan saudari Hima. Jadi jangan membeda-beda kan kami, Yah.." tegur Hima sambil merengutkan wajah nya.
Daffa kembali melongo keheranan. Ia tak menyangka kalau ia akan mendapat teguran dari sang putra terkait teman hantu nya itu
Di samping Daffa, Tasya terkikik geli sambil ikut meledeki sang raja.
"Tuh, Yah! Jangan begitu dong! Huna kita kan jadi sedih tuh dengar nya!" Ucap Tasya tak bisa menahan diri dari meledeki Daffa.
Daffa merasa gemas dengan ledekan ratu nya. Sehingga ia pun langsung menjawil pucuk hidung sang istri dengan sayang. Baru kemudian menghaturkan permohonan maaf nya.
__ADS_1
"Iya. Iya. ayahanda minta maaf ya, Nak. Tapi, di mana sebenar nya ratu Goluth.. maksud ayah, Mama Rinai sekarang? Apakah .. Huna mengetahui itu?" Tanga Daffa kepada Hima.
'Huna gak tahu, Hima. Huna gak tahu Rinai pergi ke mana lagi,' sesal Huna dengan begitu sedih nya.
"Huna gak tahu, Yah," ucap Hima melanjutkan ucapan Huna pada orang-orang dewasa di kamar tersebut.
Tasya lagi-lagi mengusap lengan nya yang terasa dingin. Kali ini ia sudah bisa menebak kalau spirit Huna mungkin berada dekat dengan nya saat ini. Entah kenapa, ia tak terlalu merasa takut lagi kepada Huna.
"Apa jangan-jangan Raja Elfran sudah menemukan istri nya, Yang? Hima bilang, kalau raja Elfran itu jahat kepada ratu nya sendiri. Jika itu benar, tentu kita harus menolong nya bukan?" Tasya mengajukan gagasan.
"Hmm.. "
Daffa sebenarnya ingin menjawab kalau keberadaan ratu Charrine sebenar nya bukan urusan mereka. Akan tetapi setelah dipikirkan nya lagi, kalau menghilang nya ratu Charrine di kerajaan nya kini bisa memberi dampak buruk bagi hubungan bilateral dengan kerajaan Goluth. Daffa pun kembali memikirkan semua kejadian ini dengan sebaik mungkin.
'Benar kata Tasya. Selama sang ratu masih menghilang saat ia berada di negeri kami, maka kami harus menolong nya dari bahaya apapun. Bahkan bahaya yang berasal dari suami nya sendiri.' gumam Daffa dalam hati.
"Kita akan mencari nya lagi, Dear. Bersabarlah.." ucap Daffa pada akhir nya.
Setelah itu kepada Hima, Daffa pun berkata.
Hima menoleh ke Huna yang masih duduk sandaran ke lengan Tasya.
'Iya, Hima. Huna nanti akan bilang ke Ayah kalau Huna tahu di mana Rinai dan Mama nya berada,' janji sang spirit.
Setelah nya Hima pun menyampaikan janji sang spirit kepada ayahanda nya.
"Iya, Ayah. Huna janji akan bilang ke Ayah, kata nya."
***
Sementara itu di suatu ruangan megah berwarna putih gading, sepasang pria dan wanita sedang asik memadu kasih. Tak ada seutas kain pun yang memisahkan kulit kedua nya dari bersentuhan.
Sang wanita dengan tubuh molek nya berusaha menggesek-gesekkan diri nya ke tubuh kekar sang lelaki. Lelaki itu berusia sekitar awal tiga puluhan. Meski begitu terdapat jambang yang mulai membayang di bawah dagu dan pinggiran wajah nya.
Lelaki itu tampak sedang menikmati waktu santai nya dengan hati yang senang. Semua rencana nya berjalan dengan lancar. Bahkan Tuhan mengirimkan pion baru untuk dijadikan nya sebagai senjata baru dalam menghancurkan tahta kerajaan Nevarest.
__ADS_1
Ratu Goluth kini ada bersama nya. beserta putri nya yang pendiam.
Sang lelaki membayangkan, bila ratu Goluth tetap menghilang, maka sudah pasti akan terjadi konflik di antara dua kerajaan. Yakni kerajaan Nevarest dan juga Goluth. Bukan kah alasan itu cukup bisa diterima untuk ditabuhkan nya gendang peperangan di antara dua kerajaan?
Sang lelaki tersenyum senang. Tanpa sadar ia terkekeh cukup kencang. Membuat wanita penghibur yang bersender di bahu nya ikut merasakan getaran tubuh nya.
"Kau tahu, Jala*g? Sebentar lagi kita akan menyaksikan pertarungan seru di antara dua penguasa yang terkenal hebat. Aku bahkan tak perlu melakukan apapun lagi untuk bisa menyaksikan pertarungan sengit ini! Ahahaha!" Kekeh sang lelaki begitu lepas nya.
Sang wanita tak terlalu mengerti dengan ucapan lelaki itu. Ia hanya melakukan apa saja yang diperintahkan oleh lelaki itu kepada nya. Termasuk juga menemani nya bermain cinta, seperti saat ini.
Sang wanita memainkan anak rambut nya ke dada bidang sang lelaki. Mulut nya tetap diam terkunci tak tahu harus berkomentar apa lagi.
Godaan rambut sang wanita di dada nya pun sontak saja membuat gairah yang telah surut kembali muncul dan menguasai lelaki tersebut.
Dengan satu gerakan cepat, sang lelaki berguling ke kanan hingga tubuh bug*il nya menimpa tubuh molek sang wanita.
Lelaki itu lalu mengagumi pemandangan gunung kembar yang cukup besar di bawah nya. Sekali, ia mencoba mencecap pucuk salah satu gunung tersebut. Sementara tangan nya memainkan pucuk gunung yang lain.
Suara ******* perlahan keluar dari mulut sang wanita. Tubuh nya bergelinjang oleh rasa nikmat yamg ia rasakan atas aksi dari lelaki di atas nya.
"Mmm.. gii..git yang kencang..ahh!" Pinta sang wanita penuh permohonan.
Dan permintaan nya itu langsung dikabulkan oleh sang lelaki dengan senang hati. Berkali-kali lelaki itu mencecap, menggigit sambil memuntiri pucuk gunung kembar milik sang wanita.
Suara ******* pun semakin kencang terdengar, mengisi keheningan dalam ruangan beraksen megah tersebut.
Tak seberapa lama kemudian, lelaki itu pun menghentikan tarian lidah dan jemari nya pada gunung kembar sang wanita. Ia lalu membisikkan sesuatu ke telinga wanita tersbeut.
"Ini adalah hadiah mu, jal*ng! Karena kau telah membawa ratu Goluth dan putri nya kepada ku!" Bisik lembut sang lelaki ke telinga wanita di bawah nya.
Dan penyatuan itu pun kembali terjadi. Desah napas, rintih lan nikmat, terdengar begitu sensual di telinga.
Gairah dan hasrat meleburkan semua pikiran yang ada di benak kedua insan dalam ruangan itu.
Dalam benak nya, sang wanita bergumam singkat, 'Maafkan hamba, Yang Mulia Ratu!'.
__ADS_1
***