Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Himada Pergi


__ADS_3

"Di mana kau melihat nya, Hun?" Tanya Hima pada sosok Huna yang tembus pandang di depan nya.


Kedua nya saat ini sedang berjalan di lorong lebar yang dilalui oleh para pelayan penginapan. Sekitar lima menit yang lalu Huna muncul di kamar Hima dan mengatakan kepada nya bahwa ia mempunyai seorang teman baru.


Merasa penasaran, bocah lima tahun itu pun lalu mengikuti sosok astral Huna. Setelah sebelum nya berhasil membebaskan diri dari pengawasan Damsi dan juga Afni, perawat Hima.


"Apa masih jauh, Hun? Hima letih. Bagaimana bila kita kembali saja?" Tanya Hima lagi membujuk sosok Huna yang sekilas memiliki kemiripan wajah yang identik dengan wajah nya sendiri.


'Jangan! Ayo kita harus segera ke sana, Hima. Anak perempuan itu sudah menunggu kita terlalu lama!' seru Huna.


Suara nya terdengar bagai sayup angin yang berhembus pelan. Meninggalkan rasa dingin pada para manusia yang berada di dekat nya.


Beberapa orang pelayan menatap heran ke arah Hima. Bocsh lima tahun itu tampak seperti sedang tersasar di area yang hanya dikhususkan untuk para pegawai penginapan saja.


Salah seorang pelayan pun mendekati Hima dan menyapa nya.


"Hai adik kecil. Sedang apa di sini? Apa kamu tersesat? Mungkin aku bisa mengantarkan mu kembali ke Ayah dan ibu mu, Dik?" Sapa pelayan lelaki dengan wajah ramah.


Hima menoleh ke arah sang pelayan. Melirik sekilas ke arah Huna lagi, baru kemudian membalas ucapan sang pelayan.


"Hima tak tersesat kakak," jawab Hima dengan lancar.


"Oh! Tapi apa kedua orang tua mu tahu kamu mau pergi ke mana, Dik?" Tanya pelayan itu lagi.


Sekilas wajah Hima menyiratkan rasa bersalah. Dengan kepala tertunduk, ia pun menjawab pertanyaan pelayan tersebut.


"Belum tahu, Kakak. Ibunda sednsg beristirahat. Beliau sedikit demam. Begitu kata Bibi Damsi," jawab Himada lancar.


"Kalau begitu, tentu ibu mu akan sangat khawatir nanti, Dik. Saat dia tahu kalau kamu pergi bermain tanpa mengatakan hendak ke mana. Bagaimana bila aku mengantarkan mu kembali ke kamar mu, Dik?" Sang pelayan begitu ramah menawarkan bantuan.


Hima tampak terdiam. Merasa bingung, akhirnya Hima pun menganggukkan kepala nya.


Detik berikut nya, pelayan itu menjulurkan tangan nya dan meraih tangan pangeran Hima. Saat itu, Huna yang tak bisa dilihat oleh pelayan itu tampak tak setuju untuk kembali pulang ke kamar mereja.


'Ayo lah Hima. Kita ke teman baru ku. Dia sudah menunggu terlalu lama!' bujuk Huna terlihat merengek.

__ADS_1


Sang pelayan terlihat mengusap lengan nya berkaki-kali. Entah kenapa ia merasa udara menjadi dingin secara tiba-tiba. Sungguh hal yang aneh. Karena ia tak merasa ada angin yang berhembus.


"Jadi, di mana kamar mu, Dik? Oh ya, kita belum berkenalan. Nama Kakak adalah Agustin. Siapa namamu, Dik?" Tanya pelayan yang bernama Agustin tersebut.


"Tunggu dulu! Biar kakak tebak! Namamu adalah.. Hima?" Ucap Agustin sambil tersenyum simpul.


"Bagaimana kakak bisa tahu?! Apa kakak seorang cenayang?!" Tanya sang pangeran merasa takjub.


"Hahaha.. tidak. Tidak. Kakak bisa tahu saat kamu menyebutkan nama mu tadi, Dik," ujar Agustin terlihat malu.


"Ooh.. begitu.."


"Yap. Jadi, di mana kamar mu? Apa kamu mengingat jalan pulang ke kamar mu, Hima?" Tanya Agustin lagi.


"Ingat kak.." jawab Hima seketika.


Hima lalu melihat ke arah Huna. Saat ini sosok halus itu menunjuk-nunjuk ke arah lain. Sementara jalan pulang ke kamar nya berada di arah yang berbeda dari yang ditunjuk oleh Huna.


Hima tampak memikirkan sesuatu. Sementara itu Agustin yang melihat nya mengira Hima sedang mengingat jalan pulang ke rumah nya.


Menurut nya, Hima terlihat menggemaskan sekali. Dan bila dilihat dari baju yang anak itu kenakan, Agustin menebak kalau Hima adalah anak bangsawan yang ikut bersama orang tuanya dalam menghadiri pertemuan tiga kerajaan hari ini.


"Ke sana? Kamu yakin, Hima?" Tanya Agustin memastikan.


Tadinya Agustin mengira kalau Hima akan menunjukkan jalan yang lain.


Hima mengangguk kan kelala nya.


Melihat kalau Hima terlihat yakin dengan jawaban nya, akhirnya Agustin memutuskan untuk mengikuti arahan Hima menuju kamar nya tersebut.


Selanjutnya, Hima dan Agustin pun pergi ke tempat yang diarahkan oleh Huna. Tentu saja Agustin tak tahu kalau jalan yang ditunjuk oleh Hima sebenar nya bukan mengantarkan mereka ke kamar anak lelaki itu.


Setelah beberapa lama berjalan, Hima dan Agustin akhirnya sampai juga di depan sebuah kamar yang dijaga oleh seorang pengawal yang tertidur pada kursi di depan nya.


Agustin yang melihat pengawal itu langsung bisa mengetahui alasan kenapa Hima bisa berkeliaran tanpa pengawasan orang dewasa.

__ADS_1


'Dasar pengawal ini lalai sekali! Bersni-berani nya dia tertidur saat seharusnya ia menjaga Tuan nya!' cibir Agustin di dalam hati.


Baru juga Agustin hendak membangunkan pengawal tersebut saat Hima menarik celana yang ia kenakan. Perhatian Agustin pun langsung beralih ke Hima.


"Kenapa Hima?" Tanya Agustin dengan bingung.


Hima lalu memeragakan gerakan agar Agustin memelankan suara nya agar tak membangunkan sang pengawal yang sedang tidur.


Melihat tingkah Hima, Agustin sungguh ingin menjawil pipi gembil sang bocah. Beruntung bocah ini bertemu dengan nya yang baik. Bisa saja kan bocah itu bertemu orang jahat dan malah diculik? Begitu kiranya pikiran Agustin saat itu.


"Jangan bangunin orang itu, Kak. Nanti Hima dimarahi!" Mohon Hima dengan suara berbisik.


"Ok. Ok.. sekarang, kamu mau masuk ke dalam kamar?" Tanya Agustin.


Hima melihat ke arah Huna yang separo tubuh nya sudah menembus tembok di depan nya. Menyisakan bagian kepala dan badan nya saja yang menatap Hima dengan antusias.


Hima lalu melihat kembali ke arah Agustin dan selanjutnya mengangguk sekali lagi. Namun ia kebingungan karena tak tahu bagaimana caranya agar ia bisa masuk ke dalam ruang yang dituju oleh Huna.


Agustin lah yang kemudian membantu Hima. Karena ia langsung membuka pintu di depan nya dengan sepelan mungkin. Sayang nya, pintu itu terkunci.


Merasa heran namun tak bisa menjelaskan hal ganjil dari kejadian ini, kedua mata Agustin lalu melihat kartu kunci yang berada di saku belakang dari celana yang dipakai oleh pengawal yang sedang tertidur.


Akhirnya Agustin pun mengambil kartu akses untuk melewati pintu dengan sehati-hati mungkin. Dan ia berhasil melakukan nya tanpa membangunkan sang pengawal.


Sambil membuka pintu dengan kartu akses yang berhasil diambilnya, Agustin benar-benar menahan diri untuk tidak menoyor bahu pengawal itu. Bisa-bisanya ia tidur pulas sekali saat seharusnya ia berjaga.


"Sudah. Sekarang masuklah Hima. Dan ingat, jangan keluyuran lagi lho! Pintu nya nanti akan langsung kakak kunci ya!" Agustin menasihati Hima.


"Jangan dikunci, Kak!" Seru Hima seketika.


Entah kenapa Hima merasa kalau aksi nya menyelihap masuk ke kamar asing ini sebagai perbuatan yang salah. Ia jadi kesal dengan Huna yang sudah mengajak nya pergi ke tempat ini.


Agustin melihat Hima yang terlihat ketakutan. Pada akhirnya ia pun memberikan janji nya, masih dengan suara yang berbisik.


"Ok. Ok. Gak akan kakak kunci deh. Sekarang, kamu masuk ke dalam ya!" Bujuk Agustin lagi.

__ADS_1


Dengan ragu-ragu, Hima pun langsung masuk ke dalam ruangan di depan nya. Setelah itu, pintu pun menutup rapat di belakang nya.


***


__ADS_2