Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Kalimat Perpisahan


__ADS_3

"Selanjutnya, Da ingin mengabarkan bahwa untuk sementara waktu, Putri Anna akan menghabiskan masa mengabdi di kota Biarest. Sang putri akan pergi setelah proses pelantikan tahta selesai," Tasya mengumumkan perintah nya lagi.


Kali ini, tak hanya para pejabat yang terkejut dengan keputusan Tasya. Anna pun terkejut dengan ucapan adik kembar nya itu. Ini bisa dilihat jelas dari ekspresi di wajah nya.


'Apa.. apa yang kamu katakan, Sya? Kenapa kamu mengirim kakak ke kota Biarest?' benak Anna bertanya-tanya.


Tentu saja Tasya tak mempunyai kekuatan membaca pikiran seperti saudari nya itu. Namun Tasya buru-buru menyampaikan maksud nya lewat telepati.


'Maaf bila ini mengejutkan mu, Kak. Ini termasuk bagian dalam rencana aku dan Daffa juga. Ini kami lakukan demi kebaikan mu juga, Kak. Karena Ayahanda mengingatkan ku kalau besar kemungkinan musuh juga telah mengetahui jenis kekuatan kakak. Aku gak mau mereka mengincar kak Anna juga,' jelas Tasya dalam telepati nya ke benak Anna.


Anna tampak tercenung. Ekspresi diam nya itu dinilai oleh para pejabat sebagai rasa sedih karena telah diusir oleh adik kembar nya sendiri.


Bagaimana pun juga kota Biarest adalah kota kecil yang letak nya sangat jauh dari pusat ibu kota. Lebih tepat nya lagi kota ini adalah kota perbatasan antara negeri Nevarest dan juga negeri Allain.


'Dan ada tujuan lain kenapa Tasya meminta Kak Anna untuk pergi ke sana, Kak. Jika bisa, nanti kakak tolong coba cari kimiawan terkenal yang bernama Yodha Azkar. Seperti kata Ayah. Bisa jadi dia bisa membantu kita memulihkan kondisi ibunda,' imbuh Tasya lagi lewat telepati nya.


Anna mengerjapkan mata nya beberapa kali. Dilihat nya profil sang adik dari belakang. Saat ini Tasya tak sedang menatap ke arah nya. Pandangan Tasya masih menatap ke bawah, ke arah para pejabat yang berdiri di hadapan mereka.


Anna lalu diliputi oleh perasaan bangga. Bahwa ternyata adik nya itu telah memikirkan banyak hal hanya dalam satu malam saja.


Pandangan Anna lalu tertuju kepada Daffa. Adik ipar nya itu kini berdiri tepat di belakang Tasya yang sedang berbicara. Menurut Anna, semua kemajuan yang ditunjukkan oleh Tasya tentu tak lepas dari kecerdasan otak pemuda itu.


Anna merasa jauh lebih lega kini. Karena ia bisa meninggalkan Tasya di istana ini dalam penjagaan Daffa. Terlihat jelas dari postur tubuh pemuda itu. Bahwa Daffa akan selalu menjaga Tasya dalam posisi nya di manapun juga.


Ini bisa dilihat Anna dari letak tangan Daffa yang memberi tepukan ke punggung Tasya beberapa kali. Hal itu mengisyaratkan dukungan nya terhadap sang istri.


Anna kembali memandangi Tasya. Yang entah sejak kapan telah menatap ke arah nya. Anna sedikit tergeragap. Tak sadar bila ia telah melewatkan pertanyaan dari adik nya itu.


Tasya mengerti kondisi sang kakak. Sehingga ia pun mengulangi pertanyaaan nya lagi.


"Kakak tidak keberatan bukan, dengan keputusan Da?" Tanya Tasya mengulangi.

__ADS_1


Anna tak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya sedikit menundukkan kepala nya dan menyahut "Ya" dengan suara tak kencang pun jua tak terlalu pelan.


"Kalau begitu, Putri Anna dan Putri Zizi akan pergi ke kota Biarest sekitar empat hari lagi dari sekarang," Tasya menyimpulkan titah nya di hadapan para pejabat.


'Huh? zizi juga?!' Anna mengerjap bingung. Ia tak mendengar Tasya menyebut nama Zizi dalam titah nya tadi. Atau entah apa itu diucapkan adik nya itu saat Anna sedang melamun sesaat tadi?


Tapi Anna memilih untuk tak membantah titah dari snag adik. Ia pun memutuskan untuk menundukkan kepala di sisa waktu audiensi tersebut.


'Pergilah bersama Jason dan Zizi, Kak. Tasya akan lebih tenang jika Zizi ikut juga dengan kalian. Menjauhlah dari istana untuk sementara waktu. Dan jaga baik-baik diri kalian, ya, Kak!' Anna mendengar suara Tasya lagi dalam benak nya.


Hati wanita itu pun kembali diliputi oleh perasaan haru. Sebenar nya ia tak ingin kembali berpisah dari Tasya. Saudari yang telah berpisah bertahun-tahun lama nya dengan nya.


Terlebih lagi bila Anna memikirkan kalau ia harus meninggalkan Tasya di istana pada masa-masa sekarang ini. Meninggalkan sang adik di sarang yang telah di kelilingi oleh musuh yang bersembunyi di kegelapan. Anna merasa tak tega untuk melakukan pinta sang adik.


Meski begitu Anna tahu. Bahwa adik kembar dan ipar nya itu tentu telah memikirkan baik-baik semua rencana mereka. Terlebih lagi sejauh ini, seperti nya kedua nya tampak tenang-tenang saja.


Mau tak mau Anna pun jadi tak terlalu merasa panik untuk pergi dari istana. Meskipun tetap saja, rasa khawatir itu masih merajai hati nya saat ini.


Saat itu matahari sedang berada di titik paling terik nya.


Tasya dan Daffa berjalan lebih dulu didepan Anna dan Zizi. Saat langkah mereka telah berada di persimpangan jalan, Anna pun memanggil Tasya.


"Sya! Tunggu sebentar! Kakak mau bicara sesuatu," panggil Anna tiba-tiba.


Tasya dan Daffa menghentikan langkah nya seketika. Kedua nya lalu berbalik dan menghadap ke arah Anna dan Zizi.


Mata Zizi terlihat sudah memerah. Ia pun snagat terlejut dengan keputusan tiba-tiba dari Tasya yang meminta nya untuk pergi dari istana.


Tapi sama seperti Anna, Tasya pun telah menjelaskan situasi nya kepada adik bungsu nya itu. Dan Zizi menerima nya walau hati nya terasa berat.


Pandangan Tasya berhenti ke sosok saudari kembar nya, Anna. Sebelum akhir nya beralih ke Zizi.

__ADS_1


Melihat mata Zizi yang sudah memerah karena menahan tangis, Tasya langsung merasa bersalah pada sang adik.


Dengan spontan ia langsung merengkuh Zizi ke dalam pelukan nya. Dan detik berikut nya, tangis pun tumpah jua dari mulut dan mata Zizi.


Remaja putri itu sangat bersedih dengan perpisahan yang akan segera terjadi di antara mereka berdua.


Tasya pun sangat bersedih dengan keputusan nya mengirim serta Zizi bersama Kak Anna. Namun setelah mempertimbangkan nya baik-baik, menurut Daffa Zizi akan lebih aman bila pergi menjauh dari istana untuk sementara waktu.


Apalagi inner power Zizi mungkin akan segera bangkit dalam waktu dekat ini.


Tasya dan Daffa tak tahu jenis inner power yang dimiliki oleh Zizi itu akan seperti apa. Daffa khawatir bila inner power Zizi bangkit di istana dan menarik perhatian pihak musuh, itu akan membuat keselamatan Zizi jadi terancam.


Jadilah akhirnya keputusan untuk membuat Zizi pergi bersama Anna pun ditetapkan juga oleh Tasya semalam tadi.


Tasya menepuk-nepuk pundak Zizi dalam diam. Batin nya merasa sedih dan bersalah. Namun ia berusaha bersikap tabah.


Lewat telepati, Tasya menguatkan kembali gagasan nya tadi ke benak Zizi.


'Maafin Kakak ya, Zi. Ini kakak lakukan demi kebaikan Zizi juga. Pergilah bersama Kak Anna ke Biarest. .dna bila inner power Zizi sudah bangkit, usahakan untuk merahasiakan nya dari siapa pun juga ya. Kakak gak mau Zizi ikut menghilang seperti Ayah..' ucap Tasya dalam telepati nya.


Zizi menatap Tasya dengan pandnagan bertanya. Dan Tasya seolah mengerti dengan pertanyaan yang ada di hati adik bungsu nya itu.


'Ya, Zi. Hanya ceritakan inner power Zizi pada Kak Anna saja ya. Zizi harus selalu berhati-hati dengan orang di sekitar Zizi. Hanya percaya pada Kak Anna saja ya, Zi?' Tasya memberikan nasihat kepada Zizi.


Melihat Tasya dan Zizi yang berpelukan, Anna jadi ikut merasa sedih. Tapi ia berusaha menguatkan hati nya. Tanpa sadar Anna melirik ke sekitar mereka. Was-was pada pasukan bayangan yang mengintai di balik bayang.


Merasa tak aman bila menyampaikan isi pikiran nya langsung kepada Tasya, pada akhirnya Anna hanya mengucapkan satu kalimat saja pada adik kembar nya itu.


"Jaga dirimu baik-baik, Sya.. jaga Hima juga untuk Kakak. Kakak berharap bisa melihat keponakan kakak itu lagi sesegera mungkin," ucap Anna pada akhir nya.


Tasya melepas pelukan nya dari Zizi. Lalu menghadap ke arah Anna. Ia tak berkata panjang lebar. Hanya sekedar ucapan "ya" singkat dan anggukan mantap yang Tasya berikan pada kakak nya itu. Sebelum akhir nya ia berlalu pergi bersama Daffa. Kembali ke kediaman mereka di istana ini, Puri Anyelir.

__ADS_1


***


__ADS_2