
"Maafkan hamba, Yang Mulia.." ucap Soraya dalam satu tarikan napas.
Gerakan tangan Karina yang mengusap kepala Rinaya, sempat terhenti saat mendengar ucapan Soraya tersebut.
"Kau bukan lagi pelayan ku. Kita tak lagi memiliki hubungan apa-apa sejak pengkhianatan mu itu, Soraya. Jadi berhenti lah memanggil ku Yang Mulia. Karena aku merasa jijik mendengar nya!" Ucap Karina tanpa perasaan.
Pengkhianatan yang dilakukan oleh Soraya terhadap nya itu jelas menjadi kejutan yang menyakiti hati Karina. Tadi nya Karina berpikir ia masih bisa menemukan orang baik di dunia yang aneh ini.
Tapi ternyata Soraya yang sudah dianggapnya sebagai sahabat nya sendiri itu juga bisa mengkhianati nya.
Karina dibuat kaget, saat ia sedang menunggu kemunculan kembali spirit Huna yang akan membawa Daffa menemui nya. Karena tiba-tiba saja beberapa lelaki berpakaian gelap muncul dan membawa nya serta Rinaya pergi.
Karina hanya sempat melihat Soraya yang sedang berbincang dengan salah satu dari sekumpulan lelaki asing tersebut. Tahu lah Karina bahwa Soraya telah menyerahkan nya pada orang lain.
Pada awal nya Karina merasa takut bila orang yang diberitahukan oleh Soraya adalah Frans. Namun setelah beberapa lama perjalanan menuju tempat yang baru, dan juga beberapa pekan dan bulan yang juga berlalu. Tahu lah Karina bahwa bukan Frans yang menjadi sekutu Soraya.
Aneh nya hingga kini, Karina masih belum bertemu juga dengan teman sekutu Soraya. Bahkan Soraya pun ikut-ikutan tak menemui nya lagi.
Jadi lah akhirnya hari-hari Karina dilalui nya dengan perasaan cemas dan khawatir. Ia lebih mengkhawatirkan keadaan Rinaya, putri semata wayang nya itu.
Kembali ke saat ini. Saat Soraya berdehem cukup keras. Mencoba menetralkan suasana yang terasa canggung di antara kedua nya.
"Hamba tak bisa menolak permintaan Tuan Bahm, Yang Mulia. Karena beliau lah yang telah memberikan kehidupan yang layak kepada hamba. Hamba juga pernah diselamatkan nya dari ancaman mati kelaparan dulu sekali," ucap Soraya beralasan.
"Setidaknya mati kelaparan itu jauh lebih baik dibanding hidup dengan menjual diri. Karena itu adalah perbuatan hina yang menghancurkan harkat dan martabat mu sendiri, Soraya!" Cibir Karina kembali.
Ucapan Karina lagi-lagi menohok tepat ke dalam hati Soraya.
Benar sekali ucapan ratu Goluth tersebut. Hidup Soraya memang menjadi hina kini. Tapi Soraya lalu kembali mengutarakan pembelaan nya.
"Setidak nya hamba masih hidup. Hamba masih bisa menikmati masa depan yang mungkin akan lebih baik dari kehidupan Yang Mulia sendiri!" Tukas balik Soraya yang mulai merasa kesal karena selalu dihina Karina.
Mendapati kekesalan dalam nada suara Soraya, seulas senyum pun terbit di wajah cantik sang ratu Goluth.
"Akhirnya, kau menunjukkan wajah aslimu juga, Soraya. Terima kasih karena sudah bersikap jujur pada ku sekarang ini. Jika saja kau melakukan nya sedari dulu, tentu itu akan lebih baik lagi. Karena aku tak akan berharap bisa memiliki sahabat baru dalam dirimu!" Ucap Karina sambil tersenyum sinis.
"?!!" Soraya ingin membalas ucapan Karina lagi. Namun ia lalu diingatkan dengan tujuan kedatangan nya kemari.
__ADS_1
Penyesalan. Permohonan maaf. Dan perintah dari Tuan Bahm.
Soraya memejamkan kedua mata nya. Ia berusaha menetralisir amarah yang hampir-hampir akan menelan nya bulat-bulat.
'Tenanglah Soraya.. tenangkan diri mu. Kau memang pantas menerima cacian dari sang Ratu. Karena memang begitu lah hidup mu saat ini..' tegur Soraya pada diri nya sendiri.
Setelah beberapa lama, Soraya kembali merasa tenang. Ia pun lalu melanjutkan ucapan nya lagi. Kali ini, langsung ke inti pembicaraan yang memang ingin disampaikan nya kepada Karina.
"Aku ingin bertanya. Apa Yang Mulia tahu di mana Golden Boy disekap oleh raja Elfran?" Tanya Soraya to the point.
Karina sempat dibuat tertegun oleh pertanyaan Soraya itu.
"Golden Boy? Maksud mu, anak kecil yang disekap oleh Frans dalam ruangan besi?" Tanya Karina membeo.
"Ya. Tentang anak itu. Apa Yang Mulia tahu di ruangan besi yang mana persis nya Raja Elfran menyekap anak lelaki itu?"
"Aku tak tahu," jawab Karina singkat.
Setelah beberapa detik berlalu, Karina menambahkan.
"Kalau pun aku tahu, aku tak akan mengatakan nya pada mu. Pastilah kau atau teman sekutu mu itu ingin menangkap nya juga, bukan? Kalian akan mengurung anak itu seperti ku juga bukan, di sini?" Cecar Karina bertubi-tubi.
Seketika itu pula, Karina menangkap ancaman dalam kalimat Soraya.
"Apa maksud ucapan mu itu Soraya? Apa kau mengancam ku?!" Tuding Sang ratu Goluth.
Soraya menghela napas letih. Agak nya ia harus menghafapi sifat bebal ratu Goluth tersebut.
Soraya lalu menatap keluar jendela. Dan ia pun mendekati pinggiran nya. Ditatap nya pemandangan pasir yang memenuhi seluruh jalanan di kota ini. Negeri Allain memang berdiri di atas daerah padang pasir.
"Di dunia ini, kekuatan dan kekuasaan berada di atas segala nya Yang Mulia. Tidak kah di dunia asal Yang Mulia juga seperti itu? Apa nama nya? ..bumi bukan?" Ucap Soraya masih sambil menatap hamparan pasir yang luas.
"Tapi di bumi, orang-orang juga mengenal keadilan dan juga karma!" Balas Karina tak mau kalah.
"Karma? Apa itu?" Soraya menoleh kepada sang ratu. Tampak jelas kebingungan terlihat menghiasi paras manis nya.
"Karma itu seperti pembalasan. Siapa yang menabur kebaikan, maka kebaikan pula yang akan ia terima. Dan siapa yang menabur kejahatan, maka kejahatan itu pula yang akan ia terima!" Karina menjelaskan.
__ADS_1
Selama beberapa waktu, kedua wanita itu saling berpandangan. Namun itu berlangsung tak lama. Soraya lah yang terlebih dulu memutus koneksi mata di antara kedua nya.
Hal ini terjadi karena Soraya merasa gentar saat menatap kedua mata sang ratu dalam waktu yang lama. Ada kekuatan tersembunyi dalam diri sang ratu yang membuat nya merasa takluk dan teringat dengan posisi lama nya yang hanya seorang hamba sahaya.
Pandangan Soraya kembali beralih ke jalanan di kota pasir. Sementara lisan nya kembali bertutur.
"Andai di dunia ini juga berlaku hukum yang seperti itu. Sayang nya, seperti nya hukum karma tidak berlaku di dunia ini, Yang Mulia," imbuh Soraya dengan nada menyesal.
"Siapa bilang?! Tentu saja hukum karma akan berlaku di dunia mana pun juga! Dan apa yang kau lakukan saat ini juga akan kembali kepada mu lagi nanti, Soraya!" Rutuk Sang ratu.
"Apa yang akan kembali kepada ku, Yang Mulia? Hamba tak memiliki apa-apa sejak terlahir ke dunia ini. Hamba bahkan dijual oleh ibu kandung hamba sendiri dan telah dididik untuk menjadi pelayan sedari hamba masih snagat kecil. Lebih kecil dari putri Rinaya saat ini!" Ucap Soraya dengan nada yang mulai tinggi.
"Hamba tak memiliki satu baju pun byang bagus, sebelum hamba menjual tubuh ini. Yang hamba lakukan sebelum ini hanyalah menjadi pelayan dan pesuruh saja. Pekerjaan yang meletihkan dan juga mengancam nyawa. Bukti nya hamba sampai harus pergi dari istana Goluth, bukan? Hanya karena tudingan pencurian yang dilayangkan oleh raja Erlan kepada hamba!" Kecam Soraya berapi-api.
"Padahal yang hamba lakukan saat itu hanya menjadi pelayan saja. Hamba tak pernah mencuri. Hamba tak pernah menyakiti orang lain. Tapi kenapa yang hamba terima hanya penderitaan saja?! Apakah itu yang dinamakan karma?! Itu jahat nama nya, Yang Mulia! Takdir yang jahat!" Kecam Soraya mulai histeris.
Rinaya yang tadi sempat tertidur, perlahan terusik saat mendengar suara teriakan Soraya.
Kedua wanita dewasa itu lalu mendadak diam. Sementara Karina mengusap-usap punggung sang putri hingga Rinaya kembali tertidur. Saat itu Soraya hanya menatap iri pada sosok ratu Goluth di depan nya.
Setelah memastikan kalau Rinaya telah kembali pulas tertidur, Karina pun kembali bicara. Kali ini, ia membisikkan kalimat nya dengan suara yang teramat pelan.
"Mau seperti apapun hidup yang diberikan takdir kepada kita, kita selalu punya kesempatan yang sama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Akan menjadi baik atau buruk kah nanti nya kita, semua itu tergantung diri kita sendiri, Soraya,"
"Jangan menyalahkan takdir atas kesialan yang ada dalam hidup kita. Cukup fokus mencari jalan untuk masa depan yang lebih baik nanti nya saja. Seperti yang sedang ku lakukan saat ini,"
"Aku ingin hidup bahagia bersama Rinaya dan orang-orang yang ku sayang. Meski pun takdir membawa ku jauh ke dunia ini, tapi aku tahu, pasti ada alasan nya kenapa aku harus ada di dunia ini. Aku hanya belum mengetahui apa alasan nya,"
"Kita semua sama-sama belajar memaknai hidup kita masing-masing, Soraya. Dan kita juga berusaha untuk menciptakan kebahagiaan bagi hidup kita. Tapi, jangan sampai kita tersesat dalam kebajagiaan semu. Sementara kita melupakan kebahagiaan hakiki yang seharus nya kita perjuangkan sungguh-sungguh,"
"Coba kamu tangakan lagi pada diri mu, Soraya. Apakah kau bahagia dengan hidup mu yang sekarang ini? Menjual tubuh hanya demi kesenangan sesaat? Apakah hati mu benar-benar bahagia?" Tutur Karina panjang kali lebar.
Soraya terhenyak kala mendengar penuturan sang ratu. Lagi-lagi kedua nya saling bertatapan selama beberapa waktu.
Dan lagi-lagi Soraya pula yang memutuskan koneksi mata di antara kedua nya. Soraya mengaku kalah. Ia tahu, kalau ia tak akan mampu menghadapi keteguhan hati yang dimiliki oleh sang ratu Goluth tersebut.
Tanpa berkata apa-apa pagi, Soraya pun pergi meninggalkan Karina dan Rinaya di kamar pengasingan nya.
__ADS_1
***