
"Apa katamu tadi, Dear?" Tanya Daffa dengan suara yang bisa didengar jelas oleh telinga Tasya.
Seperti nya sang raja benar-benar kebingungan dengan apa yang disampaikan oleh sang ratu. Sehingga tanpa sadar ia malah menjawab telepati Tasya dengan mulut nya.
Tasya merasa gemas dengan sikap Daffa yang kebingungan. Baru kali ini dilihat nya sang suami ternganga keheranan.
Tasya lalu mendekatkan tubuh nya hingga separuh menempel ke tubuh Daffa. Lalu mendongakkan wajah nya ke atas, sehingga tatapan di antara kedua nya tak terputus.
Lewat telepati, Tasya pun kembali menjelaskan.
'Kamu mendengar jelas ucapan ku tadi, Yang.. seperti nya Hima memiliki inner power bisa melihat makhluk halus. Aka hantu! Dan yang sedang dilihat nya akhir-akhir ini adalah hantu dari baby Huna kita!' jelas Tasya secara perlahan.
Daffa mengerutkan dahi nya. Ia tampak memikirkan sesuatu. Tasya pun memberikan waktu kepada Daffa untuk berpikir. Setelah beberapa lama, baru lah Daffa memberikan respon atas ucapan Tasya sesaat tadi.
'Begitu kah? Inner power? Tapi, tadi saya enggak ngerasain aliran chi yang abnormal dari tubuh Hima, Dear. Jadi jelas, Hima kita tak menggunakan inner power. Lagipula bukankah inner power umum nya baru bangkit sekitar umur 10 tahunan? Hima baru berumur lima tahun, Tasy..' tanya balik Daffa.
Kini gantian Tasya yang terlihat kebingungan.
'Apa? Apa kamu yakin, Yang? Kalau bukan inner power, lalu apa yang menyebabkan Hima jadi bersikap aneh akhir-akhir ini?' Tasya menggumamkan pertanyaan-pertanyaan itu dalam hati nya.
'Memang nya kamu tadi ngerasain ada aliran chi di mata dan tubuh Hima?' tanya Daffa kepada Tasya. Ia ingin istri nya itu memikirkan lagi kejadian saat bersama dengan putra mereka tadi.
Tasya langsung ikut mengingat kejadian tadi. Seingatnya, ia memang tak melihat aliran warna chi dari tubuh Hima saat putra nya itu menunjukkan posisi Huna yang duduk di depan nya.
Tapi bisa saja kan Tasya hanya sedang tak terlalu sadar untuk memerhatikan hal itu. Karena ia sedang terlalu syok dengan keberadaan baby Huna yang dikatakan oleh pangeran Hima?
'Aku.. aku gak terlalu merhatiin soal itu, sih, Yang. Tapi Hima kita gak mungkin berbohong juga kan soal Huna yang dia lihat?' tanya Tasya berusaha meyakinkan Daffa atas asumsi nya terkait sikap ganjil Hima.
Daffa menatap serius ke arah Tasya. Dan Tasya menatap Daffa dengan pandangan penuh harap. Kedua nya terlihat begitu mesra bagi siapapun yang melihat mereka saat ini. Karena kedua nya lama saling bertukar pandang dalam diam.
Meski pun sebenarnya secara kasat mata tak ada seorang pun lagi selain kedua nya dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Daffa lalu meraih pinggang Tasya dengan tangan kiri nya. Sementara tangan kanan nya mengusap lembut pipi dan sisi wajah sang istri dengan usapan-usapan lembut nan berulang.
Sambil melakukan nya, Daffa pun kembali bicara lewat telepati.
'Apa menurut mu Hima kita telah diracuni oleh pihak musuh, Dear? Sehingga tanpa disadari ia malah berimajinasi liar? Imajinasi seperti melihat sosok baby Huna, begitu?' ucap Daffa dengan hati-hati.
Lelaki itu tahu, pembicaraan terkait mendiang putri nya yang telah meninggal saat dilahirkan itu adalah topik sensitif untuk dibicarakan dengan Tasya. Ia sedikit banyak nya bisa mengerti bila sang istri mungkin menyimpan harapan atas kemunculan sosok baby Huna, seperti yang diceritakan oleh Hima.
Hati seorang ibu akan selalu berharap bisa bersama dengan anak-anak yang dicintai nya. Jadi itulah sebab nya mungkin Tasya bisa langsung memercayai ucapan Hima terkait Huna.
Karena di dalam hati Tasya, Daffa menduga istri nya itu merindukan sosok mendiang bayi mereka.
'Bagaimana kalau kita menjenguk Huna kita, Dear? Atau kita pindahkan sekalianmakam Huna ke halaman istana saja? Agar kita bisa menjenguk nya setiap hari bila kita merindukan nya?' Daffa menggagaskan saran.
Mendengar saran dari Daffa, Tasya mencebik kesal. Ia tahu kalau suami nya itu sepertinya tak percaya dengan apa yang ia ucapkan.
Daffa juga tak percaya dengan apa yang dilihat oleh pangeran Hima. Suaminya itu tak percaya bahwa sosok Huna sebenar nya ada dan memunculkan diri nya di depan Hima.
Jika bukan inner power, lalu kekuatan apa yang telah membuat Hima bersikap ganjil selama dua bulan belakang? Apa benar yang dikatakan oleh Daffa, bahwasanya pihak musuh telah berhasil 'meracuni' pikiran putra mereka?
Ide bahwa pangeran Hima telah diracuni pikiran nya, seketika membuat Tasya bergidik dalam rasa ngeri sekaligus juga khawatir. Padahal ia begitu memercayai kemampuan Damsi dalam menangkal racun.
Karena kemampuan Damsi itulah yang telah menyelamatkan keluarga kecil nya dari usaha jahat pihak musuh mereka di beberapa kesempatan yang tak terhitung banyak nya.
Ya. Selama lima tahun ini Damsi telah sering menyelamatkan Daffa, Tasya, dan Hima dari upaya peracunan makanan. Lewat sentuhan singkat nya, Damsi membuat mereka memuntahkan kembali semua racun yang sempat tertelan ke dalam tubuh secara tak disadari.
Karena itulah Daffa dan juga Tasya masih bisa memerintah kerajaan Nevarest hingga lima tahun berselang. Karena mereka memiliki banyak bantuan dari orang-orang di sekitar mereka.
Bahkan kini kekuasaan Alul Lazam berhasil mereka pangkas menjadi separuh nya. Meski pun lelaki itu masih menjabat sebagai menetri pertahanan dan keamanan di negeri ini hingga saat ini.
Daffa sengaja membiarkan lelaki itu untuk tetap memiliki kekuasaan karena alasan tertentu. Yang utama adalah demi menenangkan pikiran musuh agar tak bertindak terlalu agresif dalam menghadapi kekuasaan Daffa dan Tasya yang mulai bangkit secara perlahan.
__ADS_1
Akan tetapi saat ini Daffa telah membagi kekuatan militer di negeri ini menjadi dua bagian. Yakni pasukan tentara yang dikuasai oleh Alul Lazam. Di mana para tentara itu ditugaskan untuk menjaga perbatasan wilayah di sepanjang kerajaan Nevarest ini.
Kekuatan satunya lagi yaitu dengan dibentuk nya badan kepolisian yang bertugas untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Nevarest. Daffa menunjuk salah seorang yang bisa dipercayai oleh nya sebagai pemegang kekuatan kepolisian tersebut.
Dengan keberadaan kepolisian itu juga lah akhirnya yang membuat kasus pembunuhan dan kriminal di negeri ini menjadi berkurang. Karena para polisi yang direkrut langsung oleh Daffa dari rakyatnya sendiri itu, secara rutin melakukan patroli.
...
Kembali ke saat ini. Kepada Tasya dan Daffa yang masih berdiskusi tentang sikap ganjil pangeran Hima akhir-akhir ini.
'Aku bukan nya mau banget lihat sosok Huna kita hadir di dunia ini, Yang. Aku enggak berpikiran untuk berimajinasi liar sampai seperti itu!' tukas Tasya dengan raut kesal.
Daffa langsung merasakan alarm di benak nya. Benar saja dugaan nya tadi. Topik terkait mendiang bayi mereka memang sangat sensitif bagi sang istri.
Dengan berhati-hati Daffa menyelipkan anak rambut Tasya kembali ke balik daun telinga nya. Tak lupa pula ia mengelus-elus kepala sang istri dengan penuh kasih. Berharap hati sang istri menjadi lunak dan tak terbawa oleh emosi amarah.
'Iya, Dear.. maafin saya ya sudah salah menduga. Tapi, sueer.. saya beneran enggak ngerasain aliran chi dari tubuh Hima waktu tadi lho, Tasy,' tutur Daffa lagi dalam telepati nya.
Menyimak ucapan Daffa, tak kama kemudian Tasya pun menghela napas panjang. Ia tersadar kalau baru saja ia telah terbawa emosi.
Merasa sedikit malu, Tasya lalu menyembunyikan wajah nya ke dada bidang snag suami. Ia memeluk Daffa sambil memikirkan lagi kejadian beraama Hima tadi.
Sampai kemudian ia teringat dengan kejadian boneka yang tiba-tiba saja terlempar. Tasya pun kemudian mengangkat pandangan nya lagi ke atas. Menatap langsung ke dalam mata Daffa.
Dengan bersemangat, Tasya lalu bertanya.
'Kalau begitu, menurut mu kenapa boneka mainan tadi bisa tiba-tiba terlempar, Yang? Apa itu cuma imajinasi liar ku dan Hima saja?' tanya Tasya sedikit menantang pandangan Daffa kepada nya.
Daffa pun tertegun saat menghadapi pertanyaan Tasya tersebut. Sehingga dengan pandangan bingung, ia pun menyahut.
'Soal itu, saya pun gak bisa menjelaskan nya, Dear..' ucap Daffa mengaku menyerah, kalah.
__ADS_1
**