Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Di Barak Utama Raja Daffa..


"Yang Mulia Raja, ada utusan datang dari kediaman ratu Tasya," lapor Kasim Jung kepada raja Daffa yang sedang bersiap merapihkan seragam tempur nya.


Rencana nya hari ini mereka akan bertolak ke kota terdekat berikut nya. Daffa cukup bangga dengan hasil pertempuran nya selama beberapa bulan terakhir ini. Karena ia telah berhasil memukul mundur prajurit raja Elfran dan total ada 13 kota di kerajaan Goluth yang telah berhasil ia duduki.


"Bawa dia kemari!" Raja Daffa memberikan titah nya.


"Baik, Paduka Raja!"


Kasim Jung pun segera keluar dari barak utama tempat Raja Daffa beristirahat, untuk kemudian kembali datang. Kali ini ia masuk bersama seorang lelaki berpenampilan sederhana.


"Berita apa yang kau bawa?" Tanya sang raja dari tempat nya duduk.


Sang utusan berdiri dengan kepala menunduk di hadapan sang raja. Baru setelah ditanya lah ia akhirnya mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang menjadi misi utama nya dari perjalanan yang baru saja ia lewati.


"Ratu menitipkan ini untuk Yang Mulia Raja," ucap sang utusan sambil menyerahkan gulungan kertas tersebut kepada Daffa.


Tanpa memberi jeda lagi, sang raja langsung membuka gulungan tersebut yang masih disegel rapih dengan beragam simpul khas dari sang ratu. Itu adalah usaha Tasya agar surat nya tak dibajak atau dibaca oleh orang lain terlebih dulu sebelum sampai ke tangan sang raja.


Melihat simpul tersebut, Daffa pun digempur kembali oleh perasaan rindu nya terhadap sang istri.


'Tasya, Dear.. sudah lama rasanya saya terpisah dari kamu..' batin Daffa menggumamkan keresahan nya.


Daffa lalu membaca tulisan yang tertera dalam isi surat. Dan seulas senyum pun tak lama kemudian terbit dari wajah sang penguasa Nevarest.


"Syukurlah.. ratu Charrine dan putri nya telah berhasil ditemukan. Dengan begitu, Da bisa melanjutkan ke rencana berikut nya. Kasim Jung!"


Daffa lalu segera membakar surat dari sang ratu dengan api lilin yang ada di barak. Kemudian ia memanggil Kasim yang telah membantu nya selama masa peperangan ini.


"Hamba, Yang Mulia!" Kasim Jung segera menghadapkan diri nya di hadapan raja Daffa.


"Panggil semua jenderal untuk berkumpul di sini. Ada perkembangan baru yang terjadi!" Daffa pun menyampaikan titah nya.


"Baik, Yang Mulia!"

__ADS_1


Kasim Jung kembali keluar barak untuk menunaikan perintah sang raja. Meninggalkan raja Daffa hanya berdua saja dengan utusan ratu Tasya.


"Bagaimana kabar Ratu? Dalam surat-surat nya, ia tak pernah menjelaskan tentang kondisi nya dan juga istana," tanya Raja Daffa pada utusan di hadapan nya.


"Yang Mulia Ratu dalam kondisi baik-baik saja, Yang Mulia. Sementara istana sedang ada pergolakan sedikit," tutur sang utusan bercerita.


"Apa yang terjadi?"


"Ada wacana untuk mengganti perdana menteri Ali dengan Alul Lazam. Jadi ada perdebatan yang terjadi di istana," cerita sang utusan.


"Hmm.. orang itu lagi. Selain itu, apa ada lagi?" Tanya Daffa kembali.


"Ada, Yang Mulia. Tapi hamba mohon ijin Paduka Raja untuk menyampaikan nya langsung ke telinga Yang Mulia," sang utusan meminta ijin.


"Ya. Mendekat lah!"


Sang utusan lalu mendekati raja Daffa untuk membisikkan sesuatu ke telinga nya. Namun, apa yang terjadi kemudian sangat mengejutkan sang raja. Karena tiba-tiba saja utusan tersebut mengeluarkan sebilah pisau dari balik saku celana nya.


Beruntung nya Daffa sigap dan berhasil menghindar saat utusan tersebut hendak menikam dada nya.


Segera setelah nya, sang utusan bersiul. Dan ia pun berubah menjadi gumpalan debu yang beterbangan. Debu-debu itu lalu melesat keluar dari tenda dan menghilang entah ke mana.


Di luar tenda, teriakan "ada penyusup!" Bergema ke seluruh perkemahan prajurit. Sementara para jenderal yang telah dinotifikasi oleh Kasim Jung pun segera pergi ke barak utama tempat raja Daffa berada.


Orang pertama yang menemukan sang raja tergeletak tak sadarkan diri di tanah adalah seorang prajurit penjaga. Ia melihat warna kulit sang raja telah berubah pucat keunguan. Pertanda bahwa raja Daffa telah diracun dalam serangan yang baru saja terjadi.


***


Sementara itu di istana Goluth dua jam setelah nya..


"Bagaimana? Apa kau berhasil melakukan nya?" Tanya raja Elfran pada sosok berpakaian rakyat biasa di hadapan nya.


"Hamba berhasil, Yang Mulia Raja! Meski pun hamba hanya bisa meninggalkan luka goresan saja di lengan raja Daffa, tapi dengan racun yang hamba oleskan di belati itu, bisa hamba pastikan Raja Daffa saat ini pasti sedang sekarat," tutur sang abdi yang ternyata adalah orang yang telah menyamar menjadi utusan ratu Tasya dan menyerang raja Daffa di barak nya.


"Seberapa kuat kah racun itu bagi manusia?" Tanya Elfran belum puas.

__ADS_1


"Sangat kuat, Yang Mulia. Sejauh ini tak ada yang bisa bertahan hidup lebih dari tiga hari setelah terkena racun tersebut. Itu adalah bisa ular beracun yang paling mematikan yang pernah ada," papar sang abdi kembali.


"Tiga hari? Kalau begitu dia masih bisa selamat bukan?" Raja Elfran terlihat kesal dengan kenyataan tersebut.


"Mungkin. Tapi sejauh ini belum ada yang bisa menetralisir racun dari ular tersebut. yang Mulia!" Sang abdi mencoba meyakinkan keberhasilan misi nya pada Elfran.


"Yah.. semoga saja ucapan mu itu menjadi kenyataan," Sindir sang raja yang terlihat tak puas dengan kinerja pembunuh bayaran di hadapan nya itu.


Sang pembunuh merasa sedikit kesal dengan sikap raja Elfran pada nya. Ia menunggu dulu selama beberapa waktu. Berpikir bila sang raja akan langsung memberikan upah atas hasil kerja nya itu. Namun raja Elfran malah mengusir nya kemudian.


"Pergi lah! Jangan muncul lagi di hadapan Da,sebelum Da mendengar berita kematian orang itu!" Usir sang raja tiba-tiba.


"Bagaimana dengan upah hamba, Yang Mulia?" Tanya sang pembunuh bayaran.


"Kau masih berani meminta upah? Enyah lah! Atau Da buat kau enyah untuk selama nya!" Ancam raja Elfran dengan sikap malas dari atas kursi tahta nya.


Pembunuh tersebut merasa geram. Di saat ia kelihatan seperti hendak berbalik, tiba-tiba saja ia melemparkan belati beracun ke arah raja Elfran. Selanjutnya ia bersiul dan merubah diri nya menjadi gumpalan debu kembali.


Sayang nya sang pembunuh tak melihat, ketika raja Elfran sigap berubah menjadi cairan hitam yang mengental. Terlebih lagi saat cairan hitam tersebut kemudian melesat terbang ke arah debu sang pembunuh.


Spontan saja debu-debu tersebut langsung terjerat dalam cairan tersebut. Hingga keseluruhan debu berhasil diraup dan dikurung oleh cairan hitam.


Pergumulan antara dua zat itu berlangsung tak terlalu lama. Mulai dari pertengahan udara, hingga keduanya jatuh terjerembap ke atas lantai.


Para abdi raja Elfran yang berdiri di sisi dinding terlihat memandang ngeri pada pergumulan dua zat di pertengahan ruang balairung tersebut. Tak ada yang berani mendekati dua zat tersebut selagi cairan hitam kental milik raja Elfran bergerak-gerak ******* debu sang pembunuh bayaran.


Sekitar lima menit kemudian pergumulan tersebut baru berakhir. Dengan dimenangkan oleh cairan hitam yang kemudian berubah kembali menjadi raja Elfran.


Penampilan sang raja terlihat sedikit berantakan. Namun ia tak mempedulikan nya. Dengan langkah pasti sang raja pun kembali menuju kursi tahta nya. Sebuah kepuasan terlihat jelas dari kedua mata sang raja.


Para abdi sang raja yang tadi menjadi penonton lalu menatap bingung ke arah lantai tempat pergumulan tadi berlangsung. Namun mereka tak mendapati sisa debu walau sedikit pun jua di sana.


Entah apa yang terjadi pada pembunuh bayaran tersebut. Namun bila dilihat dari kepuasan di mata sang raja, hampir semua sepakat. Kalau menghilang nya pembunuh bayaran itu tentu disebabkan oleh ulah raja Elfran sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2