
Di kamar Ratu Charrine (Karina)...
Karina melihat pantulan wajah nya di kaca jendela. Ia bisa melihat jejak tangis di wajah cantik nya itu.
Hati sang ratu dari kerajaan Goluth itu tengah dirundung oleh rasa pilu. Ia benar-benar tak menghendaki kehidupan nya saat ini.
Meski pun mahkota cantik bertengger di atas kepala nya, pada kenyataan nya Karina merasa seperti burung hias yang dikurung dalam sangkar emas nya.
Rasanya sungguh menyiksa. Karena ia tak bisa menjalani hidup seperti yang ia inginkan.
Berkali-kali Karina dihinggapi pemikiran untuk mengakhiri hidup nya. Namun bayang wajah putri satu-satu nya, yakni Rinaya terus mengisi benak dan hati nya.
Pandangan Karina menatap kosong ke jalan perkotaan di kejauhan yang sudah terlihat sibuk pada waktu pagi sekarang ini. Ia sungguh merindukan Rinaya.
Telah dua hari lama nya Karina tak bertemu dengan sang putri. Hati nya terasa sesak seperti ada hal penting yang hilang dari rutinitas keseharian nya.
Biasanya di waktu pagi seperti sekarang, Karina sedang menemani Rinaya bermain boneka. Karina rindu memainkan anak rambut Rinai yang ikal. Ia pun rindu mencium kening dan pipi putri mungil nya itu.
'Rinaya.. Mama rindu kamu, Nak..' bisik Karina dalam hati nya..
Hingga saat ini, Karina masih tak bisa bicara. Semua ini disebabkan oleh Frans, raja Goluth yang juga adalah suami Karina sendiri.
Di saat Karina sedang melamun, tiba-tiba saja pintu kamar inap nya yang dikunci dari luar terbuka. Seketika itu pula alarm bahaya berbunyi di benak ratu tersebut.
Karina meraih gagang lampu meja yang berada di dekat nya. Ia menduga kalau Frans mungkin kembali lagi ke kamar ini karena telah meninggalkan sesuatu.
Meski begitu, Karina merasa ia harus berjaga-jaga. Setidaknya jika lelaki itu hendak menyakitinya lagi, Karina akan memberikan perlawanan tersengit yang ia mampu berikan kepada lelaki itu.
Lelaki yang sudah menculik nya dan juga Rinaya dari kehidupan bahagia mereka di bumi.
Akan tetapi, bukan Frans yang ternyata telah membuka pintu kamar. Seorang lelaki yang dikenal Karina sebagai salah seorang pengawal yang berjaga di depan kini menatap lurus ke arah sang ratu.
"Nai, itu dia Mama kamu, bukan?" Ucap sang pengawal sambil menoleh ke belakang nya.
Pandangan Karina pun ikut tertarik ke arah yang dilihat oleh sang pengawal. Dan apa yang dilihatnya kemudian sungguh telah membuat nya terkejut setengah mati.
__ADS_1
'Rinaya!' Karina menjeritkan nama sang putri dalam hati nya.
Serta merta, Karina pun langsung berlari dan memeluk putrinya itu. Diciumi nya kening, kedua pipi, serta pucuk kepala Rinaya berkali-kali. Berusaha mengimpaskan rasa rindu nya terhadap putri semata wayang nya itu.
Dua bulir air mata pun meluruh turun dari wajah cantik sang ratu. Ia berusaha untuk mengatakan sesuatu. Namun sayang, suara nya yang telah hilang membuat Rinai tak mengerti dengan apa yang ingin dikatakan nya.
Merasa keadaan nya begitu menyedihkan, Karina kembali mengurai tangis. Dipeluk nya Rinaya dengan erat. Karina merasa bersyukur karena Allah telah menjawab doa nya. Ia bisa melihat lagi wajah putri satu-satu nya.
Kemudian mata Karina tak sengaja bertatapan dengan mata sang pengawal. Seketika itu pula hati nya menjadi gentar.
Belum sempat Karina menyembunyikan Rinaya di belakang nya agar tak dibawa pergi oleh sang pengawal, ketika kemudian pengawal itu berbicara.
"Halo, Mama Rinai! Nama ku Huna. Aku teman nya Rinai," ucap sang pengawal dengan ekspresi ceria di wajah nya.
Seketika itu pula Karina melongo keheranan. Hampir-hampir tak percaya dengan apa yamg dilihat oleh mata nya sendiri. Karena pengawal berbadan besar di depan nya itu mendadak bersikap seperti anak kecil.
'Dan siapa tadi nama nya? Huna?? Seingat ku nama nya bukan itu deh. Edmund atau apalah..' gumam Karina dalam hati.
"Mama, Rinai rindu Mama.. Rinai mau di sini aja sama Mama ya?" Pinta Rinai dengan mata berkaca-kaca.
Karina kembali melihat ke arah Rinaya.
Karina lalu mengusap bekas tangis di wajah nya dengan tangan. Setelah itu ia menggeleng pelan. Secara perlahan ia melafalkan kata-kata yang ingin diucapkan nya kepada Rinaya.
'Ma-af-in Ma-ma Nak. Ka-mu eng-gak bi-sa ti-dur di si-ni sa-ma Ma-ma du-lu..'
Rinaya tampaknya mengerti dengan ucapan Karina. Sehingga wajah nya pun langsung menunduk lesu kemudian.
"Kenapa gak bisa, Ma?" Tanya Rinaya sedih.
Kali ini, Karina tak mampu menjawab pertanyaan Rinaya. Ia tak mungkin tega mengatakan bahwa ayah kandung nya lah yang menjadi penyebab Karina tak bisa bersama dengan Rinaya. Lelaki itu sangat berbahaya.
"Kalau Rinai gak boleh tidur di sini sama Mama Rinai, gimana kalau Mama Rinai aja yang tidur sama Rinai di kamar nya?" Ucap sang pengawal lagi.
Perhatian Karina pun kembali tertuju pada pengawal yang baru saja bicara. Dan lagi-lagi Karina menangkap ekspresi girang yang tak sepatut nya menghiasi wajah sangar sang pengawal yang brewokan itu.
__ADS_1
'Ada apa sih sebenarnya dengan pengawal ini? Kenapa dia aneh banget ya?' tanya Karina dalam hati.
Lalu kejadian berikut nya yang terjadi membuat Karina sangat syok.
Tiba-tiba saja Karina menangkap bayangan wajah anak perempuan yang samar-samar bisa dilihat nya menimpang di wajah sang pengawal. Wajah anak perempuan itu tampak transparan dan terkadang tampak, juga terkadang tak tampak.
Karina merasa de javu dengan apa yang disaksikan nya barusan. Ia pernah mengalami ini. Lebih tepat nya cukup sering malah. Terutama sejak ia datang ke dunia yang aneh ini.
Karina sering melihat penampakan makhluk halus di mana-mana. Terlebih lagi di istana tua kerajaan Goluth. Ada banyak arwah bergentayangan di istana. Korban dari kebiadaban para penguasa negeri Goluth sejak dulu hingga sekarang.
Kebanyakan dari arwah-arwah itu umum nya tak jahat. Mereka biasa nya hanya merintih kesakitan, menangis atau juga hanya melewati Karina begitu saja. Seolah-olah menganggap diri mereka masih hidup dan bekerja di istana tersebut.
Meski begitu, ada juga beberapa arwah jahat yang cukup sering mengusili Karina. Dan ia paling kesal dengan arwah seorang pengawal yang sering membuntuti nya di istana.
Siapa juga yang akan merasa nyaman bila harus selalu didampingi oleh hantu pengawal yang kepala nya sering terputus hampir sepanjang waktu? Itu sungguh.. mengejutkan dan mengerikan!
Dan kini, Karina merasa yakin kalau ia baru saja melihat sosok arwah lagi yang menempel pada tubuh pengawal di depan nya itu.
Lalu benak Karina menyambungkan gelagat aneh sang pengawal dengan kemunculan arwah lain pada tubuh nya. Sehingga Karina pun tersadar bahwa pengawal tersebut seperti nya sedang kerasukan.
"Ayo, Mama Rinai! Kita pergi ke kamar Rinai sekarang juga! Huna gak bisa pinjam tubuh Om ini lama-lama," ucap sang pengawal lagi.
Begitu mendengar pernyataan sang pengawal, Karina pun lalu tersadarkan atas sesuatu hal.
'Tunggu dulu! Apa itu berarti di luar tak ada lagi penjaga bawahan nya si Gila?! Kalau begitu, aku bisa kabur bukan bersama Rinaya?!!' jerit Karina menyimpulkan fakta.
Serta merta, Karina pun langsung memeluk Rinaya karena rasa syukur nya yang tak terkira. Dengan spontan, ia pun memeluk sang pengawal yang telah dirasuki oleh arwah tersebut.
Siapa pun arwah itu, Karina sangat berterima kasih kepada nya.
'Terima kasih, siapa pun kamu!' Ucap Karina tanpa suara.
"Sama-sama, Mama Rinai. Aku teman nya Rinai!" Ucap sang pengawal dengan cengiran yang bagi Karina terlihat menggemaskan saat ini.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Karina pun langsung menarik tangan sang putri untuk mengikuti nya keluar dari kamar inap tersebut.
__ADS_1
Keduanya terus berlari secepat yang mereka bisa. Menjauh dari tempat yang telah mengurung mereka selama beberapa hari ini. Demi bisa menjauh dari sosok Frans yang ditakuti.
***