Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Kabur!


__ADS_3

Sementara itu, di kamar inap Hima..


Tasya panik saat Damsi memberinya kabar tentang Hima yang menghilang.


"Sudah kamu cari ulang, Dam? Mungkin Hima hanya sedang bersembunyi?" Tutur Tasya berusaha tetap bersikap tenang.


"Sudah, Ratu. Tapi kami tetap tak menemukan nya di mana pun dalam kamar. Ini salah hamba. Karena tadi hamba meninggalkan Pangeran ke dapur," Damsi merasa bersalah.


"Tidak. Bukan salah Damsi, Ratu. Ini adalah kelalaian hamba. Jika saja tadi hamba menunggu Damsi pulang terlebih dulu baru pergi ke kamar mandi.." gantian Afni yang terlihat merasa bersalah.


Tasya menghela napas panjang. Ia berusaha tetap berpositif thinking.


Saat ini Daffa dan para raja dari ketiga negeri lain nya sedang berunding di lantai atas. Mungkin baru sekitar tiga sampai empat jam lagi perundingan Pizloff Enmuah akan selesai.


Tasya mempunyai waktu beberapa jam lagi sebelum Daffa selesai dengan perundingan nya. Ia berharap sang raja tak perlu mengkhawatirkan soal Hima, selesai perundingan berakhir.


Ada tiga hal yang akan dibahas dalam perundingan Pizloff Enmuah ini. Setiap topik akan dibahas per hari nya selama tiga hari berturut-turut dimulai sejak hari ini.


Hari ini perundingan akan membahas perihal revisi batas wilayah kerajaan. Karena setiap tahun selalu saja ada pergeseran patok yang menjadi batas wilayah kerajaan. Terutama untuk wilayah yang hanya dibatasi oleh daratan saja.


Tasya berharap ia bisa segera menemukan Hima, sebelum perundingan berakhir.


"Bagaimana dengan para pegawai penginapan? Apakah kalian sudah menanyakan nya kepada mereka?" Tanya Tasya kemudian.


"Kami belum menanyakan nya ke semua pegawai, Ratu. Baru beberapa pegawai yang lewat di dekat kamar pangeran saja," jawab Damsi segera.


"Kalau begitu, sekarang juga kita cari Hima. Semoga saja ia hanya sedang berjalan-jalan saja karena bosan di kamar," ucap Tasya berpositif thinking.


"Siap, Ratu!"


Tasya lalu menitahkan pengawal pribadi nya juga untuk ikut mencari Hima.


"Di mana kamu, Nak?" Gumam Tasya seorang diri.


***


Sementara itu pangeran kecil yang sedang dicari-cari oleh ratu Tasya ternyata sedang makan kue pukis di dapur penginapan bersama Rinai.

__ADS_1


Hima yang mulanya bermaksud untuk pulang kembali ke kamar nya, pada akhirnya malah mengikuti Huna dan juga Rinai mencari kamar Mama Rinai.


"Mama itu apa sih? Kadal? Kucing?" Tanya Hima suatu ketika.


Ia hanya ikut berjalan ke sana kemari bersama Rinai dan Huna. Tanpa tahu apa yang sebenarnya dicari oleh mereka.


'Mama itu ya Mama! Hima gimana sih!' dumel Huna.


Ia merasa sebal karena pencarian mereka harus tertunda oleh rasa lapar yang dirasakan oleh Hima. Pada akhirnya mereka melipir dulu ke dapur penginapan.


Huna merasa sebal karena hanya Hima dan Rinai saja yang bisa memakan kue-kue lezat di atas piring. Sementara yang bisa dilakukan nya hanyalah menghisap sari-sari nya saja.


Spirit memang tak memerlukan makanan untuk bertahan hidup. Umum nya di dunia spirit para spirit akan membasuhkan diri di pemandian energi. Di mana dengan cara itu lah sesosok spirit bisa tetap bersemangat dalam beraktivitas.


Tapi sejak kepindahan nya ke bumi, Huna hanya bisa menyesap sari-sari makanan dan minuman saja sebagai sumber energi nya.


Huna sering merasa iri pada Hima dan manusia lain yang dilihat nya. Karena mereka terlihat menikmati makanan yang disantap nya.


Untuk makanan atau minuman yang telah disesap sari nya oleh sesosok spirit, maka makanan dan minuman itu akan terasa hambar bila dimakan oleh manusia atau makhluk hidup yang lain.


Huna duduk di atas kursi tinggi yang ada di dapur. Mata nya sibuk mengamati kegiatan para koki yang sednag masak di dapur.


"Oke. Hima sudah selesai. Jadi, kita mencari Mama lagi?" Tanya sang pangeran.


Di dekat nya Rinai terlihat masih ingin memakan kue yang masih ada di atas poring. Namun mendapati sikap Huna yang tak sabar, Rinai pun memutuskan untuk berpisah dengan kue-kue nan lezat itu.


Dalam hati nya Rinai merasa menyesal. Karena saat ia kembali ke istana Goluth nanti, belum tentu ia akan bisa menikmati kue-kue lezat seperti yang baru saja ia makan tadi.


"Ini, bungkus saja, Nak. Seperti nya kamu masih lapar kan?" Seorang koki wanita tua membungkus sisa kue di atas piring, lalu memberikan nya kepada Rinai.


Anak perempuan itu pun langsung sumringah. Dengan tersipu-sipu ia pun mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, Nenek," ucap Rinai dengan sikap manis.


Nenek koki tersebut lalu mengusap pelan kepala Rinai. Dan menasihati kedua anak kecil di depan nya itu untuk segera kembali ke kamar mereka.


"Berhati-hatilah di jalan ya. Dan ingat, langsung pulang ke kamar inap kalian!" Nenek koki menasihati.

__ADS_1


Hima terlihat ragu-ragu menjawab. Begitu pun dengan Rinai. Keduanya sempat saling melirik ke satu sama lain. Sebelum akhirnya mengangguk ke arah nenek koki tersebut.


"Terima kasih ya, Nek.. untuk kue nya.." ucap Hima dengan sikap santun.


"Sama-sama, Nak. Sudah. Sekarang, kembali lah!"


Hima, Rinai dan juga spirit Huna pun lalu keluar dari ruang dapur.


Setelah berada di lorong penginapan lagi, Hima pun kembali bertanya.


"Jadi, kita mencari Mama Rinai lagi? Mama Rinai itu seperti apa? Kucing? Kambing?" Tanya Hima lagi.


Rinai memberikan Hima pandangan aneh. Padahal sebenarnya pertanyaan Hima itu memang bisa dimaklumi. Karena di Nevarest seorang ibu tak dikenal dengan panggilan Mama. Hanya ibu atau ibunda saja.


Jadi bagi Hima, panggilan "mama" hanya lah sebuah kata asing yang tak pernah ia dengar sebelum nya.


"Hima! Mama itu ibu nya Rinai tahu!" Cibir Huna tak sabar.


"Oh! Ibunda.. Hima pikir itu sejenis hewan peliharaan.."seloroh Hima dengan polos nya.


Rinai tak menyahut apa-apa. Anak perempuan itu memang cenderung pendiam bila dibandingkan dengan anak-anak seumuran nya.


"Jadi, ibunda Rinai memang nya pergi ke mana?" Tanya Hima kembali.


Secara perlahan, sang pangeran mulai tak merasa canggung untuk mengajak bicara Rinai, teman baru nya itu.


Mungkin karena pembawaan Rinai yang tak banyak bicara, jadi membuat Hima merasa penasaran dengan isi kepala anak perempuan tersebut.


"Mama.."


Ucapan Rinai terpotong oleh teriakan seorang lelaki di kejauhan.


"Itu dia! Tangkap!" Seru lelaki itu.


Seketika itu juga, Hima, Rinai dan Huna langsung menoleh ke belakang mereka. Dna ia melihat pengawal yang tadi tertidur di depan kamar inap Rinai menunjuk ke arah dua anak kecil itu berada. Ekspresi garang menghiasi wajah lelaki itu juga kedua lelaki kain yang ada bersama nya.


Merasa gentar, dengan spontan nya Hima langsung saja meraih pergelangan tangan Rinai. Untuk kemudian mengajak nya berlari pergi. Menjauhi ketiga lelaki pengawal di belakang nya.

__ADS_1


"Ayo pergi!" Seru Hima dengan jantung yang berdegup kencang.


***


__ADS_2