
Tasya dan Daffa terhenyak kaget dengan penuturan dari Ayah Jordan.
"Jadi, maksud Ayah.. Frans, maksud Tasya, raja Elfran sudah.. tewas?!" Tanya Tasya memastikan.
"Ya. Gosong di tempat. Lagipula, siapa juga yang bisa selamat dari panas api bersuhu lebih dari 1000 derajat celsius, Sya? Ayah saja sampai kasihan pada raja Elfran. Dan Jason juga seperti nya menyesal karena belum bisa mengontrol naga milik nya itu dengan baik. Tadi nya Jason pikir, paling Eduardo hanya akan mengibaskan sayap nya saja ke arah raja Elfran."
"Eduardo?"
"Ya. Nama naga hijau milik Jason. Unik ya? Sayang sekali Ayah tak berhasil mengendalikan satu naga pun. Jika saja ayah bisa, tentu negeri kita ini akan semakin disegani oleh kerajaan lain nya," Jordan pun berandai-andai.
"Ehem! Jadi naga hijau itu sebenar nya hewan yang berbahaya bukan? Apa.. naga itu cukup aman di luar? Kenapa Jason tak menyimpan nya lagi di bola.. bola apa tadi, Yah?" Tasya bertanya.
"Bola Pemanggil. Menurut Jason, Eduardo bosan bila harus selalu tinggal dalam bola pemanggil. Jadi sesekali ia ingin membiarkan naga itu bermain di luar," tutur Jordan dengan nada biasa.
Tasya dan Daffa saling berpandangan. Kedua nya sepakat kalau Dunia Para Naga seperti nya telah membuat jalan pikiran ayahanda dan juga Jason menjadi sedikit konslet. Mereka menganggap naga seperti hewan peliharaan biasa layak nya anjing atau kucing saja.
Tasya membayangkan bagaimana bila naga hijau tadi sudah bangun dan ingin bermain. Bermain bola? Atau kejar-kejaran? Tentu saja permainan apapun yang akan dimainkan oleh naga itu akan menimbulkan goncangan yang cukup untuk membumi ratakan suatu kota.
Dan Tasya pun seketika bergidik ngeri usai membayangkan akibat yang bisa ditimbulkan oleh naga tersebut.
Setelah mengobrol lama di Dimensi Asing namun Anna tak kunjung datang. Akhirnya Tasya, Daffa dan Jordan pun kembali ke dunia nyata. Jordan lalu kembali menempati Puri Utama dan menemani ratu Elva tinggal di sana.
Sepekan berikut nya Antes yang melakukan invasi ke kerajaan Allain pun memberikan laporan kepada raja kuda tersebut.
"Yang Mulia, ternyata Bahm adalah putra Bahima. Pantas saja ia memiliki kemiripan dengan raja Bahima. Ketika hamba ke sana, kami menemukan raja Bahima yang asli telah dikurung dalam penjara bawah tanah. Ia telah dikurung oleh putra nya itu selama beberapa tahun terakhir," lapor Kepala Militer Antes.
"Tragis sekali. Lalu, bagaimana tanggapan nya tentang kudeta yang dilakukan oleh putra nya itu ke kerajaan Nevarest?" Tanya Daffa.
"Ia tak tahu menahu soal aksi bangsawan Bahm, Yang Mulia. Jadi kami pun lalu mengabarkan tentang kondisi putra nya yang ada dalam tahanan kita."
"Lalu, bagaimana tanggapan nya?"
__ADS_1
"Raja Bahima tak keberatan bila putra nya diadili atas perbuatan nya itu. Akan tetapi beliau menyampaikan keinginan nya untuk mengadili putra nya itu sendiri. Itu pun bila Yang Mulia memperkenankan nya. Ini adalah surat yang ditulis oleh raja Bahima untuk Yang Mulia Raja."
Antes kemudian menyerahkan sebuah gulungan surat dari raja Bahima. Di mana dalam surat itu sang raja memohon kepada Daffa untuk menyerahkan putranya, Bahm kepada nya untuk diadili. Ia berjanji untuk menghukum putra nya itu dengan hukuman yang adil, sesuai dengan perbuatan kudeta yang tak hanya dilakukan oleh nya terhadap ayahanda nya sendiri, namun juga berusaha merusak kedamaian di antara dua kerajaan (Nevarest dan juga Allain).
Daffa berpikir lama atas permohonan raja Bahima tersebut. Setelah berpikir, ia pun kemudian memutuskan untuk memberikan kesempatan pada raja Bahima untuk menegakkan kekuasaan nya kembali lewat tindakan adil yang akan dilakukan nya terhadap perbuatan keji putra nya.
Pastilah itu akan menjadi tantangan yang berat bagi raja Bahima. Karena harta yang paling berharga selain kekuasaan bagi seorang pria adalah anak yang dimiliki nya.
Ada kekhawatiran dalam benak Daffa bila raja Bahima tak mampu menegakkan keadilan atas perbuatan putra nya. Karena itu lah Daffa akan mengutus orang kepercayaan nya untuk menjadi saksi bagi raja Bahima dalam menghukum Bahm dengan seadil adil nya.
"Sampaikan nanti permintaan Da kepada raja Bahima. Kau utuslah seseorang untuk menyertai proses peradilan yang akan dilalui oleh bangsawan Bahm. Pastikan agar raja Bahima tetap memegang komitmen nya untuk berlaku adil," Daffa pun memberikan titah nya kepada Antes.
"Baik, Yang Mulia!" Sahut Antes dengan sigap.
"Sementara itu, kau pergi lah ke kerajaan Goluth. Pantai situasi di kerajaan itu. Karena menurut Ayahanda Jordan, saat ini kerajaan itu telah kehilangan raja nya," titah Daffa lebih lanjut.
"Raja Elfran tiada?!" Antes tampak sangat terkejut.
"Ratu Charrine, Yang Mulia?"
"Ya. Tak ada salah nya juga kan bila Goluth dipimpin oleh nya?"
"Ya. Benar kata Baginda. Akan tetapi, status politik ratu Charrine di kerajaan nya itu terbilang lemah, Yang Mulia," imbuh Antes menerangkan.
"Begitu kah? Bagaimana bila Da mengabarkan kepada Dunia bahwa ratu Charrine sudah Da anggap seperti saudari dekat ratu Tasya? Tidak kah itu akan membuat status politik nya menguat?" Daffa mengusulkan saran nya.
"Itu.. tergantung bagaimana pendapat para tetua kerajaan Goluth juga Yang Mulia. Tapi bila kita menawarkan keuntungan yang lain pada para tetua itu, mungkin mereka akan menerima ratu Charrine sebagai pemimpin mereka yang baru," imbuh Antes kembali.
"Nah. Seperti nya kau memiliki ide yang cukup bagus, Antes. Coba kemukakan ide yang kau punya tentang keuntungan itu!"
Dua jam berikut nya diskusi di antara Daffa dan juga Antes terus berlangsung. Pada akhirnya Daffa bisa menyusun rencana terbaik agar pengangkatan Karina sebagai penguasa baru kerajaan Goluth bisa diterima oleh rakyat dan para tetua kerajaan itu.
__ADS_1
Daffa pun meminta pendapat Karina tentang rencana pengangkatan nya sebagai penguasa baru kerajaan Goluth. Sayang nya Karina menolak rencana itu.
"Aku ingin pulang ke bumi, Daff. Aku merasa tak cocok dengan kehidupan di sini. Aku ingin membangun hidup normal dengan Rinaya di bumi bersama-sama dengan kedua orang tua dan juga abang ku," Karina mengemukakan alasan nya.
"Apa kau sudah memikirkan nya baik-baik? Di dunia ini kehidupan kalian berdua sudah terjamin baik," Daffa kembali membujuk.
"Hh.. Yang, jangan paksa Karina untuk menjadi sesuatu yang enggak dia inginkan. Jika memang Karina ingin kembali ke bumi, biarkan saja. Masih ada orang lain yang bisa menjadi penguasa baru kerajaan Goluth, kan?"
"Ada sih, Dear. Tapi usia bangsawan tersisa dari garis keturunan anggota keluarga kerajaan Goluth masih terbilang sangat muda. 13 tahun.." jawab Daffa.
"Mm.. pastikan saja anak remaja itu memiliki pendamping dan penasihat yang baik. Dan biarkan anak itu menjadi penguasa sah setelah usia nya mencukupi. Bisa juga kan begitu?" Tasya memberikan usulan.
Daffa memandang ratu nya dnegan tatapan kagum.
"Kamu memang cerdas, Dear! Saya makin cinta deh sama kamu."
Baru juga Daffa hendak menarik Tasya ke dalam pelukan nya, ketika ia mendengar deheman suara Karina.
"Please deh.. jangan lovey dovey an di sini bisa kan? Walaupun ini adalah istana kalian, tapi kalian saat ini kan lagi ada di kamar ku. Jadi mending balik dulu ke kamar kalian deh sana kalau mau lovey dovey an!" Protes Karina sambil memandang ke arah lain.
Wajah Tasya seketika merah padam oleh rasa malu. Sementara Daffa terlihat cuek dan tetap memandang kagum pada istri nya.
"Ya sudah. Kalau begitu, saya balik dulu ke kantor kerajaan ya, Dear. Dan Karina, bila memang kamu ingin kembali ke bumi, kami akan pastikan perjalanan pulang kalian berdua berjalan aman," janji Daffa.
Karina terlihat menahan haru atas perhatian Daffa kepadanya dan juga Rinaya.
"Makasih ya, Daff.. Sya. Walaupun sebenar nya aku sedih juga karena harus berpisah sama kamu lagi, tapi aku pastiin kalau kamu adalah best friend nya aku seumur hidup!" Seru Karina sambil memeluk Tasya erat-erat.
Gantian Tasya yang merasa terharu usai mendengar pernyataan Karina tadi. Ia pun kemudian menyahut singkat.
"Iya, Rin-rin. Kamu juga adalah best friend nya aku seumur hidup!" Sahut Tasya dengan suara pelan, tepat ke telinga Karina.
__ADS_1
***