
Pada saat baby Hima berusia 35 hari, masa nifas Tasya berakhir juga. Tak menunggu lama, dua hari berikut nya berempat dengan Daffa, Zizi dan baby Hima, Tasya berangkat menuju istana.
Perpisahan dengan keluarga Bu Solerina pagi itu dihiasi dengan tangisan haru. Kepada ibu bertubuh gempal itu, Tasya berjanji untuk kembali menemui nya nanti. Ia harus beradaptasi dengan kondisi di istana terlebih dahulu.
Sebenar nya Tasya menawarkan pekerjaan sebagai pengasuh baby Hima di istana kepada Bu Sole. Mengingat sudah lama Tasya tak berada di istana. Dan ia tak tahu siapa saja yang bisa dipercayai nya.
Setelah satu bulan tinggal bersama Bu Sole, Tasya jadi mengenal watak baik ibu gempal itu. Apalagi Bu Sole juga seperti nya sangat menyayangi Hima.
Terlebih lagi saat Tasya dan keluarga kecil nya itu nanti pergi, maka Bu Sole akan kembali tinggal sendirian di rumah ini.
Pak Idham memang jarang pulang ke rumah. Karena pekerjaan nya yang menjadi kuli bangunan di kota. Beliau baru pulang sekitar dua atau tiga bulan sekali.
Terhadap tawaran dari Tasya itu, Bu Sole meminta waktu untuk mempertimbangkan nya. Apalagi suami nya belum mengetahui perihal tawaran Tasya itu. Jadi ia meminta waktu untuk berpikir.
Akhirnya Tasya dan yang lain nya pun menerima keputusan Bu Solerina itu dengan lapang dada.
...
"Yang.. aku kok ngerasa Hima kayak nya kelaperan terus ya? Dia menyusu dua kali lipat dari bayi lain nya, Lho," ujar Tasya di perjalanan mereka menuju istana.
"Begitu kah?"
"Iya. Ya kan, Zi?" Tasya meminta dukungan pada sang adik.
"Zizi mana tahu, Yang.." sanggah Daffa.
"Tahu, Yang! Soal nya Zizi, kan, sempat tinggal di rumah tetangga Bu Sole yang juga baru lahiran. Umur nya selisih satu minggu dari baby Hima, Yang. Kata Zizi, baby Hima memang lebih sering menyusu dibandingkan dengan bayi tetangga nya Bu Sole itu. Hampir sepanjang waktu malah, ia menyusu.." Tasya berargumen.
Ditatapnya wajah baby Hima yang saat ini sedang pulas tertidur.
Kontur wajah putra nya itu semakin hari, semakin berubah. Tasya kini bisa melihat kemiripan baby Hima dengan Daffa dibagian dagu nya yang sedikit terbelah.
Pandangan Tasya jadi meneduh. Rasa-rasa nya bila ia harus menatap wajah putranya selama seharian penuh pun ia tak akan pernah bosan.
__ADS_1
Cinta Tasya pada bayi putra nya itu perlahan membuat nya bisa terlupa dengan rasa sedih nya atas kehilangan baby satu nya lagi.
"Hh.. memang sih. Saya rasa kamu memang lebih sering menyusui Hima. Tengok saja, sebentar lagi juga putra kita pasti akan terbangun karena lapar," terka Daffa.
Dan benar saja. Tak lama kemudian baby Hima pun terbangun. Padahal ia belum lah tidur selama lima belas menit saja.
Tapi mungkin penyebab baby Hima terbangun juga karena getaran yang dirasakan oleh mereka, saat kereta listrik yang mereka tumpangi tiba-tiba saja berhenti.
Mungkin mereka sudah sampai di tujuan mereka saat ini.
Selama satu setengah jam terakhir, Tasya bersama Daffa, Zizi dan baby Hima menaiki kereta listrik gratis milik kerajaan.
Moda transportasi itu memang sengaja digratiskan oleh Raja Jordan sejak belasan tahun silam.
Kereta ini hanya melayani satu rute saja. Yakni mengitari seluruh wilayah utama di negeri Nevarest.
Tasya bersyukur karena Ayah nya itu menggratiskan banyak hal untuk para penduduk nya. Karena sisa koin yang ia dapat dari Anna hanya bersisa sedikit saja.
Di Nevarest, koin menjadi mata uang dalam proses transaksi apapun. Terdapat tiga jenis koin yang dikenal di negeri ini. Yakni koin emas, perak, dan koin perunggu.
Satu koin perak bernilai sama dengan 100 koin perunggu. Dan 10 koin perak bernilai sama dengan 1 koin emas.
Negeri Nevarest adalah negeri yang paling subur dibandingkan tiga negeri tetangganya. Tanah di Nevarest adalah yang paling subur untuk ditanami dengan berbagai macam tumbuhan.
Kekayaan hayati di Nevarest pun melimpah, sehingga menjadikan pertanian dan perkebunan menjadi mata pencaharian utama penduduk di Nevarest.
Iklim yang ada di Nevarest awalnya cenderung tropis. Sehingga suhu udara di sana berkisar antara 28 hingga 31 derajat celsius.
Syukurlah sejak pembangunan ibu kota Nevarest 25 tahun yang lalu, arsitektur kota Nevarest sangat tertata apik. Dengan ditempatkannya pepohonan kecil di sepanjang jalan Nevarest.
Saat ini Tasya sedang memperhatikan lalu lalang kuter di jalan raya utama yang menuju pusat ibu kota.
Kuter adalah alat transportasi berupa skuter listrik. Kendaraan ini adalah kendaraan yang paling banyak digunakan oleh para penduduk Nevarest. Ini dikarenakan biaya okre nya tidak terlalu tinggi.
__ADS_1
Di samping Tasya, Daffa membawa perbekalan makanan mereka. Dan Zizi berjalan di sisi lain Tasya, mengikuti langkah sang kakak dalam diam.
Sepenilaian Tasya, terdapat beberapa perubahan di struktur dan bangunan yang ada di sepanjang jalan ibu kota Nevarest, sejak terakhir kali ia berada di sini.
Tanaman edkar di sepanjang jalan kini tak lagi ditanam dalam boks semen saja. Namun juga dibuat hiasan berbentuk bunga yang terbuat dari kayu, sebagai tempat bagi tanaman sulur itu untuk tumbuh merambat sebebas-bebas nya.
Tanaman edkar adalah tanaman buatan yang bisa menyerap gas panas di udara 1000 kali lebih baik dari tanaman lain nya, lalu mengubahnya menjadi gas oksigen.
Sehingga dengan keberadaan tanaman edkar di setiap rumah inilah yang menyebabkan udara di ibu kota Nevarest saat ini menjadi lebih sejuk.
Karena itulah, meski saat mereka sampai di ibu kota, waktu sudah menunjukkan saat paling terik nya. Tasya dan juga yang lain tak jua merasakan panas. Karena udara panas itu telah diserap oleh hamparan tanaman edkar di sepanjang jalan.
"Rasanya, hampir gak ada yang berubah ya, Yang, dari kota ini?" Ucap Tasya bernostalgia.
Daffa menganggukkan kepala nya.
"Ya. Kecuali bagian jumlah mobil yang sepertinya lebih banyak dari sebelum nya. Setahu ku terakhir kali sebelum pergi ke bumi, pembatasan jumlah mobil di negeri ini hanya mencatat ada belasan mobil saja yang boleh dipakai. Tapi sedari tadi saya lihat, mobil sering kali berlalu lalang," tutur Daffa mengamati sekitar nya.
Di Nevarest memang terdapat pembatasan jumlah untuk setiap alat elektronik seperti tv, telpon, kulkas, dll.
Pembatasan jumlah juga berlaku untuk semua alat transportasi. Pembatasan ini bisa berlangsung efektif karena semua alat transportasi dan alat elektronik tersebut dikenakan pajak (Okre) yang sangat tinggi.
Oleh karena pajak yang tinggi itulah yang menyebabkan penggunaan alat elektronik menjadi terbatas pada kebutuhan istana, beberapa fasilitas umum, serta segelintir orang yang memiliki kekayaan setara dengan atau lebih kaya dari keluarga kerajaan.
Tapi bila melihat lalu lalang mobil yang cukup sering melintasi jalan raya utama saat ini, Tasya langsung terpikirkan dua penyebab utama nya.
Bisa jadi ada lebih banyak orang yang kaya di Nevarest saat ini, sehingga mampu membayar biaya okre yang kelewat tinggi.
Atau bisa jadi juga terdapat perubahan peraturan tentang moda transportasi di Nevarest saat ini.
Untuk alasan yang kedua itu, ia harus mencari tahu nya sendiri ke istana nanti.
***
__ADS_1