Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Hima Kerasukan


__ADS_3

'Mama? Dari mana Hima mengenal kata itu? Bukan kah panggilan Mama hanya dikenal di bumi? Jadi kenapa Hima menyebutkan kata itu?' benak Tasya diliputi oleh rasa penasaran.


Belum sempat Tasya menanyakan nya kepada Hima, sang pangeran telah kembali merengek kepada nya.


"Ibunda harus menolong Rinai! Sekarang juga, Bunda! Kasihan Rinai!" Setelah merengek, pangeran Hima tiba-tiba saja tak sadarkan diri. Ia pingsan.


"Pangeran!!" Seru Damsi dan Afni bersamaan.


"Himada! Himada, sayang?!" Tasya menepuk-nepuk pipi putra nya itu beberapa kali dengan pelan.


Kepanikan mulai menguasai sang ratu saat melihat putra nya tiba-tiba tak sadarkan diri.


Damsi sigap mengambil sesuatu dari dalam saku baju nya. Sebuah botol berisi cairan menyengat.


"Mohon letakkan ini di bawah hidung pangeran, Ratu. Ini akan membantu nya cepat tersadar!" Ucap Damsi bernada genting.


Tasya pun mengambil botol kecil di tangan Damsi. Membuka penutup nya, dan meletakkan nya di bawah hidung Himada. Setelah beberapa lama, sang pangeran pun siuman.


Seketika itu pula kelegaan melingkupi seluruh benak ratu dan para bawahan nya di ruangan itu.


"Ibunda? Ibunda sudah sehat?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut mungil pangeran Hima.


Kebingungan pun dirasakan oleh Tasya. Karena ia mendapati perubahan sikap yang drastis dari pangeran kecil di pangkuan nya itu.


Sikap Hima telah kembali menjadi tenang. Seperti pembawaan nya yang seperti biasanya ia.


"Hima, Sayang? Kamu sudah sadar, Nak? Apa kamu merasa pusing?" Tanya Tasya merasa ada sesuatu yang salah dengan perubahan sikap Himada yang begitu drastis.


Hima mengerjapkan mata nya beberapa kali. Ia lalu menelengkan kepala nya ke kiri dan menatap sang ibunda dengan tatapan bingung.


"Hima baik-baik saja, Ibunda. Tadi itu Hima.."


Pandangan Hima tiba-tiba saja bergeser ke kanan. Ke tempat kosong di dekat Tasya. Himada lalu beranjak duduk dan menunjuk ke tempat kosong tersebut.

__ADS_1


"Huna! Jangan lakukan itu lagi! Bukan kah sudah Hima katakan untuk tidak masuk ke kepala Hima!" sang pangeran menuding ke tempat kosong tersebut.


Tasya, Damsi, Afni dan dua orang pengawal pun langsung menganga keheranan.


Tapi lalu Tasya cepat menyadari maksud ucapan putra nya barusan. Pandangan nya lalu melirik ke arah dua pengawal yang menatap Hima dengan pandangan heran.


Kegentingan pun dirasakan oleh Tasya saat itu juga.


'Bahaya! Dua pengawal itu tak boleh mengetahui sikap ganjil Hima tentang makhluk halus!' benak Tasya menyimpulkan.


Sedetik kemudian, Tasya pun menitahkan dua pengawal tersebut untuk keluar ruangan dan berjaga di depan pintu.


Dua pengawal itu langsung sigap mengiyakan perintah sang ratu. Kemudian menutup pintu ruangan itu. Tinggal lah akhirnya di ruangan itu Sang ratu, Pangeran Himada, Damsi dan juga Afni. Beserta juga spirit Huna.


"Hima, apa yang kamu katakan tadi, Nak? Masuk ke kepala? Siapa maksud mu, Sayang?" Tanya Tasya meminta perhatian sang pangeran.


Hima kembali melihat ke arah sang ibunda. Lalu menjawab pertanyaan dari ratu Tasya.


"Huna, Bunda! Dia tadi masuk lagi ke kepala Hima! Hima tak suka! Karena itu membuat kepala Hima pusing!" Keluh sang pangeran.


Sayang nya, ucapan Huna hanya bisa didengar oleh saudara kembar nya, Hima. Jadilah akhirnya Ratu Tasya, Damsi dan Afni menjadi penonton dari percakapan monolog yang dilakukan oleh pangeran mereka.


"Karena Hima gak mau! Seharus nya Rinai memang pulang ke kamar nya, Huna. Seperti kita juga!" Seru Hima dengan nada suara terbilang tinggi.


'Tapi kasihan Rinai, Hima! Dia dikurung di sana seharian. Dan dia gak boleh ketemu Mama nya!' balas Huna dengan suara melengking.


"Pokok nya enggak, ya enggak, Huna! Ibunda! Huna tuh!" Hima mengadu kepada sang ratu.


Tasya yang menerima pengaduan Hima pun hanya bisa menoleh ke tempat Hima tadi melihat.


Merasa canggung dan tak tahu harus bersikap bagaimana, Tasya memutuskan untuk berkata entah pada siapa. Walau pun pandangan nya masih tak lepas dari area kosong di dekat nya itu.


"Sudah. Jangan bertengkar!" Ucap Tasya ke udara kosong di depan nya.

__ADS_1


Setelah jeda beberapa detik lama nya, tiba-tiba Hima kembali berkata.


"Bunda, Bunda lihatin apa?" Tanya Hima dengan raut bingung.


Ditanya seperti itu, Tasya pun jadi ikutan bingung.


"Eee.. lihatin.. Huna? Bukan nya Huna ada di situ ya?" Tanya Tasya sambil menunjuk ke area kosong yang tadi sempat lama dilihat oleh pangeran Hima.


"Huh? Huna nya kan sudah pergi, Bunda. Dari tadi pas Hima teriak ke Bunda, Huna nya langsung pergi nembus ke tembok itu tuh!" Seru Hima menjelaskan sambil menunjuk ke tembok yang dimaksud.


Seketika itu juga Tasya dihinggapi oleh perasaan malu. Terutama malu terhadap Damsi dan juga Afni yang ikut menyaksikan kebodohan yang baru saja dilakukan nya tadi.


'Dasar! Begini lah kalau pura-pura melihat sesuatu yang sebenarnya tak terlihat! Yang ada malah bikin diri sendiri jadi malu kan!' kecam Tasya terhadap diri nya sendiri.


Di dekat Tasya, Damsi dan Afni menahan senyuman. Jarang sekali mereka mendapati momen sang ratu yang dikerjai oleh putra nya sendiri. Walau pun sebenar nya Pangeran Hima tak bermaksud untuk mengerjai ibunda nya itu sih.


Tasya pun kemudian berdehem. Demi menetralkan suasana kembali seperti semula.


"Ngomong-ngomong, Hima, jadi tadi itu Huna sempat masuk ke kepala kamu, begitu? Dan sekarang kepala kamu pusing?" Tanya Tasya menyimpulkan.


"Iya, Bunda. Tapi sekarang udah enggak pusing, kok. Cuma pas tadi aja. Waktu Huna masuk ke kepala Hima. Rasa-rasanya Hima mau bicara pun jadi gak bisa," keluh Hima kemudian.


Pandangan Tasya langsung meruncing tajam. Ia langsung diliputi oleh perasaan khawatir terkait kondisi yang menimpa putra nya barusan. Sebuah dugaan pun muncul di benak sang ratu. Untuk memastikan nya, Tasya pun kembali bertanya.


"Lalu apa Hima ingat kalau tadi Hima menangis dan merengek ke Ibunda? Hima minta Bunda untuk menolong Rinai?" Tanya Tasya dengan jantung yang berdebur kencang.


Jawaban Hima berikut nya akan memastikan kebenaran dugaan Tasya terhadap apa yang menimpa putra nya, beberapa waktu yang lalu.


"Huh? Menangis? Bukan nya itu Huna ya, Bunda? Tadi Hima melihat Huna lah yang menangis ke pangkuan Bunda. Hima kan seorang pangeran. Pangeran hebat tak sepatutnya menangis di depan orang lain! begitu kata Ayahanda, Bunda!" Seru Hima dengan sikap yang terlihat dewasa.


Ba dump.


Ba dump.

__ADS_1


'benar dugaan ku! Berarti Hima tadi itu kerasukan oleh Huna. Atau sesuatu yang lain. Sehingga ia tak sadar telah menangis merengek tak seperti biasanya ia!' benak Tasya menyimpulkan.


***


__ADS_2