Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Ditemukan nya Hima


__ADS_3

"Ratu, seorang pegawai mengaku pernah melihat pangeran Hima berjalan sendirian di lorong bagian belakang gedung. Namun menurut nya ia telah mengantarkan pangeran Hima ke kamar inap sang pangeran," lapor Afni kepada Ratu Tasya.


"Kapan? Tapi Hima belum pulang ke kamar ini," jawab Tasya merasa heran.


"Ya, Ratu. Setelah hamba bertanya lagi ke kamar inap mana pegawai itu mengantarkan Pangeran, ternyata ia mengantarkan nya ke kamar inap yang berbeda. Menurut nya, ia mengikuti arahan dari pangeran Hima," jawab Afni kembali.


"?!! Lalu, apa kamu sudah mengecek ke kamar inap yang dimaksud?" Tanya Tasya kembali.


"Sudah, Ratu. Ternyata kamar itu ditempati oleh putri dari raja Goluth. Begitu menurut pengawal yang berjaga di depan kamar itu."


"Dan pengawal itu melihat pangeran kah?" Cecar Tasya penuh harap.


Afni menggeleng lemah. Terlihat jelas penyesalan itu di wajah manis nya.


"Sayang nya tidak, Ratu. Pengawal itu mengaku sempat tertidur hampir satu jam lama nya. Dan saat hamba meminta ijin untuk mengecek ke dalam ruangan yang tak terkunci, ternyata putri raja Goluth yang berada di dalam kamar itu pun ikut menghilang. Jadilah akhirnya pengawal itu juga ikut panik karena mencari Tuan Putri mereka."


Pikiran Tasya terasa semakin kusut.


'Kenapa malah jadi lebih runyam begini sih masalah nya? Apa jangan-jangan Hima mengajak serta putri Kerajaan Goluth pergi bermain?' Tasya sibuk menduga-duga.


"Jadi, sekarang ada dua anak kecil yang hilang yang harus kita cari, benar begitu?" Tasya mengimpulkan.


Afni mengangguk kaku.


"Benar, Ratu," jawab nya lesu.


"Kalau begitu, kerahkan semua pengawal yang ada untuk mencari keberadaan mereka. Utamakan agar berita ini tak tersebar hingga ke luar dari penginapan," Tasya memberikan titah nya.


"Siap, Ratu!"


"Yang Mulia Ratu!" Seorang pengawal masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru. Seketika itu pula perhatian ratu Tasya dan Afni pun beralih kepada nya.


"Lapor, Yang Mulia. Pangeran telah ditemukan, saat ini ia berada di ruang 304," lapor sang pengawal.


Seketika itu juga benak Tasya diliputi oleh rasa syukur yang tak terkira.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi pangeran Hima?! Apakah ia baik-baik saja?!" Tanya Tasya sedikit mendesak.


"Pangeran Hima dalam kondisi baik-baik saja, Ratu. Hanya saja.." sang pengawal terlihat kesulitan untuk menjelaskan sesuatu.


Melihat raut sang pengawal yang seperti itu, membuat sang ratu menjadi kembali cemas.


"Ada apa? Pangeran tak terluka bukan?!" Cecar ratu begitu mendesak.


"Tidak! Pangeran Hima baik-baik saja, Ratu. Hanya saja.. Pangeran sedang menangis saat ini. Pelayan Damsi sedang berusaha menenangkan Pangeran, tapi.."


Ucapan sang pengawal langsung dipotong oleh Tasya.


"Antarkan Da ke tempat pangeran Hima berada sekarang juga!" Tasya memberi titah.


"Baik, Ratu!"


Setelah nya, Tasya pun pergi menuju ruangan tempat pangeran Himada berada saat ini. Dalam hati nya ia merasa penasaran. Hal apa kiranya yang sudah membuat putra nya itu menangis? Karena selama lima tahun ini, pangeran Himada amat jarang menangis.


Begitu sampai ke ruangan tersebut, pandangan Tasya langsung menangkap sosok putra nya itu. Hima masih menangis di pangkuan Damsi. Dengan sabar Damsi terlihat mengusap-usap punggung sang pangeran untuk menenangkan nya.


"Hima, Sayang.. ada apa, Nak?" Panggil Tasya sambil mendekati putra nya itu.


"Yang Mulia Ratu!" Damsi menyapa Tasya.


Sementara itu Hima yang menyadari kedatangan sang ibunda pun langsung turun dari pangkuan Damsi. Dan bergegas lari menuju ibunda nya.


"Ibunda!!" Teriak pangeran Hima sambil melanjutkan tangis nya.


Tasya pun berjongkok dan memeluk tubuh mungil putranya itu. Ia mengangkat tubuh Hima dan membawa nya duduk di atas sofa dalam ruangan tersebut.


Dengan penuh kasih diusap-usapnya kepala sang pangeran kecil.


"Sshhh...sshh..shh..sshh.. pangeran ku yang hebat.. ada apa l, Nak? Kenapa Hima menangis? Ceritakan kepada ibunda, Sayang!" Bujuk Tasya dengan suara lembut.


Tasya lalu agak melepas pelukan nya ke tubuh Hima. Sehingga kemudian ia bisa menatap wajah putra nya itu dari jarak dekat.

__ADS_1


Dihapusnya air mata yang membasahi wajah gembil pangeran Hima dengan sapu tangan. Lalu diciumi nya kening dan pipi sang pangeran kecil dengan penuh rasa sayang.


"Bunda di sini.. ibunda di sini, Nak.. ceritakan lah. Hima ke mana saja tadi? Ibunda khawatir sekali saat bibi Damsi mengabarkan kalau Hima menghilang!" Tegur Tasya dengan suara yang masih dilembutkan.


"Hijs.. Hima.. tadi Hima main, Ibunda. Hima.. ikut Huna ke kamar Rinai.. kami mencari Mama.. tapi mama Rinai tak ada. Dan lelaki jahat datang. Hima takut, ibunda. Tolong Rinai!" Papar Himada panjang kali lebar.


Mendengar jawaban sang pangeran, Tasya pun seketika menganga.


'Jadi, ini semua karena Huna?! Ya Tuhan.. apa benar kekhawatiran suami ku ya. Kalau Huna hanyalah tipu muslihat musuh untuk mencelakai Hima kami?' gumam batin Tasya dipenuhi rasa khawatir.


Tasya berusaha menjernihkan pikiran nya dari kekhawatiran yang berlebihan. Yang utama baginya adalah putra nya saat itu baik-baik saja. Syukurlah..


Setelah merenungkan sesuatu selama beberapa waktu, Tasya pun kemudiam berkata lagi.


"Rinai itu.. apakah nama putri dari raja Goluth?" Tanga Tasya kepada Afni.


"Itu.. seingat hamba, pengawal di kamar inap itu menyebutkan nama Rinaya, Ratu. Tapi mungkin Rinai adalaha nama kecil dari tuan putri mereka," sahut Afni menjelaskan.


"Tolong Rinai, Bunda! Dia gak mau dikurung lagi di kamar itu! Dia bilang kalau dia mau ke Mama nya. Kasihan Rinai, ibunda!" Rengek Hima kepada sang ratu.


Tasya kembali menganga. Tak percaya bahwa putra nya yang biasa nya ceria kini merengek kepada nya karena seorang anak perempuan.


Tasya merasa heran, sejak kapan Himada mengenal putri Rinaya? Karena sepengetahuan nya ini adalah pertemuan mereka yang pertama kali. Mengingat kerajaan Goluth berikut para penguasa nya telah mengisolirkan diri dari pergaulan di luar wilayah kerajaan nya.


Jadi kemungkinan Hima dan Rinaya untuk bertemu tentu sangatlah kecil. Bahkan hampir tak ada kesempulatan bagi mereka untuk bertemu sama sekali.


"Memang nya Hima mengenal Putri Rinaya? Maksud ibunda, pangeran mengenal Rinai?" Selidik Tasya.


"Kenal, ibunda. Rinai kan teman nya Huna. Rinai anak baik, Bunda. Dia hanya ingin ke mama nya saja," jawab pangeran Himada.


'Mama? Dari mana Hima mengenal kata itu? Bukan kah panggilan Mama hanya dikenal di bumi? Jadi kenapa Hima menyebutkan kata itu?' benak Tasya diliputi oleh rasa penasaran.


Tasya pun kembali menduga. Apakah raja dan ratu kerajaan Goluth adalah seorang pengelana juga yang pernah ke dunia bumi, seperti diri nya dulu?


***

__ADS_1


__ADS_2