Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Pertarungan Tertutup


__ADS_3

Daffa merasakan rasa pedih dari luka yang ada di perut nya. Dengan perlahan, Daffa hendak berusaha melepas anak panah magis milik Frans. Akan tetapi sebelum ia sempat memegang nya, anak panah tersebut telah hilang dengan sendiri nya.


Darah segar pun seketika mengucur keluar dari luka di perut Daffa. Dengan sigap, Daffa mencoba mengaliri aliran chi pada bagian luka yang menganga tersebut. Sehingga secara perlahan luka nya itu tertutupi oleh selaput chi yang Daffa lapiskan di sana.


Pertolongan pertama ini hanya untuk mencegah ia kehilangan darah lebih banyak lagi. Meski begitu Daffa harus tetap mendapatkan penanganan medis secepat mungkin.


Daffa berusaha menepis rasa pedih di bagian perut nya yang terluka. Ia lalu mendengar suara Tasya yang berkata pada nya lewat telepati.


'Daff! Apa yang kamu tunggu? Kenapa juga kamu datang sendirian ke sini? Pergi lah dulu. Cari Damsi untuk mengobati luka mu itu!' suara Tasya terdengar panik di benak Daffa.


Daffa menatap Tasya tepat di kedua mata nya.


'Tenang lah, Dear.. bantuan akan segera datang. Saya hanya terburu-buru untuk segera ke sini. Saya tak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa kamu dan juga Hima,' tutur Daffa lewat telepati pula.


'Tapi sekarang kamu yang terluka! Kenapa kamu gak copy inner power Frans sedari tadi sih?' lanjut Tasya mendumel dalam hati.


'Saya juga bingung menjelaskan nya, Dear. Saya kesulitan untuk meng copy inner power Frans. Entah karena alasan apa. Tubuh nya seperti diselimuti oleh kabut berwarna emas. Jadi saya kesulitan untuk membaca warna chi milik nya,' papar Daffa menjelaskan.


"Hahaha! Kenapa kau diam saja, Daff? Coba ku tebak. Ku dengar inner power mu adalah mampu meng copy inner power milik orang lain. Benar begitu? Jika benar, saat ini kau mungkin sedang kesulitan untuk mengcopy inner power milikku. Begitu bukan?" Frans menebak penyebab diam nya Daffa yang cukup lama.


"Kau tahu inner power ku. Handal juga para intel mu itu ya!" Puji Daffa dengan jujur.


"Well, aku hanya mendengar bisikan dari musuh mu yang lain. Dari Bahm lah aku mengetahui nya. Sayang nya Bahm terlalu bodoh sehingga masuk ke dalam jebakan murahan mu itu. Ku dengar dia sudah dieksekusi mati oleh ayah nya sendiri? Naas sekali. Qiqiqiqi.." lagi-lagi Frans terkekeh geli.


Terlihat jelas kalau lelaki itu tak memiliki empati pada Bahm yang kini telah tiada.


"Kau juga harus berhati-hati Frans. Tidak kah menurut mu sebaik nya kau segera pergi dari tempat ini? Bagaimana pun juga ini adalah wilayah ku. Di sini, Aku memiliki ribuan prajurit yang berdiri di belakang ku. Sementara kau? Ku lihat kau hanya datang ke sini sendirian?" Daffa memberikan nasihat nya.


"Hah. Aku terlalu malas untuk menggunakan orang lain sebagai pedang ku. Rasa-rasa nya akan lebih menyenangkan bila aku melakukan nya seorang diri. Seperti sekarang ini.."


Frans membelai rambut Tasya yang telah terurai sebagian. Meski Tasya mencoba menghindari sentuhan Frans, tetap saja usaha nya itu berakhir gagal. Dan Daffa yang melihat pergerakan santai dari Frans itu pun seketika meradang.


"Jangan sentuh Tasya lagi, Frans. Aku memperingatkan mu untuk yang terakhir kali!" Ancam Daffa tiba-tiba.


"Kenapa? Kau mulai panas, hah? Bagaimana bila kulakukan ini. Apa yang akan kau lakukan, boy?"


Frans lalu mendekati leher Tasya kembali. Ujung mata nya terlihat menantang Daffa.


Merasa tak tahan lagi, Daffa pun kemudian berlari cepat untuk melayangkan tinju ke wajah Frans. Sayang nya, Daffa berlari dengan kekuatan orang biasa. Jadi baru dua langkah ia berlari, langkah nya harus terhenti oleh kibasan bayangan hitam yang dibuat oleh Frans.

__ADS_1


Daffa pun terlempar dan menabrak dinding hingga kemudian tersungkur ke atas lantai. Darah segar mengalir keluar dari ujung mulut nya.


"Daff!" Tasya menjeritkan nama Daffa. Batin nya ikut merasa sakit melihat tubuh Daffa yang terpelanting begitu mudah nya.


Kemudian Daffa terlihat bangkit dengan susah payah.


"Hahaha! Lihat? Suami mu itu kini begitu lemah. Tunggu dulu, kenapa kau tak menggunakan inner power mu itu? Atau kau tak bisa melakukan nya oleh sebab suatu hal? Huh?" Frans tersenyum lebar sambil memandang tanya pada Daffa.


Daffa mencebik kesal dalam hati. Ia sedikit menyesalkan karena inner power yang terakhir kali ia copy adalah milik Tasya. Dan itu dilakukan nya lewat perbincangan telepati nya dengan Tasya sesaat tadi.


Akhirnya kini Daffa harus menggunakan kekuatan normal nya untuk melawan Frans. Sementara ia masih kesulitan membaca aura chi milik Frans oleh sebab kabut emas yang menyelimuti aura chi lelaki itu.


Daffa lalu teringat sesuatu hal.


"Golden boy.. aku baru ingat, kalau kau sempat menawan Dion, anak ellaki Jason. Bukan kah kau memanggil nya dnegan sebutan Golden Boy? Aku mendnegar dari Jason dan juga Dion. Bagaimana perlakuan mu bertahun-tahun ini kepada anak itu. Kau mengambil darah nya. Apa itu berhubungan dengan kabut emas yang menyelimuti aura chi mu?" tanya Daffa sambil menerka-nerka.


Frans menyeringai lebar.


"Akhirnya kau tahu sendiri jawaban nya. Ya.. seperti nya itulah sebab nya kau juga tak bisa meng copy inner power milikku. Ajaib sekali bukan? Ini jadi mengingatkan ku untuk membawa anak itu lagi nanti. Dia ada di sini bukan?" Tanya Frans tiba-tiba.


Belum sempat Daffa menjawab, sebuah suara lain telah menjawab pertanyaan Frans terlebih dulu.


Seketika itu juga perhatian tiga orang dewasa dalam ruangan pun tertuju pada Jason.


Jason lalu melangkah masuk bersama dengan Jordan dan juga Antes. Ketiga nya lalu menyapa singkat Daffa.


"Maafkan hamba yang datang terlambat, Yang Mulia!" Tutur Antes sambil sedikit menundukkan kepala nya.


"Kau sudah terluka, Daff? Tenang lah, kau tak lagi sendirian melawan orang gila itu!" Imbuh Jason sambil memberikan Daffa senyuman tipis.


Sementara itu Jordan memberikan anggukan singkat kepada Daffa. Sebelum perhatian nya ia kembalikan ke arah Tasya yang ada dalam tawanan tali magis nya Frans.


"Cih. Kalian datang. Sekarang apa? Kalian mau mengeroyok ku begitu? Hey, Daff! Apa keluarga mu memang sepengecut ini? Berani nya melawan ku dengan berkelompok!" Kecam Frans yang terlihat tak suka dengan kedatangan tim nya Daffa itu.


"Untuk menghadapi orang tak tahu aturan seperti mu, tak perlu memakai aturan melawan sendiri atau ramai-ramai, tahu! Jangan banyak bicara. Ayo kita bertarung sekarang juga!" Seru Jason yang langsung berlari ke arah Frans untuk menyerang nya.


Frans lalu melesatkan panah hitam magis nya ke arah Jason. Namun Jason berhasil menghindari panah tersebut.


Di belakang Jason, Jordan pun ikut berlari untuk menyerang Frans juga. Diikuti juga oleg Antes yang segera memunculkan angin tornado ukuran sedang ke arah Tasya dan juga pangerna Hima yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


Sang ratu dan pangeran Hima lalu dibawa menepi oleh angin tornado milik Antes ke tempat yang lebih aman. Baru kemudian Antes ikut menyerang Frans mengikuti jejak Jason dan juga Jordan.


Jordan memiliki inner power gerakan kilat. Sehingga dalam sekejap mata ia sufhs berdiri di depan Frans untuk menendang dada nya. Namun Frans cukup sigap. Ia membuat perisai hitam yang menghalangi tendangan Jordan.


Di saat bersamaan Frans juga melesatkan lusinan anak panah ke arah tiga orang yang kini menyerang nya bergerombol.


Dengan kibasan angin magis nya, Antes menepis panah magis milik Frans. Namun Frans tak berhenti untuk meluncurkan anak panah yang jumlah nya tak lagi bisa dihitung jari.


Daffa yang sempat mengamati pertarungan di depan nya itu pun kemudian ikut bangkit untuk membantu Ayah dan juga kawan nya.


Sesekali Daffa melesat cepat setelah mengcopy inner power milik Jordan. Dan menyernag Frans dari jarak dekat. Namun lagi-lagi perisai hitam itu muncul untuk melindungi Frans dari serangan keempat orang tersebut.


Sesekali juga Daffa memunculkan angin tornado yang ia kibaskan ke arah perisai hitam milik Frans. Sayang nya Frans selalu bisa memunculkan kembali perisai hitam magis milik nya.


Pertarungan di antara kelima orang tersebut berlangsung cukup alot. Dengan Frans yang selalu bisa mengimbangi serangan keempat lawan nya.


Selama beberapa menit berikutnya, Daffa dan tim nya mulai kelelahan karena menurun nya pasokan chi dalam tubuh mereka. Sementara itu Frans terlihat masih cukup segar seperti di awal ia bertarung.


Keanehan ini disadari oleh Daffa dan juga yang lain. Sehingga pada suatu waktu Daffa dan tim nya pun berhenti menyerang untuk mengistirahatkan diri.


"Kenapa? Kalian mulai lelah ya? Hahaha. Sudah kubilang bukan, kalau aku ini sangat lah kuat. Jadi berhenti lah jadi lalat pengganggu dan menyerah lah. Untuk kalian bertiga, menyingkir lah. Aku hanya mempunyai urusan dengan raja kalian itu!" Frans mengedikkan bahu nya ke arah Daffa.


"Cih! Sombong sekali kau! Jangan berbangga diri dulu, Gila! Lihat saja bila sudah ku panggil Eduardo ke mari. Kita lihat nanti. Kau masih bisa berkacak pinggang seperti ini atau kah gosong seperti ikan bakar!" Umpat Jason yang tak bisa menahan kesal.


Menyadari maksud ucapan Jason, seketika wajah Frans pun menegang. Saat ia mendengar Jason mulai berteriak memanggil nama naga nya itu, Frans pun tiba-tiba merubah wujud nya menjadi seekor elang hitam.


Ia bermaksud untuk kabur dan terbang melalui jendela yang terbuka lebar. Namun Daffa dan Antes memunculkan angin tornado secara bersamaan ke arah Frans yang kini berwujud Elang.


Dua tornado itu bertemu dan menjepit elang Frans di antara kedua nya. Sehingga Frans pun kemudian terpelanting ke sisi lain dalam ruangan.


Akan tetapi elang Frans kembali bangkit dan tiba-tiba berubah menjadi naga hitam besar. Wujud nya yang raksasa itu langsung menghancurkan atap ruangan tersebut sehingga reruntuhan pun tersebar ke segala sisi ruangan.


Di saat bersamaan, Jason memanggil naga nya keluar dari bola pemanggil.


"Eduardo keluar lah!" Teriak Jason dengan suara lantang.


Secara ajaib, cahaya kehijauan melesat keluar dari bola yang ada di pergelanagn tangan Jason. Cahaya hijau itu lalu mewujudkan diri nya sebagai naga hijau Eduardo. Jadi kini ada dua nagaraksasa di pertengahan bangunan istana.


Daffa, Jason, Jordan dan juga Antes segera menepi ke tempat yang aman dari reruntuhan. Antes kemudian segera menitahkan para prajurit nya untuk mengevakuasikan seluruh penghuni istana ke tempat yang aman. Dan ia pun mengejar Daffa dan juga lain nya yang kini sedang berlari ke tempat dua naga raksasa berada.

__ADS_1


***


__ADS_2