
"Ehemm!" Tasya berdehem cukup kencang. Mencoba mengalihkan perhatian Hima dari bekas tanda cinta yang ditinggalkan oleh Daffa di leher nya.
"Hima, Sayang. Kemarin itu, memang nya Hima kenal Rinai di mana?" Tasya perlahan bertanya.
"Di kamar nya Rinai, Bunda. Huna yang ajak Hima ke sana. Kata nya, Rinai juga bisa lihat Huna. Seperti Hima. Jadi Hima ke sana deh. Maaf ya Bunda karena Hima gak bilang dulu," sesal sang pangeran kecil dengan kepala tertunduk. Hima merasa bersalah.
"Iya, gak apa-apa. Kali ini Bunda maafkan Hima. Tapi lain kali jangan diulangi lagi ya, Sayang. Kalau mau ke mana-mana, bilang dulu sama Bunda, bibi Damsi atau bibi Afni. Oke, Sayang?"
"Iya, Bunda.."
"..."
"..."
"Jadi, kemarin itu pertama kali nya Hima kenalan sama Rinai?"
"Iya Bunda."
"Dan kata Hima tadi, Rinai juga bisa melihat Huna, begitu?" Tanya Tasya kembali.
"Iya, Bunda! Kenapa ya Rinai bisa melihat Huna. Tapi ibunda dan Ayahanda gak bisa?" sang pangeran terlihat bingung.
Ditanya seperti itu, Tasya pun ikutan bingung harus menjawab apa.
"Apa Rinai baik sama Hima?" tanya Tasya mengalihkan topik.
"Baik, Bunda. Tapi Rinai anak nya pendiam. Kasihan deh, Bund. Rinai ditinggal sendirian di kamar itu. Tidak seperti Hima," ucap Hima.
Seulas senyum terbit di wajah Tasya saat menyaksikan rasa bangga yang meliputi sang putra.
"Memang nya Hima kenapa, Sayang?" Tanya Tasya penasaran.
"Hima kan masih ada Bunda.. bibi Damsi.. bibi Afni. Dan juga Huna. Jadi Hima gak sendirian kan!" Seru Hima dengan tegas.
"Wah. Benar sekali itu. Karena kami semua memang menyayangi mu, Nak!" Ucap Tasya sambil memeluk sang putra sekilas dengan erat.
Setelah beberapa lama, kalimat lain meluncur keluar dari mulut sang pangeran. Kalimat yang berhasil membuat Tasya tertegun setelah nya.
__ADS_1
"Apa itu berarti Rinai tak mempunyai orang yang menyayangi nya, Bund? Itu sebab nya dia sendirian di kamar nya?" Tanya Hima kembali.
Lagi-lagi Tasya dibuat bingung harus menjawab apa, pada akhirnya sang ratu hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lain lagi.
***
Sementara itu di kamar inap Rinai...
Rinai menangis terisak-isak. Ia merindukan Mama. Kemarin ia sama sekali tak melihat Mama. Kemarin nya lagi pun Mama tak tinggal menemani nya di kamar ini.
Bocah perempuan itu sedih karena ia harus tidur sendirian dalam ruangan asing tersebut seorang diri. Ia ingin pulang kembali ke istana tempat tinggal nya bersama Mama. Agar ia bisa kembali melihat Mama.
"Mama.. hiks," sedu Rinai dalam ruangan yang sepi.
'Rinai! Jangan menangis! Aku datang!'
Indera pendengaran Rinai menangkap suara seperti bisikan di dekat nya. Ia amat mengenali pemilik suara halus tersebut.
Dan benar saja.
Saat Rinai mengangkat pandangan nya ke atas, mata nya langsung bersirobok dengan mata milik spirit Huna. Rinai menyebut sosok itu sebagai 'Hantu cantik'.
'Maafkan aku ya, Nai. Aku baru datang lagi. Tapi jangan bersedih! Karena Huna sudah menemukan Mama Rinai!' seru spirit Huna dengan bersemangat.
Tatapan Rinai tiba-tiba menemukan kembali binar nya. Ditatapnya si hantu cantik dengan pandangan penuh harap.
'iya! Kamar nya sangat dekat dari sini. Ayo kita pergi ke Mama kamu!' ajak spirit Huna segera.
"Tapi.. Rinai gak boleh keluar kamar lagi, Huna. Kata Om pengawal, kalau Rinai keluar lagi, nanti dia mau laporin Rinai ke Papa. Rinai takut.." tutur Rinai dengan ekspresi ketakutan yang tampak jelas terlihat.
'Jadi Rinai mau ketemu Mama Rinai enggak? Huna tadi ketemu Papa Rinai. Iihh.. serem.. Huna gak suka sama Papa Rinai. Papa Rinai jahat. Bikin Mama Rinai menangis!' tutur spirit Huna berapi-api.
"Mama nangis? Rinai mau ke Mama. Tapi Rinai takut dilaporin sama Om pengawal. Gimana ya Huna?" Tanya Rinai merasa cemas.
'ya udah! Tunggu bentar ya! Nanti kalau udah aman, Huna bilang deh, ke Nai!' ucap spirit Huna.
Setelah nya, spirit Huna pun bergegas menghilang menembus tembok. Selama beberapa menit berikut nya Rinai menunggu sambil harap-harap cemas.
__ADS_1
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit..
Hingga akhirnya setengah jam sudah berlalu kemudian.
Di saat Rinai hampir tertidur karena lama menunggu, tiba-tiba saja ia mendengar suara pintu yang terbuka. Dan tak lama kemudian Om pengawal muncul tertatih-tatih dengan keringat yang membanjir di kening nya.
Rinai menatap bingung dengan kemunculan Om pengawal. Sehingga ia hanya diam saja saat Om pengawal berjalan mendekati nya.
Lalu Om pengawal mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Rinai, lebih baik sekarang kamu keluar deh. Soal nya Huna gak bisa lama-lama pinjam tubuh Om pengawal. Ayo kita ke Mama Rinai!" Ajak Om pengawal dengan sikap aneh.
Selama beberapa saat Rinai masih juga tetap terdiam. Otak nya sibuk mencerna ucapan dari Om pengawal di hadapan nya tersebut.
Kemudian Om pengawal kembali bicara.
"Lho kok bengong sih? Ayo, Rinai! Kita ke mama kamu sekarang juga! Om pengawal sebentar lagi bisa sadar ini. Aku Huna!" Tutur Om pengawal lagi dengan nada mendesak.
Rinai pun terperangah. Mulut nya menutup dan menganga beberapa kali, namun tak ada suara yang bisa ia keluarkan.
Ini pertama kalinya ia melihat spirit Huna merasuki tubuh orang lain. Proses nya terlihat begitu menakjubkan. Karena tubuh Huna yang transparan langsung melebur hilang saat merasuki tubuh sang pengawal.
"Iih.. Rinai lama deh! Ayo cepetan! Jadi gak ke Mama kamu, Nai!?!" Desak Om pengawal lagi.
Diingatkan tentang Mama nya, Rinai pun sigap berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar. Meski begitu, pandangan nya masih menatap takjub kepada Om pengawal yang kini juga ikut berjalan menuju pintu.
Setelah berada di luar, Om pengawal yang telah dirasuki oleh spirit Huna lalu kembali duduk di atas kursi yang ada di depan kamar. Sementara itu Rinai berdiri menunggu tak jauh dari nya.
Tak berselang lama kemudian spirit Huna pun keluar dari tubuh sang pengawal. Rinai yang menyaksikan nya dibuat takjub dengan kemampuan psikis Huna tersebut.
'Ayo, Nai! Kita pergi sekarang juga! Sebelum Om nya bangun!' seru spirit Huna langsung melesat ke satu arah.
Rinai lalu melihat sang pengawal yang seperti hendak terbangun. Karena nya ia pun buru-buru lari mengejar spirit Huna yang sudah melesat jauh di depan nya.
Sekuat tenaga Rinai berlari. Lalu dilihat nya spirit Huna berbelok ke tikungan tak jauh di depan nya.
Sambil berlari, Rinai berharap agar Om pengawal tak menyadari kepergian nya dari dalam kamar, sampai ia kembali lagi nanti.
__ADS_1
'Mama..' bisik Rinai membaitkan nama sang Mama di hati nya.
***