
"Baby Huna?!" Bisik ratu Tasya terlihat begitu syok di tempat nya berdiri saat itu.
Butuh beberapa detik lagi sebelum Tasya bisa menenangkan diri nya. Meski pun saat ia kembali bicara, jantung nya masih berdebur kencang menatap udara kosong di hadapan putra nya itu.
'Benarkah teman halus nya Himada selama ini adalah Huna? Baby Huna ku?' benak Tasya sibuk bergumam sendiri.
"Huna itu.."
Lagi-lagi Tasya kehilangan suara nya. Setelah beberapa lama, pangeran Himada pun kembali menegur nya.
"Ibunda ratu kenapa terdiam? Mainlah boneka bersama Huna. Dia rindu pada ibunda," ucap Pangeran Himada kembali.
Dada Tasya tiba-tiba saja merasakan sesak. Jika saja ia tak menahan diri, bisa jadi saat itu juga mata nya telah basah oleh perasaan rindu yang hampir dilupakan nya terhadap bayi perempuan nya yang dulu telah meninggal.
Tangan Tasya terjulur ke arah udara kosong di depan boneka. Sayang nya ia tak bisa merasakan apa pun.
Merasa bodoh karena langsung mempercayai ucapan Hima, sekaligus juga sedih karena mengingat bayi nya yang telah tiada, sang ratu pun terkekeh pelan dengan nada menyedihkan.
Kekehan nya itu membuat Damsi dan Afni saling bertukar pandangan. Mereka tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan sang ratu. Karena mereka memang tak pernah mengetahui kalau Himada terlahir kembar dengan bayi perempuan yang kini telah tiada.
Kedua nya bekerja saat Tasya telah berada di istana. Dan Tasya juga tak pernah mengungkit perihal saudari kembar nya pangeran Hima.
Setetes air mata pun tanpa bisa dicegah oleh Tasya menitik di ujung mata kiri nya. Sebisa mungkin Tasya segera menghapus jejak tangis nya itu agar Himada tak sempat melihat nya menangis. Sementara itu seulas senyum disunggingkan di wajah ratu muda tersebut.
"Ibunda kenapa bersedih?" Tanya Pangeran Himada.
Tasya segera menggelengkan kepala nya cepat-cepat.
"Bunda tidak bersedih, Pangeran."
Himada menatap serius ke arah Tasya dan kembali berkata.
"Tapi kata Huna Ibunda bersedih. Huna selalu tahu banyak hal. Dan dia tak pernah berbohong, Ibunda.." tutur pangeran Hima kembali.
__ADS_1
Tasya tertegun. Di tatapnya udara koaong di dekat boneka itu tergeletak. Namun ucapan Himada kemudian membuat nya terkejut sekaligus tersipu-sipu.
"Ibunda melihat apa? Huna berkata, dia sedang duduk di depan Ibunda. Jadi kenapa Ibunda melihat ke arah yang lain?" Tanya pangeran Himada lagi dengan beruntun.
Tasya tercengang. Begitu juga dengan Damsi dan Afni yang sedari tadi ikut sibuk mendengarkan percakapan ibu dan anak tersebut.
"Di depan Bunda? Huna sekarang ada di depan ibunda?" Tanya Tasya dengan wajah yang terlihat syok.
"U..huh.. apa Ibunda juga tak bisa melihat Huna? Tapi kenapa tak bisa? Bukan kah Huna juga anak ibunda?" Himada tampak memiringkan kepala nya ke kanan. Pertanda ia yang sedang kebingungan memikirkan perihal Ibunda nya yang tak bisa melihat Huna seperti diri nya.
"Kenapa bisa tak bisa? Ah.. Huna, jangan bersedih. Tenang lah. Hima akan selalu menemani Huna. Jadi jangan menangis ya!" Ucap Himada tiba-tiba.
Himada lalu memeragakan seperti sedang mengusap wajah sosok makhluk halus yang berada di depan Tasya.
Perilaku putra nya itu sontak saja membuat Tasya seketika mematung. Sementara dalam hati nya, sang ratu muda tersebut merasakan perih oleh sebab yang tak masuk diakal.
Tasya merasa iri pada putra nya sendiri karena bisa berinteraksi dengan baby Huna nya. Itu pun jika benar baby Huna lah yang saat ini sedang dihibur oleh Himada.
"Pangeran Hima.." Tasya berusaha mengambil perhatian sang putra yang masih tersneyum menatap udara kosong di depan nya.
"Apa baby Huna.. tidak.. maksud ibunda adalah... Apa putri Huna benar-benar sedang duduk di depan ibunda?" Tanya Tasya memastikan.
Tasya menatap serius kepada Himada. Dna Himada membalas balik tatapan serius sang ratu dengan tatapan polos nya.
"Itu benar, Ibunda," sahut singkat pangeran Himada.
Setelah jeda sedetik, Hima kembali menambahkan, "Ahh.. Huna kembali bersedih. Kenapa ya Ibunda tak bisa melihat Huna?" Gumam pangeran Hima.
Setelah beberapa waktu lagi, Tasya lalu memberanikan diri untuk mengulurkan tangan nya ke depan. Berharap kali ini oa bisa menangkap rasa yang berbeda dari biasanya. Berharap juga bila ucapan Hima itu benar ada nya. Namun sekaligus juga tak ingin bila ucapan putra nya itu menjadi benar.
Karena bila sampai apa yang diucapkan oleh Hima itu benar terjadi, bukan kah itu berarti baby Huna nya masih berada di alam dunia, padahal seharus nya ia telah berada di alam yang lain?
Sayang nya, saat Tasya sudah mengulurkan tangan nya ke depan, lagi-lagi ia tak merasakan sensasi apapun. Ia tak bisa merasakan keberadaan baby Huna, seperti yang dibincangkan oleh Himada sesaat tadi.
__ADS_1
Perasaan kecewa dan sedih pun lantas merajai benak Tasya. Padahal ia sudah sangat berharap untuk bisa memeluk baby Huna nya saat itu. Namun...
Tasya lalu mendengar pangeran Hima kembali berkata kepada nya.
"Ahh.. gantian Bunda yang bersedih? Jangan bersedih, Bunda. Huna dan Hima jadi ikut bersedih juga," tutur Himada seraya mendekati ibunda nya itu.
Himada lantas merangsek maju dan memeluk pinggang Tasya dengan tangan nya yang mungil. Dan Tasya langsung merengkuh putra nya itu ke dalam pelukan nya.
"Maafkan Bunda, Nak.. bunda hanya bersedih karena tak bisa melihat Huna. Bisakah pangeran mengatakan kepada Bunda, bagaimana rupa wajah Huna?" Tanya Tasya begitu berharap.
Pangeran Hima kembali duduk tegak. Lalu setelah menoleh singkat ke udara kosong di depan Tasya, ia pun menjawab pertanyaan ibunda ratu nya tersebut.
"Huna sangat cantik. Mirip seperti ibunda. Rambut nya lebih panjang dari De. Tapi warna nya sama hitam. Dan sedikit keriting juga seperti rambut ibunda," Himada menjawab.
Mata Tasya kembali mengembun saat mendengar penuturan dari putra nya itu.
Seperti itulah kiranya gambaran nya terhadap baby Huna, jika saja putri nya itu masih hidup saat ini.
Sekuat tenaga Tasya berusaha menahan air mata nya agar tidak tumpah. Sehingga selama beberapa detik kemudian ia pun memutuskan untuk memeluk Hima dan memejamkan kedua mata nya.
Tasya merasa pantang untuk menangis di depan putra nya itu. Karena ia tak ingin Himada melihat ibunda nya dalam kondisi rapuh sebagai calon raja di negeri Nevarrst ini, Tasya ingin mengajarkan Himada agar senantiasa bersikap tangguh dan tabah.
Jadi ia tak pernah membiarkan rasa sedih nya atas sesuatu berhasil menguasai nya. Dan membuat nya terlihat sebagai ratu yang lemah di mata pangeran Himada.
Himada tampak nya paham bahwa ibunda nya sedang tak bisa diajak bicara. Sehingga ia pun menerima pelukan sang ibunda dalam diam.
Di dekat mereka Damsi dan Afni menatap bingung sekaligus bersedih juga atas kesedihan yang terlihat jelas di wajah sang ratu.
Entah apa yang telah membuat Sang Ratu bersedih. Benak Damsi dan Afni tak bisa menyangkut pautkan kesedihan sang ratu dengan teman halus nya pangeran mereka, Pangeran Himada.
Keheningan di ruang bermain itu lalu pecah oleh sebuah suara.
"Ratu.. ada apa dengan mu?" Tanya suara itu perhatian.
__ADS_1
***