Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Berita Baik


__ADS_3

Selama beberapa hari berikut nya, kondisi Damsi tak mengalami perubahan apapun. Ia tampak seperti sedang tertidur seperti saat pertama kali nya ia menikmati camilan beracun.


Sejak hari itu, tak ada lagi percobaan peracunan yang terjadi di istana. Kejadian peracunan ini tersebar di antara para penghuni istana. Sehingga menimbulkan desas-desus bahwa keselamatan keluarga kerajaan mulai terancam.


Desas-desus itu pun sampai ke telinga Tasya. Dan ia sudah memprediksi akibat dari peracunan yang dialami oleh Damsi.


Kini ia merasa nasib nya menjadi tontonan bagi para penghuni istana. Karena ia bisa merasakan tatapan iba pada setiap orang yang ia temui di istana.


Pikir orang-orang itu, Tasya tebak mestilah tentang akhir nasib nya nanti sepeninggal raja Daffa ke medan peperangan.


Tebakan Sang ratu memang ada benar nya. Hampir semua penghuni istana kini menebak akhir tragis bagi hidup sang ratu muda. Seperti ibunda ratu sebelum nya. Yakni ratu Elva yang masih terbaring koma. Juga ayah nya, raja Jordan yang keberadaan nya menghilang entah ke mana.


Banyak penghuni istana yang menebak kalau nasib ratu Tasya pun tak akan jauh berbeda dari kedua orang tua nya itu.


Dengan meliar nya asumsi ini, muncul pula asumsi lain dari pikiran para penghuni istana. Bahwa mereka meyakini ada kekuatan asing yang ingin melengserkan kekuasaan keluarga kerajaan saat ini.


Kebanyakan semua hanya berharap kalau mereka tak akan terkena imbas dari perebutan kekuasaan dalam istana saat ini.


Selama beberapa hari itu juga Tasya memutuskan untuk tidur bersama dengan putra nya. Ia benar-benar merasa khawatir dengan kondisi dalam istana saat ini.


Tak banyak yang bisa ia percaya lagi selain Jun dan juga Afni. Sementara Damsi, masih juga tak sadarkan diri hingga sepekan telah berlalu sudah.


Kondisi Damsi tetap dalam status dorman bahkan hingga tiga pekan berikut nya. Jadi genap sudah satu bulan abdi setia nya itu terbaring tak sadarkan diri.


Selama satu bulan itu, ada banyak hal yang terjadi.


Daffa dan pasukan nya telah tiba di perbatasan pada pekan kedua dari waktu keberangkatan nya menuju Goluth. Ia melalui peperangan pertama nya di kota Byak, sebuah kota yang ada dalam kekuasaan kerajaan Goluth.


Dalam peperangan itu, pasukan Daffa meraih kemenangan mereka. Ini mungkin terjadi karena pasukan militer Goluth yang telah tersebar di beberapa titik. Sehingga serangan Daffa yang tiba-tiba itu membuat mereka tak memiliki persiapan yang cukup untuk menangkis penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Daffa.

__ADS_1


Berita kemenangan itu baru sampai kepada ratu Tasya pada pekan ke tiga. Pesan itu diantar oleh seorang prajurit, yang kemudian Tasya anugerah kan sekantung emas atas berita baik yang disampaikan nya itu.


Tasya menitahkan agar prajurit itu saja lah yang akan menjadi kurir penyampai berita langsung dari raja Daffa kepada nya. Maksud sang ratu adalah untuk meminimalisir muncul nya berita palsu dari pihak musuh. Bila kurir yang mengantar nya berbeda-beda.


Walaupun itu tak menutup kemungkinan juga bila prajurit itu telah disuap oleh pihak musuh nanti nya.


Tapi Tasya telah mengantisipasi ancaman penyuapan dari pihak musuh kepada prajurit itu. Ia telah mencekoki sang prajurit dengan ramuan kesetiaan. Ramuan itu pernah diberikan Damsi kepada Tasya dulu, sebelum kejadian peracunan menimpa nya.


Ramuan kesetiaan itu akan bereaksi bilamana sang prajurit memiliki maksud lain dalam setiap ucapan nya. Terutama setelah Tasya menanyakan kepada nya beberapa pertanyaan pembuka seperti,


"Kau berkata jujur tentang hal ini, bukan?"


Atau juga pertanyaan seperti berikut ini,


"Kau menyampaikan pesan langsung dari raja Daffa,bukan?"


Di pekan ketiga itu pula Tasya mendengar sebuah kabar baik lain nya. Kali ini berita baik itu datang dari mulut pangeran Hima, putra Tasya dan Daffa satu-satu nya.


Di suatu sore yang cerah, ketika Tasya sedang membaca berkas laporan yang harus ia beri stempel kerajaan, Hima tiba-tiba saja menghadap kepada nya.


Saat itu Pangeran Hima ditemani oleh kepala pengawal Jun, seperti biasa nya.


"Ibunda ratu! Ibunda ratu!" Seru Himada berseri-seri.


Perhatian Tasya pun seketika terpecah. Ia pun menatap ke depan. Ke arah putra nya, Himada yang kini berlari-lari kecil ke arah nya.


"Himada, Sayang! Berhati-hati lah!!"


Belum selesai Tasya memberikan peringatan kepada Hima, saat tiba-tiba saja putra nya itu tersandung oleh kaki nya sendiri.

__ADS_1


Hampir saja pangeran kecil nya itu terjatuh, jika saja tak ada sepasang tangan yang sigap menangkap tubuh nya hingga ia tak jadi terjatuh.


"Ah! Terima kasih Paman Jun!" Tutur Himada langsung pada kepala pengawal Jun.


"Sama-sama Pangeran kecil!" Sahut Jun dengan senyuman ramah.


Tasya mengerjapkan mata nya beberapa kali saat ia melihat interaksi antara pangeran Himada dengan kepala pengawal Jun. Selama beberapa pekan ini ada yang berubah dalam sikap dan gestur pengawal Jun. Terutama adalah sikap protektif nya terhadap pangeran Hima.


Tasya menduga, kalau Himada lagi-lagi telah membuat orang lain jatuh hati pada sosok nya yang menggemaskan itu.


Seulas senyum tersemat lebar di wajah cantik sang ratu. Ia lalu menyambut tangan putra nya dengan ekspresi gembira pula.


"Ada apa. Nak? Apa kau tak apa-apa? Kau hampir terjatuh tadi.." tanya sang ratu seraya memeriksa bagian lutut dan lengan dari pangeran Himada. Khawatir bila terdapat lecet di tubuh putra nya itu.


"Tak apa-apa, Ibunda! Hima baik-baik saja!" Sahut Hima sambil tersenyum manis.


Tasya mencubit pelan pucuk hidung Himada dengan sayang. Sepasang mata hazel di depan nya itu selalu mengingatkan Tasya pada sang suami, yakni raja Daffa. Tasya sungguh merindukan suami nya itu.


"Ibunda ratu! Huna baru saja pulang. Dan tahukah Ibunda? Huna tahu di mana Rinai tinggal sekarang ini!" Sahut Himada bersemangat.


"Huna tahu tempat tinggal Rinai? Bagaimana bisa?" Tanya Tasya kebingungan.


Tasya ingat, kalau beberapa hari yang lalu putra nya itu bercerita kalau Huna tiba-tiba saja pergi menghilang. Saat itu Tasya tak terlalu menanggapi kesedihan Himada. Ia justru bersyukur bila sosok astral Huna pergi menghilang. Dengan begitu putra nya itu tak akan menerima pandangan aneh dari para pelayan istana yang tak sengaja menyaksikan saat ia bercengkerama dengan sosok Huna.


Tapi, dengan apa yang baru saja disampaikan oleh putra nya tadi, benak Tasya pun berpacu cepat.


'Bukan kah Rinai itu adalah putri dari ratu Charrine yang telah menghilang selama dua bulan ini? Menurut Hima, Huna mengetahui tempat tinggal nya saat ini?!' gumam sang ratu berasumsi.


***

__ADS_1


__ADS_2