
"Jadi, seperti itu Yang Mulia.." tutup Alul Lazam dalam menyampaikan laporan tentang petisi yang ia terima kemarin sore.
Dalam hati nya, sang Menteri Pertahanan merasa berbahagia sekaligus penasaran dengan apa yang akan dirasakan oleh raja Daffa.
'Rasakan kau! Lihat, bahkan rakyat mu sendiri telah meminta mu untuk turun dari tahta! Hahaha!' gumam hati Alul Lazam.
Pada awalnya Daffa tampak tertegun. Namun setelah ia berpikir cepat, respon nya hanyalah, "Oh.. bisa dimengerti juga keinginan rakyat Da. Mengingat kita masih menghadapi situasi peperangan yang pelik saat ini."
Seketika, Alul pun melongo dibuat nya.
'Kenapa dia bisa sesantai itu?! Apakah aku tak cukup jelas untuk menyampaikan petisi ini kepada nya?! Atau memang dia terlalu bebal untuk mau turun dari tahta yang sedang diduduki nya itu?!' amuk sang menteri berlanjut di dalam hati.
Alul Lazam lalu berkedip beberapa kali. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya dari mulut raja Daffa. Terlebih saat ia mendengar ucapan Daffa berikut nya.
"Sampaikan saja salam Da kepada rakyat di perbatasan Timur sana. Bahwa Da memahami keresahan yang sedang melanda rakyat Da sekalian. Meski begitu, Da berjanji untuk menuntaskan permasalahan ini terlebih dahulu dan membawa Nevarest kembali pada kejayaan nya, baru Da akan melepas tahta ini. Bila memang itu yang diinginkan oleh rakyat Nevarest seluruh nya nanti," papar Daffa panjang kali lebar.
Sang raja menyampaikan kalimat nya dengan suara lantang. Membuat tak hanya para menteri lain yang mendengar nya menjadi terkesima. Karena bahkan Alul Lazam sendiri pun ikut terkesima dibuat nya.
"Sekarang, kita beralih ke topik lain. Menteri Luar Negeri, bagaimana dengan sikap Raja Allain? Apakah sudah ada penjelasan dari nya terkait sikap nya terhadap invasi Goluth ke kota Lorr?" Tanya Daffa pada sang MenLu.
Sang Menteri Luar Negeri terlebih dulu membungkukkan badan nya sekali. Baru kemudian menjawab pertanyaan dari raja Daffa.
"Belum ada, Baginda Raja. Padahal hamba telah mengirimkan dua utusan ke sana. Namun kepergian kedua utusan itu ke Allain membawa hasil nihil saja, Yang Mulia," jawab sang Menlu.
Kali ini Daffa mengerutkan kening nya. Ia menangkap gelagat mencurigakan dari sikap diam sang raja Allain saat penyerangan prajurit Goluth ke kota Lorr yang strategis di Nevarest.
Rasanya sulit untuk mempercayai bahwa pasukan Goluth bisa merangsek masuk dan menyerang kota tersebut. Karena letak nya yang cukup jauh dari titik kekuasaan Goluth.
Terlebih lagi Goluth harus melewati dataran tinggi Yaran terlebih dulu untuk memasuki kota Lorr. Dataran tinggi tersebut termasuk daerah kekuasaan kerajaan Allain.
Jadi hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, entah mungkin Goluth terlebih dulu telah menyerang anggota militer Allain di sana baru kemudian menyerang kota Lorr.
Atau alasan kedua adalah kerajaan Allain memberikan akses masuk pada para prajurit Goluth untuk melewati daerah kekuasaan nya. Jika benar begitu maka itu menandakan pengkhianatan dari raja Allain untuk menjaga komitmen perdamaian seperti yang telah disepakati dalam traktat Pizloff en Muah beberapa waktu lalu.
Daffa berharap alasan yang kedua bukan alasan yang sebenar nya dari kejadian penaklukkan kota Lorr. Karena jika benar begitu, maka untuk ke depan nya Daffa juga harus mengantisipasi penyerangan dari kerajaan Allain pula.
Dugaan-dugaan ini sangat mengkhawatirkan sang raja muda. Sehingga ia pun meminta penjelasan mendetail terkait hasil laporan dari dua utusan itu, kepada sang MenLu.
__ADS_1
"Jelaskan detail nya!" Titah Daffa.
"Kedua utusan yang telah hamba kirimkan tak pernah bisa bertemu dengan raja Allain, Yang Mulia. Setiap kali mereka bertandang ke istana raja Bahima, mereka selalu mendapatkan penolakan. Alasan nya adalah bahwa sang raja sedang tidak berada di istana saat itu," lapor sang MenLu dengan lancar.
"Yang Mulia, jangan-jangan kerajaan Allain juga telah bersekutu dengan Goluth untuk menyerang kita? Ini gawat sekali, Yang Mulia!" Seorang menteri yang lain mengemukakan pendapat nya dengan raut khawatir.
"Tenangkan diri mu, wahai menteri. Jangan gegabah dalam menilai sesuatu. Kita belum tahu jelas kebenaran nya seperti apa. Jadi jangan suarakan pendapat liar yang belum bisa dipastikan kebenaran nya!" Tegur Daffa.
"Maafkan hamba, Yang Mulia.." ucap sang menteri dengan tergesa-gesa.
"Begini saja, Menlu. Aku akan menuliskan surat untuk raja Bahima secara langsung. Nanti saat utusan memberikan nya ke pihak istana mereka, sampaikan juga kalimat ini, 'Raja Daffa menunggu balasan segera. Jika tidak, Nevarest akan menganggap Allain ingin menggemakan tabuh peperangan seperti yang sedang dilakukan oleh Goluth!'"
Semua menteri langsung menunduk takjim manakala mendengar suara raja Daffa yang berteriak lantang. Semua hati seketika jadi tergugah saat mendengar ucapan nya.
"Lanjut ke topik lain nya. Da memiliki usulan baru untuk taktik kita melawan gempuran prajurit Goluth. Jadi, Da ingin kita balik menyerang Goluth sekarang!" Ungkap Daffa dengan suara yang lantang pula.
Seketika itu juga ruang balairung pun langsung bising oleh banyak nya suara menteri yang mengemukakan pendapat nya secara bersamaan. Hingga menit berikut nya, Daffa pun harus menenangkan para peserta audiensi pada hari itu.
"Tenang! Tenangkan diri kalian!" Tegur raja Daffa pada para menteri nya.
Detik berikut nya ruang balairung pun menjadi sepi kembali. Baru kemudian raja Daffa bicara lagi.
"Hamba tidak menyetujui gagasan ini, Yang Mulia! Jelas ini adalah tindakan bunuh diri nama nya. Kita harus memikirkan banyak hal untuk menyerang balik Goluth di masa seperti sekarang ini. Entah itu dari segi biaya, dan juga faktor lain nya perlu untuk dipikirkan baik-baik!" Tutur Alul berapi-api.
Sementara itu dalam hati nya sang Menteri mencak-mencak dalam amarah nya.
'Dari mana dia terpikirkan untuk melakukan invasi balik ke Goluth? Jika itu sampai terjadi... Maka peperangan ini bisa mempunyai dua alur cerita yang berbeda. Untuk berjaga-jaga, aku harus menentang gagasan ini. Biar saja kerajaan ini hancur dengan sendiri nya dalam kekuasaan raja bodoh ini!' monolog Alul dalam hati.
"Kenapa begitu, Menteri? Bukan kah akan lebih baik bila kita melakukan serangan mengejutkan yang langsung membuat Goluth kalah telak? Dibanding harus terus bertahan menerima gempuran dari prajurit Goluth?" Tanya Daffa dengan nada menantang.
"Itu..."
Ucapan Alul dipotong oleh kepala militer, Antes.
"Ijinkan hamba bicara, Yang Mulia!" Antes memohon ijin pada sang raja.
"Nyatakan pendapat mu, Kepala Militer!" Daffa pun memberikan ijin nya kepada Antes.
__ADS_1
"Menurut hamba, gagasan untuk menyerang balik Goluth ini adalah rencana yang bagus. Bukan kah ada pepatah lama yang mengatakan bahwa 'pertahanan terbaik dalam strategi perang adalah dengan melakukan penyerangan'?" Ucap Antes berorasi.
Semua menteri memandang serius ke arah Antes. Beberapa dari mereka terlihat mengangguk-anggikkan kepala nya. Sementara beberapa yang lain terlihat tak suka dengan usulan Antes barusan.
"Ucapan Antes ada benar nya, Baginda Raja. Kemungkinan untuk bisa menang juga ada. Bukankah jumlah pemilik inner power berjenis militer di kerajaan kita hampir dua kali lipat bila dibandingkan dengan di kerajaan Goluth?" Imbuh menteri yang lain.
Beberapa menteri kembali menganggukkan kepala nya. Sebagai tanda persetujuan atas gagasan untuk menyerang balik kerajaan Goluth.
"Tapi Yang Mulia! Risiko nya sangatlah besar! Kita bisa saja kalah telak dan menghabiskan harta dan juga menambah jumlah korban peperangan menjadi lebih banyak!" Alul Lazam kembali menyuarakan penolakan nya.
"Lalu apa beda nya dengan mati perlahan menerima serangan dari Goluth, dibanding dengan melakukan penyerangan balik? Bukan kah dengan menyerang, kesempatan kita untuk menang menjadi ada? Walau pun risiko nya memang lebih besar juga," sanggah balik Antes.
Alul pun memandang benci kepada Antes.
'Dasar bocah ingusan! Berani-berani nya dia menantang ku seperti ini?! Awas saja nanti!' kecam Alul di dalam hati.
"Kau hanya akan membawa kehancuran pada kerajaan ini, Antes!" Tuding Alul.
"Bukan kah seharusnya aku yang menanyakan pertanyaan itu kepada mu, Menteri?" Jawab balik Antes dengan tatapan berani.
Menyadari situasi yang tak lagi kondusif, akhirnya Daffa kembali menengahkan para bawahan nya tersebut.
"Sudah! Tenangkan diri kalian! Dengarkan titah Da ini. Da putuskan! Kita akan melakukan serangan balik ke Goluth!" ucap Daffa memutuskan.
"Tapi Yang Mulia!!" Alul hendak menyanggah ucapan sang raja namun isyarat tangan dari Daffa menghentikan niat nya.
"Ini adalah keputusan mutlak dari Da. Jadi sekarang Da harap kita semua harus bersatu memikirkan langkah ke depan nya lagi,"
"Untuk semua menteri, Da ingin kalian membuat laporan tentang persiapan menyambut strategi penyerangan ini. Menteri agraria, tolong susun peraturan dan langkah-langkah terbaik dalam menghadapi peperangan di masa mendatang,"
"Begitu juga dengan menteri yang lain nya. Siapkan laporan kalian tentang langkah-langkah preventif yang bisa dilakukan terhadap bidang masing-masing. Da akan menunggu hasil laporan kalian paling lambat akhir pekan ini,"
"Kepala Militer, siapkan strategi terbaik untuk invasi yang akan kita lakukan nanti. Da tunggu laporan mu dua hari lagi. Sekarang, kita akhiri audiensi sampai di sini!"
Daffa pun menutup audiensi hari itu. Kebanyakan menteri langsung bersemangat memikirkan apa saja yang harus mereka lakukan dalam mempersiapkan invasi nanti.
Terkecuali Alul Lazam, sang menteri pertahanan yang masih saja berdiri di tempat nya sambil menatap tajam ke arah raja nya.
__ADS_1
'Dasar bedebah! Dia mengacaukan segala nya!' umpat Alul menahan kesal.
***