Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Rencana Pelantikan Tahta


__ADS_3

"Ada sesuatu yang mencurigakan dalam peristiwa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Meski Da tak ada di Nevarest untuk menyaksikan langsung apa yang terjadi, namun dari serangkaian peristiwa yang terjadi, Da jadi curiga ada yang sedang mengancam kesejahteraan negeri Nevarest kita yang tercinta ini!" Lanjut Tasya dalam pidato nya.


Beberapa pejabat saling melirik satu sama lain. Kebanyakan dari mereka memikirkan kenaifan yang bisa mereka tangkap dalam kalimat Tuan Putri mereka barusan.


Meski begitu, tak ada yang berani menyela ucapan Tasya. Karena memang begitu lah etiket dalam istana. Dalam hubungan yang terjalin di istana, etiket menjadi modal pertama bagi seseorang untuk menerima respect dari orang lain.


Dan dari segi itu lah Tasya dan Daffa akhirnya memutuskan untuk menjalankan rencana mereka secara perlahan.


Jika memang norma etika menjadi nomor satu yang dipentingkan dalam negeri ini, maka Tasya dan Daffa akan mencari jalan keluar bagi permasalahan yang ada di negeri ini, dimulai dari aspek norma etika itu sendiri.


"Meski pun Da tahu bahwa ada sesuatu yang patut dicurigai dari petisi yang berasal dari para pelajar, Da akan tetap mempertimbangkan untuk menerima mandat kekuasaan yang saat ini masih kosong untuk sementara waktu," lanjut Tasya dalam pidato nya.


Serentak, seluruh perhatian para pejabat terfokus kembalu kepada Tasya. Kebanyakan dari mereka tak menyangka dengan keberanian sang putri dalam mengucapkan kalimat barusan. Karena secara jelas, Putri Tasya menyatakan bahwa ia siap untuk memegang kekuasaan tertinggi di negeri ini.


"Demi kesejahteraan Nevarest tentu nya, Da akan menjadi ratu Nevarest berikut nya. Bersama dengan suami Da, yang otomatis menjadi Raja negeri ini!" Ucap Tasya dengan suara lantang.


"..."


"..."


Semua pejabat yang hadir di audiensi tersebut pun sontak melongo tak percaya. Sang putri benar-benar mengangkat diri nya sendiri sebagai ratu Nevarest berikut nya!


Detik berikut nya bisik-bisik pun berdengung di antara para pejabat istana. Tasya dan Daffa menyadari kehebohan yang baru saja mereka ciptakan. Tapi bukan sampai sini saja rencana mereka.


Setelah agak lama membiarkan bisik-bisik itu berlangsung, Tasya kembali lanjut bicara.


"Da harapkan partisipasi semua nya untuk pelaksanaan pelantikan sesegera mungkin. Agar kita bisa segera mengabarkan kepada rakyat Nevarest bahwasanya mereka memiliki raja dan ratu yang baru lagi!" Imbuh Tasya.


"Ta.. tapi Putri. Tidak kah ini terlalu cepat? Apakah tidak sebaik nya kita menunggu dulu sampai kita mengetahui pasti kondisi baginda raja Jordan saat ini?" Sahut salah seorang pejabat yang tak dikenal oleh Tasya.


"Siapa nama mu? Dan apa jabatan mu?" Tanya Tasya tiba-tiba.


Tergeragap menerima pertanyaan tersebut, sang pejabat pun tampak takut-takut.

__ADS_1


"Hamba bernama Derak Pasam, Putri. Jabatan hamba adalah menteri perdagangan," jawab sang pejabat.


"Tuan Pasam, benar begitu?" Sapa Tasya.


Derak Pasam mengangguk ragu.


"Hamba, Putri," sahut Pasam.


"Sampai kapan kita harus menunggu baginda raja kembali muncul? Apa sampai beberapa tahun berikut nya lagi? Menunggu sampai intervensi pihak asing semakin besar di negeri Nevarest ini? Apa itu memang menjadi keinginan mu, Tuan Pasam?" Tuding Tasya dengan berani.


'Bagus sekali, Dear! Ayo beranikan diri mu, Sayang. Tenang saja. Saya selalu ada di samping kamu,' ucap Daffa lewat telepati langsung ke benak Tasya.


Mendengar ucapan suami nya itu, telah menerbitkan seulas senyum di bibir Tasya. Senyuman yang menurut para pejabat yang melihat nya menganggap sebagai senyum keyakinan seorang penguasa.


Banyak kepala tertunduk takut. Mereka tak menyangka, sekembali nya dari tempat asing, Tuan Putri Tasyafa telah berubah menjadi seorang yang pemberani. Karakter nya sedikit mengingatkan mereka kepada karakter ratu Elva, ibunda dari putri Tasyafa yang saat ini masih terbaring koma di pembaringan nya.


'Ku rasa rencana mu ini mengarah ke alur yang kita inginkan, Yang!' ucap Tasya lewat telepati nya lagi ke benak Daffa.


'Bersabar lah, Dear. Ini belum seberapa. Lakukan saja sesuai yang kita diskusikan semalam tadi. Setelah ini, kamu akan saya kasih bonus es krim lagi nanti malam. Oke?' sahut Daffa balik.


'Dasar mesum! Itu sih bukan bonus buat ku. Memang mau nya kamu itu sih, Yang!' kecam Tasya ke benak Daffa langsung.


Daffa menyeringai sedikit lebih lebar. Kontak mata kedua nya disaksikan oleh para audien dengan pandangan bingung sekaligus selidik.


Tasya lalu kembali menatap ke depan. Tepat ke mata Derak Pasam yang menunduk takut dan tergeragap bicara.


"Ti..tidak! Tentu saja itu tidak benar, Tuan Putri! Hamba adalah abdi setia negeri ini. Jadi tak mungkin hamba akan membiarkan pihak asing menguasai negeri ini!" Seru Pasam dengan badan membungkuk berkali-kali.


"Bagus lah, jika memang benar begitu! Dan Da juga berharap kesetiaan itu juga yang bertahta dalam hati kalian semua nya di sini!" Ucap Tasya kemudian, sedikit menyindir.


Hampir seluruh badan para audien ikut membungkuk, menyusul yang dilakukan oleh menteri Pasam sesaat tadi.


"Kesetiaan kami hanya untuk Nevarest, Putri Tasyafa! Kesejahteraan bagi Nevarest!" Sahut para pejabat saling bersusulan.

__ADS_1


Keriuhan yang tak berirama itu membuat Tasya muak. Ia tahu benar, bahwa apa yang didengarnya saat ini kebanyakan hanyalah dusta belaka yang diucapkan oleh kaki tangan pihak musuh.


'Lihat saja nanti! Akan ku buat kalian menunjukkan sendiri sifat busuk kalian di hadapan para penduduk negeri ini! Dan saat itu terjadi, aku akan menghukum kalian seberat-berat nya!' janji Tasya dengan pandangan mata yang menusuk tajam.


"Sudah cukup! Selanjutnya Da berharap pelantikan tahta harus dilakukan dua hari dari sekarang. Da ingin itu dipersiapkan dengan baik. Siapa yang menjabat sebagai Menteri Urusan Dalam Negeri saat ini?" Tanya Tasya sambil mengedarkan pandangan nya ke arah audien.


Seorang lelaki paroh baya dengan penampilan glamour membungkukkan badan nya. Tasya lalu bertatapan dengan wajah bulat dan tubuh tambun dengan rambut keriting sepanjang punggung dari pejabat yang baru saja membungkukkan badan.


"Kau, siapa nama mu?" Tanya Tasya langsung.


"Hamba bernama Doma Lonto, Putri," jawab sang pejabat.


"Kamu menjabat sebagai menteri urusan dalam negeri?" Tanya Tasya memastikan.


"Benar, Putri. Saya telah menjabat jabatan ini selama dua tahun," jawab Doma Lonto dengan wajah yang tak henti-henti nya tersenyum.


Sayang nya Tasya menangkap kelicikan dalam senyuman di wajah Doma Lonto. Dan jika melihat aksesoris gelang dan kalung emas yang dikenakan oleh sang menteri, Tasya sudah bisa menebak kalau menteri nya ini seperti nya suka dengan gaya hidup glamour.


Ke glamour an memang tak dilarang oleh Tasya. Tapi menurutnya, seorang pejabat tak sepatut nya memamerkan gaya hidup glamour nya di hadapan publik. Karena itu tentu bisa membuat nya dicurigai telah melakukan tindak korupsi dalam jabatan nya.


Tasya membuat catatan dalam hati untuk menyelidiki satu persatu harta kekayaan semua pejabat menteri di istana nya saat ini. Ia harus melakukan proses audit sesegera mungkin.


'Tapi itu bisa menunggu dulu,' gumam batin Tasya.


"Tolong urus proses pelantikan tahta untuk dua hari lagi ya, Doma. Da tak ingin ada kelalaian sedikit pun di acara pelantikan nanti!" Titah Tasya kepada Doma Lonto.


Mula nya Doma Lonto terlihat ragu untuk menjawab. Ia lalu melirik ke arah Alul Lazam, Menteri Pertahanan. Dan Tasya menyaksikan saat menteri Alul memberikan anggukan kecil ke arah Doma.


Tasya memicingkan mata nya. Benar dugaan nya, bahwa menteri Alul Lazam seperti nya memegang posisi penting di antara para pejabat yang dicurigai sebagai antek-antek musuh negeri nya saat ini.


Tasya memutuskan untuk diam. Ia berpura-pura tak melihat ke arah Alul Lazam. Pandangan nya ia fokuskan segera ke Doma Lonto. Yang kemudian membungkuk dan menjawab titah dari sang putri. Lalu mengatakan jawaban nya yang diucapkan dengan lebih yakin.


"Baik, Putri. Hamba akan menyiapkan segala nya!" Sahut Doma menerima titah dari Putri Tasya.

__ADS_1


***


__ADS_2