Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Kedatangan Pasukan Nevarest


__ADS_3

'Bagaimana bisa orang-orang itu berbuat jahat kepada Dion?! Apalagi menurut Dion ia telah diculik sejak usia lima tahun! Ya Tuhan! Binatang apa yang begitu tega berbuat kejam kepada anak kecil nan baik ini?!' Magenta gusar sendiri dalam hati nya.


'Tak sepatutnya anak-anak menerima perlakuan seperti yang Dion alami! Apa salah anak ini sehingga ia harus menerima perlakuan jahat dari orang-orang itu?!' Gusar Magenta lebih lanjut.


Seorang anak memiliki hak untuk dirawat, dijaga, dan dicintai oleh orang-orang di sekitar nya. Karena dari cinta yang ia terima itulah anak-anak akan belajar pula untuk tumbuh menjadi seseorang yang penuh dengan rasa cinta kasih.


Bila yang diterima oleh seorang anak adalah perlakuan buruk, maka besar kemungkinan keburukan itu akan membekas pada kepribadian anak tersebut. Jika anak tersebut tak segera mendapatkan penanganan yang tepat.


Mendengar cerita Dion hingga akhir, Magenta pun tergerak untuk kembali memberikan anak lelaki bermata lugu itu sebuah pelukan. Kali ini ia sengaja mengeratkan pelukan nya.


Dalam hati nya Magenta mendoakan Dion. Semoga semua keburukan yang pernah dialami oleh anak lelaki itu tak mengeraskan hati nya. Pun jua tak membuat nya menyerupai kepribadian orang-orang yang telah menjahati nya.


Dengan suara yang menahan sedih, Magenta pun berkata.


"Ibu ikut bersedih mendengar cerita Dion.." ucap Magenta mengawali perkataan nya.


Kemudian wanita itu melepas pelukan nya lalu mensejajarkan mata nya lagi dengan kedua mata Dion.


Dengan tatapan teguh, Magenta pun melanjutkan perkataan nya.


"Tapi, Nak. Tahu kah kamu? Ibu bersyukur karena ibu telah menemukan Dion pada malam itu. Dan ibu lebih bersyukur lagi karena ibu bisa mengenal Dion yang baik dan santun ini. Ibu yakin, Papa Dion pasti akan sangat bahagia bila bisa bertemu lagi dengan mu, Nak!" Ucap Magenta dengan nada tegas.


Seketika kedua mata Dion pun mengembun.


"Sungguh? Tapi Dion sudah banyak berubah, Bu. Dion gak tahu apa Papa masih mengenali Dion. Dengan semua luka-luka ini.." ucap Dion dengan suara yang hampir seperti lirihan.


Magenta merasa hati nya dicubit kala mendengar keputus-asaan dalam suara anak lelaki di hadapan nya itu. Maka dengan spontan diraih nya kedua bahu Dion. Diremas nya cukup kuat bahu yang masih terasa kecil di tangan nya itu. Hingga kedua mata Dion kembali terangkat menatap nya.


Barulah kemudian Magenta lanjut berkata.


"Tak ada satu orang tua pun yang akan melupakan anak nya, Nak. Semua orang tua akan selalu mencintai anak-anak nya. Bahkan hingga anak nya sudah besar dewasa sekali pun. Sama seperti Ayah dan ibu Dion. Mereka pun pasti sangat mencintai Dion. Dan mereka pastilah masih mencari-cari Dion hingga saat ini. Percaya sama ibu!" Tutur Magenta dengan percaya diri.


Dua bulir kristal bening pun meluruh tanpa suara pada wajah lugu dan pucat milik Dion. Anak lelaki itu tak bisa membalas ucapan Magenta. Ini disebabkan oleh rasa sesak dan pengharapan lebih yang menghimpit hati nya.


Dion sungguh berharap perkataan Magenta itu benar ada nya. Bahwa Papa nya benar masih mencari-cari diri nya hingga saat ini. Bahwa Papa juga merindukan nya, sama seperti ia yang merindukan Papa nya hingga kini.


Betapa kerinduan itu selalu menyiksa malam-malam sepi yang harus dilalui oleh anak lelaki itu dalam kamar terasing tempat ia dikurung. Betapa kerinduan itu membuatnya tetap bertahan melewati setiap luka dan pedih yang harus ia rasakan untuk setiap suntikan pengambilan darah pada malam-malam tertentu.

__ADS_1


Dion sungguh merindukan kehidupan lama nya. Dan ia sungguh merindukan Papa Yansen nya.


...


Brakk!!


Dion dan Magenta sama-sama terkejut saat mendengar pintu rumah yang terbuka paksa. Pandangan kedua nya pun langsung beralih ke arah pintu dan mendapati Boru masuk ke rumah dengan tergesa-gesa.


Boru tampak baru selesai mandi di sungai. Terlihat dari rambut nya yang masih basah. Dan ia seperti nya mandi dengan terburu-buru. Dilihat dari baju yang ia kenakan usai mandi.


Saat ini Boru masih memakai baju kotor sebelum ia pergi mandi. Dan entah di mana baju bersih nya kini. Magenta tak melihat tentengan baju seperti yang biasa dibawa oleh Boru sepulang nya ia dari mandi di sungai.


"Ibu! Ibu!" Seru Boru terdengar panik.


"Ada apa, Nak? Kau mengagetkan ibu! Dan kenapa kau memakai baju yang kotor? Ke mana baju yang kau pakai tadi?" Tanya Magenta menegur sang putra.


Boru sempat tertegun kala menyadari kebenaran dari ucapan sang ibu. Ia ternyata tak sadar telah memakai baju yang salah. Ia bahkan meninggalkan baju salinan nya di tepi sungai.


"Ahh..! Siall--!" Belum selesai Boru mengumpat, mulut nya dibuat bungkam oleh tatapan tajam dari sang ibunda.


Boru pun menenggak sumpah serapah yang hendak dilontarkan nya. Baru kemudian teringat kembali dengan apa yang tadi ingin disampaikan nya kepada Magenta. Alasan penyebab ia melakukan beberapa kecerobohan hari ini.


"Apa?! Itu bahaya sekali Boru Somario! Bagaimana jika arus nya deras dan kau terbawa oleh nya? Berapa kali ibu katakan kepada mu, mandi lah hanya di tepi sungai saja!" Kecam Magenta mengamuk.


"Aduuh! Duh! Iya bu! Maaf! Boru janji tak akan melakukan nya lagi!" Teriak Boru sambil berusaha melepaskan telinga nya yang dijewer oleh Magenta.


"Tapi Bu! Dengarkan Boru dulu! Boru lalu menemukan sumber suara yang Boru dengar. Dan ternyata benar! Ada kuda yang Boru lihat," lanjut Boru bercerita.


"Ya! Dan ibu pun pernah melihat badak merah! Kau mau bilang apa lagi hah? Hanya karena kuda, dan kau berani menyusuri sungai seperti itu! Tidak kah kau malu dengan umur mu itu, Ru?!" Lanjut Magenta mengomeli Boru.


"Aduh duh! Ibu! Dengarkan Boru dulu! Bukan hanya satu ekor kuda saja yang Boru lihat, Bu! Tapi ada puluhan, tidak! Mungkin ada ratusan ekor kuda yang dipancangkan di dekat lahan kosong di tepi hilir sungai sana!"


"Lalu kenapa? Bisa saja kan itu milik para pedagang yang baru pulang dari merantau? Jangan membesar-besarkan sesuatu yang sudah biasa terjadi, Boru! Kau ini kekanakan sekali sih!" Magenta menegur.


"Tidak, ibu! Kuda itu bukan milik para pedagang! Tidakkah ibu ingat kalau saat ini memasuki bulan sebelum perayaan? Dekrit kerajaan melarang rakyat untuk bepergian keluar negeri menjelang dan saat masa perayaan besar dilangsungkan. Dan rata-rata para pedagang telah kembali sekitar sepekan yang lalu, kan, bu?!" Lanjut Boru menjelaskan.


Magenta pun terhenyak. Ia menyadari kebenaran dalam penjelasan Boru.

__ADS_1


Boru yang menangkap kesempatan untuk menyelamatkan telinga nya pun segera mengambil kesempatan itu. Buru-buru ia menjaga jarak kembali dari Magenta. Agar ketika ibu nya itu tersadar, ia tak bisa meraih kembali telinga Boru.


"Ucapan mu itu ada benar nya juga," gumam Magenta sambil berpikir keras. Ia memang baru teringat dengan bulan perayaan besar di kerajaan ini yang akan berlangsung pada bulan depan.


Itu adalah hari perayaan terbesar di kerajaan Goluth. Di mana para penguasa terkini akan melakukan prosesi sesembahan selama satu hati penuh sambil mengunjungi makan para pendahulu nya yang telah tiada di puncak gunung tertinggi di kerajaan Goluth. Yakni gunung Tinggirest.


Sejak berabad-abad yang lalu perayaan ini menjadi perayaan paling sakral yang tak boleh terlewatkan setiap tahun nya. Dan sementara sang raja pergi mengunjungi makam para leluhur nya, rakyat Goluth pun dilarang untuk bepergian ke tempat jauh selama bulan perayaan itu berlangsung.


Diceritakan oleh orang tua jaman dahulu, bahwa pernah suatu ketika perayaan ini dilewatkan. Ternyata selama satu tahun berikut nya kerajaan Goluth menghadapi banyak bencana gempa, angin kencang, serta bencana penyakit aneh yang sulit untuk dijelaskan oleh akal sehat.


Dan bagi mereka yang melanggar larangan untuk tidak bepergian jauh juga akan mengalami nasib yang mengenaskan. Entah itu mati, ataupun ditinggal mati oleh orang yang ia cintai. Begitu lah menurut cerita.


Sehingga sejak saat itu lah perayaan besar itu pun terus dilangsungkan di kerajaan ini.


"Jadi kalau bukan milik para pedagang, kuda-kuda itu milik siapa?" Tanya Magenta dalam gumam nya.


"Raja Daffa, Bu! Raja Daffa dan pasukan nya sudah sangat dekat dengan kota kita! Besar kemungkinan kota kita pun akan segera diserang oleh nya!" Jawab Boru dengan kegentingan yang terdengar nyata.


"Apa?!"


Magenta kaget bukan main. Sementara itu Dion menatap bingung karena tak mengerti dengan situasi yang sebenar nya terjadi saat ini.


"Karena itu, Bu! Ayo kita bergegas pergi dari kota ini! Sebelum--"


Belum selesai Boru bicara, ketika tiba-tiba keheningan pagi di kota itu pecah oleh suara huru-hara dan teriakan orang-orang di luar sana.


Samar-samar Magenta bisa mendnegar orang-orang meneriakkan,


"Lari! Semua lari! Pasukan Nevarest datang!"


Jantung Magenta berdebum kencang. Tak menyangka kalau ia akan menghadapi langsung masa peperangan dengan negeri tetangga mereka itu.


"Ayo, Bu! Kita segera pergi!" Ajak Boru untuk bergegas.


Jantung Magenta masih berdebur kelewat kencang, kala kemudian didengarnya suara pasukan kuda yang memecah kedamaian kota kecil nya. Spontan saja Magenta meraih tangan Boru dan Dion. Berusaha agar ia tak terpisah dari kedua nya.


"Sudah terlambat, Nak. Seperti nya kota ini telah dikepung oleh mereka.." lirih Magenta terdengar pasrah.

__ADS_1


***


__ADS_2