Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Gelang Pusaka Penyihir


__ADS_3

'Dear, tadi Ayah Arca datang ke istana,' cerita Daffa dalam sesi curhat nya bersama Tasya sebelum mereka tidur pada suatu malam.


'Ayah Arca? Kenapa kamu gak ngasih tahu aku, Yang?' protes Tasya.


'Jangan marah, Dear. Tadi ayah terburu-buru untuk segera pergi lagi. Jadi ia tak berlama-lama di istana,' tutur Daffa menjelaskan.


'Memang nya Ayah mau apa, Yang?' tanya Tasya penasaran.


'Ayah memberikan sesuatu kepada ku.'


Daffa lalu menunjukkan sebuah gelang kepada Tasya. Gelang yang tersusun dari untaian manik berwarna kehijauan.


Terdapat sepuluh manik besar dalam gelang tersebut. Sekilas, Tasya langsung teringat dengan gelang manik yang pernah ia berikan kepada Kakek Guru Sodik, penjaga Dunia Enam Pintu yang pernah ditemui nya dulu.


'Gelang ini mirip sekali dengan gelang titipan dari Tante Soraya, Yang. Tidak kah kau pikir juga begitu?' tanya Tasya sambil mengamati lekat-lekat gelang tersebut.


Dari sepuluh manik yang ada pada gelang tersebut, hanya bersisa dua yang berwarna hijau. Sementara delapan manik lain nya berwarna hitam mengkilat.


'Ya. Saya pikir pun begitu, Dear. Tapi, seingat saya, dulu gelang manik dari Tante Soraya berwarna hitam seluruh nya. Bukan begitu?' komentar Daffa.


Tasya pun mengingat-ingat lagi pada gelang dari Tante Soraya itu.


'Seperti nya sih iya. Tapi yang ini ada dua yang warna nya hijau. Apa kamu tahu maksud nya, Yang? Atau ini cuma aksesoris saja?' tanya Tasya kembali.


Daffa lalu mencubit pelan pucuk hidung sang ratu.


'Apa menurut mu, Ayah Arca rela jauh-jauh ke istana hanya untuk menyempatkan diri memberikan gelang tak berharga kepada saya, Dear?' tanya balik Daffa mengandung misteri sekaligus juga canda.


Sebuah senyuman lebar membayang di wajah tampan milik sang raja.


'ku rasa tidak. Berarti, gelang ini juga mempunyai kekuatan, begitu? Seperti gelang koka peninggalan dari Ayah Jordan untuk ku?' terka Tasya seraya menyentuh gelang koka yang ia kenakan di tangan kiri nya.


'Ya. Tapi gelang manik yang ada di tangan saya ini hanya mempunyai satu jenis kekuatan saja. Jadi tak terlalu berguna seperti gelang koka punya kamu, Dear..' terang Daffa kembali.


'Begitu.. apa kekuatan nya, Yang?' tanya Tasya kembali.


Daffa tak langsung menjawab pertanyaan Tasya. Ia malah menceritakan kisah lain nya.


'Kamu percaya gak, Dear, kalau aku bilang aku adalah keturunan dari penyihir?' tanya Daffa.

__ADS_1


'Penyihir? Maksud mu penyihir gimana, Yang? Seperti inner power yang kita miliki juga bukan nya bisa dibilang sebagai sihir ya bila kita ada di bumi?'


'Bukan inner power! Tapi kekuatan yang bisa dipelajari oleh siapapun. Jadi semua orang yang berbakat, bisa mempelajari sihir untuk melakukan apapun yang diluar akal. Kalau inner power kan hanya membatasi satu jenis kekuatan untuk satu orang saja, bukan?' papar Daffa.


'Oh! Maksud mu begitu.. berarti apa yang kamu maksud itu seperti sihir di film Harry Potter yang terkenal di bumi itu kah, Yang?' Tasya menyimpulkan.


'Ya! Kira-kira sihir yang seperti itu, Dear..'


'Kamu tadi bilang apa? Kamu keturunan dari penyihir? Maksud mu, nenek moyang mu itu penyihir? Apa di dunia ini benar-benar ada penyihir, Yang?' tanya Tasya tak percaya.


'Ya dan tidak,' jawab Daffa misterius.


'Apaan sih? Gak jelas banget. Kalau ngasih penjelasan itu yang jelas dong, Yang!' dumel Tasya yang merasa kesal.


Daffa terkekeh pelan. Ia lalu menarik bahu Tasya ke dalam pelukan nya. Baru kemudian melanjutkan lagi cerita nya.


'Saya pun baru mengetahui fakta tentang nenek saya yang seorang penyihir ini dari Ayah tadi siang, Dear. Jadi saya juga sama terkejut dan gak percaya nya seperti kamu sekarang ini. Bahkan sampai sekarang pun saya belum bisa membuktikan kebenaran ucapan Ayah Arca itu,' Daffa mengaku jujur.


'Kok gitu sih?'


'Karena Ayah mengatakan kalau kekuatan gelang ini adalah mampu membawa pemakai nya kembali ke masa lalu. Coba, menurut mu, kamu bisa langsung mempercayai nya gak?' tanya balik Daffa.


'Tuh kan! Kamu juga sulit untuk mempercayai nya kan?' tuding Daffa sambil menyengir lebar.


'Ya iyalah! Mana bisa kita kembali ke masa lalu! Kalau tahu ada cara intuk mengulang waktu, aku juga bakal mau kembali ke masa ketika aku belum pergi ke bumi. Jadi aku bisa tetap menjaga Bunda Ratu Elva kan!' seru Tasya berapi-api.


Menyadari kekesalan dan rasa sedih yang dirasakan oleh sang ratu nya, Daffa pun mengecup pelan kepala Tasya dengan sayang.


'Hh.. iya. Iya. Saya paham, Dear. Saya juga berharap kalau kamu gak perlu pergi ke bumi. Sehingga kita bisa sampai terpisah bertahun-tahun lama nya. Kamu bahkan lupa juga sama saya waktu ada di bumi dulu, kan!' tuding Daffa dengan nada kesal yang dibuat-buat.


Tasya sejenak lupa pada rasa sedih nya atas nasib Ratu Elva saat ini. Dan ia ikut tersenyum saat mengingat pertemuan nya kembali dengan Daffa di bumi setelah mereka terpisah bertahun-tahun lama nya.


Ya. Tasya memang sempat tak mengingat Daffa. Jangankan Daffa. Mengingat identitas asli nya pun Tasya terlupa. Sehingga saat tinggal di bumi Tasya mengiyakan saja identitas Anna, saudari kembar nya, yang disodorkan oleh Mama Ira, ibu tiri nya. (Baca kisah selengkap nya di novel Cinta Sang Maharani 1)


'hihihi.. iya ya. Dulu bahkan aku sempat mengira kalau kamu itu mesum lho, Yang. Maaf!' ucap Tasya terburu-buru saat melihat wajah Daffa yang cemberut.


'Tega nya kamu, Dear. Masa ganteng begini kamu bilang aku mesum sih? Mesum dari mana nya coba? Aku tuh enggak mesum-mesum an lah!' elak Daffa dengan nada angkuh.


Setelah jeda beberapa lama, Daffa kembali menambahkan.

__ADS_1


'Enggak ke orang lain maksud nya.. cuma ke kamu aja, Deh..' goda Daffa dalam bisikan nya ke telinga Tasya.


"Aww!" Daffa mengaduh kesakitan, manakala Tasya melayangkan cubitan ke pinggang kiri hya.


'Ya. Benar dong dugaan ku waktu itu. Kamu memang mesum!' tuding Tasya sambil melempar bantal ke arah Daffa.


Dengan sigap, Daffa menangkap bantal yang dilempar oleh Tasya. Dan ia pun memberikan Tasya pandangan tajam.


"Oke. Saya memang mesum. Tapi, kamu gak tahu kan, saya bisa mesum sampai gimana? Saya kasih tahu deh ya sekarang juga.." bisik Daffa dengan suara lirih.


Dalam satu gerakan cepat, sang raja langsung mengurung tubuh ratu nya hingga Tasya berada di bawah Daffa.


"Daffa! Jangan aneh-aneh deh!" Ancam Tasya sedikit cemas.


Sementara itu jantung Tasya mulai berdebum-debum tak karuan.


"Gak aneh-aneh kok, Dear.. cuma mau minum susu aja. Langsung dari pabrik nya. Boleh kan?" Seloroh Daffa sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Tasya menepuk bahu Daffa pelan.


"Iihh.. malu, Daff! Kamu lupa ya kalau.."


Ucapan Tasya itu langsung ditelan oleh ciuman yang didaratkan oleh Daffa tepat ke bibir nya.


Kedua sejoli itu pun kembali mereguk madu cinta dalam sentuhan dan kecupan-kecupan lembut di sekujur tubuh.


Sementara itu, Aro dan Deril yang bertugas untuk menguntit sang raja dan juga ratu kelini kembali melesat ke atas pohon di luar puri Anyelir. Kedua nya tiba-tiba merasa ikut gerah dengan aksi panas yang sempat mereka lihat beberapa saat sebelum nya tadi.


"Sialan benar! Aku mau ganti tugas aja deh!" Rutuk Aro sambil melempar daun dari atas pohon ke tanah.


Di samping nya, Deril tetap bersikap cool. Ia hanya berkomentar singkat.


"Jangan terburu-buru, kawan. Kita tak akan lama lagi mengawasi dua merpati itu memadu kasih," jawab Deril


"Dari mana kau tahu?" Tanya Aro penasaran.


Kali ini Deril tak menjawab. Ia hanya tersenyum miring dan bersiul pelan. Memberi nuansa baru pada malam yang mulai memasuki musim dingin nya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2