Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Bertemu Om Kembali


__ADS_3

Tak lama setelah itu, Magenta, Boru, Dion beserta seluruh penduduk di kota Dinowa pun dikumpulkan di alun-alun kota. Jumlah yang terkumpul tak lebih dari 500 orang. Karena memang kota Dinowa adalah kota yang terbilang kecil. Selain ada juga beberapa yang berhasil melarikan diri sebelum pasukan Daffa menyergap kota ini.


Setelah dikumpulkan di alun-alun, penduduk kota Dinowa pun berhadapan dengan sosok penguasa Nevarest saat ini. Yakni raja Daffa Scholinszky.


Kebanyakan dari mereka terkejut saat mendapati bahwa penguasa Nevarest itu ternyata masih berusia muda. Mungkin tak lebih tua dengan raja Goluth sendiri. Sekitar awal tiga puluhan.


Magenta menatap ke sekeliling nya. Dan ia dibuat bingung. Karena setiap penduduk Dinowa, termasuk juga diri nya, tak diikat tangan nya. Padahal ia sudah berpikir akan menjadi tawanan perang.


'Apa mungkin mereka terlalu malas untuk mengikat kami satu persatu? Apakah mereka memiliki kepercayaan diri sebesar itu? Begitu yakin bahwa tak ada dari kami yang akan melakukan perlawanan?' tanya Magenta dalam benak nya.


Lamunan Magenta kemudian buyar manakala ia mendengar suara sang raja Nevarest yang diperkeras secara ajaib. Mungkin oleh seseorang yang memiliki inner power untuk mengeraskan suara.


Magenta bisa menebak seperti itu karena ia tak melihat sang raja menggunakan alat apapun di dekat mulut nya saat ia bicara.


"Salam keselamatan wahai penduduk kota Dinowa sekalian! Kedatangan Da ke kota ini tak bermaksud untuk membuat kalian semua menghadapi masa-masa sulit. Justru Da ingin memberikan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan sebelum nya yang telah kalian lalui selama ini," sang raja memulai narasi nya.


"Kerajaan Goluth adalah negeri yang diberkahi dengan bebatuan mulia yang melimpah ruah. Hampir semua penduduk di kerajaan ini mengandalkan hidup nya sebagai pencari batu mulia atau pedagang batu mulia."


"Sayang nya, keuntungan terbesar dari penjualan batu mulia tersebut tak dirasakan dan dinikmati oleh sebagian besar penduduk negeri ini. Dari mana batu-batu berharga itu berasal, para penduduk nya justru hidup dalam kemiskinan dan kepayahan hidup. Ini sungguh amat disesalkan!"


"Karena itulah, kedatangan Da ke tempat ini ingin memberi kabar gembira kepada kalian semua. Terima lah tawaran Da untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Ikuti Da! Dan kesejahteraan kalian akan menjadi tanggung jawab Da seluruh nya. Da pastikan itu!"


"Da tak akan memaksa siapapun yang ingin pergi dari kota ini. Tapi bagi kalian yang ingin mengikuti Da, bersiaplah untuk menyambut kehidupan yang baru!" Tutup raja Daffa dengan suara lantang.


Setelah sang raja diam beberapa lama, sebuah suara di kerumunan terdengar berbicara. Suara itu milik seorang pedagang batu mulia yang cukup terkenal di kota Dinowa.


"Maaf.. Yang Mulia. Apakah Yang Mulia berkata sungguh-sungguh? Yang Mulia akan membiarkan siapa pun untuk pergi, jika kami memang menginginkan nya?" Tanya sang pedagang dengan kecemasan yang terdengar jelas.


Raja Daffa langsung fokus menatap pada sang penanya. Dan ia pun memberikan jawaban nya.


"Ya. Tentu saja. Kebebasan selalu menjadi hak kalian. Da tak akan memaksakan kehendak kalian dalam membuat pilihan!" Jawab raja Daffa dengan nada tegas.


Sang pedagang terlihat ragu untuk sejenak. Sebelum akhirnya berkata lagi.


"Jika begitu, hamba.. hamba mohon ijin untuk pergi dari kota ini, Yang Mulia. Bisa kah?" Tanya sang pedagang lagi.


"Ya. Tentu saja kau boleh melakukan nya. Tapi ada hal yang harus Da ingatkan kepada mu, juga kepada kalian semua yang ingin pergi dari kota ini saat ini juga. Karena jika kalian telah memutuskan untuk pergi dari kota ini, itu berarti kalian menyerahkan pula hak kalian atas tanah yang kalian miliki di kota ini. Jadi, berpikirlah baik-baik terlebih dahulu," sang raja memberikan peringatan nya.


Seketika itu pula kasak-kusuk mulai terdengar. Tentu saja ini adalah pengorbanan yang cukup besar. Mengingat harga beli tanah di kerajaan Goluth adalah yang terbilang paling mahal di antara tiga kerajaan lain nya. Jadi kebijakan raja Daffa yang satu ini pun langsung menimbulkan ketidakpuasan bagi kalangan taipan kaya.

__ADS_1


Terkecuali bagi para gelandangan dan mereka yang hanya memiliki lahan sempit. Kebijakan penyitaan tanah ini jelas menjadi angin segar dan harapan baru bagi mereka. Berharap mereka nanti bisa menjadi penguasa baru dari tanah yang akan ditinggalkan nanti nya.


"Kalian juga boleh membawa harta benda kalian bersama kalian. Terkecuali para pejabat inti di kota ini. Da akan melakukan evaluasi terlebih dulu bagi para pejabat. Karena jika kalian terbukti telah berlaku sewenang-wenang terhadap jabatan yang kalian emban selama ini, maka harta benda kalian akan Da sita. Untuk selanjut nya Da serahkan kembali secara merata kepada para penduduk kota ini lain nya," imbuh raja Daffa kembali.


Pemaparan kebijakan barusan langsung saja membuat sang raja dihadiahi sorakan oleh para penduduk miskin kota Dinowa.


"Hidup raja Daffa! Sejahtera lah raja Daffa!" Sorak sorai terdengar memecah keheningan di alun-alun kota.


Sang raja memberikan anggukan sekalu sebagai penerimaan nya terhadap sorakan para penduduk kota Dinowa. Dan suasana pun perlahan kembali tenang. Hanya tinggal kasak kusuk saja yang masih terdengar memenuhi alun-alun.


Di tengah kerumunan itu, Boru menatap bersemangat pada sang ibu.


"Ibu! Ternyata ucapan pedagang kayu bakar itu benar! Raja Daffa memang seorang raja yang baik! Ibu dengar kan ucapan raja tadi?" Tanya Boru berapi-api.


"Ya, Nak. Ibu pun mendengar nya. Sungguh baik sekali raja muda ini. Baru kali ini ibu mendengar seorang raja berani berkata seperti itu di depan banyak orang. Entah apakah ia akan menepati janji nya atau tidak, ibu belum yakin, Nak," sahut Magenta ragu-ragu.


"Menurut Boru, raja Daffa bersungguh-sungguh dengan ucapan nya, Bu! Jadi, kita tetap di sini saja kah, Bu?" Pinta Boru penuh harap pada sang ibu.


Magenta memandang bingung pada putra nya itu. Tak biasa-biasa nya Boru mudah percaya dengan janji manis para penguasa. Biasa nya Boru lebih sering bersikap skeptis terhadap penguasa dan orang-orang kaya pada umum nya. Entah yang membuat putra nya itu berubah pikiran.


Magenta berpikir sejenak. Dilayangkan nya pandangan ke sekitar. Dan ia mendapati keraguan yang sama bercokol di banyak wajah penduduk Dinowa ini. Walaupun tak sedikit juga yang bersemangat untuk menghadapi kehidupan baru seperti yang telah dijanjikan oleh raja Daffa tadi.


Magenta lalu melihat beberapa taipan kaya beranjak keluar dari kerumunan. Seperti nya mereka termasuk golongan yang menetapkan hati untuk pindah dari kota kecil ini. Mungkin pikir mereka, meninggalkan sepetak tanah di kota kecil ini adalah pengorbanan yang tak berarti.


"Ya, Nak. Kita akan tetap tinggal di kota ini," jawab Magenta dengan keputusan yang hampir bulat.


...


Tak lama setelah itu, raja Daffa memberikan waktu selama setengah hari bagi mereka yang ingin keluar dari kota Dinowa untuk berkemas. Sementara itu bagia mereka yang masih ingin menetap, diharuskan untuk mendaftarkan kembali identitas diri dan keluarga nya di kantor kependudukan.


Tampak nya raja Daffa ingin mengetahui pasti jumlah rakyat yang mendukung nya di kota ini.


Magenta dan Boru pun pergi ke kantor kependudukan kota untuk mendaftarkan identitas mereka kembali. Bersama mereka juga mengikut lah Dion.


Sebenar nya Magenta mula nya ragu untuk mendaftarkan Dion. Karena ia berpikir nanti nya anak lelaki itu pun akan ia antarkan kembali kepada keluarga nya.


Tapi lalu Boru mengingatkan sang ibu.


"Saat ini adalah masa-masa nya peperangan, Bu. Mana sempat kita menyiapkan bekal untuk mencari keluarga Dion?" Tegur Boru mengingatkan.

__ADS_1


Diingatkan seperti itu, akhir nya Magenta pun ikut mendaftarkan Dion menjadi bagian dalam keluarga nya. Setidak nya untuk sementara ini.


Selesai mendaftarkan diri, setiap dari mereka yang telah mendaftar lalu diberi sekarung kecil beras untuk dibawa pulang. Menurut staf admin, itu adalah beras hasil sitaan dari rumah para pejabat kota yang terbukti melakukan tindak korupsi.


Mendapati kenyataan itu, Magenta dan Boru pun terkejut. Begitu cepat aksi sang raja baru dalam menyelidiki tindak sewenang-wenang pejabat sebelum nya di kota ini.


Secercah harapan baru pun akhirnya bersemi di hati kedua nya. Pun jua di hati para penduduk yang memilih untuk menetap di kota Dinowa. Berharap raja mereka yang baru ini benar-benar akan memberikan jalan kehidupan yang lebih baik kepada mereka.


...


Selesai mendaftar, Boru pun melenggang pulang sambil membawa tiga karung beras, hasil bagi miliknya, sang ibu dan juga Dion. Sementara tiga kantung emas dan perak tersimpan rapih di balik baju yang Magenta kenakan.


Keluarga kecil itu pun bersiap menyambut kehidupan mereka yang lebih baik.


Tapi, di perjalanan pulang ketiga nya, suara panggilan dari belakang telah menghentikan langkah mereka.


"Berhenti!" Teriak suara itu dengan lantang nya.


Seketika itu pula Boru, Magenta dan Dion pun berhenti dan menoleh ke sumber suara. Ketiga nya lalu mendapati dua orang prajurit Nevarest yang menghampiri mereka.


Jantung Magenta pun tiba-tiba berdebur kencang. Digenggamnya tangan Dion erat-erat. Dan ia pun memperpendek jarak nya dengan putra satu-satu nya, Boru. Sebuah firasat buruk melintasi pikiran wanita paroh baya itu.


Begitu dua prajurit itu telah berada tepat di hadapan ketiga nya, salah satu dari prajurit itu bertanya kepada Magenta.


"Raja ingin menemui kalian. Ayo ikut kami!" Titah sang prajurit.


Magenta dan Boru saling berpandangan. Tak mengerti dengan apa yang sebenar nya terjadi saat ini. Namun karena mereka tak memiliki daya untuk menolak titah itu, ketiga nya pun akhirnya menyeret langkah mereka untuk menemui sang raja.


...


Begitu sampai di hadapan raja Daffa, Magenta merasakan kegentaran mencengkeram hati nya.


Di alun-alun kota tadi, ia hanya bisa menilai penampilan sang raja secara sekilas. Tapi saat ini Magenta bisa melihat bahwa penilaian sekilas nya tadi itu tak cukup untuk menggambarkan diri raja secara keseluruhan.


Lutut Magenta terasa bergetar. Ia yakin kaki nya tak akan mampu menopang tubuh nya lagi, bila ia harus mendengar berita buruk yang harus dihadapi nya, keluar dari mulut sang raja.


Bertiga dengan Boru dan Dion, Magenta terus menundukkan kepala nya dalam diam.


Setelah beberapa hening yang menyesakkan, sang raja pun akhir nya menyuarakan isi kepala nya. Dan apa yang keluar dari mulut raja Daffa saat itu sungguh mengejutkan Magenta, Boru dan juga Dion.

__ADS_1


"Diandra Marry Chen. Tidak kah kau mengingat Om? Dion?" Sapa sang raja yang menatap lurus pada anak lelaki di samping Magenta.


***


__ADS_2