
Di istana kerajaan Goluth..
Ketegangan sedang memenuhi udara ruang Balairung. Tempat para menteri dan bangsawan sedang berkumpul merundingkan perayaan besar yang akan segera berlangsung tak lama lagi.
Situasi tegang ini bisa terjadi lantaran penguasa mereka, yakni raja Elfran yang sedang mengamuk saat ini. Ia tak mau mengikuti perayaan besar tahun ini.
"Persetan dengan semua prosesi itu! Kalian pikir kesuksesan ku selama ini bergantung pada nenek moyang yang telah lama tiada di dunia ini hah?! Aku berkuasa di atas tahta ini atas jerih payah ku sendiri! Tidak kah seorang pengganti saja sudah cukup untuk menggantikan ku melakukan nya?! Seperti tahun-tahun yang lalu!" Teriak sang raja dengan lantang nya.
Memang benar. Selama beberapa tahun terakhir masa kekuasaan nya, raja Elfran tak pernah sekali pun melakukan prosesi sakral yang seharusnya dilakukan oleh seorang penguasa dalam perayaan terbesar di kerajaan ini. Karena raja Elfran selalu menunjuk salah seorang anggota keluarga kerajaan untuk menggantikan nya.
"Ta..tapi Yang Mulia! Tahun ini Yang Mulia harus melakukan nya sendiri," cicit sang perdana menteri takut-takut.
"Kau berani memaksa ku?!" Amuk raja Elfran dengan mata yang mulai kemerahan.
Raja Elfran atau juga adalah Frans cukup dibuat kesal beberapa pekan belakangan ini. Dengan semua kekalahan nya menghadapi pasukan Daffa. Dan beberapa kota di wilayah kerajaan nya yang juga harus berpindah kuasa, kini ia malah harus sibuk bersembahyang di pemakaman tua seorang diri? Sungguh fak bisa dibenarkan!
"Ampun, Yang Mulia Raja! Hamba tidak berani! Maksud hamba adalah, saat ini tak ada anggota keluarga kerajaan yang tersisa yang pantas untuk mengikuti prosesi sesembahan di makam para leluhur para penguasa Goluth," cicit sang perdana menteri begitu dipenuhi oleh rasa takut.
"Jelaskan secara cepat dan ringkas!" Titah Raja Elfran sambil melayangkan serangan cepat ke pipi sang perdana menteri dengan senjata inner power nya.
Perdana menteri yang tak sigap menghadapi serangan dari sang raja pun seketika terpecut oleh pecut buatan dari inner power sang raja. Sehingga sebuah luka goresan pun membekas cukup dalam di pipi kiri sang perdana menteri tersebut.
Sambil menahan pedih dan sakit, perdana menteri yang baru menjabat jabatan nya itu selama tiga bulan ini (karena perdana menteri sebelum nya tewas menerima amukan sang raja durjana), bergegas menjelaskan secepat dan seringkas mungkin.
"Hanya ada empat anggota keluarga kerajaan tersisa saat ini, Yang Mulia. Dan semua nya adalah anak-anak dari sepupu Yang Mulia. Jadi anak-anak itu tak mungkin bisa menyelesaikan seluruh prosesi sakral di acara perayaan nanti bukan?" Papar sang perdana menteri ragu-ragu.
"Kenapa tidak?! Pilih saja salah satu dari mereka untuk menggantikan Da. Apa sulit nya sih?!" Amuk sang raja lebih lanjut.
Perdana Menteri pun kehilangan kata-kata. Jika saja bisa semudah itu dilakukan, tapi tentu saja itu tugas yang sangat sulit bagi anak-anak berusia kurang dari tiga belas tahun itu untuk menggantikan tugas sang raja dalam perayaan besar nanti.
Terlebih lagi ancaman yang akan mereka dapatkan nanti setelah perayaan selesai. Yaitu kematian tak masuk diakal. Seperti yang juga telah menimpa para pengganti raja Elfrans di perayaan pada tahun-tahun sebelum nya...
Perdana menteri itu bergidik ngeri. Pikir nya, mungkin kematian itu adalah hukuman dari para penguasa langit atas kecurangan yang telah dilakukan oleh penguasa Goluth saat ini. Ini adalah teguran sekaligus juga tumbal kecil yang harus dikorbankan oleh negeri ini pada sang penguasa langit.
Karena itu lah, banyak anggota keluarga kerajaan yang memilih untuk melarikan diri ke kerajaan lain. Dibanding bila harus dipaksa menjadi tumbal pada perayaan terbesar dan ter sakral di kerajaan ini setiap tahun nya.
__ADS_1
Perdana menteri pun terlihat tak bisa berkata apa-apa lagi. Terlebih saat dilihat nya mata sang raja telah mengirimkan peringatan terakhir untuk nya.
Alhasil dengan hati pasrah, perdana menteri kerajaan Goluth itu pun menerima titah sang raja.
"Baik, Yang Mulia Raja. Hamba akan menyiapkan pengganti Yang Mulia untuk perayaan nanti," ucap sang abdi negeri itu sambil tertunduk lesu.
"Bagus! Sekarang, kita bahas serangan balik untuk si keparat Daffa!" Ujar raja Elfran dengan seringai bengis di wajah nya.
Sontak saja, ucapan berikut nya dari mulut sang raja pun kembali membuat para abdi nya menjadi gelisah.
Lagi-lagi, mau tak mau perdana menteri jualah yang memberanikan diri untuk mengingatkan sang raja tirani itu.
"Ampun, Paduka Raja! Tapi perayaan besar tinggal hitungan minggu sa--"
Ucapan sang perdana menteri tak sempat diselesaikan nya. Manakala kepala perdana menteri itu tertebas begitu cepat oleh lecut tajam dari inner power raja Elfran.
Ruang balairung pun sontak diliputi kengerian manakala kepala perdana menteri yang baru saja berbicara mewakili para abdi kerajaan itu kini terpisah dari tubuh nya. Lalu menggelinding jatuh di atas lantai.
Kepala sang menteri baru berhenti saat menyentuh ujung sepatu salah seorang rekan menteri nya. Yang langsung membuat menteri tersebut jatuh pingsan tak sadarkan diri kala ia bertatapan dengan kepala buntung yang tak lagi bernyawa.
Kengerian memenuhi seisi ruang balairung. Bahkan hingga raja Elfran selesai mengucapkan kalimat berikut nya.
Dan semua pejabat dan menteri yang menghadiri audiensi saat itu pun seketika terdiam takut dan mengangguk-anggukkan kepala nya berkali-kali. Sambil menatap ngeri pada genangan darah yang mengucur deras dari leher sang perdana menteri yang menganga akibat tebasan dari inner power sang raja Elfran.
***
Di Kerajaan Allain..
"Begitu rupa nya.. hmm.. raja Goluth satu ini memang sulit untuk diprediksi. Tapi tak apa-apa. Tetap jalankan rencana utama. Berikan ramuan daun Tokasik itu pada raja gila itu. Dan satu nya lagi kepada raja Daffa. Berikan tepat ketika kedua nya memutuskan untuk bertatap muka di medan peperangan. Baru saat itu lah aku akan meraup kemenangan dari kedua nya. Hahahahaha!" Tutur bangsawan Bahm pada seorang abdi nya.
"Baik, Tuan ku! Perintah Tuan ku ini akan hamba sampaikan kepada Menteri Alul dan intel di Goluth!" Sahut sang abdi dengan sikap patuh.
"Pergilah sekarang juga!"
Dan sang abdi pun segera berlalu pergi dari hadapan Bahm.
__ADS_1
Bahm menatap rembulan di langit yang bulat sempurna di malam ini. Sulas senyuman terukir indah di wajah tampan nya yang terlihat muda.
Sayang nya kerupawanan wajah Bahm harus tercoreng oleh pandangan licik di kedua mata nya.
"Satu purnama lagi, dan semua nya akan menjadi milikku. Jika Nevarest dan juga Goluth telah berada dalam kekuasaan ku, hanya tinggal hitungan waktu saja Enmar menjadi milikku pula," bisik Bahms pada dirinya sendiri.
"Thor!" Panggil Bahm kemudian pada abdi nya yang berjaga di depan pintu.
Sekejap kemudian, Sosok bernama Thor pun muncul. Dia adalah salah seorang pasukan bayangan milik Bahm.
"Bagaimana dengan pencarian Golden Boys? Dan juga Pusaka Penguasa waktu?" Tanya Bahm kepada Thor.
"Hamba belum berhasil mendapatkan informasi baru tentang pusaka Penguasa Waktu, Yang Mulia. Akan tetapi seorang pasukan bayangan yang mengawasi raja Daffa mengabarkan kalau akhir-akhir ini raja sering terlihat dengan seorang anak lelaki berambut merah, Tuan ku. Secara penggambaran nya, anak lelaki itu memiliki kemiripan ciri-ciri seperti yang pernah dijelaskan oleh Soraya dan juga ratu Charrine. Namun.."
"Ada apa?"
"Anak lelaki itu tak memiliki ciri utama seorang Golden Boy, Tuan ku. Kedua iris mata nya tak memiliki perbedaan warna," jawab Thor menutup laporan nya.
"Kau sudah memastikan sendiri penampilan anak itu?" Tanya Bahm dengan nada santai.
Meski begitu, Thor menangkap desakan pada nada suara sang pemimpin teratas tersebut.
"Belum, Tuan ku."
"Kalau begitu, pastikan terlebih dahulu, atau.. bawa saja anak lelaki itu ke depan ratu Goluth. Biarkan sang ratu untuk memastikan identitas anak lelaki itu sendiri," titah Bahm kemudian.
"Baik, Tuan ku! Segera hamba laksanakan!"
Dan kembali, Bahm pun ditinggal pergi oleh abdi nya lagi.
Meski begitu tak ada rasa sedih atau kehilangan yang dirasakan oleh sang bangsawan. Ia justru merasa bergairah usai mendengar berita tentang sang Golden Boy. Karena impian nya sebentar lagi akan segera terwujud.
Kehidupan abadi..
Sayang nya pusaka Penguasa waktu milik keluarga Scholinszky itu belum berhasil ia dapatkan.
__ADS_1
"Tapi tak apa-apa.. setelah aku berhasil menguasai pikiran raja Nevarest itu, akan sangat mudah buat ku untuk memasuki akses rahasia dalam keluarga Scholinszky nanti nya. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi saja.." gumam Bahm sambil menatap rembulan yang kini separuh tertutupi awan.
***