Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Permintaan Huna


__ADS_3

Sebulan kemudian, Karina dan Rinaya pulang kembali ke bumi. Tasya mengantarkan sahabat nya itu ke rumah Bu Sole. Karena kini pintu akses menuju Dunia Enam pintu ada di rumah nya.


Perpisahan kedua orang sahabat itu berlangsung dramatis. Karina dan Tasya sama-sama menangis usai berpelukan lama.


Bersama Karina, mengikut juga Aro. Aro, yang mengaku bernama Erlan, mengatakan kepada Karina kalau ia pun sebenar nya tinggal di bumi. Ia ngotot ingin kembali ke bumi bersama Karina untuk kembali ke kehidupan lama nya.


Entah bagaimana pemuda itu bisa merasuki tubuh pengawal Aro. Tapi seingat Erlan, ingatan terakhir Aro pada tubuh nya adalah keinginan terdalam spirit Aro untuk bisa hidup tenang tanpa peperangan lagi.


Dan Spirit Erlan lalu bisa merasuk ke dalam tubuh Aro yang ditinggalkan oleh spirit nya. Sungguh keajaiban yang benar-benar aneh.


Erlan ingin kembali ke bumi dan mencari tahu penyebab spirit nya bisa bergentayangan dan terjebak di dunia ini. Karena itulah saat ia tak sengaja mendengar bahwa Ratu Karina pun sebenar nya berasal dari dunia lain selain dunia ini, ia pun langsung menanyakan nya kepada Karina.


Dan sejak itulah Aro/Erlan selalu membuntuti Karina. Ia tak ingin ketinggalan pulang ke dunia bumi nya lagi.


Selama satu bulan terakhir, ada banyak kejadian yang berlangsung.


Seperti misal nya Bangsawan Bahm yang dijatuhi hukuman mati atas aksi kudeta yang dilakukan nya terhadap kekuasaan ayahanda nya sendiri, yakni raja Bahima. Atau juga pengangkatan pangeran Ayodia yang masih berumur 13 tahun sebagai penguasa Kerajaan Goluth.


Sang remaja penguasa itu dibantu oleh para tetua Goluth yang telah disetujui oleh Daffa. Kedua kerajaan itu (Nevarest dan Goluth) pun membuat banyak kerja sama baru di antara kedua nya. Sebuah kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak.


Dengan begini. Kedamaian di antara empat kerajaan pun bisa tetap terjaga.


Sepekan setelah kepulangan Karina, ratu Elva tiba-tiba saja terbangun. Sang ratu bangun dengan kondisi yang sangat sehat, seperti tak pernah sakit sebelum nya.


Ratu Elva tak mengingat semua kejadian selama beberapa tahun terakhir saat ia tidur koma. Ingatan terakhir nya adalah bersama putri sulung nya, Anna.


Bangun nya ratu Elva disambut gembira oleh seluruh rakyat Nevarest. Raja Daffa bahkan mengadakan pesta besar-besaran sepekan setelah ratu Elva tersadar.

__ADS_1


Tentu saja itu dilakukan setelah Anna, Zizi dan juga ilmuwan Yodha kembali dari perjalanan Dunia Spirit nya.


Reuni pertama keluarga kerajaan itu berlangsung haru. Tasya sangat bersyukur karena ia akhirnya bisa berkumpul kembali dengan Ayah, Ibunda dan juga kedua saudari nya.


Daffa lalu mengusulkan agar tahta kerajaan kembali pada raja Jordan. Akan tetapi sang raja lama tersebut menolak usulan Daffa. Ia memutuskan untuk pensiun dari tugas kerajaan dan ingin hidup menyepi berdua dengan ratu Elva.


Daffa pun menjanjikan akan membangun sebuah istana baru untuk tempat menyepi raja dan ratu yang telah pensiun tersebut.


Beberapa pekan setelah kehidupan di dunia itu berjalan damai, Tasya menyadari adanya perubahan pada diri putra nya, pangeran Hima.


Usia Hima saat itu sudah menginjak usia enam tahun. Ia tumbuh semakin tinggi dengan raut wajah yang mulai terlihat lebih tirus. Wajah nya perpaduan antara wajah Tasya dan juga Daffa. Perpaduan yang sungguh sempurna.


Tasya menyadari kalau akhir-akhir ini Hima terlihat lebih pendiam. Tak seperti biasanya ia yang sering berceloteh sendiri dengan spirit Huna.


Maka pada suatu sore yang cerah, Tasya pun mengajak putra nya itu berbincang.


Hima memandang sedih pada udara kosong di samping nya, baru kemudian menjawab pertanyaan Tasya.


"Huna bilang kalau dia akan pergi dengan nenek Alexa, Bunda.." ungkap Hima dengan nada sedih.


"Siapa itu nenek Alexa?" Tasya bertanya bingung. Baru kali ini ia mendengar nama itu keluar dari mulut putra nya.


"Itu loh.. nenek nya Ayahanda yang selalu ikutin ke mana Ayahanda pergi. Kata Huna, waktu nenek sudah habis di dunia ini. Jadi nenek harus segera kembali ke Dunia spirit. Huna juga sama. Ia harus ikut nenek, kalau enggak nanti Huna bisa jatuh sakit," ungkap Hima lebih lanjut.


"Jadi begitu.. hmm.. apa sekarang Huna ada di sini, Nak?" Tanya Tasya sambil melirik ke tempat yang tadi dilirik oleh Hima.


"Ada, Bunda. Ini di samping Hima. Huna juga sama sedih nya dengan Hima. Apa memang Huna harus pergi ya, Bunda? Kenapa Huna gak bisa tinggal bersama kita selama nya?" Tanya Hima penuh harap.

__ADS_1


"Itu.. seperti ini. Menurut Hima, ikan yang biasa tinggal di akuarium bisa gak hidup di daratan, tanpa air?" Tasya mengajak Hima berpikir.


"Enggak bisa lah, Bund. Ikan kan perlu air untuk minum dan berenang!" Jawab Hima dengan yakin nya.


"Nah. Huna juga bisa diandaikan seperti itu, Nak. Huna mungkin masih bisa bermain selama beberapa waktu di dunia tempat Hima dan Bunda tinggal saat ini. Tapi Hima tahu, kan kalau Huna sudah jadi berbeda dari kita. Jadi Huna harus tinggal dengan teman-teman lain seperti nya. Seperti nenek Alexa, misal nya. Begitu, Nak.." tutur Tasya menjelaskan.


"Begitu ya, Bund.. hiks.. tapi nanti Hima pasti akan rindu pada Huna.." ucap Hima sambil terisak pelan.


Hati Tasya seketika tercubit saat melihat putra nya itu bersedih. Dengan segera, Tasya pun memeluk Hima.


"Jangan bersedih, Sayang. Kan Hima masih ada Bunda, Ayah dan juga lain nya yang menemani Hima."


"Tapi Huna sama siapa, Bund?" Tanya Hima perhatian.


"Hima kan masih ada nenek Alexa dan semua teman nya yang lain yang enggak kita kenal. Biarkan Huna kembali ke dunia nya lagi ya, Sayang. Perpisahan gak selalu berarti kita gak bisa bertemu lagi. Karena nanti pun, lama lama nanti kalau Hima sudah tua, nanti Hima juga bisa bertemu dengan Huna lagi. Gantian Hima yang ikut tinggal bersama Huna. Jadi, Hima jangan sedih ya, Sayang?" Hibur Tasya lebih lanjut.


"Hiks.. iya, Bunda. Huna boleh pulang deh."


Setelah beberapa lama terdiam, Hima kembali berkata.


"Tapi ada yang Huna mau sebelum dia pulang, Bunda.. Huna minta ijin untuk pinjam tubuh Bunda. Karena dengan begitu Huna bisa ngobrol sama Bunda. Boleh kan, Bund?" Tanya Hima kemudian.


Sepersekian detik kemudian, Tasya terlihat ragu. Namun segera ditepiskannya keraguan itu kala ia bersitatap dengan kedua mata bening Himada.


"Baik lah. Huna boleh berbicara langsung di kepala Ibunda," ucap Tasya mengijinkan Huna merasuki tubuh nya.


***

__ADS_1


__ADS_2