
Sejak saat itu, Anna dan Yodha pun ikut tinggal di rumah keong putih milik spirit Rudolf. Beberapa pekan berikut nya, Rudolf pergi mencari beberapa bahan langka untuk membuat ramuan pengembalian ingatan ratu Elva. Dengan Yodha yang selalu mengikuti nya ke mana pun jua.
Sang ilmuwan muda terlihat senang sekali karena bisa belajar dan bertanya banyak hal kepada spirit Rudolf. Terutama tentang tujuh dunia yang telah ia tulis dalam buku nya.
Suatu ketika, saat spirit Rudolf sedang menumbuk sejenis daun dalam mortar ukuran besar, Yodha pun bertanya kepada nya.
"Jadi, Guru. Guru menuliskan kalau sebenarnya total ada tujuh Dunia. Selain dunia empat kerajaan, Dunia Spirit, Dunia bumi, dan Dunia Enam Pintu, tiga dunia lain nya itu apa lagi ya?" Tanya Yodha penasaran.
"Tiga dunia lain nya adalah Dunia Para Pengendali Naga, Dunia Mimpi dan Dunia Magis," jawab Rudolf dengan sabar.
"Naga?! Maksud Guru, benar-benar ada naga di dunia itu? Naga yang ukuran nya sangat besar itu, Guru?!" Seru Yodha bersemangat.
"Ya. Benar. Di dunia itu memang terdapat banyak naga, dengan para pengendali nya. Dalam hukum di dunia itu, seekor naga hanya bisa ditaklukkan oleh satu orang pengendali saja. Di sana pun terdapat entitas manusia seperti kita. Hanya saja tinggi manusia di sana rata-rata dua meter lebih," papar Rudolf kembali.
"Apa kehidupan di sana mirip seperti di sini? Dengan adanya kota-kota dan teknologi canggih, begitu?" Tanya Yodha lagi.
"Tidak.. di sana kehidupan manusia lebih bersifat urban. Karena dataran di sana cenderung berupa pegunungan tinggi dan dataran terjal, serta jurang-jurang yang sangat dalam. Terdapat beberapa spesies yang tak ada juga di dunia Nevarest namun ada di dunia Naga," jawab Rudolf kembali.
"...!! Seperti apa?!"
"Kebanyakan adalah makhluk bersayap. Seperti gargoyle yang selalu dikatakan dalam legenda kita, juga ternyata hidup di Dunia Naga."
Gargoyle adalah makhluk mitologi pencampuran antara kepala dan sayap burung elang dengan badan singa.
Pandangan Yodha pun menatap kagum pada spirit Rudolf. Ia lalu bertanya lagi tentang dunia yang lain nya.
"Bagaimana dengan Dunia Mimpi?"
"Dunia mimpi adalah dunia paling tak beraturan di antara dunia yang lain nya. Karena setiap spirit seseorang bisa bebas masuk dan keluar dari dunia itu setiap waktu nya," papar Rudolf.
"Adakala nya dua spirit yang tak pernah mengenal di dunia asal nya lalu bertemu di dunia mimpi. Di mana di dunia mimpi itu kedua nya cukup akrab dan bahkan menjadi pasangan. Namun setelah masing-masing spirit kembali ke dunia nya lagi, dan jika mereka bertemu di suatu tempat, kedua nya akan mengalami sesuatu yang dinamakan de javu. Seperti mengenal atau pernah bertemu dengan sesuatu yang sebenar nya tak pernah ia temui di dunia nyata," imbuh Rudolf lagi.
"Luar biasa! Apakah Guru pernah pergi ke Dunia Mimpi?"
"Tentu. Siapa juga yang tak pernah ke dunia mimpi? Kau juga pasti pernah bermimpi, bukan?"
Kesadaran pun menyentak pikiran Yodha.
"Maksud Guru, mimpi.. mimpi seperti yang biasa kita alami saat sedang tertidur?!" Tanya Yodha dengan pandangan tak percaya.
"Ya. Mimpi yang itu. Hanya saja, tak banyak yang bisa menyadari atau ingat dengan apa yang dialami nya di dunia mimpi. Karena ketika spirit seseorang keluar dari Dunia Mimpi, maka ia harus melewati air terjun Pelupa terlebih dulu. Sehingga membuat nya melupakan apa yang dimimpikan nya tadi," papar Rudolf.
"Tapi saya kadang ingat dengan apa yang saya mimpikan, Guru!" Sanggah Yodha.
"Itu terjadi pada beberapa orang tertentu yang berhasil menelan buah Pengingat. Buah yang hanya tumbuh sekitar 100 saja dari sejuta pohon mimpi yang ada di dunia itu. Jadi hanya beberapa orang tertentu saja pada kesempatan tertentu juga yang masih bisa mengingat apa yang dialami nya dalam Dunia Mimpi."
"Lu..luar biasa sekali! Apa itu berarti Guru juga pernah memakan Buah Pengingat itu, Guru?"
__ADS_1
"Ya.. jika tidak, bagaimana aku bisa lancar menceritakan semua ini kepada mu, Yodha?" Sahut Rudolf sambil terkekeh pelan.
"Ah! Guru memang benar!" Tutur Yodha ikut terkekeh malu.
"Sudah ku bilang kepada mu, jangan memanggil ku Guru. Panggil saja nama ku. Rudolf," tegur Rudolf dengan senyuman ramah nya lagi.
"Tapi Guru adalah idola saya. Dan saya sungguh-sungguh ingin belajar banyak hal dari Guru! Jika saja Guru masih hidup, tentu lah saya juga akn mengejar-ngejar Guru untuk menjadikan saya sebagai murid Guru!" Seru Yodha bersemangat.
"Hmm.. kalau begitu, aku harus bersyukur karena aku kini sudah mati. Benar begitu?" Canda Rudolf.
Yodha merengut. "guru!" Rutuk Yodha.
Rudolf pun tertawa lagi. Baru kemudian menambahkan. "Jika aku masih hidup, aku tentu tak akan menang main kejar-kejaran dengan mu bukan? Karena aku sudah akan sangat renta di Nevarest saat ini. Sekitar 120 tahun an kira-kira. Bagaimana aku bisa lari dari mu, Yodha?" Tawa Rudolf kembali pecah.
Diikuti juga oleh Yodha yang ikut tertawa bersama sang spirit.
Tak jauh dari kedua nya, Putri Anna ikut tertawa kecil. Ia yang sedang membaca salah satu koleksi buku di rak milik Rudolf tak sengaja mendengar percakapan dua lelaki tersebut.
Anna masih sulit untuk mempercayai penjelasan Yodha, bahwa spirit tampan yang begitu ramah itu tadi nya adalah ilmuwan hebat selama masa hidup nya di Nevarest. Ia pikir, seorang ilmuwan hebat akan memiliki kepribadian yang pendiam dan serius. Namun ternyata pemikiran nya itu salah besar.
Rudolf nyatanya adalah seorang ilmuwan hebat yang ramah dan juga senang berkelakar.
Tak lama kemudian, percakapan keduanya kembali berlanjut.
"Bagaimana dengan Dunia yang terakhir, Guru? Dunia ke tujuh adalah Dunia Magis, bukan?" Cecar Yodha.
"Ya. Benar. Dunia Magis," ucap Rudolf dengan senyuman yang terlihat melembut.
"Di sana lah pertama kali nya aku mengenal Alexandria. Penyihir cantik dan hebat, yang kemudian menjadi istri ku," imbuh Rudolf bernostalgia.
"Apa? Penyihir? Di dunia Magis ada seorang penyihir, Guru?"
"Benar. Mirip seperti di Nevarest dan tiga kerajaan lain nya. Di Dunia Magis pun terdapat kekuatan ghaib. Nama nya sihir. Berbeda dengan di Nevarest, di mana kita mengenal nya dengan nama chi."
"Selain itu di dunia Magis, sihir bisa dipelajari oleh siapapun. Dengan beragam kemampuan yang bervariasi, sihir bisa dilakukan oleh siapapun. Tak seperti di Nevarest yang mana setiap orang nya hanya bisa menunjukkan satu atau dua kemampuan saja."
"Satu kemampuan saja, Guru. Mana bisa seseorang menggunakan dua kemampuan di Nevarest?" Koreksi Yodha.
Rudolf tak marah. Ia kembali menyanggah ucapan Yodha.
"Bisa, Yodha. Selagi seseorang itu memiliki darah campuran dari seorang penyihir. Maka dia bisa memiliki dua kemampuan dalam penguasaan aliran chi," terang Yodha.
Yodha menganga tak percaya. Sehingga Rudolf pun kembali menyampaikan kebenaran lain nya.
"Putra sulung ku, Rolex mempunyai dua kemampuan inner power. Begitu pun juga dengan cucu ku, Arca. Seingat ku dia juga mempunyai dua kemampuan. Dan bila tebakan ku benar, maka cucu buyut ku juga besar kemungkinan memiliki dua kemampuan. Untuk jenis nya apa, aku tak tahu. Karena aku telah tiada ketika cucu ku itu terlahir, bukan?" Seloroh Rudolf sambil terkekeh lagi.
Yodha ikut tertawa pelan.
__ADS_1
"Tadi, Guru mengatakan bila seseorang memiliki darah campuran dari seorang penyihir, maka ia akan memiliki dua kemampuan. Apakah itu berlaku untuk semua genre? Lelaki dan perempuan?" Tanya Yodha kembali.
"Hmm.. sayang sekali aku tak memiliki anak perempuan. Jadi aku tak mengetahui jawaban atas pertanyaan mu itu, Yodha. Mungkin kau bisa mencoba nya sendiri nanti?" Seloroh Rudolf sambil terkekeh lagi.
Yodha pun tersedak saat mendengar gurauan sang spirit.
"Aa.. apa maksud, Guru?! Apa saya harus menikahi seorang penyihir wanita lalu.. lalu.."
Yodha berhenti bicara. Ia melirik sebentar ke arah Sang Putri yang terlihat khusyu membaca buku. Ia berharap putri Anna tak ikut mendengar pembicaraan tadi. Karena tentu ini sangat memalukan bagi nya. Sebab hingga di usia Yodha yang kepala tiga itu ia masih juga berstatus lajang.
"Ya. Coba saja pergi ke Dunia Magis dan nikahi penyihir wanita di sana. Bawa dia ke Nevarest, dan buatlah anak sebanyak-banyak nya. Barang kali kau akan lebih beruntung dan mempunyai anak perempuan nanti!"
"Guru! Jangan meledek ku!"
Tawa Rudolf pun kembali pecah. Sementara wajah Yodha mulai bersemu merah. Tak jauh dari mereka, Putri Anna juga ingin ikut menertawakan Yodha yang dicandai oleh Rudolf. Walaupun ia juga merasa malu untuk mengakui kalau ia ikut mendengar pembicaraan kedua nya.
Yodha berdehem. Demi menghilangkan sisa jengah yang dirasakan.
"Ehemm! Jadi, di Dunia Magis ada para penyihir," Yodha menyimpulkan.
"Tak hanya penyihir. Elf, peri, dan semua makhluk dongeng pun ada di dunia itu. Kau akan takjub saat pertama kali memasuki dunia itu, Yodha. Percaya lah. Ada terlalu banyak sihir dan keajaiban di mana-mana. Sehingga mata mu tak akan ingin terpejam karena semua ketakjuban yang kau saksikan di sana!" Imbuh Rudolf meyakinkan.
"Sungguh, Guru?!"
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku itu, Yodha. Pergi dan buktikan lah sendiri nanti!" Ucap Rudolf meyakinkan.
Selama beberapa waktu, suasana menjadi hening. Dengan Yodha yang sibuk berandai-andai untuk berkelana ke Dunia Magis. Sementara Rudolf tetap khusyu menumbuk daun di atas mortar.
Tak berselang lama kemudian, Anna tiba-tiba saja berceletuk.
"Lalu, dimana Nyonya Alexandria saat ini, Tuan? Bukan kah biasanya pasangan yang telah mati akan tinggal bersama di Dunia Spirit ini?" Celetuk Anna.
Sang putri teringat pada spirit Hamami dan pasangan nya yang juga tinggal berdua di gubuk milik mereka. Hamami adalah orang yang telah memberitahukan tentang Rudolf kepada Yodha dan juga Anna.
Mendapati pertanyaan dari Anna, seketika itu pula Rudolf langsung berhenti menumbuk. Tatapan nya sendu menatap udara kosong di depan nya. Raut sedih pun terlihat membayang di wajah tampan milik nya.
Dengan suara berat seperti menahan sedih, Rudolf pun mengampaikan jawaban nya kepada Anna.
"Alexa adalah salah satu penyihir yang juga diberkati oleh kemampuan melihat masa depan. Dan ia melihat kalau di masa depan setelah kami berdua meninggal, spirit nya menyertai salah satu keturunan kami. Karena keturunan kami itu akan menghadapi masalah pelik yang membutuhkan bantuan dari Alexa. Jadi.."
Ucapan Rudolf menggantung. Namun langsung disambung oleh Anna.
"Jadi spirit Nyonya Alexa saat ini sedang bersama dengan keturunan Tuan, benar begitu?" Terka Anna dengan suara yang mengandung simpati.
Rudolf memberi Anna senyuman tabah milik nya. Seraya menjawab pertanyaan dari wanita cantik yang juga cerdas itu. Sosok Anna mengingatkan Rudolf pada istri nya, Alexa.
Dan sebongkah rasa rindu itu pun kembali menyeruak dan membuat lubang yang menganga dalam hati nya.
__ADS_1
"Ya.. Alexa sedang bersama dengan nya saat ini. Entah siapa dia.."
***