
Di istana Nevarest..
Persiapan untuk melakukan invasi balik ke kerajaan Goluth masih terus dimatangkan oleh para bawahan raja Daffa. Sementara itu, Daffa sendiri mulai sering berkoordinasi dengan kepala Militer Antes untuk merancang strategi terbaik demi bisa mengalahkan raja Elfran dan prajurit nya.
Meski begitu, masih ada saja beberapa menteri yang menyatakan ketidaksetujuan nya atas rencana invasi balik ini. Seperti misal nya Menteri Pertahanan dan Keamanan yakni Alul Lazam.
Saat ini Alul Lazam sedang berada di kantor nya. Beberapa dokumen di atas meja baru saja menjadi korban amarah nya. Dokumen itu kini tercerai berai di atas lantai yang dingin.
"Sial benar, raja yang satu ini! Semakin lama dia semakin susah untuk diprediksi!" Kecam Alul.
Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk dan menghadap kepada Alul.
"Tuan ku, Hammar baru saja kembali. Dia ingin menghadap pada Tuan ku sekarang," lapor sang pelayan.
Hammar adalah pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaan Alul Lazam. Beberapa hari yang lalu ia telah diperintahkan oleh Sang Menteri untuk menyampaikan surat kepada Pimpinan Teratas di kerajaan Allain.
"Biarkan dia masuk!"
Tak berselang lama, Hammar pun masuk. Penampilan nya masih sama. Dengan tunik selutut yang berwarna hitam. Dan ekspresi di wajah yang selalu datar. Dan juga dingin.
"Lapor, Tuan. Hamba telah menyerahkan surat titipan kepada Pimpinan Teratas. Dan ini adalah balasan dari Pimpinan Teratas," ucap Hammar seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat ke atas meja kerja Alul Lazam.
"Bagus. Ceritakan padaku, bagaimana reaksi Pimpinan Teratas saat membaca surat ku?" Tanya Alul bernada perintah.
Hammar masih berdiri dengan kepala tertunduk saat ia menjawab pertanyaan dari Tuan nya itu.
"Pimpinan Teratas tak memberi banyak respon, Tuan. Hanya berkomentar seperti ini saja."
Hammar lalu meniru ucapan Pimpinan Teratas yang didengar nya, dulu.
"'Biarkan saja tikus itu mencoba bangkit dan melawan balik. Ia akan terkejut saat ia telat menyadari kalau yang sedang dilawan nya bukan hanya seekor kucing. Melainkan juga satu singa lain nya!' begitu komentar Pimpinan Teratas, Tuan ku," lapor Hammar.
"Biarkan?! Maksud mu, Pimpinan Teratas benar-benar mengatakan itu, Hammar? Kau tak salah dengar bukan??" Tanya Alul memastikan.
"Hamba tak berani menyampaikan kebohongan kepada Tuan ku!" Seru Hammar dengan kepala yang sedikit lebih dibungkukkan.
Usai mendengar sumpah dari abdi setia nya, tanpa jeda lagi, Alul pun langsung membuka amplop dan membaca isi surat yang berada di dalam nya.
Isinya singkat. Hanya seperti ini saja,
__ADS_1
'Tikus terperangkap dalam jebakan nya sendiri. Kucing letih setelah mengejar tikus. Singa mengaum menang kala bulan ke lima terang benderang.'
Setelah membaca satu kalimat itu, benak Alul pun mencoba mengartikan maksud yang ingin disampaikan oleh Pimpinan Teratas kepada nya.
Mereka memang sering menggunakan bahasa isyarat ataupun kode untuk menyampaikan informasi. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kebocoran informasi ke pihak yang lain.
'Tikus terperangkap dalam jebakan nya sendiri.. berarti ada jebakan lain yang sudah dipersiapkan oleh Pimpinan Teratas saat invasi Nevarest ke Goluth nanti..' benak Alul mulai menafsirkan kalimat Pimpinan Teratas nya.
'Kucing letih setelah mengejar tikus. Berarti kondisi Goluth pun seperti nya sedang payah saat ini usai invasi yang dilakukan nya selama beberapa bulan belakang. Tapi, bagaimana Pimpinan Teratas bisa mengetahui nya? Apakah intel yang ditanamkan Pimpinan Teratas di Goluth bisa dipercaya kebenaran nya?' lanjut Alul berargumen sendiri.
'Singa mengaum menang kala bulan ke lima terang benderang. Apa itu berarti kami akan meraup kemenangan di bulan kelima sejak dimulai nya peperangan ini? Tapi, bagaimana bisa? Rencana apa yang sudah disusun oleh Pimpinan Teratas? Kenapa dia tak menjabarkan nya kepada ku secara mendetail?'
Baru juga benak Alul merasa geram karena ketidakjelasan isi surat yang ia terima, ketika ia mendengar Hammar kembali berbicara.
"Dan Tuan ku, ada lagi yang dititipkan oleh Pimpinan Teratas untuk Tuan ku," tutur Hammar sambil mengeluarkan sesuatu dari saku baju nya.
Hammar lalu menyerahkan sebuah kotak panjang berukuran sedang ke atas meja.
Dengan penasaran, Alul pun meraih dan segera membuka kotak tersebut.
Awal nya ia dibuat bingung dengan isi dalam kotak tersebut. Karena isi nya adalah sebuah jepit rambut dengan hiasan burung merak. Namun saat Alul melihat satu benda lain yang ada di dalam kotak itu, yakni tiga helai daun berwarna ungu yang dibungkus dalam sebuah plastik kuning. Alul pun langsung mengerti dengan rencana berikut nya dari Pimpinan Teratas.
Tanaman Tokasik hampir tak memiliki daun sejak tunas nya mulai bertumbuh. Bentuk nya hanya berupa batang tunggal yang sering tak disangka sebagai tanaman oleh orang kebanyakan.
Meski begitu, tanaman Tokasik dapat tumbuh hingga 70 tahun lama nya. Dan ia baru mekar sekali saja di akhir-akhir masa hidup nya. Saat mekar itu, ia akan memunculkan bunga kecil berwarna kuning dengan daun keunguan yang hanya beberapa lembar saja di bawah nya.
Dulu, Alul Lazam pernah melihat bunga tokasik saat mereka meracuni Ratu Elva. Bunga Tokasik mampu menjerat dan melukai spirit korban nya sehingga secara perlahan spirit nya akan terlepas dari tubuh fisik nya.
Sementara itu, untuk daun Tokasik, Alul hanya pernah mendengar kegunaan nya dari mulut sang Pemimpin Teratas.
Begini ucapan Pemimpin Teratas kepada nya dulu.
Flashback..
"Jangan meremehkan daun keunguan dari tanaman Tokasik, Wahai Alul. Karena justru racun paling berbahaya dari tanaman ini terletak pada daun nya itu."
"Memang nya apa efek yang bisa ditimbulkan oleh daun nya itu, Pimpinan?" tanya Alul.
"Kau bisa memanipulasi pikiran seseorang dengan ramuan yang dibuat dari daun keunguan itu. Berikan ini sebagai campuran teh pada lawan mu, dan tara.. dia akan langsung menjadi abdi setia mu selama beberapa waktu lama nya," papar sang Pemimpin Teratas.
__ADS_1
"Seberapa lama, Pimpinan?" Tsnya Aluk penasaran.
"Entah lah.. atau kau mau mencoba nya, Alul? Dengan begitu kau bisa mengetahui nya sendiri nanti.." ucap sang Pemimpin Teratas dengan pandangan menusuk.
"Ti..tidak, Pimpinan!" Elak Alul terburu-buru.
"Hh.. sayang nya, daun ini hanya bisa tumbuh sekali saja dalam setiap pokok pohon nya. Itu pun hanya beberapa lembar saja. Jadi sudah tentu ini adalah barang berharga. Bukan begitu, Alul?"
"Benar, Pimpinan.."
Flashback selesai.
'Pimpinan Teratas memberikan tiga helai daun Tokasik kepada ku. Berarti ada tiga orang yang bisa ku manipulasi pikiran nya. Tapi, siapa yang seharusnya nya menerima hadiah istimewa dari ku ini ya?' gumam Alul di dalam hati.
'Sudah pasti orang yang harus menerima hadiah ini adalah raja bodoh itu. Bukan kah Pimpinan menyertakan jepitan bunga merak juga bersama daun-daun ini? Merak adalah perlambang pemimpin di kerajaan ini. Jadi jelas, Pimpinan bermaksud untuk memanipulasi pikiran raja Daffa nanti nya,' lanjut sang menteri bermonolog dalam hati.
'Tapi kalau begitu, dua helai daun tokasik lain nya ini ditujukan untuk siapa? Apa.. raja Elfran?! Tapi, tentu untuk meracuni raja Goluth tersebut akan sangat sulit. Kecuali.. bulan kelima! Benar! Bulan kelima dari peperangan ini bukankah akan berlangsung perayaan tahunan di kerajaan Goluth?!' Alul tiba-tiba saja bangkit berdiri sambil menggebrak meja.
Binar-binar kegembiraan nampak menghiasi wajah sangar dari sang menteri.
Tentu saja sikap Alul yang tiba-tiba ini cukup membuat Hammar terkejut. Akan tetapi abdi setia nya Alul itu tetap berdiri di tempat nya berpijak.
'Benar sekali! Pimpinan seperti nya mempertimbangkan perayaan di kerajaan Goluth itu dalam rencana nya. Jika tidak, untuk apa analogi 'singa mengaum menang pada bulan kelima' itu ia tuliskan dalam surat nya?!'
'Kalau begitu, meski peperangan masih berlangsung, perayaan tahunan di kerajaan Goluth itu mestilah akan tetap berlangsung. Dan mau tak mau, Elfran sebagai raja juga akan harus kembali ke istana nya dan melakukan sernagkaian upacara penghormatan terhadap para leluhur. Jika aku mengirimkan seseorang untuk memasukkan daun ini ke dalam jamuan sang raja, itu tentu sangat mungkin untuk terjadi! Karena raja Elfran akan cukup sibuk saat itu!'
'Berarti tinggal satu helai daun lagi.. dan ini untuk..'
Pikiran Alul Lazam pun berputar cepat. Dan ia menemukan nama terakhir yang akan diberikan nya ramuan dari daun ini. Ia yakin, kegagalan nya dalam peracunan sebelum-sebelum nya tak akan terjadi lagi.
Karena menurut Pimpinan Teratas, hingga kini tak ada yang bisa menolak efek dari tanaman Tokasik tersebut. Tak ada walau satu orang pun jua!
'Tak tahu, dengan orang itu.. apakah kali ini dia bisa melawan efek dari daun Tokasik ini atau tidak. Jadi, aku akan mencoba nya terlebih dulu kepada nya. Karena selama ini, dia lah yang paling sering menggagalkan rencana ku dalam meracuni anggota kerajaan!' gumam Alul terakhir kali, sebelum ia berdiri dan memberi titah kepada Hammar, abdi setia nya.
"Hammar! pergi lah. Tunggu perintah selanjut nya dari ku!"
"Siap, Tuan ku!" sahut Hammar, sebelum menghilang keluar dari ruangan itu.
***
__ADS_1