
"Apa? kau mengira Da sudah mati. benar begitu, Bahm? atau juga adalah.. raja Bahima?" Daffa memberikan senyuman sinis pada lelaki angkuh di atas podium.
Para menteri dan pejabat yang berada di ruang Balairung seketika terdiam menyaksikan percakapan di antara raja dan penasihat raja. Semua nya memiliki dugaan kalau sesaat lagi akan terjadi pertarungan sengit di antara kedua nya.
Karena itu lah, banyak dari audien yang hadir ingin pergi keluar dari ruangan panas tersebut. Mereka tak ingin diri nya terkena imbas dari perseteruan antara raja Daffa dan bangsawan Bahm.
"Seharusnya, Da memang sudah mati saat ini. Tapi sayang nya Da memiliki sesuatu yang telah menyelamatkan nyawa Da. Kau pun mengenal sesuatu itu, Bahm. Karena Da dengar, kau telah memerintahkan anak buah mu untuk pergi mencari nya ke kediaman keluarga Da. Pusaka waktu.." tutur Daffa panjang kali lebar.
Mata Bahm melebar sedikit. Menyaksikan keberadaan Daffa di depan nya saja sudah cukup mengejutkan Bahm. Terlebih lagi saat ia mendengar tentang Pusaka Waktu dari mulut raja Nevarest tersebut.
Tanpa sadar, Bahm pun langsung memicingkan mata nya ke arah Daffa.
"Rupanya kau mengetahui tentang Pusaka Waktu.." gumam Bahm dengan suara yang tak kencang namun juga tak terlalu pelan.
"Tentu saja. Karena Pusaka Waktu itu telah lama ada bersama ku. Gelang ini.. adalah Pusaka Waktu yang selama ini kau cari-cari," jawab Daffa seraya menunjukkan gelang yang ia kenakan di pergelangan tangan kanan nya.
Seketika itu pula Bahm melihat ke arah gelang di tangan Daffa. Dan ia tak bisa menyembunyikan kilat rasa iri yang membias di kedua manik mata nya.
Daffa melihat kilatan rasa iri itu. Dan ia merasa puas karena telah berhasil memanasi lelaki culas di depan nya itu.
"Itu.. adalah Pusaka Waktu? Jangan berbohong. Kau pastilah hanya mengada-ada!" Bahm mengelak. Ia berusaha menutupi rasa iri yang sudah memanasi keseluruhan isi hati nya.
"Hahaha. Kau kan tak pernah mengetahui rupa Pusaka Waktu yang sebenar nya seperti apa. Jadi jangan asal menuding Da mengatakan hal dusta. Lagipula, terserah kau juga sih mau mempercayai nya atau tidak," ucap Daffa acuh tak acuh.
"Tapi akan iu katakan satu hal kepada mu, Bahm. Menurut mu, bagaimana Da bisa selamat dari usaha percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh utusan raja Erlan? Bukan kah juga mengetahui detail yang terjadi di barak saat itu?" Tanya Daffa mengajak Bahm berpikir.
Bahm mengerutkan kening nya.
__ADS_1
'Ya. Bagaimana bisa dia selamat dari bisa mematikan ular beracun tersebut? Bukan kah menurut intel ku, saat itu pengobatan Daffa tak memadai?' gumam Bahm bermonolog dalam hati.
"Yah.. begini saja lah. Biarkan Da menceritakan yang sebenar nya terjadi kepada mu. Agar nanti kau akan menyadari kebenaran ucapan Da tentang Pusaka Waktu ini," imbuh Daffa kembali.
Flashback ke hari ketika raja Daffa diserang oleh pembunuh bayaran..
Sepergi nya pembunuh bayaran dengan bermetamorfose menjadi debu, pedang dalam genggaman Daffa pun kemudian terjatuh ke lantai. Agak nya belati yang telah meninggalkan luka torehan di lengan nya itu telah diolesi dengan racun. Karena secara perlahan Daffa mulai kehilangan kendali atas tangan kanan nya itu.
Merasa situasi nya genting, Daffa pun bergegas mengeluarkan vial kaca yang selalu ia bawa dalam saku nya. Dalam vial itu berisi cairan penetralisir racun yang telah disiapkan oleh Damsi lama sebelum keberangkatan nya ke medan perang.
Daffa berusaha membuka tutup vial tersebut dengan satu tangan dan mulut nya. Namun sayang, racun ular tersebut tampak nya tersebar dengan sangat cepat. Karena kemudian Daffa pun kehilangan kendali atas satu tangan dan satu kaki nya.
Daffa lalu jatuh di atas kedua lutut nya. Dan vial yang ia pegang pun ikut terjatuh dan pecah seketika.
Pada detik-detik berikut nya Daffa merasa itu adalah detik-detik terakhir hidup nya. Ia pun memanggil penjaga di luar dengan sisa-sisa tenaga nya. Karena kini ia telah sempurna jatuh terjerembab di atas lantai.
Sepeninggal penjaga tadi, Daffa mulai kehilangan kesadaran nya. Namun kemudian sesuatu yang ajaib terjadi.
Dalam kondisi sekarat nya Daffa melihat sesosok hantu wanita cantik dan tinggi, dengan rambut berwarna ungu dan mata hazel yang mengingatkan Daffa pada kedua mata nya sendiri.
Sosok hantu tersebut tiba-tiba saja muncul dan berjongkok di depan Daffa. Untuk kemudian meraih gelang Pusaka Waktu yang Daffa kenakan. Daffa lalu melihat sang hantu yang seperti membisikkan sesuatu. Dan Daffa menyaksikan antara sadar dan tak sadar ketika situasi di sekeliling nya perlahan berubah.
Daffa seolah bisa melihat saat segala peristiwa yang terjadi di ruangan ini kembali berulang mundur dan terus mundur. Sampai akhirnya perpusingan kejadian tersebut terhenti ke saat ketika Daffa sedang membenahi pakaian perang nya. Itu adalah ketika si penyusup belum datang dan menyerang nya.
Terkesima dengan apa yang baru saja terjadi, Daffa pun menoleh ke arah hantu wanita yang sedari tadi ikut menemani nya melihat proses kemunduran waktu. Sosok hantu tersebut memberikan Daffa tatapan ramah. Dan Daffa menangkap sebuah kalimat yang keluar dari mulut sang hantu.
Kalimat nya adalah, "Tugas nenek selesai. Mulai saat ini, hidup mu akan aman, Cu.."
__ADS_1
Sang hantu lalu perlahan menghilang. Meninggalkan Daffa yang diam terpaku sambil membenahi pakaian nga.
Pada mula nya Daffa belum menyadari kalau waktu telang berulang mundur. Namun ketika Kasim Jung menyampaikan kedatangan utusan ratu Tasya, dan Daffa menyaksikan kembali sosok penyusup yang telah menyaru sebagai utusan sang istri, Daffa pun akhirnya tersadar dengan apa yang telah terjadi.
Entah bagaimana, sosok hantu tadi telah membuat waktu kembali berulang. Daffa pun menatap pada gelang yang tadi diraih oleh si hantu. Dan ia pun teringat pada kata-kata Ayah Arca kepada nya dulu, manakala ayah nya memberikan gelang itu kepada nya.
"Ini adalah Gelang pengendali Waktu, Daff.. dengan gelang ini, kamu bisa mengulang waktu ke masa yang kamu inginkan. Gelang ini adalah pusaka penting di keluarga kita. Jadi, pergunakan lah dengan sebaik mingkin," pesan Ayah Arca dulu sekali.
Menyadari gelang itu telah menyelamatkan nya, maka Daffa pun memanfaatkan waktu yang telah diberikan kepada nya kembali dengan menyusun sebuah rencana. Ia pun bergegas meminum isi vial penawar racun dari Damsi, sebelum sang penyusup berhasil melukai nya.
Dan ketika ia bertempur kembali dan harus terluka, Daffa berpura-pura telah terluka parah. Itu dilakukan nya sebagai rencana yang mendadak muncul di benak nya. Rencana untuk mengungkap beberapa misteri tentang musuh di balik bayangan, yang ternyata adalah bangsawan Bahm, atau dikenal juga sebagai raja Bahima sang penguasa Allain.
Flashback selesai.
"Jadi.. begitu lah. Sekarnag kau sudah tahu bukan kalau Da tak berkata dusta tentnag gelang Pusaka Waktu ini. Da membiarkan rumor bahwa Da sekarat beredar bebas. Itu Da lakukan demi bisa bekerja di balik bayangan, seperti yang juga telah kau lakukan selama ini. Bagus bukan?" Tutur Daffa dengan pandangan mengejek.
Bahm merasa geram karena ia telah dikadali oleh Daffa. Meski begitu ia tetap bersikap tenang. Ia tak ingin memberikan kepuasan kepada Daffa bahwa diri nya telah berhasil membuat Bahm merasa begitu bodoh.
Dengan gaya angkuh nya, sang bangsawan lalu memberikan jentikan singkat dengan kedua jemari nya. Dan lima pasukan bayangan pun segera muncul di sekitar Daffa. Kelima nya menghunuskan pedang nya ke arah Daffa.
Melihat ini, Bahm pun tersenyum. Sebuah kalimat mencengangkan kemudian keluar dari mulut nya.
"Tak apa-apa bila kau masih hidup. Tapi setelah ini, akan ku pastikan kau akan segera dikubur dalam tanah. Dan tak ada yang akan memberi kesaksian bahwa kau masih hidup saat berita jasad mu telah tiba di istana nanti," ucap Bahm percaya diri.
Daffa menatap pada menteri dan pejabat yang masih ada di sekitar nya. Dan hampir semua nya segera menunduk dan memalingkan pandangan nya. Agak nya hampir semua pejabat itu merasa serba salah dan takut untuk melawan kekuasaan Bahm. Karena keberadaan nya yang didukung oleh Alul Lazam.
***
__ADS_1