Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Daffa Tercengang


__ADS_3

Di saat Ratu Tasya sedang meredam rasa sedih nya diam-diam sambil memeluk pangeran Hima, sebuah suara muncul dari arah pintu.


"Ratu.. ada apa dengan mu?" Tanya suara itu perhatian.


Tasya langsung menoleh ke arah pintu. Dan di sana ia melihat sosok Daffa dalam jubah keemasan raja yang dikenakan nya.


Pangeran Hima segera menegakkan posisi duduk nya. Lalu bangkit dan menghampiri Ayahanda nya itu dengan berlari.


"Ayahanda!" Panggil pangeran Hima dengan riang.


Daffa langsung menangkap bagian lipatan di antara lengan dan bahu sang putra. Lalu menggendong nya tinggi. Sebuah ciuman berhasil Daffa daratkan di kedua pipi kebi milik pangeran Hima.


"Pangeran kita yang cerdas ini tampak nya bersemangat sekali melihat ayah. Apa Hima merindukan Ayah?" Tanya Daffa mengajak obrol Hima.


Sambil menjawab pertanyaan dari sang ayah, Hima melingkari leher Daffa dengan tangan nya yang mungil.


"Ya, Ayah. Sedari kemarin sore, De tak berjumpa dengan Ayahanda. Ayah terlalu sibuk!" Hima mengajukan keluhan nya terang-terangan.


Seketika itu juga, semua orang dewasa yang mendengar celotehan pangeran Hima itu pun tak bisa menahan tawa geli nya. Memang sungguh menggemaskan pangeran Hima ini.


Daffa dan Tasya bertukar pandang. Keduanya sama-sama tersenyum menertawai ucapan putra mereka yang terkadang kelewat dewasa itu.


Daffa merasa lega saat melihat Tasya yang sudah bisa kembali tersenyum.


Raja Nevarest tersebut tadi sempat menggalau manakala melihat wajah ratu nya yang terlihat sendu. Ia penasaran, apa kiranya yang sudah membuat Tasya jadi bersedih.


Hendak bertanya saat itu juga, rasanya bukan waktu yang tepat. Mungkin Daffa baru akan leluasa bertanya saat mereka sedang berdua saja nanti.


Daffa kembali memberikan kecupan untuk Himada. Kali ini ia menyarangkan nya di pucuk kepala. Sebuah studi menyatakan bahwa sering mencium pucuk, tangan dan pipi anak-anak akan membuat mereka menjadi anak yang cerdas.


Entah itu sebuah kebenaran atau bukan tapi menurut Daffa, seorang anak memang harus sering mendapatkan perhatian nyata dari orang tua dan orang-orang terdekat nya. Agar sang anak bisa menyadari bahwa ia dicintai dan disayangi oleh orang-orang di sekitar nya.

__ADS_1


Semoga dengan begitu anak tersebut akan tumbuh pula menjadi seorang penyayang.


Sebalik nya, bila seorang anak sering diacuhkan dan kurang perhatian dari orang-orang terdekat nya, maka besar kemungkinan ketika ia besar nanti anak tersebut akan tumbuh menjadi seorang yang apatis. Kurang memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi di sekitar nya.


"Maafkan ayah, ya, Nak. Ada beberapa hal yang perlu Ayah pelajari akhir-akhir ini. Jadi Ayah tak bisa bermain dengan mu seperti biasa nya," ucap Daffa kemudian.


"Ayahanda pun masih belajar? De kira bila kita sudah besar, kita tak perlu lagi belajar?" Tanya Hima dengan raut bingung.


Daffa tersenyum menanggapi ucapan pangeran Hima. Detik berikut nya Tasya lah yang menjawab pertanyaan putra nya tersebut.


"Kata siapa, Nak? Ada pepatah lama yang mengatakan, 'belajar lah sepanjang hayat'. Artinya, kita harus senantiasa belajar bahkan meski kita sudah tumbuh besar. Belajar apapun itu, yang baik dan lagi bermanfaat. Hima mengerti?" Tutur Tasya menasihati sang putra.


"Mengerti, Ibunda. Bahkan sampai Hima sudah kakek-kakek juga Hima harus belajar?" Sang pangeran berusaha menyimpulkan.


Lagi-lagi celotehan sang pangeran membuat keempat orang dewasa di ruangan itu tersenyum-senyum.


"Ya. Itu benar sekali. Sampai Hima sudah jadi kakek-kakek juga Hima harus semangat ya belajar nya!" Daffa menagih janji sang putra.


Yang kemudian langsung diangguki oleh sang Pangeran dengan begitu serius nya.


Sayang nya keceriaan dalam keluarga kerajaan itu tak berlangsung lama. Ketika Hima kemudian mengucapkan lagi kalimat terkait Huna, teman makhluk halus nya.


"Ayahanda, Huna juga ingin digendong oleh Ayah.." tutur sang pangeran memberitahu.


"Huh?" Daffa seketika pun menjadi bingung.


Sementara itu di dekat Daffa, Tasya langsung kembali dibuat tertegun saat mendengar ucapan pangeran Hima.


"Huna? Siapa itu, Nak?" Tanya Daffa langsung menatap Hima.


Selama beberapa detik berikut nya suasana mendadak hening. Keheningan yang kemudian berubah mencekam manakala boneka yang tergeletak di lantai tiba-tiba saja terlempar beberapa langkah jauh nya.

__ADS_1


Seolah ada yang menendang nya. Padahal saat itu semua orang tetap berdiri diam di tempat nya masing-masing.


Daffa terkejut dan menatap heran ke arah boneka. Damsi dan Afni memandang sngeri ke arah yang sama. Sementara pandangan sang ratu Tasya seketika berubah menjadi sendu.


Jika ia benar dalam menduga, bisa jadi baby Huna bersedih atas pertanyaan terakhir yang dilontarkan oleh Daffa tadi.


'Huna? Siapa itu, Nak?' itulah pertanyaan Daffa beberapa saat yang lalu.


Pertanyaan yang tentu akan menyakiti hati anak manapun juga. Saat menyadari bahwa ayah nya sendiri nyatanya tak mengenali diri nya.


Tapi, bagaimana juga Daffa bisa mengenal Huna? Bahkan Tasya pun awal mula nya sempat tak memercayai kejadian ganjil yang terjadi di sekitar pangeran Hima. Jadi Tasya tak serta merta langsung menyalahkan Daffa juga.


"Kenapa ayahanda berkata seperti itu? Hima ingin turun! Ayah sudah membuat Huna menangis!" Cecar sang pangeran seraya beranjak turun dari gendongan ayah nya.


Daffa yang tak siap dengan reaksi Hima pun akhirnya menurunkan putra nya itu kembali ke lantai. Dan setelah Hima berdiri di atas kaki nya sendiri, ia pun bergegas mengambil boneka mainan yang tadi sempat terlempar. Lalu berlari keluar ruangan sambil setengah berlari.


Serta merta Tasya mengirimkan kode dengan mata nya kepada Damsi. Dan segera Damsi pun ikut mengejar pangeran Hima yang sosok nya telah menghilang di sebuah tikungan. Di ikuti oleh Afni di belakang nya.


Pada akhirnya di ruangan tersebut hanya tinggal Daffa dan Tasya berdua saja. Daffa lalu memberikan Tasya pandangan bertanya.


"Apa maksud nya itu, Dear? Kenapa Hima jadi marah sama saya? Siapa Huna yang dimaksud oleh nya?" Tanya Daffa dengan kalimat beruntun.


Daffa lalu mengedarkan pandangan nya ke sekeliling. Untuk melihat barangkali ada sosok bernama Huna seperti yang dimaksud oleh putranya sesaat tadi. Namun ia tak mendapati siapa pun lagi selain Ratu nya saja dalam ruangan itu.


Tasya lalu menyampaikan jawaban yang diinginkan oleh Daffa langsung lewat telepati ke benak sang suami.


'Hima bersedih karena melihat saudari nya bersedih, Yang, Huna yang dimaksud oleh putra kita itu adalah baby Huna kita yang telah tiada beberapa tahun yang lalu,'


Daffa masih memberikan pandangan bingung kepada Tasya. Sampai kemudian kalimat Tasya berikut nya lah yang telah menyadarkan Daffa pada penyebab pangeran Hima marah kepada nya sesaat tadi.


'Seperti nya Hima memiliki bakat mampu melihat makhluk halus, Yang. Dia bisa melihat baby Huna yang telah tiada..' ucap Tasya menuntaskan ketidaktahuan Daffa terkait asal muasal amarah putra nya itu.

__ADS_1


"?!!" Pandangan Daffa pun seketika berubah jadi tercengang. Ia kesulitan untuk mempercayai apa yang diucapkan oleh ratu nya sendiri, sesaat tadi.


***


__ADS_2