
"Ada yang aneh dengan lelaki itu. Dia seperti tak pernah merasa lelah," ujar Jordan saat mengamati dua naga raksasa yang kini sedang bertarung di halaman istana.
Sesekali Frans berubah menjadi kelelawar untuk menghindari serangan naga hijau Eduardo. Untuk kemudian berubah kembali menjadi naga hitam yang menyerang naga hijau dari belakang.
Pertarungan di antara dua makhluk gigan tersebut menggemparkan seluruh penduduk ibu kota. Karena setiap hentakan kaki dan kibasan ekor dari setiap naga itu terasa seperti gempa besar yang mengguncang ibu kota. Beberapa bangunan bahkan retak dan roboh akibat hentakan para naga itu.
"Ya. Yang paling penting saat ini adalah kita harus segera menemukan kelemahan si gila Frans. Heran benar. Dari mana dia bisa mendapatkan stamina sebagus itu?" Sahut Jason yang ikut mengamati jalan nya pertarungan dua makhluk gigan.
"Itu karena dia sempat mencicipi darah sang Golden Boy. Sehingga ia mendapatkan keistimewaan dari darah golden boy yang diminum nya," imbuh Antes yang tiba-tiba telah berdiri paling depan.
Daffa, Jason dan Jordan pun seketika menatap Antes.
"Dari mana kau mengetahui hal ini, Antes?" Tanya Daffa penasaran.
Antes tak langsung menjawab pertanyaan Daffa. Ia terlebih dulu menatap lekat kedua mata Daffa.
Durasi tatapan nya cukup lama, sehingga Daffa kemudian menyadari bahwa Antes di depan nya saat ini bukan lah Antes yang biasa nya.
'Tatapan Antes terlihat begitu tenang dan dalam.. seolah-olah ia sedang dirasuki..'
Pikiran tersebut melintas cepat di benak Daffa. Dan ia pun terkejut dengan terkaan nya itu. Tanpa sadar, Daffa pun lalu menanyakan identitas sosok di depan nya.
"Siapa Anda? Anda bukan lah Antes!" Cecar Daffa dengan pandangan menusuk.
"Maksud kamu apaan sih Daff? Bukan nya udah jelas ya kalau dia ini Kepala Militer Antes?" Tanya Jason yang kebingungan.
"Bukan.. dia bukan Antes yang biasanya," jawab Daffa dengan yakin nya.
"Kamu benar, Cu. Aku adalah buyut mu, Alexandria. Kamu bisa memastikan nya dengan bertanya pada Ayah mu nanti. Dia akan mengenal ku sebagai nenek Alexa," Antes memperkenalkan diri nya sebagai sosok Alexa.
"Waktu Nenek tak lagi banyak di dunia ini, Cu. Cepat ambil sedikit saja darah naga dan usapkan di pelupuk mata mu. Dengan begitu kau akan bisa membuka kabut emas yang menyelubungi aura chi dari musuh mu itu. Baru setelah itu kamu bisa meng copy inner power lelaki itu," nenek Alexa menyampaikan nasihat nya kepada Daffa.
"Berdua dengan naga hijau, serang musuh dengan gencar. Buat musuh mu itu terbakar oleh api naga, agar semua keistimewaan yang didapat nya dari meminum darah Golden boy itu akan sirna."
Setelah itu, dia akan kembali normal seperti manusia umum nya. Meskipun ia tetap memiliki inner power, namun ia akan merasakan kelelahan setelah pertarungan berlangsung beberapa lama," imbuh nenek Alexa.
"Darah naga?" Tanya Daffa memastikan.
"Ya. Bergegaslah!" Titah Alexa dengan mendesak.
__ADS_1
Sedetik kemudian, tubuh Antes tiba-tiba saja terkulai lemas. Jika saja Jason tak segera menangkap lengan nya, tentulah Antes sudah akan tersungkur ke atas tanah.
Antes lalu tersadar dan tampak linglung untuk sesaat. Sampai kemudian ia teringat dengan apa yang baru saja terjadi. Dan ia pun membelalakkan mata nya dengan ngeri.
"A..apa itu tadi? Aku seperti melihat diriku sendiri bicara!" Seru Antes yang masih linglung usai dirasuki oleh nenek Alexa.
Daffa mengabaikan Antes. Ia lalu meminta Jason untuk membagi sedikit darah Eduardo untuk nya.
"Bisakah kau meminta naga mu untuk membagi darah nya kepada ku, Jass?" Daffa meminta ijin.
"Ya tentu. Tapi ini saja. Ini juga adalah darah naga. Aku mendapatkan nya sebagai hadiah kenang-kenangan dari sahabat naga ku," tutur Jason seraya menyerahkan sebotol vial kecil berisi darah naga kepada Daffa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Daffa langsung mengoleskan darah yang ada dalam vial tersebut ke pelupuk mata nya. Setelah selesai, Daffa pun lalu fokus melihat aura chi milik Frans yang kini sedang berubah menjadi burung elang berukuran mega.
Dengan cakar magis nya, Frans pun mencakari wajah naga hijau eduardo. Membuat snag naga meraung kesakitan karena mata nya sempat terluka akibat cakaran tersebut.
"Bagus! Sekarnag aku bisa melihat aura chi nya dengan jernih!" Gumam Daffa terdengar senang.
"Baiklah, kalian tunggu dulu di sini. Aku akan mencoba membuat Frans terpojok. Jika waktu nya sudah tepat, perintahkan naga hijau mu itu untuk membakar Frans, ya, Jass! Seperti kata nenek Alexa tadi. Stamina Frans yang tetap fit nanti nya akan bisa dihilangkan dengan semburan api naga," Tutur Daffa panjang lebar.
"Ketika Frans sudah mulai kelelahan, barulah kita menyerang nya bersama-sama. Setuju?" Tanya Daffa.
"Berhati-hati lah, Nak. Jangan berusaha terlalu keras.." Jordan memberikan nasihat.
Daffa lalu mengcopy aura chi milik Frans. Dan, seketika ia pun bisa merasakan alirna chi baru yang terasa sedikit tak nyaman bagi nya.
Daffa menepiskan ketidaknyamanan yang ia rasakan. Lalu fokus untuk menggunakan aliran chi tersebut, mengikuti jejak Frans.
Dalam sekejap, Daffa pun berubah menjadi burung elang hitam. Ia lalu melesat tinggi menyusul Frans yang masih bertarung dengan naga hijau.
Saat ini Frans sedang dalam bentuk menjadi naga. Sehingga ketika elang Daffa mengganggu nya dengan terbang di atas kepala Frans dan mengusik fokus perhatian nya dari naga hijau, saat itulah Jason melihat kesempatan untuk menyerang naga Frans.
Jason pun langsung berteriak.
"Eduardo! Serangan api!" Teriak Jason dengan suara lantang.
Mendengar teriakan Jason, Daffa pun seketika melesat tinggi ke atas untuk menghindari terkena cipratan serangan api dari naga hijau. Sementara Frans yang berwujud naga besar saat itu tak sempat menghindar ataupun merubah wujud nya lagi.
Frans pun akhirnya terkena serangan api dari naga hijau. Hingga secara perlahan tubuh naga nya seperti meleleh menjadi genangan cairan hitam mengkilat yang bergerak lemah di atas tanah yang telah terbakar.
__ADS_1
Tak lama kemudian Frans kembali berubah ke wujud manusia. Namun sayang, ia lagi-lagi harus menghadapi serangan tornado milik Antes. Sehingga tubuh Frans pun langsung terpelanting jauh dan membentur tanah dengan cukup keras.
Darah segar terlihat keluar dari ujung mulut Frans. Sayang nya serangan kepada nya masih terus ia terima. Entah itu tendangan kilat dari Jordan, pukulan tinju dari Jason, serangan anak panah dari Daffa yang kini telah menjejak kembali di atas tanah, serta sapuan angin tornado milik Antes yang membuat tubuh Frans terpelanting berkali-kali.
Pada akhirnya, Frans tak mampu menahan gempuran serangan dari kelima orang tersebut.
Hingga setelah satu jam pertarungan alot di antara mereka, Frans pun meregang nyawa di tangan anak panah magis milik Daffa.
Daffa menyerang Frans dengan jurus nya sendiri. Sungguh ironi sekali.
"Sepertinya dia sudah mati. Tak ada napas atau detak jantung lagi," ujar Antes yang baru saja memeriksa langsung tubuh terkapar Frans yang bersimbah darah.
"Cih! Aku tak merasa kasihan sama sekali pada nya. Bagaimana pun juga dia sudah menyiksa Dion ku selama bertahun-tahun lama nya. Dia sangat pantas untuk mati!" Kecam Jason menatap tak suka pada jasad Frans yang tak lagi bernyawa.
"Hh.. sayang sekali. Padahal lelaki itu memiliki inner power langka yang bagus," imbuh Jordan sambil bergumam pelan.
"Menjadi kuat pun percuma. Bila kekuatan nya itu dipergunakan untuk hal yang sia-sia.." imbuh Daffa menatap datar jasad Frans.
"Daffa!"
Sebuah teriakan seketika membuat keempat lelaki yang baru saja memenangkan pertarungan itu langsung menoleh ke sumber suara. Mereka lalu melihat Tasya yang berlari mendekati mereka.
"Kalian tak apa-apa? Apa semuanya sudah selesai?" Tanya Tasya beruntun.
Tapi kemudian Tasya melihat ke arah perut Daffa. Ia pun menatap ngeri dan spontan berteriak.
"Daff! Perut mu terluka! Ayo cepat kita ke Damsi. Kamu harus segera diobati!" Ucap Tasya sambil menarik lengan Daffa.
"Emmm.. Dear, tunggu sebentar. Saya mau bilang sesuatu dulu ke Antes."
Daffa lalu menoleh ke Antes dan berkata.
"Amankan jasad Frans. Kuburkan tubuh nya bersama peti logam yang terkunci rapat. Lakukan segera, dan laporkan semua kerusakan yang terjadi akibat pertarungan tadi," Daffa menyampaikan titah nya.
"Baik, Yang Mulia! Hamba siap laksanakan!" Sahut Antes dengan sigap.
Daffa pun berlalu pergi bersama Tasya. Diikuti oleh Jason dan juga Jordan yang mengikuti dari belakang.
***
__ADS_1