Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Identitas Penunggang Kuda


__ADS_3

"Ku dengar, Dion ada bersama mu? Benar kah itu?" Tanya penunggang kuda yang tak lain adalah Jason, aka Yan Chen.


"Ya. Takdir mempertemukan kami saat aku sedang menyerang Goluth. Dia ada di dalam. Kau dari mana saja? Dan naga ini..?" Daffa bertanya sambil melirik ke arah naga hijau yang kini telah pulas tertidur.


Dengkuran sang naga terdengar seperti suara dengusan kuda yang diperbesar berkali-kali lipat lebih kencang. Sontak saja sosok nya yang meski telah tertidur, masih saja menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar istana.


"Panjang cerita nya. Sekarang, bisa kah aku bertemu dengan Dion ku dulu? Kau tahu kan, kami sudah terpisah bertahun-tahun lama nya," tutur Jason agak mendesak.


"Ya, tentu saja. Maafkan ketidak pekaan ku. Bagaimana dengan kawan mu yang satu nya lagi? Apa dia ingin beristirahat atau ikut dengan mu juga?" Tanya Daffa kembali.


Ia merujuk pada penunggang ke dua.


"Hahh? Teman ku?? Parah sekali sih, kamu, Daff! Bagaimana bisa kau tak mengenali.."


Belum selesai Jason berkata, kala tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari ratu Tasya di belakang Daffa.


"D..Daff! Itu benar-benar naga?!!" Tasya bertanya sambil memandang takjub pada naga hijau yang sedang tertidur.


Seketika itu juga perhatian Daffa dan para penunggang naga pun beralih pada sang ratu. Bisa dilihat kalau Tasya seperti nya tak mempercayai penampakan naga yang sedang dilihat nya saat ini.


"Dear, kamu di sini.. dan ya. Itu memang benar-benar naga, Dear.. tebak, siapa ternyata yang menunggangi nya?" Tanya Daffa yang langsung berjalan menghampiri sang istri.


"Siapa?" Tanya Tasya linglung.


"Jason. Lihat lah kawan lama kita itu," Daffa menunjuk ke arah Jason dengan dagu nya. Sehingga Tasya pun kemudian menyadari keberadaan Jason tak jauh di depan nya.


"Jason? Apa itu benar kau? Kau terlihat.. sedikit berantakan," komentar Tasya.


"Yah.. nama nya juga jadi pengendali naga. Jadi wajar juga kok kalau penampilan ku berantakan begini," sahut Jason sambil menyengir malu.


Perhatian Tasya lalu beralih pada penunggang kedua yang penampilan nya jauh lebih berantakan dibanding Jason. Tasya tak bisa menilai pasti usia dari lelaki tersebut. Karena hampir seluruh wajah si penunggang kedua tertutupi oleh jenggot dan kumis yang kelewat lebat.

__ADS_1


Akan tetapi Tasya menangkap keakraban pada kedua manik mata yang saat ini sedang menatap nya dengan begitu intens.


Tasya lalu mendengar si penunggang kedua berkata pada nya.


"Anna..? Apakah itu kau, Nak?" Suara serak pun lalu keluar dari mulut penunggang kedua.


Menyadari kalau ia telah salah dikenali, Tasya pun segera mengoreksi kesalahan orang asing tersebut. Pikir Tasya, lelaki itu mestilah kenalan Kak Anna.


"Maaf. Tapi Da adalah adik kembar nya Kak Anna. Sementara saat ini Kak Anna sedang tak berada di istana.." koreksi Tasya dengan nada ramah.


Tasya lalu menangkap keterkejutan di wajah Jason dan juga lelaki itu. Ia Merasa bingung. Karena tak sepatutnya Jason ikut salah mengenali nya juga sebagai Anna. Jadi apa alasan nya hingga Jason ikut terkejut juga?


Sedetik kemudian, ucapan Jason pun menjelaskan segala nya. Penjelasan lelaki berwajah oriental tersebut sungguh mencengangkan Tasya dan semua orang yang mendengar percakapan mereka.


"Kau juga tak mengenali nya, Tasy?! Tapi dia ini kan ayah mu. Ayah kandung mu. Jadi kenapa bisa kau tak mengenali nya juga??" Tanya Jason dengan raut tak percaya.


"Apa?!! Ayah??! Dia.. Anda..?!!" Tasya tergeragap tak mampu melanjutkan perkataan nya.


Si penunggang ke dua yang ternyata adalah ayah Jordan pun akhirnya bicara.


Tasya tak mampu menyahuti perkataan sang ayah. Sehingga ia hanya menganggukkan kepala nya sekali.


Dengan perlahan Jordan melangkah mendekati Tasya. Sambil berjalan. jordan terus berkata-kata.


"Kamu.. sudah besar, Nak.. kamu juga cantik seperti ibu mu.." Jordan memuji.


"Ayah salah! Tasya itu mirip Kak Anna lah, Yah!" Protes Tasya tiba-tiba.


Jordan tak marah dengan protes yang diajukan oleh putri nya itu. Ia masih tetap berjalan mendekati sang putri yang kini telah menjadi ratu dari kerajaan ini.


"Ya.. ya.. Kalian berdua mirip sekali seperti ibu kalian, Nak. Terlalu banyak bilangan tahun yang terlewati tanpa kehadiran ayah di sisi kalian. Terutama kamu, Zizi dan juga ibunda mu.. ayah minta maaf, Sya.." ungkap Jordan dengan mata yang telah berlinang.

__ADS_1


"Ayah memang harus minta maaf!" Ungkap Tasya dengan mata yang telah berlinang pula.


"Tapi Tasya udah maafin Ayah jauh sebelum Tasya ngerasa marah. Jadi gak apa-apa. Tasya udah gak marah lagi kok. Yah.." imbuh Tasya kembali.


Jordan terkekeh kecil kala mendengar celotehan sang anak. Agak nya Tasya memiliki selera humor mirip seperti nya. Tadi nya ia pikir dua putri kembar nya itu akan menjadi replika sang ibunda yang anggun dan berkepribadian tenang.


Tapi syukurlah.. senang rasanya bila ada dari salah satu anak mu yang memiliki sifat yang sama dengan mu. Bukan kah benar begitu?


Kini Jordan telah berdiri persis di hadapan Tasya. Dan Tasya bisa melihat manik mata yang telah di kopi oleh kedua mata nya sendiri. Penampilan Jordan hampir tak bisa ia kenali dengan semua kumis dan jambang yang tumbuh lebat menutupi hampir seluruh wajah nya itu.


Jordan sadar diri dengan penampilan nya yang berantakan. Karena itulah ia meminta ijin terlebih dulu kepada Tasya untuk memeluk nya.


"Boleh ayah memeluk kamu, Nak? Tapi maaf, Ayah masih berantakan gini," ijin Jordan kemudian.


Tasya mengangguk. Pertanda ia memberikan ijin pada sang ayah untuk memeluk nya. Kedua nya pun segera mengharukan pertemuan mereka dalam pelukan pelepas rindu.


Tak lama kemudian..


"Ayah harus cepat-cepat mandi! Tasya sangsi, di rambut ayah mestilah tinggal kutu hutan yang besar-besar. Belum apa-apa, Tasya udah ngerasa gatal!" Bisik sang ratu yang hanya bisa didengar oleh Jordan dan juga Daffa di dekat nya.


Kedua lelaki itu pun kembali tertawa pecah. Sehingga mata kedua nya lalu bertemu. Dan Daffa pun menyapa singkat ayah mertua nya itu.


Daffa meraih tangan Jordan untuk ia ciumi. Sebuah bahasa penghormatan yang dikenal nya dari dunia bumi.


Jordan membiarkan tangan nya dicium oleh raja tampan tersebut. Setelah itu, ia pun berkata kepada Daffa.


"Terima kasih. Sudah menjaga Tasya dan juga negeri ini dengan sangat baik. Ayah telah mendengar sedikit cerita tentang kemenangan mu melawan kudeta pihak musuh Nevarest selama ini. Ayah bangga pada mu, Nak! Dan juga pada kamu, Sya!" Imbuh Jordan terburu-buru. Kala dilihat nya Tasya yang seperti hendak mengajukan protes karena sang ayah hanya memuji Daffa saja.


"Itu sudah jadi kewajiban De, Ayah.. bagaimana jika kita lanjut berbincang ke dalam saja? Atau barangkali ayah ingin istirahat terlebih dulu?" Daffa menawarkan kenyamanan pada Jordan.


Jordan melihat penampilan nya sendiri sebelum akhirnya berkata.

__ADS_1


"Ayah memang harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bertemu dengan ibunda kalian. Ayah sudah sangat rindu untuk bertemu dengan nya lagi," ungkap Jordan dengan pandangan sendu.


***


__ADS_2