Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Kepala Kasim Lin


__ADS_3

Sementara itu di istana Nevarest..


Telah seminggu lama nya istana diselimuti oleh kabut duka. Setelah rentetan peristiwa kurang beruntung yang dialami oleh keluarga kerajaan, kini ketidakberuntungan itu kembali harus terjadi.


Dikabarkan bahwa ratu Tasya tiba-tiba menderita sebuah penyakit. Fisik nya setiap hari terus melemah hingga membuat nya mengurangi beban kerja nya dalam mengurusi persoalan kerajaan.


Meski begitu sang ratu tetap bersikeras untuk mengerjakan sebisa diri nya. Bahkan jika itu harus dilakukan nya dari atas pembaringan. Seperti yang sedang dilakukan nya saat ini.


Wajah ratu Tasya terlihat sangat pucat. Sesekali napas nya terdengar kasar dan menghentak-hentak. Tak tega rasanya melihat kondisi sang ratu yang sudah payah itu masih pula harus membaca berbagai laporan dari para menteri.


Akhir-akhir ini, kepala kasim Lin yang biasa menyertai ratu pun jarang melihat sang ratu tersenyum. Rupa cantik bak bidadari itu nampak seperti mayat hidup yang dipaksa untuk tetap bekerja saja.


Terkecuali bila ratu Tasya kedatangan pangeran Hima yang menjenguk nya. Baru lah sang ratu memberikan senyuman terbaik nya.


Akhir-akhir ini, ratu Tasya juga jarang menemani sang pangeran tidur. Mungkin karena penyakit yang dideritanya itu paling menyiksa nya pada waktu malam hari. Jadi sang ratu khawatir bila aktivitas malam nya yang sering terbangun itu dapat mengganggu kualitas tidur sang pangeran kecil.


Jadilah akhirnya Pangeran Hima kembali tidur seorang diri. Meski tetap dengan penjagaan ketat dari kepala pengawal Jun.


"Bagaimana kabar invasi ke Goluth?" Tanya sang ratu pada kepala kasim Lin.


Akhir-akhir ini sang ratu lebih sering mendengarkan laporan yang dibacakan oleh kepala Kasim. Karena terlalu sering membaca membuat mata nya cepat menjadi pusing dan ia pun akan mual muntah setelah nya. Jadi Kasim Lin pun merangkap menjadi pembaca laporan untuk sang ratu kini.


"Raja Daffa telah menguasai 9 kota di perbatasan terdekat, Ratu. Sementara pasukan Goluth memutuskan untuk mundur kembali ke negeri nya," jawab kepala Kasim Lin.


"Kenapa begitu?" Tanya sang ratu dengan kedua alis yang bertaut.


"Mungkin karena perayaan besar yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini, Yang Mulia.." jawab Lin kembali.


"Oh.. begitu rupanya.."


Ratu Tasya tampak merenungkan sesuatu. Entah apa yang ada di benak sang ratu. Kepala Kasim Lin tak pernah mengetahui nya. Ia baru menjabat sebagai kepala kasim ketika raja Daffa mulai bertahta.


"Da ingin beristirahat. Hari ini tugas mu selesai, Kasim Lin. Terima kasih!" Tutur ratu Tasya dari atas pembaringan nya.


Kepala kasim Lin pun menundukkan kepala nya sebagai tanda penghormatan sebelum ia pergi. Baru setelah nya menghilang keluar dari kamar istirahat sang ratu.


'Kasihan sekali nasib ratu Tasya. Secantik itu, namun nasib nya begitu tragis,' pikir sang kepala kasim dalam hati.


Kepala kasim Lin pun memutuskan untuk kembali ke kantor kerajaan untuk menyerahkan hasil kerja sang ratu untuk hari ini. Seperti biasa, ia lah yang pada akhirnya paling sibuk dalam menyelesaikan setiap laporan yang telah dinilai oleh sang ratu.


Kepala kasim Lin mendesah letih. Upaya letih nya ini sungguh tak sebanding dengan upah yang ia terima selama ini. Dipikirnya gaji nya akan meningkat drastis manakala ia diangkat sebagai kepala kasim. Namun pada kenyataan nya kenaikan itu tidaklah seberapa.

__ADS_1


Padahal Lin berharap sangat ia bisa merubah status kependudukan nya menjadi seorang bangsawan...


"Lin, Sang Pemimpin ingin kau menemui nya!" Perintah sebuah suara dari sudut lorong yang gelap.


Kepala Kasim Lin sangat terkejut. Meskipun ia telah cukup sering berinteraksi dengan suara tanpa wujud seperti barusan, tapi tetap saja. Saat kau sendirian lalu mendengar suara yang memanggil mu dari kegelapan, mau tak mau kau akan merasa ketakutan juga kan?


Begitu pun dengan kepala kasim Lin.


Setelah sempat tersentak kaget, Lin pun mengerjapkan mata nya beberapa kali sambil menengok ke segala arah. Memastikan bahwa tak ada siapapun di sekitar nya.


Setelah Lin memastikan tak ada yang melihat nya, barulah Lin menyahut.


"Baik. Hamba akan menemui nya setelah menaruh laporan ini ke kantor kerajaan," jawab Lin dengan suara berbisik.


Dan suara itu lagi-lagi terdengar menjawab ucapan Lin.


"Bergegaslah. Atau.."


Lin merasakan aura dingin yang tiba-tiba menekan tengkuk nya. Seketika itu pula jantung Lin serasa ingin berhenti rasa nya. Dengan susah payah, Lin menganggukkan kepala nya sekali. Sampai kemudian aura dingin itu menghilang bersama hembusan angin yang berlalu pergi melewati nya.


'Pasukan bayangan..!' gerutu Lin dalam hati.


Lin lalu memasuki bagian istana yang lain. Kemudian menghadap ke hadapan seorang lelaki paroh baya dengan penampilan yang cukup menggentarkan hati.


Bagaimana bisa tak gentar? Dengan wajah kasar dan lagi sangar, serta luka sayatan memanjang di area pipi dan rahang kanan. Lelaki yang menamakan diri nya Pemimpin itu jelas menggentarkan hati siapapun yang melihat nya.


Ya. Dialah Alul Lazam. Sang menteri Pertahanan.


"Akhirnya kau datang juga, Lin. Bagaimana dengan perintah ku yang terakhir?" Tanya Alul dengan arogan.


Kasim Lin menjawab sambil menundukkan kepala nya ke lantai. Ia selalu merasa tak nyaman bila bertatapan dengan mata sang menteri.


"Sudah, Tuan ku. Hamba telah menyerahkan laporan sesuai dengan Yang Tuan ku ingin kan," jawab Lin segera.


"Bagus! Dan kira-kira, kapan hasil nya bisa kita lihat?" Tanya Alul lagi.


"Mungkin sekitar.. dua pekan mendatang, Tuan ku," jawab Lin lagi dengan nada datar yang sama.


"Hahaha! Bagus sekali! Itu berdekatan dengan perayaan besar di kerajaan Goluth. Dengan begitu, semua rencana Pemimpin Teratas benar-benar bisa terlaksana! Ini bagus sekali!!"


Alul Lazam terus tertawa bahak selama beberapa waktu. Dan Lin terus menundukkan kepala nya selama itu. Setelah beberapa lama, Alul Lazam pun kembali bertanya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kondisi ratu? Dia tentu semakin payah bukan?" Tanya Alul lagi dengan seringai jahat nya.


Beruntung kasim Lin tak melihat seringai sang menteri. Jika tidak, mungkin bulu kuduk nya akan serta merta berdiri.


"Benar, Tuan ku. Ratu sudah tak bisa beranjak keluar dari kamar nya," jawab Lin singkat.


"Bagus lah! Dan pelayan tua nya itu pasti sudah mati, bukan?!" Tebak Alul dengan percaya diri.


"Itu.." sesaat Lin tampak ragu untuk menjawab. Namun karena ia tahu kalau jawaban nya sedang ditunggu, Lin pun akhirnya menjawab juga akhir nya.


"Masih hidup, Tuan ku. Pelayan Damsi masih terbaring koma di kamar nya."


"Apa?! Bagaimana bisa?! Bukankah setelah racun tokasik, aku juga menyuruh tabib itu memberinya racun mematikan?!" Amuk sang menteri pertahanan.


"Ampun Tuan ku. Hamba pun tak mengerti. Tapi seperti nya kondisi pelayan Damsi pun sudah sangat parah. Hamba dengar dari tabib, kalau detak jantung nya mulai sering tak terdengar beberapa hari terakhir ini," jawab kasim Lin terburu-buru.


Alul Lazam mendengus kasar.


"Dasar bedebah tua! Memang satu orang itulah yang paling menyusahkan ku selama ini. Tapi biarlah. Tak apa-apa. Jika memang bedebah itu ingin mati secara perlahan, aku akan membiarkan nya. Hahahahaha!" Sang menteri kembali tertawa bahak.


Dan kasim Lin pun menghela napas lega kala mendengar sang menteri yang tak lagi marah.


"Jadi, aku hanya perlu menunggu dua pekan lagi untuk status kenaikan pangkat ku menjadi perdana menteri kerajaan ini. Setelah itu, aku akan lebih leluasa melakukan semua rencana ku pada negeri ini. Bagus sekali! Kau boleh pergi, Lin! Dan lakukan semua rencana yang telah ku jabarkan kepada mu terakhir kali!" Usir sang menteri kemudian.


Kasim Lin pun dengan senang hati menerima pengusiran itu. Ia merasa nyawa nya lebih aman bila interaksi nya dengan sang menteri semakin sedikit. Karena setiap perjumpaan nya dengan Alul Lazam, Lin merasa jantung nya dipompa tak beraturan. Itu sungguh tak menyehatkan bukan?


"Baik, Tuan ku. Hamba undur diri!" Pamit Lin dengan badan setengah membungkuk.


Namun langkah Kasim Lin kembali terhenti manakala terdengar panggilan Alul Lazam kembali pada nya.


"Dan Lin!"


"Ya, Tuan ku?"


"Tenang saja. Status bangsawan yang sangat kau mimpikan itu akan segera kau dapatkan setelah Pemimpin Teratas berhasil dengan rencana nya nanti!" ucap sang menteri dengan suara yang dibuat lembut.


Lin sempat tertegun. Sampai kemudian seulas senyum pun muncul di wajah nya tanpa ia sadari.


"Baik, Tuan ku. Hamba sungguh berterima kasih untuk kesempatan yang telah Tuan ku berikan," ucap Lin dengan nada menghamba yang terdengar lebih tulus dari ucapan-ucapan nya sebelum nya.


***

__ADS_1


__ADS_2