
Setelah perjumpaan dengan Tasya, Karina pun tak lagi dikurung dalam ruangan nya. Tasya memerintahkan kepada dua penjaga yang tadinya menjaga pintu tempat Karina dikurung, untuk menjadi pengawal sementara Karina.
Tasya lalu pamit undur diri untuk mengabarkan Daffa tentang identitas Karina sebagai ratu Charrine. Dan saat Daffa mengetahui hal itu, suami nya itu tampak terpekur diam selama beberapa detik.
"Pantas saja di pertemuan pertama kami dulu dia mengenakan cadar. Seperti nya Frans lah yang sudah menyuruh Karina untuk menutupi identitas nya. Mungkin Karina dipaksa dengan ancaman putri nya itu.." Daffa menduga-duga.
"Iya, Yang. Karina juga mengingatkan ku tentang Frans yang mempunyai inner power," imbuh Tasya.
Sang ratu kemudian menjelaskan inner power milik Frans kepada Daffa. Setelah selesai, Daffa pun berkomentar.
"Kalau begitu, saya harus melakukan invasi ke Goluth sesegera mungkin, Dear. Kita harus menahan Frans juga. Karena bagaimana pun juga dia adalah ancaman bagi kebahagiaan kita. Dia juga mempunyai hutang kepada saya setelah kejadian pembunuh bayaran kemarin.." tutur Daffa sambil menerawang.
"Terserah kamu aja, Yang. Asalkan kamu selalu berhati-hati saat berhadapan dnegan nya nanti. Aku selalu mendukung semua keputusan kamu," ucap Tasya menyemangati.
"Baik lah. Terima kasih, Dear.. untuk informasi berharga ini. Kalau begitu, saya mau menyusun rencana invasi dulu dengan Antes dan jendral lain nya. Oh ya, bagaimana kabar Kak Anna? Apakah spirit Ibunda ratu Elva sudah meminum ramuan pengembali ingatan nya?" Tanya Daffa tiba-tiba.
"Belum, Daff. Bagaimana ya? Tanda hitam di kuku Ibunda hampir memenuhi seluruh bagian kuku nya. Aku khawatir kita tak mempunyai waktu banyak lagi," jawab Tasya dengan kecemasan yang terlihat nyata.
"Tenangkan diri mu, Dear. Kak Anna pastilah sedang melakukan yang terbaik saat ini. Jadi kita percayakan saja pada nya. Dan kita banyak berdoa saja semoga urusan Kak Anna dipermudah."
"Aamiin.."
"Yang Mulia Raja! Di sisi barat terdapat objek tak dikenal terbang menuju kemari!" Seru seorang pengawal tiba-tiba.
"Objek apa itu?" Tanya Daffa penasaran.
"Itu adalah..sejenis burung. Burung yang sangat besar ukuran nya," sahut pengawal itu kembali.
"Burung? Biarkan saja kalau itu tak mengganggu," tutur Daffa kembali.
"Tapi Yang Mulia.."
"Kenapa lagi?"
Melalui teropong kami mendapati ada dua sosok yang menunggangi burung raksasa tersebut!" Seru sang pengawal menerangkan.
"..."
__ADS_1
"..."
"Kata mu tadi, ada burung raksasa yang ditunggangi oleh dua orang?" Kaki ini, ratu Tasya lah yang bertanya dengan nada tak percaya.
"Benar, Ratu. Hamba pun sulit untuk mempercayai ini. Tapi memang begitulah kelihatan nya! Burung raksasa itu seperti nya menuju ke arah istana sini," jawab sang pengawal kembali.
"Sebesar apa seekor burung hingga bisa ditunggangi oleh dua orang manusia?" Gumam Tasya dengan suara yang masih cukup jelas didengar oleh semua nya.
"Ada di mana posisi burung itu saat ini?" Tanya Daffa kemudian.
"Sekitar satu atau dua kilometer dari sini, Yang Mulia!"
"Masih cukup jauh ya. Siagakan saja tim penembak. Sementara terus pantau situasi. Khawatir benda terbang itu adalah musuh, kita harus selalu bersiaga!" Daffa mengeluarkan titah nya.
"Baik, Yang Mulia!"
Pengawal itu pun langsung pergi untuk menjalankan titah dari raja Daffa. Sementara itu Daffa dan Tasya saling melempar pandang.
"Menurut mu, itu benar-benar dari pihak musuh, Yang?" Tanya Tasya kepada Daffa.
"Oke. Kalau gitu aku mau ajak Hima main dulu ya sama Rinaya. Seperti nya Hima senang bermain dengan anak nya Karina itu," sahut Tasya.
"Jangan punya ide yang aneh-aneh lho, Dear.." Daffa mengingatkan.
"Aneh-aneh apaan sih?"
"Ya itu. Kamu sama Karina jangan main jodoh-jodohin anak kita lho."
Tasya terlihat malu tertangkap basah. Namun ia berusaha mengelak tudingan sang suami.
"Siapa juga yang mau main jodoh-jodohin Hima? Ngaco deh kamu!" Elak Tasya sambil berlalu terlebih dulu.
"Yah.m saya cuma ingetin aja gak apa-apa dong.." imbuh Daffa pada punggung sang istri yang telah menjauh pergi.
Tasya tak menyahut apa-apa lagi. Sehingga Daffa hanya menggeleng-gelengkan kepala nya sambil mengekori sosok istri nya yang telah menjauh.
***
__ADS_1
Sekitar setengah jam berikut nya, sosok yang dikatakan sebagai burung raksasa itu akhirnya semakin jelas terlihat oleh para penduduk di sekitar istana Nevarest. Ternyata itu adalah seekor naga. Naga hijau dengan ukuran yang sangat besar.
Naga tersebut benar ditunggangi oleh dua sosok lelaki. Bila diperkirakan, ukuran sang naga besar nya bisa menyaingi sebuah rumah tipe 24.
Para tim penembak Daffa telah bersiaga sejak sosok naga tersebut terlihat. Berbagai senjata dan amunisi pun disiapkan untuk menghalau sosok tersebut. Bilamana naga itu hendak mengacau dan mendarat di istana.
Syukurlah para tim penembak belum menembakkan senjata nya. Karena setelah Daffa melihat sosok yang sedang menunggangi kuda, ia dibuat terkejut.
"Tunggu dulu! Da seperti mengenal orang yang menunggangi naga itu. Dia seperti.."
Daffa kemudian memberikan titah nya pada kepala militer, Antes.
" Antes, katakan kepada tim penembak untuk menahan serangan. Mereka bukan lah musuh!" Titah Daffa kepada kepala Antes.
Selang beberapa menit kemudian naga besar berwarna hijau yang ditunggangi oleh dua orang tersebut lalu mendarat di halaman istana.
Ketika naga itu mendarat, semua orang yang berada dekat dengan tempat pendaratan nya itu merasakan getaran yang mengguncang seperti gempa. Belum lagi kibasan sayap sang naga yang terasa seperti hembusan angin kencang beliung. Sehingga tak ada satu pun yang berani mendekati naga itu.
Raja Daffa pun tetap menjaga jarak dari tempat pendaratan naga. Ia hanya menunggu sang penunggang turun dari atas punggung hewan mitos tersebut.
Di sekitar istana, para penduduk Nevarest sudah berkumpul dan penasaran dengan kemunculan naga, si makhluk legenda. Mereka mengerubungi pintu masuk istana untuk melihat sendiri sosok naga yang hanya bisa terlihat pucuk kepala nya saja dari luar gerbang istana.
Sementara itu Tasya dan Karina mendengar perbincangan para penjaga tentang kedatangan naga di halaman istana. Sehingga mereka pun ikut merasa penasaran dan memutuskan untuk melihat dengan mata kepala mereka sendiri.
Setelah mendarat di halaman istana dan mengepakkan sayap nya dua kali, naga hijau tersebut lalu mendudukkan diri nya dengan tenang. Ia kemudian menurunkan kepala nya ke halaman berumput dan langsung memejamkan kedua mata nya yang berwarna hijau cerah.
Sang naga tak perduli dengan orang-orang dan kehebohan yang telah diciptakan oleh kedatangan nya itu.
"Lama menghilang, dan kau kembali dengan membawa kehebohan ini?" Sapa Daffa pada salah seorang penunggang yang dikenal nya.
Sang penunggang hanya memberi senyuman tipis sambil mendekati raja muda tersebut. Penampilan lelaki itu begitu berantakan. Mirip seperti seorang pemburu dengan rompi kulit yang ia kenakan.
Penunggang yang kedua pun lebih berantakan lagi. Karena rambut nya yang panjang sebahu dengan kumis serta jambang yang lebat hampir memenuhi wajah nya. Daffa tak bisa mengenali identitas si penunggang kedua. Jadi ia mengembalikan perhatian nya ke penunggang ke satu.
"Hai, Daff! Lama tak berjumpa. Ku dengar, Dion ada bersama mu?" Tanya penunggang pertama dengan nada akrab.
***
__ADS_1