Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Kekejian Frans


__ADS_3

Invasi Goluth ke Nevarest terus berlangsung hingga beberapa pekan berikut nya. Situasi ini sebenar nya tak hanya merugikan Nevarest saja. Namun Goluth pun ikut merasakan kerugian besar atas invasi yang dilakukan nya.


Bagaimana pun juga tak ada yang bisa dikatakan benar-benar menang dalam sebuah peperangan. Entah pihak yang menyerang atau pun yang diserang akan sama-sama mengalami kehilangan. Baik itu kehilangan materiil maupun non materil.


Sejauh ini Nevarest telah kehilangan dua kota lain nya menyusul dua kota sebelum nya yang telah dikuasai oleh pasukan Goluth.


Pada dua kota terakhir, Pasukan Goluth menunjukkan keberingasan nya karena mereka tak hanya meluluhlantakkan bangunan yang ada di sana, melainkan juga turut serta membakar seluruh penduduk di kota tersebut hidup-hidup.


Tentu nya aksi tak berperi kemanusiaan ini diprakarsai oleh penguasa kerajaan Goluth itu sendiri, yakni raja Elfran.


Di barak utama, kediaman raja Elfran..


"Yang Mulia, pasukan Nevarest melakukan perlawanan dengan mengirim pasukan inner power tingkat menengah ke kota Kievv. Pihak kita kehilangan dua tank tempur utama. Dan terpaksa harus mundur," lapor seorang komandan kepada raja Elfran.


"Dasar bodoh! Jangan bersikap lemah! Terus gempur pasukan Daffa dan putus semua sumber air yang menuju ibu kota. Kita akan lihat, seberapa lama Daffa akan duduk tenang di atas mahkota nya, bila rakyat nya menjerit karena kekeringan air! Qiqiqiqiii.." kekeh Frans membayangkan nasib rakyat Daffa yang dipastikan nya akan menderita.


"Kalau begitu, kita harus memutar sedikit ke kota Lorr, Yang Mulia. Karena di sana ada sumber mata air utama bagi beberapa kota besar di Nevarest!" Usul seorang komandan yang lain.


"Bagus! Lakukan itu. Dan jangan sampaikan berita kegagalan lagi kepada Da. Jika tidak.."


Frans tiba-tiba saja menebas leher komandan yang melaporkan kegagalan nya menjaga pertahanan di kota Kievv, dalam satu gerakan.


Kepala sang komandan pun menggelinding jatuh ke depan meja besar tempat peta peperangan berada. Malang nian sang komandan, karena ia bahkan tak sempat menyadari detik terakhir dari masa hidup nya.


Mata sang komandan tetap terbuka memandang ke atas. Sebuah keterkejutan tampak jelas terlihat di wajah muda nya.


Di sekeliling meja, beberapa komandan langsung sigap mundur menjauhkan diri. Naas, dua komandan yang berdiri di samping rekan nya yang telah tewas tak bisa menghindar dari percikan darah manakala leher sang komandan ditebas dengan pedang buatan dari inner power milik sang raja.


Seketika itu jua suasana dalam ruangan mendadak menjadi hening mencekam. Semua orang di ruangan itu setuju bahwa raja mereka yang berkuasa saat ini memang sungguh gila dan haus darah.


Semua orang itu berharap jika mereka tak akan bernasib sama seperti rekan sesama mereka barusan.


"Jika tidak.. Da akan pastikan kalian akan lebih memilih untuk mati langsung seperti si bodoh ini, dibanding harus menghadapi apa yang akan Da lakukan nanti!" Ancam sang raja dengan seringai keji di wajah nya.


Sontak saja semua komandan langsung berdiri sigap dan menyahut, "siap Yang Mulia!".


***

__ADS_1


Setelah briefing dengan para komandan nya, raja Elfran pun kembali ke tenda tempat nya beristirahat.


Di atas kasur Frans, seorang wanita cantik dengan gaun transparan telah berbaring dengan posisi menyamping. Wajah nya dihiasi make up yang membuat penampilan cantik wanita tersebut jadi terlihat sensual.


Frans mendengus kencang saat melihat wanita yang menghibur nya malam ini.


'Wanita murahan! Semua wanita memang murahan! Karina pun murahan! Berani sekali dia kabur tanpa seijinku! Lihat saja nanti bila aku menemukan nya!' cibir Frans dalam hati.


Meski hati nya mencibir, nyatanya sikap Frans terhadap wanita penghibur di atas kasur nya tak menampakkan rasa ketidaksukaan nya itu.


Seperti malam-malam sebelum nya, Frans akan membuat para wanita itu merasakan kenikmatan dengan bermalam bersama nya. Namun saat berada di puncak kenikmatan nya, Frans akan langsung menikam dada tempat jantung milik para wanita tersebut tersembunyi.


Frans selalu senang saat melihat para korban nya mati dalam kondisi mengejutkan. Dan terhadap para musuh nya, Frans pun akan membuat mereka terkejut dalam kebinasaan nya. Termasuk juga Daffa dan juga Tasya.


Mengingat nama pasangan itu, Frans langsung dirundung oleh amarah hebat. Saat wanita di bawah nya sedang menikmati puncak kenikmatan nya kala bersetubuh dengan sang raja, Frans langsung saja mencabik-cabik punggung sang wanita dengan brutal.


Frans memunculkan cakar buatan dari wujud inner power nya lalu mencabik punggung wanita tersebut berkali-kali. Tak ayal, sang wanita pun langsung menjerit kesakitan.


Sayang nya wanita tersebut tak mampu menjerit lebih lama lagi, karena Frans langsung mendorong wajah nya ke arah bantal, sementara kedua organ intim mereka terus beradu dalam tempo yang cepat.


Frans menikmati orgas me nya. Sementara sang wanita mulai meregang nyawa karena kehilangan pasokan udara.


Selesai memakai celana nya lagi, Frans pun setengah berteriak ke penjaga yang berdiri di depan pintu masuk tenda nya.


"Bawa sampah ini keluar!" Titah Frans pada sang penjaga.


Setelah nya, Frans langsung saja tidur di atas kasur yang sama, tempat wanita penghibur tadi meregang nyawa. Ia tak memerdulikan noda merah di atas kasur saat ia memejamkan kedua mata nya beberapa waktu kemudian.


"Tasya.. Daffa.. akan ku balas perlakuan kalian kepada ku dulu! Kita lihat nanti, siapa yang akan menjerit ketakutan menjelang maut nya nanti!" Gumam Frans sebelum ia menutup mata.


***


Sementara itu di puri Anyelir..


'Yang, apa peperangan ini bisa berakhir dalam waktu dekat? Aku kasihan sama rakyat kita, Yang. Mereka pastilah sangat menderita dalam menghadapi masa peperangan ini,' ucap Tasya lewat telepati.


Seperti biasa, Tasya dan Daffa melakukan sesi curhat mereka di pembaringan melalui telepati. Tasya kini bersandar pada bahu sang suami. Sementara ia membuat gerakan melingkar di telepak tangan milik sang raja.

__ADS_1


'Hh.. entahlah, Dear. Saya pun berharap peperangan ini tak sepatutnya terjadi. Tapi mau bagaimana lagi? Pasukan Goluth terus saja melakukan invasi ke kota-kota di kerajaan kita. Jadi tak mungkin kan bila kita menyerah begitu saja tanpa melakukan perlawanan?' Daffa beralasan.


'Ucapan mu ada benar nya juga sih.. lalu bagaimana dengan Ratu Charrine? Apakah ada berita lagi tentang nya dan juga putri nya?' tanya Tasya kembali.


'sejauh ini belum ada, Dear. Saya khawatir, bila ratu Charrine dan putri nya mungkin sudah..'


Tasya buru-buru menutup mulut sang raja. Aksi nya itu disaksikan pula oleh penguntit yang mengawasi mereka di pojok ruangan.


Penguntit itu berpikir seperti ini.


'Aneh benar pasangan ini. Mereka sering sekali berbaring tanpa bercakap-cakap seperti ini. Hanya melihat udara kosong di depan mereka. Dan tak berkata apa-apa. Aneh nya aku selalu merasa kalau mereka seperti sedang berbincang-bincang!' pikir penguntit tersebut.


Kemudian, sang penguntit terpikirkan sesuatu hal. 'Jangan-jangan..!!'


Sang penguntit yang bernama Deril itu pun bergegas menghampiri rekan nya yang bersembunyi di pojok ruangan lain nya.


"Aro! Aku harus pergi dulu sebentar!" Pamit Deril.


"Mau kemana kamu, Ril?" Tanya penguntit Aro.


"Ada sesuatu yang harus ku laporkan pada pemimpin. Kau tunggu lah di sini dulu. Aku akan segera kembali!" Pamit Deril sebelum akhirnya melesat pergi di balik bayang-bayang.


Aro menatap bingung pada kepergian rekan nya itu. Sementara perhatian nya kembali fokus mengawasi pasangan raja dan ratu di ruangan tersebut.


Dalam hati nya ia lagi-lagi mengeluh.


"Malas benar pekerjaan menguntit ini. Aku merasa seperti sedang mengintip orang yang sedang berpacaran saja!" Dumel Aro dengan suara yang kelewat pelan.


Sementara itu di atas pembaringan, pasangan raja dan ratu masih menikmati sesi curhat mereka lewat telepati.


'Jangan berpikir buruk dulu tentang ratu Charrine, Yang. Bukan kah apa yang kita pikirkan bisa jadi akan dikabulkan oleh --Nya?' tegur Tasya kepada Daffa.


Daffa membalas teguran dari sang ratu dengan tersenyum manis.


Dikecupnya puncak kepala Tasya sekali. Lalu ia kembali bicara langsung ke benak sang istri.


'Kamu benar, Dear. Kita doakan saja di mana pun Ratu Charrine dan putri nya berada, semoga mereka selalu dalam penjagaan Allah ya!'

__ADS_1


'Aamiin...'


***


__ADS_2