
Prajurit Nevarest yang dipimpin oleh raja Daffa pun akhir nya berangkat menuju medan peperangan. Rencana nya mereka akan bertolak ke kota di perbatasan dengan kerajaan Goluth di sisi Utara Nevarest.
Seluruh rakyat Nevarest ikut mengantarkan keberangkatan raja mereka. Meski pun Daffa terbilang sebagai raja muda yang baru menjabat selama lima tahun saja, namun semua rakyat nya berbondong-bondong berdiri di pinggir jalan. Untuk memberikan salam penghormatan mereka kepada nya.
Sementara itu di istana Nevarest..
"Yang Mulia Ratu! Damsi tiba-tiba saja pingsan tak sadarkan diri!" Seru Afni, rekan Damsi sekaligus juga penjaga pribadi pangeran Himada.
"Apa?! Apa yang terjadi?!" Tanya Tasya seraya langsung bangkit berdiri dari kursi di kantor kerajaan.
Tadi nya ia sedang sibuk membaca berbagai laporan yang tersusun di atas meja. Menurut kepala kasim, ada beberapa yang membutuhkan stempel kerajaan untuk segera ditindak lanjuti.
Sebelum berangkat ke perbatasan, Daffa memang menyerahkan cadangan stempel kerajaan kepada Tasya. Sang Ratu didaulat menjadi penguasa sementara ketika raja pergi ke medan peperangan.
Tapi baru juga lima laporan yang selesai Tasya beri stempel, ketika Afni tiba-tiba saja merangsek masuk ke dalam kantor. Ia mengabarkan kondisi Damsi, yang tiba-tiba saja pingsan.
"Hamba juga tidak tahu, Ratu! Tadi kami baru saja menikmati camilan kue, ketika tiba-tiba saja Damsi menegang dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri!" Jawab Afni terlihat panik.
"Di mana Damsi sekarang? Apa kau sudah memanggil tabib kerajaan?" Tanya Tasya seraya melangkah keluar kantor.
"Di kamar pangeran, Ratu. Tadi Damsi bertugas untuk mencicipi terlebih dahulu cemilan pangeran, seperti biasanya. Namun dengan kejadian tadi.. Hamba terlalu panik. Jadi tadi Hamba meminta salah satu pengawal untuk mencari tabib, sementara hamba bergegas menemui Yang Mulia Ratu.."
Penjelasan Afni seketika itu jua menimbulkan kepanikan dalam hati sang ratu.
Pikiran Tasya pun langsung melesat kepada kondisi putra nya, Pangeran Himada.
"Lalu bagaimana dengan Pangeran Himada? Putra ku baik-baik saja, bukan?!" Tanya Tasya terdengar sedikit cemas.
"Pangeran hamba titipkan ke Kepala Pengawal Jun, Yang Mulia. Syukurlah pangeran belum sempat mencicipi makanan itu," tutur Afni terdengar lega.
Kelegaan yang kemudian dirasakan juga oleh ratu Tasya.
Meski begitu, benak sang ratu tak bisa merasa lega terlalu lama. Karena sepanjang perjalanan nya menuju kamar pangeran Hima, berbagai pikiran melintas di benak nya.
'Ada yang mencoba untuk menyerang keluarga kerajaan lagi dengan menggunakan racun! Jahanam! Ku pikir mereka sudah kapok dan tak mau menggunakan cara itu lagi setelah kegagalan yang sudah-sudah! Tapi kenapa..?'
'Kenapa mereka menggunakan cara itu lagi? Dan kenapa Damsi tak bisa menetralisir racun kali ini?! Padahal inner power nya adalah mampu menetralisir segala macam racun. Karena itulah aku menitipkan keselamatan keluarga kerajaan kepada nya,' benak sang ratu berpikir cepat.
Tasya teringat dengan pertemuan berkala dengan Damsi setiap minggu nya. Baik ia, raja Daffa dan juga pangeran Hima. Mereka bertiga selalu melalui proses penebalan imun tubuh dari berbagai racun dengan Damsi sebagai tabib pribadi ketiga nya.
Proses penebalan imun itu menurut Damsi hanya kuat selama satu pekan saja. Karena nya mereka selalu melakukan rutinitas yang sama secara bersama-sama dengan Damsi.
__ADS_1
Ritual nya pun mudah. Ketiga nya hanya perlu berendam dalam ramuan yang sudah diracik oleh Damsi sendiri. Dan sejauh ini, perlindungan dari Damsi itu mampu membebaskan mereka dari berbagai usaha peracunan yang terjadi.
Tapi dengan adanya kejadian Damsi yang tak sadarkan diri seperti sekarang ini, Tasya dilanda kecemasan dengan nasib nya dan juga Hima ke depan nya nanti.
Apakah kiranya Tasya dan juga Hima akan tetap sehat dan selamat di istana ini, selama kepergian Daffa ke medan peperangan?
Saat ini Tasya sudah berada dekat dengan kamar pangeran Hima. Tanpa ba bi bu lagi, sang ratu langsung masuk tanpa bantuan pelayan yang membuka pintu kamar untuk nya.
Begitu masuk ke dalam kamar, pandangan Tasya langsung tertuju kepada Damsi yang tidur terlentang di atas lantai. Seorang tabib istana berdiri dekat dan terlihat sedang memeriksa keadaan nya.
Pandangan Tasya lalu beralih ke salah satu penjaga yang berdiri di dekat tabib. Kepada penjaga itu, ratu pun bertanya.
"Di mana Pangeran Himada?" Tanya Tasya agak mendesak.
"Pangeran bersama Kepala pengawal Jun, Yang Mulia Ratu! Mereka ada di ruangan dalam!" Lapor sang penjaga.
Mendengar penjelasan itu, pandangan Tasya pun langsung tertuju ke arah pintu ruangan dalam yang dimaksud oleh penjaga tadi. Kelegaan menyapu hati nya untuk sementara ini.
Detik berikut nya, perhatian sang ratu kembali tertuju kepada Damsi. Setelah berdiri lebih dekat dengan abdi setia nya itu, Tasya bisa melihat keanehan yang terjadi pada tubuh Damsi.
Mata Damsi tertutup rapat. Meski begitu, Tasya menangkap ketegangan pada ekspresi wajah nya.
Tasya mengenal betul pose dua jari (telunjuk dan jari tengah) yang menunjuk terbuka. Sementara tiga jari lain nya menekuk ke dalam telapak tangan. Itu adalah pose jari saat Damsi melakukan detoksifikasi.
Flashback on.
Selain berendam dalam ramuan yang diracik oleh Damsi, abdi setia nya Tasya dan Daffa itu juga sering melakukan detoksifikasi saat ia mendapati ada racun yang sudah masuk ke dalam tubuh penguasa Nevarest tersebut.
Tasya pernah mengalami tiga kali detoksifikasi bersama Damsi. Sementara Daffa cukup sering. Sekitar belasan detoksifikasi pada masa awal kekuasaan nya menjadi raja Nevarest.
Saat detoksifikasi dilakukan, Tasya duduk sila berhadapan dengan Damsi. Sementara Damsi menotok beberapa bagian tubuh nya dengan pose jari yang seperti sekarang ini Damsi tunjukkan.
Flashback off.
'Apakah saat ini Damsi sedang mendetoksifikasi diri nya sendiri?' benak Tasya bertanya-tanya.
"Bagaimana kondisi nya? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Tasya kepada tabib yang sedang menangani Damsi.
"Hamba.. tak tahu bagaimana harus menjelaskan nya kepada Yang Mulia Ratu," tutur sang tabib dengan wajah kebingungan.
"Apa maksud mu? Katakan saja yang kau ketahui, tabib!" Tasya memberikan titah nya saat itu juga.
__ADS_1
"Menurut pemeriksaan Hamba, saat ini pelayan Damsi tak sedang mengalami kondisi yang mengkhawatirkan Yang Mulia. Kondisi detak jantung dan aliran darah nya tampak seperti orang yang sedang tidur pada umum nya, Ratu," papar Tabib menjelaskan.
"Tidur? Maksud mu Damsi saat ini sedang tidur, Tabib?" Tanya Tasya terheran-heran.
"Benar, Ratu. Hamba berani menjamin hal itu. Yang Mulia boleh memanggil tabib yang lain nya. Dan Hamba yakin kalau hasil pemeriksaan mereka pun akan menunjukkan hasil yang sama," tutur tabib kembali.
Tasya memicingkan mata nya tajam. Jelas-jelas ia mengetahui benar kalau Damsi sedang tak baik-baik saja.
'Tidur?! Yang benar saja! Ia pikir aku bisa dibodohi semudah itu apa?! Satu kali pun juga tak pernah Damsi tiba-tiba tertidur saat ia sedang menjaga pangeran Hima. Apalagi kejadian nya segera setelah ia mencicipi cemilan yang ditujukan untuk putra ku!' Tasya mendumel dalam hati.
Sang ratu mengira ada pihak yang sudah memanipulasi kondisi Damsi hingga menjadi seperti sekarang ini. Dan besar kemungkinan tabib di hadapan nya ini pun ikut terlibat.
Setelah berpikir cepat, Tasya pun mengeluarkan titah nya lagi.
"Kalau begitu, panggil semua tabib kerajaan di istana. Da ingin mendengar apa kata mereka tentang kondisi Damsi!" Titah sang ratu pun terucap.
Segera setelah nya semua tabib di istana bergantian memeriksa kondisi Damsi. Dan benar apa kata tabib pertama tadi, karena hampir semua tabib yang datang pun menyatakan hasil yang sama seperti nya.
Bahwa Damsi sedang dalam kondisi tertidur.
Hanya ada seorang tabib saja yang mengajukan jawaban yang berbeda dari lain nya. Dan kepada jawaban dari tabib itu lah, Tasya lebih mempercayai hasil pemeriksaan Damsi saat ini.
Sang tabib tua itu berkata, "Pelayan Damsi seperti sedang dalam masa trans, Yang Mulia. Kondisi nya mirip seperti orang yang sedang tertidur. Akan tetapi bila diperhatikan lebih seksama lagi, jelas kalau ia berada dalam kondisi trans. Antara sadar dan tak sadar," jawab tabib yang bernama tabib Lu.
"Bisa tolong dijelaskan lebih mendetail lagi, Tabib Lu?" Tanya Tasya penuh perhatian.
"Pelayan Damsi bisa jadi akan mendengar dan menyadari apa yang terjadi di sekitar nya saat ini. Termasuk juga mungkin bisa mendengar percakapan kita saat ini. Akan tetapi karena sesuatu hal, ia tak mampu berkomunikasi seperti biasanya ia. Ada yang menahan saraf motorik nya, Ratu. Sehingga ia tak bisa mengendalikan pergerakan tubuh nya sendiri. Begitu kira-kira hasil pemeriksaan Hamba," jawab tabib Lu.
Tasya tersentak kaget. Berbagai pikiran pun melintas di benak nya. Setelah beberapa lama berpikir, Tasya pun kembali berkata.
"Kalau begitu, Da menugaskan tabib Lu untuk tinggal di puri ini sementara waktu. Tabib Lu akan menjadi pengganti sementara pelayan Damsi dalam menjaga pangeran Hima. Bersama dengan pelayan Afni," Tasya memutuskan sebuah rencana.
Sang tabib tersentak kaget. Tak menyangka dengan tugas istimewa yang akan diterima nya saat ini. Ia yang tadi nya dikucilkan dari pergaulan para tabib istana lain nya, tiba-tiba saja diangkat menjadi tabib pribadi pangeran Himada. Sungguh sebuah anugerah yang terbaik bagi hidup nya yang tak lagi muda.
"Hamba siap menerima titah Yang Mulia Ratu!" Sahut tabib Lu segera.
"Kau boleh pergi. Pelayan akan menyiapkan kamar mu yang baru!" Imbuh sang ratu.
Tabib Lu menunduk takjim. Kemudian berlalu pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Tasya yang memandang penuh tanya ke arah tubuh Damsi yang kini telah dibaringkan di atas kasur kecil dalam ruangan itu.
***
__ADS_1