
Fokus lagi kepada spirit Tasya yang menanyakan kabar pada pelayan setia nya, Damsi.
"Bagaimana kabar mu, Damsi? Apakah racun itu sudah bisa kau netralisir seluruh nya?" Tanya spirit Tasya.
Damsi membuka kedua mata nya, meskipun posisi kedua tangan nya masih menotok ke dua titik berbeda pada rubuh nya. Satu pada lengan atas kanan, satu lain nya pada titik di dekat lutut.
"Sedikit lagi Yang Mulia. Masih ada residu di beberapa titik saja sebelum hamba bisa kembali terbangun di dunia nyata," sahut Damsi dengan nada merendah.
"Syukur lah.. terima kasih, Damsi. Jika bukan karena mu, Da dan Pangeran Hima pastilah tak akan bisa bertahan lama di istana itu," ucap spirit Tasya berterima kasih.
"Itu sudah menjadi tugas hamba, Yang Mulia. Keselamatan Yang Mulia sekalian adalah prioritas utama bagi misi hidup Hamba," sahut Damsi lagi sambil tersenyum.
Spirit Tasya lalu kembali bertanya.
"Kau yakin bila ramuan yang kau suruh aku untuk meminum nya itu bisa berhasil menipu para tabib dan komplotan musuh kita bukan, Dams?" Tanya sang ratu terlihat cemas.
"Tenangkan hatimu, Yang Mulia. Ramuan itu akan membuat mereka mengira Yang Mulia berada dalam kondisi yang sangat lemah," jawab Damsi.
Ucapan nya itu lalu disambung oleh spirit Anna di samping nya.
"Asalkan kau tak membongkar nya sendiri saja dengan melompat bangun dan berjalan-jalan di istana, Sya!" seloroh Anna.
"Yang benar saja! Tak mungkin aku akan melakukan itu kan, Kak? Bagaimana pun juga keberhasilan rencana kita dipengaruhi oleh akting ku juga kan dengan pura-pura sekarat?" Sahut spirit Tasya.
"Jika saja kalian bisa melihat ekspresi kepala kasim Lin saat ia mendengar ku berceloteh soal maut, kalian pasti akan menertawakan orang jahat itu. Argh! Aku benar-benar ingin memasukkan nya ke dalam penjara. Tak ku sangka kalau kepala Kasim Lin juga ikut terlibat dalan serangkaian tragedi di kerajaan Nevarest saat ini!" Omel spirit Tasya, panjang kali lebar.
Damsi tampak terbiasa menyaksikan interaksi dekat antara sang ratu dengan saudari kembar nya itu. Jadi ia hanya ikut menyimak dalam diam saja.
"Ya. Ya. Kakak percaya padamu, Sya. Oh ya, apa kau sudah berhasil mengidentifikasi semua tikus yang berteman dengan pihak musuh?" Tanya Anna tiba-tiba.
"Sudah, Kak. Syukurlah Daffa meninggalkan kepala Pengawal Jun bersama ku. Karena berkat nya dan tim milik nya lah aku berhasil mengidentifikasi para pengerat yang ada di istana. Oh ya! Aku juga mendengar kabar, kalau ratu Charrine berhasil diselamatkan oleh Aro," spirit Tasya memaparkan berita yang dimiliki nya.
"Syukurlah.. lalu, sekarang di mana ratu Charrine berada?" Tanya Anna kembali.
"Aku menyuruh Aro untuk membawa nya ke tempat aman terlebih dahulu. Sementara itu berita ini juga sudah ku kirimkan ke Daffa di Goluth. Sayang nya aku belum mendengar kabar terbaru dari Daffa. Aku cemas dengan keadaan nya, Kak."
"Cemas kenapa, Sya?" Tanya Anna.
__ADS_1
"Jika benar berita yang ku dengar, bahwa Daffa juga menjadi target berikutnya dari racun daun tokasik, maka aku takut bila peringatan ku bernilai terlambat. Bagaimana bila Daffa telah berada di bawah pengaruh pihak musuh saat ini?" Spirit Tasya terlihat begitu cemas.
"Tenanglah, Dik. Kau harus percaya kepada suami mu itu. Menurut ku Daffa tak akan membiarkan pihak musuh menerobos dinding keamanan nya dengan begitu mudah. Jadi kau tak perlu berlebihan mengkhawatirkan nya," spirit Anna menasihati.
"Yah.. semoga saja ya, Kak."
"Ya.. dan bukankah kata mu juga, Daffa sudah membawa obat penetralisir segala racun buatan Damsi? tidak kah itu juga sudah cukup?" Anna kembali menenangkan sang adik.
"hmm.. kakak benar lagi. Daffa juga memiliki obat yang sama seperti yang ku punya juga, sih.."
"Nah! kalau begitu, berarti tinggal berdoa saja ya, Sya! Hmm.. kakak harus pamit pergi dulu ya," pamit Anna kemudian.
"Ya kak. Sampaikan salam ku pada eyang Rudolf dan juga ilmuwan Yodha!" spirit Tasya menitipkan salam nya.
Anna tak menyahut. Dan hanya memberikan Tasya senyuman tipis saja.
Perhatian Tasya pun kembali beralih pada Damsi.
"Da pun harus pamit lagi ya, Dams. Sembuhkan diri mu di tempat ini dahulu. Kutunggu kabar baik dari mu segera di dunia nyata," pamit spirit sang ratu kemudian.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu. Dan semoga semua rencana Ratu bisa berhasil tanpa cacat suatu apa," balas Damsi sambil tersenyum.
Dan spirit ratu Tasya pun akhirnya kembali menuju tubuh nya di dunia nyata.
***
Di kerajaan Allain...
"Apa?! Bagaimana bisa ratu Charrine menghilang begitu saja? Jangan menganggap ku bodoh!" Amuk Bahm pada salah seorang bawahan nya.
Sang bawahan yang baru saja mengabarkan tentang ratu Charrine yang menghilang beserta putri nya, Rinayya, kini tergolek lemah di atas lantai. Ia baru saja menerima tendangan kaki besi dari inner power milik Bahm.
Dengan susah payah, bawahan Bahm itu kembali bangkit dan memposisikan tubuh nya agar duduk bersimpuh. Manakala ia berusaha untuk menjawab pertanyaan dari Sang Pemimpin Teratas.
"Terdapat pengkhianat dalam pasukan bayangan kita, Tuan ku. Seorang rakyat hina bernama Aro. Namun tim hamba sedang melakukan pengejaran. Seperti nya Aro bertindak atas suruhan seseorang, Tuan ku," jawab bawahan Bahm itu.
"Tentu saja, bodoh! Cepat tangkap kembali ratu Charrine! Peduli setan dengan anak perempuan nya itu. Jangan sampai ratu Charrine kembali ke kerajaan nya. Jika sampai sang ratu berada dalam kendali salah satu musuh, itu bisa merusak rencana besar ku!" Titah Bahm mendesak sang bawahan.
__ADS_1
"Baik, Tuan ku!"
Sang bawahan pun segera berlalu dari ruangan itu. Sebelum dirinya menerima tendangan kaki besi kembali dari sang Tuan.
Sementara itu Bahm melempar benda yang ada di meja nya secara asal. Sebuah pajangan kecil yang kini harus hancur berkeping-keping dan berserakan.
"Sial! Siapa yang sudah berani melawan ku diam-diam?! Awas saja bila aku berhasil menemukan pelaku nya, akan ku bayar perbuatan nya ini berkali-kali lipat lebih menyedihkan lagi nanti!" Amuk Bahm penuh ancaman.
***
Beratus meter jauh nya dari tempat Bahm berada...
Aro mengajak tim nya berlari sekencang-kencang nya. Mereka masih terlalu dekat dengan sarang musuh. Ia khawatir bila mereka tak menggunakan segenap kekuatan nya untuk berlari, bisa jadi misi mereka kali ini akan gagal. Bahkan mereka pun dapat kehilangan nyawa mereka pula.
Sebenar nya Aro dan tiga prajurit yang pergi bersama nya untuk menyelamatkan ratu Charrine telah tiba di kerajaan Allain sejak sepekan yang lalu.
Pada mula nya Aro sangat kesal saat menyadari lokasi penyekapan ratu Charrine ternyata berada di kerajaan Allain. Jika saja ia tahu lebih awal, tentu mereka bisa menggunakan alat transportasi yang lebih cepat. Tidak harus berjalan kaki atau mengendarai kuter saja.
Jadilah perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu sepekan itu harus dilalui nya selama dua pekan. Dan ia harus berterima kasih kepada hantu Huna.
'hhh.. menyalahkan si hantu pun percuma. Toh dia pun masih hantu anak-anak. Jadi wajar juga kalau ia tak mengenal nama wilayah sih..' batin Aro berkomentar.
Setelah mengantarkan Aro dan tim nya ke tempat penyekapan ratu Charrine, Aro berpikir hanti Huna langsung menghilang pergi. Karena selama beberapa hari berikut nya prajurit yang biasa dirasuki oleh Huna tak lagi dirasuki oleh si hantu.
Jadilah akhirnya Aro dan tim nya melakukan pemantauan terlebih dulu. Dan ia menilai tempat penyekapan sang ratu yang tak terlalu ketat. Hanya dijaga oleh dua orang penjaga di luar rumah dan beberapa penjaga lain di dalam nya.
Aro baru saja menugaskan salah satu orang dari tim nya untuk pergi melaporkan situasi pada ratu Tasya kemarin sore. Namun Aro dobuat terkejut, ketika tadi pagi, seorang penjaga musuh tiba-tiba menepuk bahu nya.
Hampir saja Aro akan membunuh penjaga tersebut, jika saja ia tak sempat menyadari kalau ternyata si penjaga telah dirasuki oleh hantu Huna.
Hantu Huna ternyata belum pergi dari tempat itu. Dan selama ini ikut memantau situasi. Walaupun cara pantauan anak kecil dan orang dewasa seperti nya jelas tak bisa dibandingkan. Tapi dengan penjabaran Huna yang sederhana, Aro pun akhirnya bisa menyusun sebuah rencana untuk menyelamatkan ratu Charrine dan putri nya, meski bantuan dari ratu Tasya belum tiba juga.
Dan, rencana nya berhasil. Keberhasilan yang sangat bergantung oleh bantuan si hantu kecil.
Kini, Aro, dua prajurit Nevarest (karena satu prajurit lain nya telah pergi melapor pada ratu Tasya), beserta Ratu Charrine dan juga putri nya sedang berada dalam pelarian.
Aro tak tahu apakah musuh mereka telah menyadari kalau tawanan mereka telah menghilang atau belum. Tapi yang jelas Aro terus menyemangati rekan seperjalanan nya untuk terus memacu langkah mereka secepat yang mereka bisa. Ia bahkan rela memanggul putri Rinaya di punggung nya. Demi bisa segera menjauh dari wilayah kekuasaan musuh saat ini.
__ADS_1
***