
Kembali ke Nevarest.
Pencarian Ratu dan putri kerajaan Goluth terus dilakukan. Baik oleh pihak militer Daffa maupun para pengawal pribadi raja Elfran.
Beberapa hari berlalu sudah, namun Ratu Charrine dan putri Rinaya masih belum juga ditemukan. Sang ratu beserta putri nya bak hilang ditelan bumi begitu saja. Karena tak ada jejak yang bisa melacak keberadaan mereka.
Daffa semakin mencurigai kalau ada dalang dibalik menghilang nya Ratu Goluth tersebut. Karena jelas sekali dampak dari kejadian ini adalah hubungan antara dua penguasa kerajaan yang semakin buruk.
Di malam ke enam, raja Goluth pulang kembali ke negeri asal nya beserta seluruh pengawal nya. Kepulangan nya itu dilakukan secara diam-diam tanpa memberitahu pihak istana kerajaan Nevarest.
Saat itu raja Bahima dan Ratu Madis, dua penguasa lain nya masih ada di Nevarest. Mereka masih bertahan di negeri tersebut sampai keesokan hari nya untuk menyaksikan opera dan hiburan yang telah disiapkan oleh pihak istana.
Menghadapi sikap sang raja Goluth, Daffa hanya membiarkan nya begitu saja. Sementara ia masih terus melakukan upaya pencarian terhadap ratu Charrine.
Sementara intel Daffa telah menyelidiki bahwa tak ada sosok ratu atau pun putri nya dalam rombongan raja Elfran yang pulang ke kerajaan Goluth.
Meskipun tak menemukan sosok ratu Charrine dalam rombongan kerajaan Goluth, Daffa tetap mengirim intel nya untuk mengikuti rombongan tersebut. Sementara ia melakukan pencarian menyeluruh di kota.
Keesokan hari nya, raja Bahima dan Ratu Madis menyusul pulang ke kerajaan nya masing-masing.
Pada akhirnya traktat Pizzloff en Muah hanya ditandatangani oleh tiga kerajaan saja. Yakni kerajaan Nevarest, Allain dan kerajaan Enmar.
Menanggapi situasi pelik ini, Daffa mempunyai firasat buruk bahwa raja Goluth tak akan tinggal diam membiarkan ratu mereka menghilang begitu saja.
Dan dugaan nya itu benar. Karena pada pekan ke tiga, setelah pertemuan empat kerajaan dilangsungkan, Daffa menerima kabar bahwa pasukan Goluth telah menyerang wilayah perbatasan Nevarest di bagian utara.
Ini adalah genderang perang yang pertama lagi setelah seratus tahun lama nya rakyat Nevarest hidup damai tanpa peperangan.
Tentunya serangan Goluth ke wilayah Utara Nevarest ini cukup menggemparkan tak hanya Nevarest, melainkan juga kerajaan Allain dan juga Enmar.
Walaupun serangan Goluth telah diprediksi juga oleh Daffa. Namun tetap saja, Nevarest menanggung kerugian dua kota di perbatasan utara yang berhasil dikuasai oleh pasukan Goluth.
"Bagaimana situasi di sana?" Tanya Daffa pada kepala militer kerajaan, Antes.
Antes adalah teman lama Daffa di akademi istana, dulu. Kedua nya bersahabat cukup dekat. Daffa sengaja mengangkat Antes untuk menjadi kepala militer yang baru menggantikan kepala militer sebelum nya yang lebih pro ke pihak Alul Lazam, menteri pertahanan.
__ADS_1
Dengan Antes Daffa merasa lebih tenang mempercayai keamanan dalam negeri dari sernagsn musuh dari dalam.
"Lapor baginda Raja! Kota Bloom dan kota Devas sebelum nya telah berhasil dikosongkan sebelum pasukan Goluth menyerang. Jadi tak ada korban jiwa di pihak kita. Sayang nya, kita kehilangan dua tempat utama penghasil sawit. Jadi dikhawatirkan ini akan berdampak pada jumlah stok komoditi sawit dalam negeri nanti nya," jawab Antes sigap dan lugas.
Daffa mengerutkan kening. Ia lalu bertanya pada menteri perdagangan.
"Bagaimana dengan stok sawit tahun ini? Apakah jumlah nya mencukupi untuk 2 tahun mendatang? Atau bagaimana dengan daerah penghasil sawit lain nya? Apakah ada lahan yang bisa dialihfungsikan, jika memang diperlukan?" Tanya Daffa mendetail.
Sang menteri perdagangan pun segera menjawab.
"Jumlah komoditi sawit masih cukup, baginda raja. Hamba akan mengalihkan beberapa lahan yang lain untuk menjadi lahan penghasil sawit yang baru."
"Bagus, Da tunggu laporan dari mu!"
Mata Daffa lalu kembali melihat ke Kepala militer kerajaan kembali.
"Apakah sudah ada utusan dari Goluth untuk menjelaskan maksud dan tujuan mereka menginisiasi perang ini?" Tanya Daffa lagi.
"Belum, Baginda Raja. Hamba sudha mengirimkan utusan untuk menanyakan nya secara baik-baik kepada raja Goluth. Sayang nya utusan kita itu malah mendapat perlakuan keji dari raja Elfran!" Kecam Antes menahan amarah.
Antes mula nya merasa ragu untuk menceritakan kondisi utusan mereka yang diperlakukan begitu keji oleh raja Elfran. Namun karena baginda raja sendiri yang menanyakan nya kepadanya, akhir nya Antes pun menceritakan apa yang dilihat oleh kedua mata nya kemarin malam.
"Utusan kita pulang diantar oleh kuda tunggangan nya dalam kondisi belasan panah yang menancap di punggung nya. Beberapa bahkan menancap di leher prajurit tersebut. Tubuh prajurit itu bisa tetap di atas kuda karena telah diikat dengan badan kuda," ungkap Antes sejujur-jujurnya.
"Yang paling keji adalah, saat kami menurunkan tubuh prajurit itu dari atas kuda tunggangan nya, kami mendapati wajah sang prajurit yang terluka bakar cukup parah. Sepertinya sebelum dipanah, ia sempat mengalami penyiksaan terlebih dahulu," imbuh Antes dengan kepala tertunduk.
Suasana hening pun mengisi kekosongan di ruang Audiensi pagi itu. Daffa merasa geram dengan perlakuan sang penguasa Goluth yang telah berlaku semena-mena dan tak mengindahkan etika dalam berperang.
Karena dalam peperangan, seorang utusan tak boleh dilukai atau disakiti oleh pasukan musuh. Walau sekecil apapun jua. Karena itu bisa menunjukkan tinggi tidaknya harkat dan martabat sang penguasa negara.
"Kebumikan prajurit itu dengan penghormatan tingkat pahlawan. Santuni keluarga nya dengan pemberian yang pantas," Daffa memberikan titah nya.
Antes mengangguk takjim.
"Siagakan seluruh pasukan di perbatasan. Dan kirim sinyal tercepat bila melihat pasukan musuh. Dan Alul!" Panggil Daffa pada menteri pertahanan nya.
__ADS_1
Alul langsung maju selangkah dan menunduk singkat.
"Hamba, Baginda raja!" Sahut Alul Lazam.
"Bagaimana dengan perekrutan penduduk dengan inner power tipikal militer sejauh ini? Sudah ada berapa yang terkumpul?" Tanya Daffa.
"Baru ada sekitar tujuh ratusan pemilik inner power militer yang terdaftar, Baginda Raja. Kebanyakan adalah para penguasa elemen tanah dan juga pemilik inner power kekebalan tubuh. Hanya beberapa orang saja yang memiliki inner power istimewa," lapor Alul Lazam.
"Istimewa bagaimana?"
"Kami menemukan sekitar sebelas orang pengendali hewan buas, tujuh orang pengendali api, satu orang pencipta kabut, dan dua orang ahli meramu racun."
"Racun?! Apa kau memasukkan kedua orang ahli peramu racun itu dalam barisan pasukan inti?" Tanya Daffa setengah menggertak.
Alul Lazam terlihat ragu menjawab pada mula nya. Namun setelah diam beberapa waktu, ia pun akhirnya menjawab.
"Rencana nya Hamba hanya akan menggunakan mereka sebagai senjata mendesak saja, Baginda Raja!" Jawab Alul Lazam.
Daffa mengamati kesungguhan ucapan sang menteri. Sayang nya ia tak bisa menilai benar tidak nya ucapan Alul tersebut.
"Kau ingat kata-kata mu itu, Alul. Da tak ingin ada tipu muslihat busuk dalam strategi peperangan kita melawan musuh. Bagaimana pun juga kita harus tetap memandang sisi kemanusiaan dalam kondisi apa pun. Sekaligus juga meminimalisir jumlah korban sekecil mungkin," imbuh Daffa kembali.
Sang menteri memandang raja nya dengan pandangan aneh. Sulit untuk mempercayai kesungguhan ucapan sang raja.
Pikir nya, ucapan Daffa mungkin hanya basa-basi saja. Agar ia bisa terkesan sebagai seorang raja yang 'bersih' dan berwibawa.
Menurut Alul Lazam, tak ada anggota kerajaan yang memiliki pemikiran seorang pemimpin yang baik, sekarang ini.
Setelah terdiam cukup lama, Alul Lazam pun menyahut singkat peringatan dari raja Daffa.
"Siap, Baginda Raja!"
Dan audiensi pun terus berlanjut ke topik pembicaraan yang berbeda.
***
__ADS_1