
Selepas kepergian Aro dan tim nya, Tasya kini duduk merenung sendiri di ruang kerja nya. Pikiran nya kalut dipenuhi oleh kecemasan terhadap banyak hal.
Tasya sangat berharap misi penyelamatan ini akan berhasil dengan gemilang. Sehingga dengan ditemukan nya Ratu Charrine nanti, peperangan di antara dua kerajaan bisa segera dihentikan.
"Bunda..?" Panggil sebuah suara di dekat ratu Tasya.
Tasya terkejut saat mendapati kalau pangeran Hima ternyata sudah berdiri di dekat nya entah sejak kapan. Tampaknya kebiasaan melamun nya mulai kembali lagi akhir-akhir ini. Tasya menyadari.
"Ya, Sayang?" Sapa balik sang ratu kepada putra nya.
Hima lalu menatap ibunda nya lekat-lekat.
"Bunda bersedih? Karena Huna pergi lagi?" Tanya Hima dengan kepala yang dimiringkan ke kanan.
Tasya lalu meraih tubuh mungil putra nya itu hingga Hima kemudian duduk di atas pangkuan nya.
Interaksi antara ibu dan anak itu tak luput dari perhatian mata elang kepala pengawal Jun dan juga kepala kasim Lin. Kedua nya langsung menundukkan pandangan nya ke bawah. Merasa malu karena telah melihat interaksi intim di antara pasangan ibu dan anak tersebut.
Sang ratu lalu mulai berkata.
"Bunda tak sedang bersedih, Nak. Kenapa Hima berpikir begitu?" Tanya balik Tasya.
"Karena Bunda tak sering tersenyum. Seperti ketika Ayahanda dan Huna masih ada di sini..?" Jawab Hima ragu-ragu.
Tasya spontan saja tersenyum menanggapi ucapan sang putra. Ia kemudian mengecup pucuk kepala Hima dengan sayang. Sebelum akhirnya kembali bicara.
"Itu karena Bunda merasakan rindu," ungkap sang ratu setengah jujur.
Walaupun bukan kerinduan semata lah yang menyita perhatian benak ratu muda tersebut. Melainkan juga kekhawatiran nya atas banyak hal. Bunda Elva, kedua saudari nya (Anna dan Zizi) yang entah berada di mana kini, peperangan di antara dua kerajaan ini, serta beberapa hal lain nya.
Tapi cukup lah Hima mengetahui rindu sebagai penyebab kekalutan nya akhir-akhir ini. Putra nya itu masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah negeri yang ada saat ini.
"Rindu? Itu.. apa? Seperti sedih kah?" Tanya Hima kembali.
"Rindu itu perasaan ingin bertemu. Seperti dulu saat Hima menangisi Kucing peliharaan Hina yang mati. Hima juga ingin melihat Jimmy (nama kucing sang pangeran dulu) kembali bergerak dan main lagi, bukan? Karena Hima merasa kesepian sendiri.." Papar Tasya menerangkan.
"Oh! Begitu.. tapi lalu Huna muncul. Jadi sejak itu Hima tak lagi merasa sendiri, Bunda," ujar Hima kemudian.
Tasya tertegun. Sebuah dugaan melintas di benak nya. Tentang sebab kemunculan spirit Huna yang tiba-tiba ada dan menyertai Hima.
'Mungkin kah karena Hima merasa kesepian, jadi Huna sebagai saudari kembar nya ikut merasa terpanggil untuk menemani Hima..?' Tasya berasumsi dalam hati.
"Jadi Bunda jangan merasa sedih ya. Kan Hima ada di sini menemani Bunda.." imbuh pangeran kecil kemudian.
Seulas senyum termanis yang pernah Tasya lihat, terukir di wajah gembil sang pangeran kecil.
Perasaan haru pun menyeruak memenuhi keseluruhan isi hati sang ratu. Tasya terharu karena dalam umur nya yang baru menginjak usia 5 tahun, pangeran kecil nya sudah memiliki empati terhadap orang lain.
Dengan spontan Tasya pun memeluk tubuh mungil putra nya cukup erat.
"Terima kasih, Sayang. Ibunda bahagia karena Hima mau menemani Bunda. Bunda sayang Hima!" Ucap Tasya dengan sejujur nya.
"Hima juga, sayang Bunda! Bunda jangan bersedih lagi ya! Jangan juga merasa rindu! Hima gak mau lihat Bunda bersedih!" Sang pangeran mengajukan kehendak nya.
Tasya pun tergelak. Kala ia mendengar ucapan polos putra nya itu.
"Iya. Iya. Bunda gak akan bersedih lagi. Sekarang, kenapa Hima masih di sini? Bukan nya ini waktu nya untuk tidur siang?" Tanya sang ratu dengan nada lembut.
"Iya. Tapi Hima tadi merasa sepi, Bunda. Huna kan pergi lagi. Bagaimana kalau Bunda okut tidur siang dengan Hima?" Ajak Hima dengan tatapan berharap.
__ADS_1
Permintaan pangeran itu seketika menarik perhatian dua abdi ratu yang juga berada dalam ruangan itu. Mereka adalah kepala pengawal Jun dan juga kepala Kasim Lin.
Kedua nya merasa pangeran kecil agak bersikap manja hari ini. Sehingga sang kepala kasim pun kemudian hendak menegur sang pangeran.
Tapi, belum sempat kepala kasim Lin bicara, ratu Tasya terlebih dulu memberi isyarat kepada nya untuk membiarkan keinginan pangeran Hima. Seketika kepala kasim Lin pun terdiam. Menunggu ucapan berikut nya dari sang ratu.
"Kenapa begitu? Bukan kah biasanya Hima tidur sendiri? Huna juga tak selalu menemani Hina kan?" Tanya Tasya menyelidik. Seulas senyum masih tersungging di bibir nya.
Pangeran Hima tampak nya malu dengan permintaan nya itu. Sehingga ia menyurukkan kepala nya ke dada sang ratu. Berusaha menyembunyikan wajah nya agar tak bisa dilihat oleh siapa pun jua.
"Hima sedang merasa.. rindu juga sepertinya, Bunda. Hima rindu Ayahanda.." sang pangeran mengaku juga akhir nya.
Tasya tertegun selama beberapa saat. Sedikit bagian dalam hati nya serasa dicubit kala mendengar pengakuan putra nya itu yang merindukan Daffa, ayah nya.
Tasya pun menghela napas dalam-dalam. Ia kemudian menyapu rambut sang pangeran berulang kali secara perlahan-lahan. Sambil kemudian berkata.
"Baiklah. Kalau begitu, untuk siang ini, Bunda akan menemani Hina tidur siang. Tapi hanya untuk siang ini saja ya. Besok siang, Hima harus berani tidur sendiri lagi. Oke Sayang?" Tasya mengajukan syarat nya.
Hima pun seketika itu pula menegakkan kepala nya. Mata hazel nya langsung menatap mata cokelat Tasya dengan binar kegembiraan yang tak bisa ditutupi.
"Sungguh? Terima kasih Bunda!"
"Sama-sama, Sayang.."
Tasya lalu menurunkan Hima hingga putra nya itu kembali berdiri di atas kaki nya sendiri. Ia kemudian memberikan titah nya kepada kepala kasim Lin.
"Da akan menemani pangeran Hima dulu. Bangunkan Da bila dua jam sudah berlalu," titah Tasya.
Kepala Kasim Lin pun segera menyahut, "Baik, Yang Mulia Ratu!"
Tasya lalu mengajak Hima berjalan kembali ke kamar nya. Dnegan kepala pengawal Jun yang berjalan tak jauh di belakang kedua nya.
Bagi Tasya, menjadi pemimpin negeri ini adalah kewajiban yang dititipkan oleh Daffa kepada nya. Ia memang harus melakukan yang terbaik dalam memimpin negeri ini untuk sementara waktu.
Bukan kah ada pepatah yang mengatakan bahwa maju tidak nya suatu negeri sangat bergantung pada generasi muda nya? Karena itu lah, mendidik seorang anak menurut Tasya adalah tugas utama seorang ibu. Jadi ia tak pernah melepaskan perhatian nya dari memenuhi segala kebutuhan jasmani dan rohani putra nya itu.
Begitu sampai di dalam kamar sang pangeran, Tasya mengajak Hima untuk membersihkan diri terlebih dulu. Baru kemudian ikut berbaring di sisi Hima di atas kasur.
Saat itu Kepala pengawal Jun berjaga di depan pintu kamar sang pangeran.
Setelah memandu Hima membaca doa sebelum tidur, Tasya pun berkata.
"Sekarang, Hima tidur ya. Bunda akan menemani Hima sampai Hima terlelap."
Hima menatap Ibunda nya dengan tatapan sayu. Meski begitu hati nya menggerakkan mulut nya untuk menyampaikan sesuatu. Tasya seketika mengerti bahwa ada hal yang diinginkan oleh putra nya. Sehingga ia pun kembali bertanya.
"Ada apa lagi, Sayang?"
"Hima mau dengar Bunda bernyanyi.. suara Bunda merdu.." pinta sang pangeran kecil.
Tasya tersenyum malu usai menerima pujian dari putranya itu.
"Hima pandai memuji!"
"Hima bersungguh-sungguh, Bunda! Kata Ayahanda, suara Bunda adalah suara yang paling merdu di dunia ini!" Seru Hima berapi-api.
Mendengar pernyataan Hima, seketika Tasya pun bertekad untuk memberi pelajaran kepada Daffa nanti. Sepulang nya ia dari medan peperangan.
'Bisa-bisa nya dia bilang begitu di depan Hima! Sungguh membuat ku malu saja!' benak Tasya merasa sedikit gusar.
__ADS_1
Tasya lalu berdeham. Berusaha mengusir rasa malu yang masih menyapu hati nya.
"Memang nya Hima mau Bunda nyanyikan lagu apa?" Tanya Tasya perlahan.
"Lagu... Lagu tentang Ayahanda, Bunda? Ada?" Pinta Hima kemudian.
Tasya tampak berpikir sebentar untuk mengingat-ingat lagu tentang Ayah yang ia ketahui. Dan ia pun mengingat sebuah lagu karya Lazuli Nun lagi. Judul nya adalah Ayah.
"Oke. Bunda nyanyi sekarang ya. Tapi Hima pejamkan mata nya dong.." Tasya mengajukan syarat.
Hima pun seketika memejamkan mata nya. Dan menit-menit berikut nya, suara merdu Tasya pun mengalun pelan ke seisi ruangan tersebut.
Judul: Ayah
Ciptaan: Lazuli Nun
Derap langkah kaki membumi, tinggalkan jejak dan sunyi
Rangkaian kisah mu tersembunyi,
Jalinan kata tanpa suara, tersampaikan oleh mata
Pandangan mu artikan segala nya.
Genggaman tangan yang membimbing, tepukan nan menguatkan
Perintah mu ku maknai arahan
Reff 1:
Kau lah pelindung, perisai hidup ku
Bangkitkan ku yang sempat terjatuh
Kau mengenal ku melebihi aku.. hoo..
Reff 2:
Acuhkan anggapan dunia tentang mu
Kau membela dan menjunjung ku selalu
Kau lebih dari segala nya, Ayah.. hmm..
Terik nya surya menyinari, dingin hujan membasahi
Tak mampu surut kan langkah mu..
Peluh, letih yang menyergap mu, tak kau hiraukan hal itu
Hanya demi kebahagiaan ku..
Genggaman tangan yang membimbing, tepukan nan menguatkan
Segaris senyum mu telah cukup menenangkan..
Back to Reff 1 & 2.
Hingga saat renta mu tiba,
__ADS_1
Pulang lah jiwa mu, pada-Nya...
***