
"Yang Mulia, gawat! Gawat! Kota Lorr berhasil dikuasai oleh musuh!" Lapor seorang perwira pasukan saat memasuki ruang audiensi.
Seketika itu pula semua orang langsung terkejut.
"Kota Lorr?! Bagaimana bisa?! Tidakkah kota itu akan terlalu sulit untuk dikuasai, karena Goluth terlebih dulu harus melewati daerah perbatasan milik kerajaan Allain?!" Seru salah seorang menteri.
"Benar! Apa yang dilakukan oleh raja Allain?! Kenapa dia membiarkan Goluth melewati wilayah nya dan menyerang kota Lorr?! Jangan-jangan raja Allain juga bersekutu dengan raja Goluth!" Sangka seorang menteri yang lain.
"Jaga ucapan mu! Bisa jadi Goluth menyerang kota di Allain terlebih dulu baru kemudian menyerang kota Lorr kita, bukan?" Sanggah menteri yang lain.
Seketika itu pula suasana di ruang Balairung menjadi bising oleh asumsi dari para menteri. Sementara itu Daffa merenungkan penguasaan kota Lorr ini dalam-dalam.
'Kenapa Goluth bersusah payah ingin menyerang kota Lorr yang sangat jauh dari titik mereka berkuasa saat ini? Apa sebenarnya tujuan Raja Elfran?!' gumam Daffa dalam hati.
Kemudian, suatu dugaan melintas di pikiran sang raja muda.
'Jangan-jangan!!'
"Menteri! Apa keistimewaan kota Lorr selain penghasil komoditi padi?" Tanya Daffa kepada menteri dalam negeri.
Seketika itu pula semua menteri langsung terdiam dan fokus memerhatikan ke arah sang raja. Sementara itu menteri perdagangan yang ditanya, langsung menjawab dengan sedikit tergeragap.
"Itu.. Kota Lorr. Selain penghasil padi terbanyak ke empat di negeri ini juga adalah salah satu penghasil komoditi kacang-kacangan terbanyak ke dua, Yang Mulia!" Jawab sang menteri.
Daffa mengernyitkan dahi nya. Tanpa sadar ia menggeleng pelan.
"Tidak. Bukan itu alasan nya," gumam Daffa dengan suara pelan.
"Selain itu, apa ada lagi yang lain nya?" Tanya Daffa mendesak sang menteri.
"Itu... Sepertinya tak ada, Yang Mulia," jawab sang menteri tampak bingung.
"Sungai Lorraine! Yang Mulia! Gawat sekali Yang Mulia! Di kota Lorr terdapat sungai Lorraine yang debit nya lumayan besar. Sungai Lorraine bahkan ikut mengaliri beberapa kota terdekat nya yang bergantung pada sungai tersebut," ucap menteri agraria.
"Berarti, bila tujuan utama musuh adalah untuk menguasai aliran sungai Lorraine.." ucap Daffa menggantung.
Seketika itu pula hampir seluruh orang di ruangan itu terkesiap oleh rasa khawatir yang berlebihan.
__ADS_1
"Maka beberapa kota di dekat nya akan ikut merasakan dampak nya. Bukan begitu?" Daffa menyimpulkan.
"Benar, Yang Mulia.." sahut beberapa menteri dengan hati yang tiba-tiba terasa berat.
"Menteri agraria, katakan kepada Da. Apakah dampak yang akan terjadi bila aliran sungai Lorrain dihentikan ke kota-kota sekitar nya?" Tanya Daffa kembali dengan nada mendesak.
"Dampak nya akan sangat fatal, Yang Mulia. Karena bersebelahan dengan kota Lorr adalah Kota Yabuk yang menjadi penghasil komoditi cabai dan tomat utama di negeri ini. Hampir 70 persen stok cabai dan tomat yang ada dihasilkan oleh kota Yabuk tersebut, Yang Mulia. Sementara 30 persen lain nya tersebar di beberapa kota kecil lain nya.,"
"Bila aliran sungai Lorr dihentikan ke kota Yabuk, maka sudah bisa dipastikan kalau hasil produksi dua komoditi tersebut akan menurun drastis. Para petani akan gagal panen. Belum lagi dengan kota Royal penghasil vanili dan juga kota Barrel penghasil cengkeh. Kedua komoditi itu adalah komoditi ekspor yang sering dipesan ke kerajaan Allain dan juga Enmar,"
"Bila jumlah komoditi tersebut berkurang dari stok biasanya, maka hasil yang bisa kita impor ke dua negeri lain nya pun akan berkurang. Tentu dua negeri lain nya akan mengajukan protes, Yang Mulia. Karena kita telah menandatangani perjanjian perdagangan yang baru belum lama ini. Di mana ada jumlah tertentu yang harus kita penuhi dan dikirim ke kerajaan yang lain!" Papar menteri agraria panjang kali lebar.
Kembali, suasana menjadi hening mencekam. Tampak nya penguasaan kota Lorr ini bukanlah tindakan sembarangan yang dilakukan oleh pasukan Goluth.
Kali ini semua orang di ruang balairung sepakat kalau mereka akan menghadapi krisis agraria bila mereka tak segera mengambil kembali kota Lorr dari tangan musuh.
Dan Daffa pun mengetahui benar jumlah denda yang harus dibayarkan terhadap kerajaan penerima komoditi ekspor dari negeri mereka. Jumlah denda nya bisa dua kali lipat dari nilai transaksi awal nya.
Untuk membayar denda sejumlah itu di saat kondisi negeri yang sedang menghadapi peperangan di masa sekarang, tentu akan menjadi tantangan yang cukup berat bagi negeri yang tak memiliki dasar militer yang kuat seperti Nevarest ini.
Daffa berpikir dalam-dalam. Dan setelah beberapa waktu memperhitungkan segala nya, sang raja pun akhirnya mengeluarkan titah nya.
"Siap, Baginda Raja!" Sahut Antes.
"Menteri dalam negeri dan menteri agraria!" Panggil Daffa pada dua menteri nya yang lain.
"Hamba, baginda raja!"
"Siap, baginda raja!" Sahut kedua menteri hampir bersamaan.
"Koordinasikan dengan para tengkulak dan petani, bahwa mulai sekarang semua hasil pertanian dan perkebunan akan dikelola langsung oleh istana. Untuk menghindari terjadi nya penimbunan dan menjaga stabilitas harga komoditi di pasaran. Jangan sampai rakyat harus menghadapi nilai harga jual komoditi yang mahal, di saat krisis perang saat ini!" Titah Daffa berikut nya.
Dan selanjutnya, Daffa pun memberikan instruksi nya kepada para menteri yang lain. Inti nya adalah agar seluruh rakyat nya tetap tabah dan tangguh dalam menghadapi masa peperangan seperti sekarang ini.
Daffa bahkan ikut mengatur pula pengeluaran anggaran kerajaan untuk membantu pembiayaan pengobatan bagi rakyat yang terkena dampak peperangan di beberapa kota.
Selama tiga bulan berikut nya, Nevarest menghadapi krisis yang cukup pelik. Meski begitu, situasi masih bisa dikendalikan oleh Daffa dan para prajurit nya.
__ADS_1
Sejauh ini, kota yang berhasil direbut oleh Goluth masih berkisar antara enam dan tujuh kota saja. Karena pasukan Nevarest pun gencar melakukan perlawanan yang sengit terhadap pasukan Goluth.
'Yang.. kasihan sekali rakyat. Bila peperangan ini terus berlangsung dalam jangka waktu lama. Tak bisakah kita membujuk Raja Goluth untuk menghentikan invasi nya ini?' tanya Tasya pada diskusi mereka suatu malam.
'Ya. Benar ucapan mu itu, Dear. Dari peperangan ini, rakyat lah yang paling menderita di antara semua nya. Saya sudah mengirim delegasi ke pihak Goluth beberapa kali. Sayang nya mereka tak menginginkan apapun untuk perdamaian yang kita harapkan. Malah beberapa dari delegasi itu harus berakhir mati karena dihinakan dan dilukai oleh raja Elfran sendiri,' jawab Daffa sambil tercenung menatap langit-langit kamar.
Peperangan yang dihadapi oleh Nevarest itu sungguh tantangan yang berat bagi sang raja muda. Ia telah mengerahkan kekuatan militer maupun mengirimkan para pemilik inner power berbasis militer untuk menahan gempuran pasukan Goluth. Dan ia memang sering berhasil mempertahankan wilayah kekuasaan nya hingga tak selalu berhasil direbut oleh Goluth.
Akan tetapi, bila dipikirkan lagi baik-baik. Peperangan jangka panjang ini tentu akan menguras seluruh daya dan harta kerajaan selain juga kehilangan sejumlah nyawa rakyat dalam peperangan.
Ini adalah kerugian teramat besar menurut Daffa. Karena negara tanpa rakyat itu tiada. Sementara rakyat tanpa sebuah negara akan tetap bertahan ada.
Menurut Daffa, nyawa sekecil apapun dari rakyat nya sangatlah berharga. Sehingga ia selalu merasa jerih setiap kali mendengar laporan tentang kematian sejumlah pasukan dan juga rakyat nya dari hasil invasi prajurit Goluth.
'Bagaimana bila taktik saat ini kita ubah, Yang?' Tasya mengusulkan sebuah saran.
'Maksud kamu, Dear?' tanya Daffa menatap wajah cantik sang ratu.
'Bukankah saat ini kita lebih ke taktik defence/bertahan? Bagaimana bila kita ganti dengan taktik menyerang? Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa pertahanan terbaik adalah dengan menyerang?' lanjut Tasya memberikan saran.
Daffa tercenung menatap sang ratu. Setelah beberapa lama terdiam, sang raja pun tersenyum cerah. Dan pada detik berikut nya Daffa langsung mengangkat tubuh sang istri hingga berada di atas pangkuan nya.
"Terkadang kamu membuat saya terkejut dengan ide-idemu itu, Dear.. saya merasa sangat beruntung sudah memiliki kamu sebagai pendamping saya. Terima kasih, karena sudah begitu cerdas dan sabar menghadapi suami mu yang bodoh ini," ucap Daffa merendah hati. Kali ini ia mengucapkan nya secara vokal.
Wajah Tasya langsung bersemu merah usai menerima pujian dari Daffa. Ditepuk nya dada Daffa dengan pelan. Seraya mengelak dari pujian yang Daffa berikan.
"Apaan sih, Yang! Aku kan baru ngusulin ide besar nya aja. Soal strategi, itu sih urusan kamu sama kepala militer," ucap Tasya merendah hati.
Daffa tak berkomentar. Ditatapnya wajah sang ratu yang terlihat semakin cantik dengan perona pipi alami nya. Setelah beberapa lama, Daffa pun berujar dengan suara hampir seperti bisikan.
"Bagaimana kalau sekarang kita main perang-perangan, Dear? Kamu jadi penyerang nya. Sementara saya siap jadi yang diserang.. di bawah sini.." bisik Daffa dengan suara barito milik nya.
"Daffa!" Tegur Tasya langsung, saat mengetahui maksud bermain perang yang diinginkan oleh sang suami.
Karena saat mengatakan kalimat nya tadi, Daffa juga sedikit menyentakkan anggota tubuh bagian bawah nya, sehingga membuat Tasya sedikit tergoncang.
Daffa langsung menekan tombol lampu yang ada di atas nakas. Sehingga kemudian ruangan pun menjadi gelap gulita.
__ADS_1
Di pojok ruangan, Aro si penguntit langsung melesat keluar ruangan. Ia tahu benar, kalau sesaat lagi, akan ada permainan panas dalam ruangan yang baru saja ditinggalkan nya itu.
***