
Tasya merasa gugup setelah mengijinkan Huna untuk merasuki tubuh nya. Namun saat bertatapan dengan Hima, Tasya merasa tertampar. Karena bagaimana pun juga spirit Huna adalah putri kandung nya. Walau sekali pun juga Tasya tak pernah melihat wajah Huna sejak ia terlahir.
Dulu ketika baru terlahir, Huna dinyatakan meninggal. Namun karena kondisi Tasya yang sempat koma, jadilah ia melewatkan prosesi penguburan putri nya itu.
Jadi jelas, Tasya kini merasa gugup dengan permintaan Huna yang ingin merasuki tubuh nya. Karena dengan begitu, spirit Tasya pun bisa berbincnag langsung dengan spirit Huna.
"Oke. Ibunda sudah siap.." ucap Tasya mencoba berani.
Agar keberanian nya tak luntur, Tasya sengaja tak melepas kontak mata nya dengan Hima. Jadi ketika tiba-tiba saja Tasya merasakan hawa dingin dan berat di bagian tengkuk nya, dilanjut dengan pandangan nya yang tiba-tiba menggelap, serta ketidak mampuan nya untuk berbicara walau sepatah kata pun jua. Tahulah Tasya kalau saat itu Huna sedang merasuki tubuh nya.
Setelah proses tak nyaman yang berlangsung singkat, Tasya lalu mendapati sosok anak perempuan seumuran Hima tengah berdiri di hadapan nya.
Anak perempuan itu sangat cantik. Wajah nya memiliki kemiripan yang teramat sangat dengan wajah Hima. Anak perempuan itu mengenakan dress bunga-bunga berwarna pink. Sementara ia memiliki rambut hitam lurus yang panjang nya melebihi batas pinggang nya yang ramping.
Dalam sekali pandang, benak Tasya pun langsung mengenali identitas anak perempuan itu.
'Huna..?' sapa Tasya dalam bentuk spirit nya.
Anak perempuan itu seperti sedang menahan tangis. Melihat nya, Tasya merasa hati nya ikut bersedih. Dengan spontan, Tasya menjulurkan tangan nya untuk memeluk spirit Huna. Dan ia dibuat terkejut, karena ternyata kini ia bisa bersentuhan dengan spirit putri nya tersebut.
Huna memeluk pinggang Tasya erat-erat. Isakan pun terdengar kencang dari mulut mungil anak perempuan itu. Hati Tasya semakin pedih mendengar kesedihan yang tak terkatakan yang dirasakan oleh Huna. Dengan sabar, Tasya pun mengusap-usap pucuk kepala Huna penuh rasa kasih dan sayang.
'Sshh.. Huna, Sayang.. kenapa kamu menamgis? Jangan bersedih.. apa ini tentang kamu yang harus pergi dengan nenek Alexa?' Tanya spirit Tasya dengan nada lembut.
'Hiks.. i..iya, Bunda.. Huna sedih. Karena Huna harus pergi meninggalkan Bunda, Ayah dan juga Hima. Huna ingin nya selalu bersama kalian. Kenapa Huna harus berbeda?!' protes spirit Huna dengan kritis nya.
Beban itu kembali menimpa benak Tasya. Jika diperbolehkan, pertanyaan 'kenapa' itu pun ingin dijeritkan nya kepada Sang Pencipta.
Kenapa Ia memutuskan untuk memisahkan Huna dari nya?
Kenapa ia tak diberi kesempatan untuk melimpahi Huna dengan kasih dan cinta milik nya?
Kenapa ia tak bisa menikmati masa tumbuh kembang putri nya itu seperti yang juga dialami oleh ibu lain nya?
__ADS_1
Tasya harus menerima pil pahit kehilangan sang putri, di detik pertama kedatangan putri nya itu ke dunia ini. Ini sungguh tak adil.
Begitu kiranya protes Tasya dulu sekali, di awal mula penerimaan nya atas kepergian bayi Huna.
Meski begitu, seiring berjalan nya waktu, Tasya menyadari bahwa luka akibat rasa kehilangan itu perlahan menutup dengan sendiri nya. Ia dibuat sadar oleh sang waktu, bahwa penerimaan atas setiap takdir yang telah ditetapkan oleh Alalh adalah bentuk kepatuhan nya sebagai seorang hamba.
Baik buruk nya sesuatu menurut pikiran dan keinginan kita, belum tentu baik dan buruk pula di mata Allah. Dia lebih mengetahui mana yang terbaik untuk setiap ciptaan-Nya. Karena itulah, secara perlahan Tasya pun bisa mengikhlaskan kepergian bayi Huna saat itu.
'Huna, Sayang.. Huna tahu, kalau Ibunda, ayahanda, dan semua orang sangat mengharapkan kehadiran Huna bersama kami. Tapi, Nak, Allah ternyata sudah menyiapkan rumah yang indah untuk Huna di tempat yang lain. Jadi kami belajar untuk ikhlas menerima nya,' papar Tasya menjelaskan.
'Ikhlas itu apa, Bunda?' tanya spirit Huna.
'Ikhlas itu kita menerima semua ketetapan Allah, Nak. Kita tidak marah. Kita tetap berbahagia dengan apapun yang terjadi dalam hidup kita. Tak mengeluh dan tak bersedih hati. Dengan begitu, Allah akan semakin sayang dengan kita. Dan kelak kita akan dipertemukan kembali dalam tempat yang jauh lebih indah dari tempat sementara kita saat ini.'
'Jadi, kita harus bersabar sampai hari itu tiba ya, Nak? Janji?' Ujar Tasya seraya mengulurkan jari kelingking kanan nya.
Spirit Huna masih tampak ragu saat melihat jari kelingking sang ibunda. Pikiran nya masih belum mengerti dengan maksud ucapan ibunda nya tadi.
Setelah ragu beberapa saat lagi, Spirit Huna pun akhirnya mau ikut menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking Tasya. Dengan begitu, sebuah perjanjian pun terikat di antara kedua nya.
"Tapi Bunda janji ya untuk temani Hima selalu? Kasihan Hima gak punya teman main.." tutur Huna dengan wajah polos nya.
Tasya merasa tertarik untuk kembali memeluk Huna. Betapa menyesal nya ia karena ia tak bisa membersamai Huna tumbuh dewasa. Huna nya yang memiliki hati nan baik...
'Iya, Sayang.. Ibunda berjanji akan selalu menemani Hima,' janji Tasya.
'Humm? Ah! Nenek benar! Ibunda bisa memberikan Hima adik yang baru. Agar nanti Hima gak lagi main sendirian!' Seru Huna berceloteh.
Tasya sempat menangkap pandangan Huna yang melihat ke arah belakang nya. Seolah-olah ia baru saja berbincang dengan seseorang.
Karena penasaran, Tasya pun akhirnya menoleh ke belakang. Dan ia terkejut, ketika mendapati ada sesosok spirit wanita cantik yang berwajah keibuan di sana. Rambut nya sepanjang pinggang dengan mata hazel yang mengingatkan Tasya pada mata milik Daffa.
'Maaf, Anda adalah..?' Tasya bertanya pada spirit wanita itu.
__ADS_1
Mulut wanita itu terlihat mengatakan sebuah kalimat. Aneh nya, Tasya tak bisa mendengar suara yang keluar dari mulut nya. Dari Huna lah akhirnya Tasya bisa mengerti kalimat yang diucapkan oleh wanita tersebut.
'Ini adalah nenek Alexa, Bunda.. nenek Alexa itu nenek nya ayahanda. Begitu kan, Nek?' tanya Huna dengan wajah riang.
Tasya lalu melihat Alexa mengangguk singkat seraya memberikan ia senyuman ramah. Dengan wajah yang terlihat seperti awal 30 an, Alexa kemudian mendekati Tasya lalu memeluk nya.
Entah kenapa Tasya merasa nyaman saat dipeluk oleh wanita yang baru dikenal nya itu. Tasya lalu merasakan kepala nya diusap berkali-kali oleh tangan Alexa.
Sebelum akhirnya Alexa melepas pelukan nya dan mengangguk kepada Tasya, kemudian juga pada Huna.
'kata Nenek, kami harus segera pergi sekarang juga, Bunda.. kakek Rudolf sudah menunggu terlalu lama.'
Kemudian Huna menghadap pada Alexa dan berseru riang.
'Apa kakek membuat mainan baru untuk Huna, Nek?' tanya Huna denga riang.
Tasya menangkap jawaban 'Ya' dalam gerakan mulut Alexa yang dilihat nya.
'Asiikk!'
Huna lalu kembali menoleh ke arah Tasya, memeluk nya singkat, kemudian berkata.
'Ibunda, Huna ikut nenek Alexa dulu ya! Ibunda baik-baik di sini. Jaga nenek Elva juga ya, Bund.. nenek Elva sudah lupa dengan Huna. Huna sedih. Tapi Huna gak akan sedih lama-lama kok, Bund! Huna kan sudah janji ya sama Ibunda. Bunda juga jangan sedih ya!'' Pamit Huna panjang kali lebar.
Tasya terkekeh pelan, usai mendengar kalimt panjang sang putri. Meaki begitu sisi hati nya yang lain juga mulai merasakan sedih pada perpisahan yang akan segera berlangsung tak lama lagi.
Baru juga Tasya hendak menjawab kalimat Huna, ketika tiba-tiba saja ia melihat wajah Huna yang berubah menjadi tegang.
Pupil mata Huna seketika melebar. Dan ia pun menjeritkan satu nama yang seketika memunculkan kekhawatiran dalam benak Tasya.
'Bunda! Hima dalam bahaya!' jerit Huna terdengar sangat panik.
***
__ADS_1