
Keringat dingin sudah membasahi tubuh Dirga. Berbagai rasa sudah bercampur baur didalam dadanya saat ini, ketika melihat Monaliza sudah menggeliat dan mengerang kesakitan.
Ia menyandarkan punggung Monaliza didadanya, merapikan selimut yang tersingkap dari tubuh.isterinya itu yang terus saja bergerak, berbalik kekiri dan berbalik kekanan, mencari rasa nyaman dari rasa sakit bersalin yang sudah menyerangnya mulai semalam.
"Sa-kit se-kali," rintih Monaliza dengan suara setengah berbisik. Tanpa sadar ia mencengkram lengan Dirga dengan kuat, untung saja kuku-kukunya sudah dipotong rapi oleh Dirga sebelumnya sesuai anjuran dokter.
"Kalau kau sudah tidak tahan lagi, bagaimana kalau operasi saja?" ujar Dirga yang merasa tidak tega melihat Monaliza yang sangat menderita menahan rasa sakit yang terus menderanya. Dirga saja yang melihatnya turut merasakan sakitnya.
"J-jangan, aku bahkan lebih takut bila dioperasi," ucap Monaliza dengan wajah yang semakin memucat karena rasa sakit yang sedang melandanya itu.
Dirga menatap wajah isterinya, saat ini dirinya bener-benar bingung harus berbuat apa untuk membantu meringankan rasa sakit yang terus datang mendera sang isteri.
Sementara itu, Monaliza harus menahan napasnya sesaat bila sakit itu datang, lalu menghembuskan napasnya perlahan lewat mulutnya untuk mengatasi rasa sakit yang semakin lama semakin intens dirasakannya.
"Tuan Dirga, silahkan diminum dulu, dan berikan juga pada isteri tuan," seorang suster menyodorkan dua botol minuman mineral untuk menenangkan pasien dan suaminya.
"Terima kasih Sus," ucap Dirga. Ia lalu membuka botol minumannya, memasukan sedotan dan memberikannya pada Monaliza yang sakit perutnya sudah sedikit mereda.
"Lagi," pinta Monaliza. Dirga menyingkirkan botol air mineral ditangannya yang sudah kosong, lalu mengambil yang baru. Buru-buru membukanya dan kembali memberikannya pada isterinya itu.
__ADS_1
"Aghh!" Monaliza tiba-tiba mengerang, ia memegang perutnya yang kembali berkontraksi menimbilkan rasa sakit yang luar biasa, dan tidak tergambarkan itu.
Dirga buru-buru meletakan botol minuman yang masih bersisa setengahnya diatas nakas. Ia melihat perut isternya yang terus bergerak-gerak.
"Sayang, tidak boleh bandel ya? Kasihan Mommy-mu. Ayo kita kerjasama, supaya kau bisa cepat keluar dari dalam sana," ucap Dirga yang sudah tidak tahu harus melakukan apa, ketika diperhadapkan situasi yang menyesakkan dirinya saat ini.
Dalam fikirannya, hanya ingin anaknya yang ada dalam rahim Monaliza itu segera keluar, karena bayi itu yang menyebabkan isterinya itu terus menerus menderita kesakitan sepanjang malam hingga pagi ini.
Dirga mengusap perut isterinya itu, berharap sentuhannya bisa sedikit membantu menenangkan hati isterinya, sementara tangannya terus merasakan pergerakan sang jabang bayi yang turut berjuang didalam sana untuk keluar dari tubuhnya.
"Dok! Sa-ya mau BAB!" pekik Monaliza tertahan, saat perutnya begitu mules ingin mengeluarkan isi perutnya dan berusaha tetap kuat merasakan rasa sakit yang kembali menyerangnya tanpa ampun.
Dokter yang semenjak tadi sudah bersiap bersama dua perawat yang membantunya, menjenguk kejalan lahir. Sekilas ia menunjukan senyumnya setelah melihatnya.
"Ambil napas dalam-dalam ketika kontraksi datang, lalu tahan. Kencangkan otot perut dan mulai mengejan sampai hitungan ke-10. Ambil napas cepat dan mengejan kembali sampai hitungan 10, lalu ulangi satu kali lagi. Usahakan untuk mengejan sebanyak tiga kali setiap kali kontraksi," ucap sang dokter kembali memberi aba-aba.
Hal itu tentu saja menguras emosi Dirga yang menyaksikannya, ia turut merasa sesak saat melihat Monaliza sangat sulit melakukannya namun tetap berjuang mengikuti semua petunjuk sang dokter padanya.
"Sayangku, kau pasti bisa," ucap Dirga memberi dukungan penuh pada isterinya dengan tak henti-hentinya mencium pucuk rambut Monaliza.
__ADS_1
"Sedikit lagi Nyonya, ayo semangat! Kepala adik bayi sudah keluar!" kembali terdengar aba-aba dari sang dokter.
Monaliza kembali mengambil napas dalam-dalam dengan bulir keringat yang terus mengucur deras dipelipis dan sekujur tubuhnya yang lain.
"Bagus Nyonya! Sekarang tahan jangan hentakan, supaya bayinya tidak melesat tanpa terkendali." ujar sang dokter yang langsung diikuti oleh Monaliza.
"Ingat, jangan sekali-kali pejamkan mata anda Nyonya!" ucap sang dokter lagi memperingatkan.
"Ya! Sekarang kejan perlahan," ucap sang dokter, saat punggung sang bayi akan keluar dari jalan lahirnya.
"Bluuurrrr!" Seorang bayi merah berselimutkan darah ibunya, berkelamin laki-laki, meluncur licin dan mendarat tepat ditangan sang dokter yang memandu kelahirannya dengan tangisan menggema memenuhi ruang persalinan.
Tubuh Dirga bergetar hebat, menyaksikan detik-detik kelahiran putranya, tubuhnya mendadak lemas dan hampir kehilangan kesadarannya bila saja ia tidak ingat akan kondisi isterinya yang masih bersandar lemas didadanya.
"Terima kasih suamiku, sudah mendukung dan menemaniku sampai bayi kita lahir," ucap Monaliza lega, raut pucatnya terlihat sayu karena kelelahan setelah melewati masa-masa sulitnya.
"Terima kasih juga untuk semuanya. Kau isteri yang kuat dan sangat pemberani," ucap Dirga yang sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Ia kembali mencium pucuk rambut Monaliza, kini hatinya merasa sangat lega, setelah melewati segala ketegangan yang menguras emosinya itu.
"Selamat atas kelahiran bayi laki-laki Tuan dan Nyonya," ucap sang dokter dengan senyum lebarnya, mendekatkan bayi itu pada kedua orang tuanya lalu meletakannya didada ibunya sebagai stimulasi untuk menyusui.
__ADS_1
Dirga dan Monaliza tersenyum bahagia saat melihat mulut bayi mereka mencari-cari pucuk dada ibunya dengan tingkahnya yang terlihat sangat menggemaskan.
Bersambung...👉