
"Iya, ada apa pak Dirga?" tanya Monaliza membuka matanya dan melihat kearah Dirga yang juga sedang melihat kearahnya.
"Mengapa semalam kau masih berada diluar rumah di jam-jam orang sudah tertidur lelap dirumahnya?" tanya Dirga tanpa basa-basi.
Dirga memperhatikan wajah bawahannya itu penuh selidik, ada rasa curiga terpancar dari tatapan matanya.
"Saya baru saja pulang dari berkerja Pak?" sahut Monaliza jujur.
"Baru pulang berkerja?" Dirga mengernyitkan dahinya menatap Monaliza semakin curiga.
"Bukankah kemaren kita pulang dari showroom yang ada di mall itu sore hari, dan kau bersama Firans berpisah setelah makan malam sekitar pukul tujuh malam lewat, lalu kenapa di pukul sebelas malam aku melihatmu dilokasi kejadian?" ucap Dirga penuh kecurigaan, ia merasa tidak ada yang beres dengan pegawainya itu.
"Apakah kau?" Dirga menggantung ucapannya, ia tidak jadi melanjutkan kata-katanya, itu pasti akan membuat wanita itu tersinggung, batinnya. Dirinya saja merasa kurang nyaman untuk menanyakannya, apalagi orang yang akan mendengar ucapannya.
"Lanjutkan saja pertanyaan anda pak Dirga," ucap Monaliza yang terlanjur mendengar kata-kata Dirga, ia juga dapat merasakan kecurigaan sang majikannya itu padanya dari sorot matanya.
"Tidak, aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu berada diluar rumah ditengah malam selarut malam itu." sahut Dirga berusaha menyembunyikan maksud awalnya.
"Seperti yang saya katakan tadi, saya memang baru pulang berkerja pak Dirga," ucap Monaliza.
"Setelah pulang berkerja dari perusahan pak Dirga, saya lanjut berkerja di salah satu night club milik saudara teman saya," imbuh Monaliza jujur dan apa adanya.
Dirga terhenyak mendengar jawaban Monaliza, ia menatap gadis dihadapannya itu dengan wajah yang penuh tanda tanya besar, ia tidak menyangka bila gadis yang ia tolong ini adalah salah satu pegawai tempat hiburan malam.
Dirga yang memang paling tidak menyukai tempat sejenis night club atau semacamnya, memiliki kesan yang buruk bila berbicara tentang hiburan malam semacam itu, baginya hiburan malam adalah tempat bersarangnya segala kemaksiatan dan sampah masyarakat, apalagi seorang wanita yang berkerja disana.
__ADS_1
Dirga menatap Monaliza, dirinya tiba-tiba merasa jijik melihat gadis itu. Ada rasa menyesal mengapa ia menolong gadis itu semalam, kenapa tidak dibiarkannya saja gadis itu semalam diperkosa para pria itu, toh ia seorang pekerja **** komersial juga, batin Dirga menuduh.
Dan lebih menyesalnya lagi, ia sudah membuang-buang waktu berharganya dengan sangat percuma hanya untuk menemani gadis itu dirumah sakit ini, merasa iba dan prihatin padanya. Ternyata gadis ini tidak layak untuk dikasihani, batinnya berubah kesal.
"Seperrinya saya sudah tidak bisa berlama-lama lagi disini, saya harus pergi sekarang," ucap Dirga seraya berdiri.
"Pak, pak Dirga, saya mohon, jangan tinggalkan saya sendirian disini, temani saya sebentar, saya takut," ucap Monaliza memohon.
Dirga tidak menjawab, hatinya merasa sangat kesal karena merasa dipermainkan oleh bawahanya yang ternyata adalah pegawai **** komersial, ia meraih ponselnya yang ia letakan sebentar diatas nakas saat mengangkat Monaliza dari kamar mandi menuju ranjang pasien, lalu memasukannya kembali kedalam saku celananya dwngan terburu-buru.
"Pak Dirga, saya mohon, saya takut sendiri," Monaliza mulai tersedu, saat melihat gelagat Dirga akan meninggalkannya. Tapi Dirga tidak perduli.
Brukkk!
Untuk kedua kalinya Monaliza terjatuh kelantai ruang rawat inapnya, saat ia merasa panik karena takut ditinggalkan, dan berusaha turun dari ranjang pasiennya untuk mengejar Dirga.
Ia segera berbalik menuju pintu. Monaliza tidak tinggal diam, rasa takut ditinggal Dirga seorang diri diruangan itu mendorongnya merayap sekuat tenaga dilantai supaya dapat menggapai Dirga, mengabaikan rasa sakit pada tubuhnya akibat terjatuh hingga dua kali hari itu dan cedera karena peristiwa semalam.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!" sentak Dirga saat Monaliza berhasil mènggapai kaki Dirga yang telah berdiri didepan pintu.
"Tidak Pak, saya mohon, jangan tinggalkan saya pak Dirga saya takut," ucap Monaliza dengan berurai air mata, ia semakin mengeratkan pegangan tangannya dan berhasil mendekap kaki Dirga dengan kedua tangannya, sementara tubuhnya yang lain masih menempel dilantai ruangan.
Firans yang menyaksikan hal itu merasa bingung, ia heran kenapa keduanya seperti sepasang suami isteri yang sedang bertengkar.
"Lepaskan! Aku jijik disentuh olehmu!" sentak Dirga bertambah kesal, ia berusaha melepaskan kakinya dari dekapan Monaliza yang semakin kuat mendekap kakinya.
__ADS_1
"Tidak pak Dirga, saya mohon jangan tinggalkan saya, saya takut," Monaliza terus mengucapkan kata-katanya yang itu-itu saja sambil terus menangis seperti balita yang takut ditinggal pergi oleh ibunya.
Firans semakin binggung, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Dirga dan Monaliza, sehingga membuatnya hanya melongo menyaksikan tontonan yang aneh itu.
"Lepaskan! Perempuan sepertimu tidak pantas menyentuhku!" sentak Dirga lagi semakin kesal, ia berjongkok berusaha melepaskan tangan Monaliza yang membelenggunya.
Bughhh!
Satu pukulan kepalan tangan mendarat dirahang Dirga sangat keras, membuat wajah Dirga sampai berpaling berlawanan arah, bibirnya pecah hingga mengeluarkan darah.
"Apa maksud anda Pak, mengatakan Monaliza seperti itu?" Ungkap seorang pria muda mentap tajam wajah Dirga setelah berhasil memberikan pukulan jitunya.
Dirga menoleh kearah datangnya suara. Tatapannya langsung bertabrakan dengan seorang pemuda berperawakan tinggi tegap yang jauh lebih muda dari padanya.
"Leon?" lirih Monaliza yang ikut menoleh pada suara yang didengarnya.
"Siapa kau?! Kenapa tiba-tiba memukulku?!" tanya Dirga emosi, ia menyeka darah yang keluar dari lukanya, ia tidak ingat sama sekali pada pria muda yang berdiri berhadapan dengannya itu, yang pernah membantunya saat dilift.
"Aku, kekasih Monaliza, yang tidak terima mendengar ucapanmu pada wanitaku, yang seolah-olah menuduhnya adalah wanita yang kotor," ungkap Leon tajam.
Dirga tidak menjawab, antara kesal, marah dan masih bersikukuh pada pendiriannya bahwa Monaliza memang wanita yang tidak baik. Baginya, tidak ada wanita baik-baik mau berkwrja ditempat seperti itu.
Leon mendekati Monliza yang masih mendekap erat kaki Dirga. Ia menekuk kaki panjangnya untuk berjongkok didekat gadisnya itu.
"Mona, lepaskan tanganmu dari kaki pria itu," ucap Leon lembut. Monaliza menurut, ia lalu melepaskan dekapannya dari kaki Dirga. Leon langsung meraih tubuh Monaliza yang masih dalam posisi telungkup dilantai dan mengangkatnya dalam gendongannya.
__ADS_1
"Pria macam apa dirimu? Membiarkan seorang wanita yang penuh luka seperti ini memohon padamu untuk meminta perlindungan dan jangan meninggalkannya?" ucap Leon geram menatap Dirga sambil merangkum tubuh Monaliza dalam gendongannya.