
Leon masuk kemobilnya, ia meraih ponselnya saat mendengar suara notifikasi menandakan ada pesan yang masuk. Wajahnya datar menatap isi pesan yang baru ia terima dari orang kepercayaannya. Leon segera menghubungi seseorang yang sedari tadi bercokol dalam kepalanya.
"Hallo?" Terdengar suara tenang seorang pria dari telepon yang telah tersambung.
"Aku sudah mentransfer ke rekeningmu, pengembalian semua biaya rumah sakit Monaliza yang sudah kau bayarkan hari ini," ucap Leon datar tanpa basa-basi.
"Kau siapa?" tanya suara yang masih terdengar tenang dari seberang sambungan telepon.
"Leon, kekasih Monaliza, aku harap kau tidak lupa itu," sahut Leon mengingatkan dengan penuh penekanan.
"Tentu saja aku ingat. Seharusnya kau tidak perlu mengembalikan biaya perawatan dan perobatan Monaliza, dia masih terhitung pegawai diperusahaanku," jelas suara pria itu lagi, mengemukakan alasan mengapa ia membayar biaya rumah sakit Monaliza.
"Ya, aku juga tahu itu. Tapi aku kekasihnya, tidak ingin Monaliza berhutang budi padamu. Apa lagi sekarang kau sedang memerlukan dana yang besar bukan untuk membiayai perusahaan kecilmu yang hampir bangkrut itu?" ucap Leon datar dan selalu memberi penekanan pada setiap kalimatnya.
"Terserah kau saja." Suara pria diseberang sana tetap berusaha tenang. Namun hatinya merasa tersentil atas kalimat Leon yang menyinggung perusahaannya.
"Yang jelas kekasihmu sudah berhutang keperawanannya padaku, kalau saja aku tidak datang tepat waktu, kau tentu tahu apa yang akan diperbuat para pria cabul itu pada kekasihmu itu," imbuh pria itu lagi yang sudah merasa gerah mendengar ucapan penekanan dari Leon yang menelponnya.
"Sebutkan berapa rupiah yang kau minta supaya Monaliza tidak berhutang budi lagi padamu," Dalam hati Leon merasa sangat geram pada pria yang ia telepon.
"Kau hitung saja sendiri harga keperawanan kekasihmu itu. Dan aku tidak pernah meminta kau membayar hutang budi kekasihmu. Tapi aku juga tidak menolak bila kau dengan rela hati mau membayarnya,"
"Maafkan aku, aku harus melanjutkan pekerjaanku, karena aku tidak ingin perusahaan kecilku ini benar-benar bangkrut karena melayani teleponmu." Pria itu benar-benar menutup telepon Leon.
Leon mengepalkan telapak tangannya dan menghantam kemudi dihadapannya, ia benar-benar merasa geram pada Dirga, pria yang baru saja menutup teleponnya.
__ADS_1
...***...
Pukul Lima sore, Leon sudah menjemput Monaliza, setelah berpamintan dengan ibu Bianka dan adik-adiknya, ia membawa Monaliza meninggalkan rumahnya.
Para ibu-ibu berdaster mengintip dari balik pohon mangga dimana mereka biasa mangkal sambil membahas hal-hal yang sedang hangat.
"Beruntung sekali putri sambung ibu Bianka itu, pria-pria yang datang menjemput dan mengantarnya, selain tampan juga bukan orang sembarangan." ucap ibu Riri menatap tanpa berkedip Monaliza dan Leon yang akan melintas didekat mereka.
"Hai Mona, dengar-dengar kau baru saja pulang dari rumah sakit," ucap ibu Duwina saat Monaliza dan Leon melintas tepat didekat mereka.
"Iya tante, saya baru pulang dari rumah sakit hari ini," sahut Monaliza, ia menghentikan langkahnya bersama Leon, dan selalu berusaha ramah pada para tetangganya itu, walaupun ia tahu para tetangganya adalah orang-orang yang suka bergosip tentang dirinya, namun hubungan antar tetangga haruslah tetap ia jaga.
"Mau kemana sore-sore begini? Cari angin segar ya bersama si mas gantengnya?" tanya ibu Riri ikut nimbrung, dan selalu suka melihat daun muda seperti Leon.
"Tidak tante, hanya ada keperluan sedikit. Permisi, saya pamit dulu," ucap Monaliza sopan.
Leon tidak bereaksi apa-apa, walau ia tahu ibu Riri menyindir dirinya, ia berlalu begitu saja bersama Monaliza tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Seperti biasanya, pria muda itu selalu berwajah datar setiap datang menjemput ataupun mengantar pulang Monaliza, ia sama sekali tidak ingin berpura-pura bermuka manis dalam menghadapi para tetangga Monaliza yang terdiri dari ibu-ibu centil itu.
"Kita mampir kebutik dulu Mona, sekalian merias dirimu disana. Aku ingin kau malam ini terlihat berbeda dari biasanya," ucap Leon yang baru menjalankan mobilnya dengan perlahan meninggalkan gang sempit, tempat pemukiman sederhana Monaliza.
"Bukankah kita hanya bertemu orang tuamu saja Leon? Aku rasa tidak masalah bila aku berpenampilan seperti ini saja," ucap Monaliza, ia merasa sedikit ganjil, karena Leon berniat membuat penampilannya berbeda.
"Sebenarnya malam ini adalah perayaan pesta ulang tahun pernikahan papa dan mama, aku ingin mengenalkanmu disana. Acaranya dimulai pukul delapan malam, jadi kita punya banyak waktu untuk bersiap." ucap Leon sambil menyetir.
"Leon, aku fikir kita hanya bertemu dengan kedua orang tuamu saja dirumah seperti katamu pada ibu saat minta ijin tadi siang" ucap Monaliza mengingatkan.
__ADS_1
"Tapi bila aku harus hadir di pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tuamu, aku tidak mau Leon." Tolak Monaliza.
"Walau aku tidak terlalu mengenal keluargamu Leon, tapi aku tahu, pasti ada banyak tamu-tamu kehormatan kedua orang tuamu yang akan hadir dipesta itu, dan kau mau mengenalkanku disana? Kita ini belum direstui Leon, aku takut dipermalukan didepan tamu-tamu itu nanti." ucap Monaliza mengemukakan rasa khawatirnya pada Leon.
"Ada aku Mona, kau tidak perlu takut. Ini justeru waktu yang tepat untukku memperkenalkanmu pada papa dan mama didepan semua orang, supaya papa dan mama berhenti menjodohkanku, karena aku sudah memilihmu Mona."
"Aku hanya ingin dirimu Mona, menikah denganmu itu adalah impianku," ucap Leon menggebu.
"Tapi Leon, kita-,"
"Percayalah padaku Mona, aku tidak akan membiarkanmu dipermalukan didepan tamu-tamu papa dan mama. Aku akan menjagamu dengan baik," ucap Leon berjanji.
"Tapi aku tidak biasa hadir dipesta orang-orang berkelas seperti kalian, aku tidak pantas," Monaliza berusaha tetap menolak, dia merasa takut, seperti ada sesuatu yang buruk sedang menunggunya.
"Monaliza, kau itu kekasihku, kau pantas datang bersamaku." Leon masih tetap tidak menyerah, ia bersikukuh membujuk Monaliza. Didepan jalan, Leon membelokan kemudinya kearah kiri jalan memasuki area butik dan salon langganan keluarga.
"Kita turun sekarang," ajak Leon, setelah ia memarkirkan mobil mewahnya disisi kiri butik. Walau merasa ragu, namum Monaliza tetap menurut pada perkataan Leon, ia melangkah bersama Leon memasuki butik.
"Selamat sore tuan muda Leon," sapa Fiotahan ramah, pemilik butik dan salon langganan keluarga Leon.
"Selamat sore cie Fio. Perkenalkan ini Monaliza. Gaun yang sudah kupesan, tolong kenakan padanya, sekalian siapkan dia untuk ke pesta ulang tahun pernikahan papa dan mama malam ini cie," ucap Leon pada pemilik butik.
"Baik tuan muda," sahut Fiotahan masih dengan senyum ramahnya.
"Nona Monaliza, ayo ikutlah denganku," panggil Fiotahan, ia berjalan lebih dulu masuk kedalam ruangan ganti pakaian diikuti oleh Monaliza yang menatap ragu kearah Leon.
__ADS_1
...***...