CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
103. Arseano Kembali


__ADS_3

📞"Cepat kembali Dirga, Arseano sudah ditemukan." ucap pak Surya dari ujung sambungan telepon.


📞"Arseano s-sudah ditemukan?" Dirga tergagap dengan suaranya yang bergetar. Rasa kaget, bahagia bercampur jadi satu. Sementara polisi yang ada dihadapannya menatapnya penuh perhatian dan berharap kata yang terlontar dari mulut Dirga yang tengah menerima telepon benar adanya.


📞"Iya, cepatlah kemari," ucap pak Surya lagi.


📞"B-baik Pa, aku segera kesana," Dirga menutup teleponnya dengan terburu-buru, hatinya begitu bahagia tidak terkira, wajah suramnya seketika berubah berbinar.


"Pak polisi, saya harus segera kembali ke rumah sakit, Arseano sudah ditemukan." ucap Dirga bergegas bangkit dari duduknya.


"Syukurlah pak Dirga, kami juga akan ikut ke rumah sakit." ucap pak polisi itu dan turut berdiri, bergegas meninggalkan meja kerjanya mengikuti Dirga keluar dari ruang kantornya.


...🍓🍓🍓...


"Syukurlah Arseano segera di ketemukan, bayi itu hanya mengalami dehidrasi ringan saja, karena kehausan dan kelaparan," ucap sang dokter begitu selesai memeriksa bayi Arseano yang sudah tidak menangis lagi karena tengah menyusui Monaliza ibunya.


"Berikan Arseano ASI sesering mungkin, supaya kondisinya segera membaik ya Bu," imbuh sang dokter lagi.


"Iya Dok," sahut Monaliza dengan wajah sembabnya, dan suaranya yang terdengar parau karena terus menangis sebelum bayinya itu ditemukan.


"Bila bayi ibu Monaliza sudah puas menyusui, segeralah beristirahat untuk menjaga kesehatan. Kalau ibunya sehat bayinya juga akan ikut sehat," ucap sang dokter mengingatkan. "Saya permisi dulu Bu," pamitnya.


"Iya Dok, terima kasih," ucap Monaliza lagi, begitu pula dengan ibu Surya.


"Sama-sama Bu," setelah berkata demikian, sang dokter lalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan Monaliza dan bayinya, juga ibu Surya.


"Mona, sebaiknya kau beristirahat saja sekarang, bayimu juga sudah tertidur," ucap ibu Surya pada menantunya yang terlihat lelah, melirik Arseano yang sudah tidak menyusu lagi.

__ADS_1


"Tapi Ma, aku takut orang jahat itu akan menculik bayiku lagi," tolak Monaliza, ia masih trauma atas kejadian kehilangan bayinya.


"Jangan takut Mona, disini ada Mama yang akan menemanimu dan Arseano." ucap bu Surya berusaha memberi rasa aman pada menantunya itu.


Monaliza terdiam sejenak, menatap wajah lembut dan teduh milik ibu mertuanya. Rasa takut itu memang masih menyelimuti hatinya, namun tidak ada alasan baginya untuk tidak mempercayai ibu mertuanya itu.


Dengan perlahan, Monaliza memberikan bayi yang ada dalam gendongannya ketika tangan ibu mertuanya itu terulur padanya untuk mengambil alih bayinya.


"Mandi, dan berganti pakaianlah Mona, supaya kau bisa tidur dengan nyaman bersama bayimu nanti," ucap ibu Surya yang telah menggendong cucunya sambil menimangnya dengan gerakan lembut, supaya bayi yang baru terlelap itu semakin terlelap.


Monaliza menurut, ia turun dari tempat tidurnya dengan hati-hati, karena luka pada jalan lahirnya masih terasa sangat perih dan nyeri.


"Tidak boleh! Suami saya tidak boleh dibawa pergi!" terdengar teriakan cukup kencang seorang perempuan dari luar ruang rawat inap, membuat Monaliza dan ibu Surya kaget dan saling berpandangan.


Bayi Arseno mengeliat-geliat dalam pelukan neneknya, turut merasa terganggu, ibu Surya buru-buru menimangnya lagi supaya bayi itu kembali tertidur lelap.


"Kami hanya ingin meminta keterangan dari tuan Leon Nona, dan kami melakukan ini sesuai dengan surat tugas yang kami bawa," ucap seorang polisi yang mengenakan seragamnya ketika mendapat penolakan dan hardikan dari Nadya.


"Tapi suami saya tidak bersalah pak polisi, bukan dia penculik bayi pak Dirga!" sergah Nadya lagi, tangannya mencengkram kuat seragam salah seorang polisi yang sudah memegang tangan Leon untuk membawanya pergi.


"Nanti tuan Leon bisa menjelaskan semuanya di kantor Nona," ucap pak polisi bersikukuh membawa Leon yang telah mengantarkan bayi Dirga dan Monaliza ke rumah sakit malam itu.


"Cukup Nadya, biarkan para pak polisi ini melakukan tugasnya. Aku harus ikut bersama mereka supaya permasalahannya jelas dan cepat selesai," ucap Leon tenang.


"Tapi Leon, ini bukan salahmu!" sergah Nadya masih berusaha menahan Leon supaya tidak dibawa pergi.


Leon tidak mau bicara banyak lagi, ia menatap Dirga sesaat tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, begitu pula sebaliknya.

__ADS_1


"Pak Polisi, ayo kita pergi sekarang," ucap Leon beralih pada kedua polisi itu, lalu bergegas pergi bersama keduanya.


"Daddy ikut Leon!" ucap tuan Gamsonrich sembari ikut beranjak, tidak rela membiarkan putra kesayangannya itu mengahadapi masalah seorang diri.


"Aku juga ikut denganmu Leon," Nadya turut bergegas meninggalkan tempat itu dengan langkah cepatnya. Selama beberapa hari tinggal seatap dengan Leon membuat perempuan itu semakin mengenal kebaikan suaminya itu.


Dirga menatap kepergian Leon yang dibawa oleh kedua polisi yang ikut bersamanya ke rumah sakit itu, dilubuk hatinya terdalam, ia yakin mantan rivalnya itu tidak bersalah, namun kejadian hilangnya Arseano dari rumah sakit harus di usut hingga tuntas.


Ia berbalik menuju pintu, mendapatkan ayahnya dan kedua orang tua mendiang Megan masih ada disana.


"Aku akan masuk untuk melihat keadaan Monaliza dan Arseano dulu, apa Papa dan Mama mau ikut denganku?" Dirga memandang pada pak Han dan ibu Han juga ayahnya, Hadi Surya.


"Iya, kami juga ingin melihat keadaan cucu kami beserta ibunya," ucap ibu Han sembari mengangguk, begitu pula pak Han dan pak Surya. Mereka bertiga lalu mengikuti Dirga dari belakang.


"Mona?!" Dirga nampak kaget, ketika melihat Monaliza berdiri disisi pintu masuk, saat dirinya mendorong pintu yang tidak tertutup rapat.


"Leon tidak bersalah Mas, aku mengenalnya dengan baik, dia tidak mungkin menculik bayi kita," ucap Monaliza spontan, menatap pada Dirga.


"Aku juga berkeyakinan seperti itu, Sayang. Sudahlah, kau tidak perlu khawatir, Leon pasti tahu apa yang akan dia lakukan, dia bukan orang bodoh." ucap Dirga menenangkan Monaliza yang menampakan wajah khawatirnya.


"Yang penting kau harus beristirahat. Sini aku bantu," tanpa menunggu persetujuan, Dirga seketika meraih dan menggendong tubuh isterinya itu untuk dibawa masuk.


"Mas, tidak enak dilihat Papa Mama," ucap Monaliza merasa malu, melirik kearah ayah mertuanya, pak Han, dan ibu Han yang tersenyum dibelakang Dirga.


"Tidak apa Sayang, mereka juga pasti pernah seperti kita sekarang ini," ucap Dirga tak ambil pusing. Ketiga orang tua yang ada dibelakang mereka semakin tersenyum lebar mendengar ucapan Dirga tentang mereka.


Monaliza semakin merona, ia hanya bisa pasrah. Didalam hati, ia memang menyukai diperlakukan dengan manja oleh suaminya yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2