CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
73. Kado Pernikahan


__ADS_3

Leon menutup rapat pintu kamar hotel, setelah ia membantu Nadya masuk lebih dulu dengan gaun pengantin yang terlihat sangat merepotkan itu.


Belum sempat ia berbalik, Nadya sudah mendekapnya erat dari belakang. "Leon, aku sangat mencintaimu," bisiknya ditelinga belakang pria yang telah menjadi suaminya itu, wanita itu berusaha menyalurkan perasaannya selama ini lewat pelukannya.


Leon berdiri mematung dan masih menghadap pintu, saat dirasanya tangan Nadya menelusup masuk dibalik jas pengantinnya dan meraba lembut bagian perutnya hingga naik kedadanya yang bidang. Ia sudah menduganya, bahwa wanita itu akan berlaku demikian berani padanya, tidak seperti Monaliza.


"Sudah lama aku memimpikan saat-saat seperti ini. Menikah, dan menjadi isterimu Leon," gumamnya sambil menghirup aroma punggung suaminya. Tangan nakal Nadya yang meraba lembut mulai menekan dan berusaha meremas liar disana, walau sebenarnya tubuh itu tidak bisa ia perlakukan seperti itu. Leon masih tidak bergeming, kewarasannya masih terjaga dengan baik. Walau tubuhnya berada disana, namun hati dan pikirannya ada ditempat lain.


"Leonhhh," panggil Nadya dengan suara setengah berbisik dan dibuat manja. Tidak ada sahutan, pria yang sedang didekapnya masih setia dalam lamunannya.


Merasa tidak ada tanggapan dari Leon, Nadya tidak langsung menyerah, ia tetap memainkan jari-jemarinya, menuruni dada bidang itu kembali menuju perut. Dari sana, jari-jari itu mencoba masuk kebagian terlarang, tapi terhalang sabuk pengaman yang terkunci kuat.


Masih tidak menyerah, jari-jemari Nadya dengan tidak tahu malunya mencari jalan lain dan menemukan apa yang dicarinya," Leon, aku harus mendapatkan dan memilikimu seutuh malam ini," gumamnya didalam hati.


Begitu jari Nadya menurunkan resleting miliknya, tangan Leon dengan sigap menangkap tangan nakal isterinya itu. "Kenapa Leon? Bukankah kita sudah menjadi suami isteri?" Nada kecewa terlontar dari bibir Nadya.


"Aku sudah memesan minuman dari pegawai hotel. Mari kita bersulang, merayakan pernikahan kita," kata Leon mengalihkan topik pembicaraan sambil melepaskan diri dari pelukan Nadya.


Nadya terdiam sejenak ditempatnya, mencoba mencerna apa yang dikatakan pria yang selama ini dikejarnya, ia berharap apa yang dikatakan Leon itu benar, semoga ini adalah awal yang baik, batinnya.


Tidak berselang lama, Nadya lalu menyusul Leon menuju meja kecil yang ada dibalkon hotel itu. Dan benar saja, Leon sudah memegang segelas wine dengan warnanya yang berkilau diterpa cahaya lampu.


"Untukmu," Leon menyerahkan segelas wine ditangannya sambil tersenyum tipis.


Tanpa ragu, Nadya menerimanya dengan senang hati. Melihat senyum Leon saja sudah mampu membuat dirinya terhipnotis, selama ini senyum itu terlalu mahal untuknya.


"Untuk pernikahan kita," kata Nadya sambil membenturkan gelasnya pelan ke gelas yang ada ditangan Leon.


Nadya tidak langsung meneguk minumannya, ia malah mencuri pandang memperhatikan Leon yang sedang meneguk minumannya. Jakun Leon yang terlihat naik turun saja sudah mampu membuat dirinya berhayal diluar akal sehatnya.


"Kenapa belum diminum? Apakah kau tidak menyukainya?" tanya Leon menatap gelas Nadya yang belum kosong, "kalau tidak ,aku akan meminumnya untukmu," ia lalu memandang lekat wajah Nadya.


"Aku-, aku menyukainya," sahut Nadya mendadak merasa gugup, tanpa pikir panjang, ia langsung menenggak minumanya. Kalimat Leon yang terakhir begitu memabukan dirinya.


Leon kembali tersenyum memandang gelas ditangan Nadya yang telah kosong, isinya sudah berpindah tempat kedalam lambung wanita licik itu batinnya.

__ADS_1


"Aku akan mandi lebih dulu, setelah itu kita akan tidur bersama," ucap Leon seraya berdiri dari duduknya.


"Tidur bersama?" tanya Nadya bersemangat.


"Iya," sahut Leon singkat. Ia segera berlalu, meninggalkan Nadya yang tersenyum senang dan kembali berhayal dengan pikirannya sendiri.


Dikamar mandi, Leon berdiri dibawah guyuran shower diatasnya. Ia berharap air dingin yang mengguyur kepalanya dapat turut melarutkan ingatannya akan mimpi buruknya karena telah menikahi Nadya, wanita yang sama sekali tidak ia cintai.


Untuk beberapa saat lamanya, Leon tenggelam dalam pikirannya, hingga akhirnya ia teringat pada rencana yang telah ia rencanakan sebelumnya. Leon segera mengambil handuknya dan mengeringkan tubuh basahnya demikian pula dengan rambutnya.


Berbekal handuk yang melingkar dipinggangnya, Leon keluar dari kamar mandi, memperhatikan sejenak kamar hotel itu dan tersenyum puas saat melihat Nadya sudah tertidur pulas diranjang pengantin mereka, masih lengkap dengan gaun pengantin yang ia kenakan.


Leon segera menuju lemari pakaian, mengambil satu set pakaian yang sudah dipersiapkan disana. Tanpa membuang waktu lama, Leon sudah terlihat rapi, dan mematut dirinya sebentar didepan cermin.


Sebelum meninggalkan kamar itu, Leon memeriksa sebentar keadaan Nadya, "obat tidur itu sudah berkerja sesuai tugasnya," guman Leon didalam hati sambil menyungging senyum diujung bibirnya.


Setelah itu ia bergegas keluar dari kamar itu, dengan langkah buru-burunya ia masuk kedalam lift menuju parkiran, dan meninggalkan hotel itu.


...***...


"Saya jamin, Nona tidak akan terkena masalah. Kalau Nona masih ragu, silahkan telepon manager atau pemilik hotel ini sekarang juga," kata Leon kembali meyakinkan.


Wanita itu segera menekan nomor telepon manager yang ia tuju. Sebagai pegawai hotel, dirinya tidak mau menanggung resiko karena melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh hotel dimana dirinya berkerja. Walau pria muda itu memiliki wajah tampan diatas rata-rata dan sempat membuat hatinya tergoda, namun ia tetap berpegang pada aturan yang ada, ia tidak ingin pekerjaannya melayang begitu saja hanya karena perasaannya yang sesaat.


"Selanat malam Pak, saya resepsionis Nirania. Seorang tamu, tuan Leon Gamsonrich, memaksa untuk memberikan satu kotak kado pada sahabatnya yang telah menikah hari ini dihotel kita," ucap wanita itu sengaja menekankan kata 'memaksa' sambil melirik wajah Leon yang sedang menatapnya datar.


"Tuan Leon Gamsonrich?" tanya sang manager memastikan.


"Iya Pak," sahut sang resepsionis sedikit kikuk karena terus diawasi oleh tatapan Leon.


"Penuhi permintaannya," kata sang manager.


"Tapi Pak," sang resepsionis nampak bingung, tidak biasanya sang manager mudah mengabulkan permintaan bukan tamu hotel dilarut malam seperti ini kecuali pihak yang berwajib.


"Lakukan saja," sahut sang manager tegas dari seberang sambungan telepon.

__ADS_1


"B-baik Pak," sahut sang resepsionis itu lalu menutup teleponnya. Kemudian ia menekan nomor yang berbeda untuk memanggil salah satu pegawai hotel untuk segera datang.


Tidak menunggu lama sang pegawai pria yang ditunggu akhirnya tiba.


"Tolong bawa kado ini ke kamar tuan Dirga dan nona Monaliza," pinta Nirania sambil memberikan kotak kado.


"Baik," sahut pegawai itu, ia lalu membawanya dengan sangat hati-hati diikuti oleh Leon dari belakang.


Sesampainya didepan pintu kamar, pegawai hotel itu segera mengetuk pintu. Setelah menuggu cukup lama, akhirnya pintu pun dibuka dari dalam.


"Permisi tuan, ini ada kado pernikahan dari sahabat tuan Dirga dan nona Monaliza," kata pegawai itu dengan gesture sopannya.


"Kado pernikahan? Siapa yang memberikannya?" tanya Dirga menatap sang pegawai hotel yang masih memegang kotak kado dikedua tangannya.


"Maafkan saya tuan Dirga, saya hanya diminta untuk mengantarkannya saja," sahut pegawai hotel itu masih dengan sikap sopannya.


"Kalau begitu, ambil saja untukmu. Saya tidak bisa menerima kado dari orang yang tidak dikenal, dan tolong jangan mengganggu malam pengantin kami," kata Dirga lalu beranjak dan menutup pintu dengan rapat.


Pegawai pria itu lalu meninggalkan tempat itu, menemui Leon yang bersembunyi di belokan lorong.


"Maaf Tuan, kado anda dikembalikan," adu sang pegawai hotel itu.


"Tidak masalah, tugasmu sudah selesai, ini tip untukmu. Kembalikan hadiah itu pada Nona resepsionis yang tadi. Biarkan manager hotel ini yang memberikannya besok pada tuan Dirga dan nona Monaliza." kata Leon datar.


"Ini banyak sekali Tuan," kata pegawai itu menunjukan puluhan lembar pecahan seratus ribuan ditangannya, ia merasa ragu menerimanya.


"Ini memang untukmu." kata Leon lagi.


"Baik, terima kasih Tuan, saya permisi dulu," pegawai itu lalu bergegas pergi setelah berpamitan.


Leon meraih ponselnya, lalu menelpon sang manager hotel.


"Bukakan saya kamar di nomor xx9 atau xx7, saya beri waktu lima menit," setelah menyampaikan permintaan yang lebih bersifat memaksa itu, Leon lalu mematikan ponselnya secara sepihak, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding dengan tatapan menerawang.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2