
Monaliza dan Leon saling berdiam diri, keduanya sibuk dengan fikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Leon membelokkan mobilnya memasuki area apartemennya. Monaliza melirik kearah Leon, setelah mobil yang dikemudikan Leon melewati pos jaga security.
"Untuk apa kita kemari Leon?" tanya Monaliza. Ia memang tahu itu adalah bangunan gedung apartemen Leon, namun ia belum pernah memasuki area apartemen mewah milik para konglomerat itu.
"Aku akan menunjukan sesuatu padamu sesuai perkataanku semalam Mona," ucap Leon seraya melepaskan sabuk pengamannya setelah memarkirkan mobilnya diparkiran basement apartemen.
Monaliza ikut melepaskan sabuk pengaman yang meliliti tubuhnya. Leon membuka pintu disebelah Monaliza, dan mengulurkan tangannya untuk membantu Monaliza keluar dari mobilnya.
"Terima kasih," ucap Monaliza. Ia mengurai senyum manisnya kearah Leon yang membalas senyumannya. Leon selalu memperlakukannya istimewa bila mereka sedang berdua.
"Ayo, gandeng lenganku, aku akan selalu menjagamu dengan baik disisiku Mona." Leon menekuk sikunya, dan Monaliza langsung menggandengnya seperti apa yang diminta Leon padanya. Keduanya berjalan beriringan menuju lobby dengan mesra.
Dirga memejamkan matanya melihat pemandangan secara live didepan matanya dari balik kaca mobilnya yang berwarna gelap. Ya, Dirga memang membuntuti sepasang kekasih itu saat mobil mereka keluar dari area Perusahaannya.
Ia mendaratkan tinjunya pada setir kemudinya. Rasanya ia ingin menyerah, tidak sanggup memperebutkan seorang wanita kalau bukan karena dirinya sudah menghamilinya.
Dirga kembali mengingat kejadian malam itu, bila saja dirinya tidak berada dibawah pengaruh alkohol, ia dapat pastikan bahwa dirinya tidak akan pernah menyentuh wanita itu. Tapi semuanya telah terjadi, ia tidak bisa membalikkan waktu yang sudah berputar.
Dirga menghembuskan napasnya kasar. Ia tahu, cinta Leon sangat besar pada Monaliza. Itu dapat dilihatnya dari cara Leon mempertahankan kekasihnya itu, walau ia tahu kekasihnya sudah ditiduri bahkan hamil oleh pria lain, tapi Leon tidak mempermasalahkan semuanya itu.
Ia jadi teringat pada perasaan cintanya yang teramat dalam pada Megan yang telah tiada, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dirinya move on, sampai Perusahaannya terbangkalai dan berujung insiden dimalam naas itu.
Setelah kejadian malam itu, dikepalanya hanya ada Monaliza, dan bagaimana caranya ia bisa menikahi wanita yang telah ia nodai, ia tidak ingin darah dagingnya memiliki ayah lain yang bukan dirinya.
Dirga menjalankan mobilnya perlahan, meninggalkan parkiran basement. Ia mengurungkan niatnya untuk terus membuntuti sepasang kekasih itu, ia tidak ingin menyakiti dirinya sendiri dengan pemandangan-pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat bila terus mengikuti keduanya.
__ADS_1
Entahlah, apakah rasa sakit itu karena dirinya sudah bisa melupakan Megan yang telah tiada. Atau mungkin saja ia sudah membuka hatinya dan mulai mencinta Monaliza, ibu dari calon bayinya.
...***...
"Penthouse ini milik siapa Leon?" tanya Monaliza, ketika Leon membawanya masuk keruangan dilantai paling puncak apartemen mewah itu. Monaliza menatap Leon yang tidak langsung menjawab pertanyaannya.
"Ayo kita masuk saja dulu," kata Leon menoleh kearah Monaliza yang melepaskan gandengan tangannya dan menghentikan langkahnya dibelakang pintu masuk.
"Aku tidak mau, bila tidak tahu siapa pemiliknya. Tidak sopan masuk ke kediaman orang lain tanpa permisi," tolak Monaliza, ia masih berdiri ditempatnya menatap lekat wajah Leon.
Dari tempatnya berdiri saja, Monaliza sudah dapat melihat dan menilai betapa mewahnya tempat itu. Pemandangan spektakuler yang diperlihatkan dari ruangan itu saja sudah membuatnya takjub. Tentu saja pemiliknya bukan orang sembarangan, batinnya.
"Penthouse ini milikmu Monaliza," sahut Leon menatap Monaliza. Mendengar jawaban Leon, Monaliza tidak menunjukan rasa kagetnya, ia malah tertawa kecil melihat Leon yang masih menatapnya.
"Leon, kau bercanda. Sudahlah, kita pulang saja, sebentar lagi aku harus berkerja, jangan sampai terlambat." setelah berkata demikian Monaliza langsung membalikkan tubuhnya hendak keluar dari penthouse mewah itu.
"Ikutlah denganku, akan kutunjukan padamu supaya kau percaya kalau penthouse ini memang benar milikmu," Leon menarik tangan Monaliza agar mengikutinya.
Monaliza terpaksa menurut, sesuatu yang mustahil menurutnya, tidak mungkin penthouse mewah dan pastinya luar biasa mahal itu adalah miliknya.
"Duduklah disini dulu," Leon menuntun Monaliza untuk duduk disofa empuk berwarna gold yang ada diruang tamu luas itu. Leon pun ikut duduk disebelah Monaliza dan meraih satu amplop berwarna cokelat kekuningan diatas meja kaca dihadapan mereka.
"Lihat ini," Leon mengeluarkan satu buku tipis dari dalam amplop lebar itu, dan membukanya dengan pelan lembaran demi lembaran, tidak lupa membacakan isi dari surat berharga itu, apa yang perlu diketahui Monaliza.
"Sekarang kau percayakan bila penthouse ini milikmu?" ucap Leon sambil menutup buku tipis lebar ditangannya lalu memasukannya kembali kedalam amplop cokelat kekuningan dan meletakannya diatas meja.
__ADS_1
"Untuk apa Leon? Kenapa kau membelinya untukku? Ini pasti mahal sekali," Monaliza menatap wajah Leon disampingnya, tidak percaya bila lelaki yang menjadi kekasihnya itu mau melakukan hal itu untuknya.
"Menikah denganmu, itu harapanku, sejak mengenalmu sebagai adik kelasku di SMU dulu." kata Leon sambil tersenyum mengingat masa lalunya pertama kali bertemu kekasihnya itu. Ia meraih tangan Monaliza dan menciumnya lembut.
"Sejak saat itu aku berusaha selalu menjagamu hingga hari ini, " wajah Leon tiba-tiba berubah sedih, ketika mengingat kemalangan yang telah menimpa gadisnya itu, ternyata ia tidak sanggup menjaganya dengan baik seperti yang ia harapkan selama ini.
"Bahkan sampai nanti, sampai kita tua bersama, aku mau tetap menjagamu sebagai isteriku Mona,"
Mendengar perkataan Leon, membuat hatinya tersentuh dan terharu. Bukan tanpa alasan ia merasakan perasaan itu, Leon memang selalu ada untuknya, terlepas dari beberapa kemalangan yang telah menimpanya pada dua bulan terakhir ini.
Monaliza dapat merasakan ketulusan hati Leon yang mencintainya, tidak memandang siapa dirinya, status sosial mereka yang jauh berbeda, dan selalu memposisikan dirinya istimewa, itulah sebabnya ia akhirnya menerima cinta Leon beberapa bulan yang lalu.
Ding! Dong!
Monaliza dan Leon saling berpandangan ketika mendengar suara bel berulang-ulang. Monaliza merasa heran ada tamu yang datang berkunjung, bukankah penthouse itu baru saja dibeli oleh Leon untuknya.
"Itu pasti orang yang mengantar pesanan makan malam kita," ujar Leon, ia lalu berdiri menuju pintu.
"Tuan, ini pesanan Anda," ucap pria tinggi kurus itu sambil memberikan plastik berisi box-box makanan setelah melihat Leon membuka pintu.
"Terima kasih," Leon menerima plastik box makanan dari tangan pria tinggi kurus itu. "Ini untukmu," Leon menyodorkan tiga lembar uang kertas pecahan seratus ribuan.
"Maaf, bukankah Tuan sudah membayarnya," kata pria itu memandang wajah Leon.
"Iya kau benar, ini tip untukmu yang sudah mengantarkannya sampai kemari," kata Leon. "Tidak perlu sungkan, aku ikhlas memberikannya padamu," kata Leon.lagi, ketika dilihatnya pria itu nampak ragu menerima pemberiannya
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih banyak atas kebaikan hati Tuan," pria itu menerimanya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu
...***...