
"Kenapa Leon, kenapa kita melakukannya?" tanya Monaliza menahan tangisnya yang akan tumpah, ia menaikan selimut tebalnya yang menutupi tubuhnya hingga ke puncak hidungnya. Pundaknya nampak terguncang-guncang akibat tangis yang berusaha ditahan dan ditekannya.
Leon masih terdiam, ia bingung harus berkata apa, pertanyaan Monaliza sangat berat, ia tidak mampu memberi jawaban, karena bukan dirinya yang melakukannya. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya dibalik selimut, mengingat wajah Dirga yang sudah menodai kekasihnya.
"Leon, aku takut-," ucap Monaliza mulai menangis tertahan, suaranya terdengar bergetar. Ia masih pada posisi berbaring ditempatnya semula.
"Takut, takut kenapa? tanya Leon memandang kearah Monaliza yang hanya menampakan sepasang mata hingga kerambut kepalanya saja.
"Aku-, aku takut hamil Leon. Karena kita-, kita sudah melakukannya sebelum menikah. Bagaimana bila kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita?" ucap Monaliza tersendat-sendat, ia mulai sesenggukan, dadanya terasa amat sesak karena berusaha menekan suara tangisnya yang mau meledak.
Leon hanya bisa membisu beberapa saat, ia kembali merasakan sakit didadanya melihat Monaliza yang berusaha keras menahan suara tangisnya supaya tidak keluar. Leon bergeser, berniat memeluk Monaliza untuk menghiburnya, namun ia segera sadar dan mengurungkan niatnya. Ia ingat Monaliza belum mengenakan apapun dibalik selimut tebalnya itu.
Leon bangkit, lalu keluar dari dalam selimut dimana ia berbaring, tangannya menggulung selimut itu ketubuh Monaliza. Setelahnya barulah ia meraih tubuh kekasihnya yang sudah terbungkus rapi masuk kedalam pelukannya.
"Bagaimana kalau ibu sampai tahu? Ibu pasti kecewa padaku Leon, ibu sudah memberi kepercayaan penuh padaku," isak tangis Monaliza akhirnya meledak dalam pelukan pria muda itu.
"Maafkan aku Mona, aku tidak bisa menjagamu dengan baik," lirih Leon, suaranya turut bergetar merasakan pedih didadanya yang tidak kunjung hilang dari semalam. Tangannya membelai lembut rambut Monaliza, dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau, pantas marah padaku Mona, aku tidak akan protes, semua ini adalah salahku. Akulah yang membujukmu, bersikeras untuk membawamu, walau kau sudah memberi banyak alasan supaya tidak datang ke pesta itu," ujar Leon menyesali semua yang terjadi, ia hanya bisa pasrah.
"Pria itu Leon, dia mau memperkosaku. Kenapa Leon, kenapa akhir-akhir ini ada banyak pria jahat yang mau melakukan itu padaku?" ucap Monaliza dalam tangisnya.
"Dan kau datang menolongku Leon. Lalu perbuatan terlarang itu terjadi pada kita." sambung Monaliza masih tetap menangis dalam pelukan Leon.
Leon membiarkan Monaliza menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua emosi dalam tangisan pilunya. Ia tahu sehancur apa perasaan kekasihnya itu. Leon tidak berani membayangkan bagaimana kalau Monaliza tahu bahwa pelakunya adalah bos-nya sendiri dan bukan dirinya.
Jika saja ia tidak membawa Monaliza ke acara pesta semalam, mungkin kejadian buruk itu tidak akan menimpa Monaliza, batinnya penuh penyesalan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat berlalu, Monaliza sudah terlihat lebih tenang, tangisnya juga sudah mulai mereda. Ia menatap wajah Leon yang masih memeluknya erat dengan mata sembabnya.
"Leon, aku harus berangkat berkerja hari ini, sudah seminggu aku cuti karena sakit." ucap Monaliza disela-sela sisa tangisnya.
Leon berfikir sejenak, ia tidak ingin Monaliza bertemu Dirga dikantor, khawatir pria itu akan memberitahukan bahwa dirinya-lah pelakunya, bisa-bisa Monaliza akan shock saat mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, pikirnya.
"Mona, aku sudah meminta ijin pada temanmu, mengatakan kau masih sakit hari ini. Kumohon, beristirahatlah untuk hari ini, besok kau boleh berkerja," ujar Leon.
"Tapi Leon, aku sudah terlalu lama tidak masuk berkerja, aku tidak bisa menambah cutiku lagi," sahut Monaliza bersikeras.
"Terserah kau saja." ucap Leon pasrah.
"Aku akan membantumu kekamar mandi," Leon melepaskan Monaliza dari dalam pelukannya lalu berjongkok bersiap mengangkat tubuh Monaliza untuk membawanya ke kamar mandi.
"Tidak perlu Leon, aku bisa sendiri," tolak Monaliza. Leon tidak memaksa, ia hanya memperhatikan Monaliza yang beringsut dari tengah pembaringan menuju tepi tempat tidur dengan wajah yang meringis.
Leon langsung membalikan tubuhnya, ketika melihat noda darah pada sprei putih dimana Monaliza berbaring, hatinya semakin sakit, serasa ditusuk sembilu.
Walau sempat merasa heran, tanpa banyak berbicara Leon berbalik, dan langsung membopong tubuh Monaliza yang masih terbungkus selimut. Leon menatap wajah Monaliza yang terlihat kikuk dalam gendongannya, tidak mau memandang wajahnya.
"Apakah 'itu' terasa sangat sakit?" tanya Leon memberanikan diri. Monaliza mengangguk pelan, dirinya tetap tidak mau menatap wajah Leon yang terus memperhatikannya.
"Apa dia terlalu kasar padamu?" tanya Leon yang kembali merasa kesal dalam hatinya pada Dirga.
"Apa maksudmu Leon? Pertanyaan macam apa itu, seolah ada pria lain yang melakukannya padaku. Bukankah kau sendiri yang melakukannya, apa semudah itu kau melupakannya?" Monaliza memberi tatapan tajam pada Leon.
"Ahh, m-maafkan aku, aku salah bicara," ucap Leon meralat ucapannya. Ia menarik nafasnya dalam, ia tidak menyangka pertanyaan bodoh itu lolos begitu saja karena terlalu terbawa perasaan akan kekesalannya pada Dirga.
__ADS_1
Leon menurunkan Monaliza dari gendongannya setelah mereka berada didalam kamar mandi. "Panggil aku bila kau sudah selesai mandi," ucap Leon.
"Hmm," gumam Monaliza pelan. Ia memperhatikan sejenak Leon yang pergi meninggalkannya dan menutup pintu kamar mandi dengan rapat.
Leon buru-buru meraih ponselnya yang berdering diatas nakas. Ia memutar bola matanya ketika melihat siapa yang sedang menelponnya.
"Hallo Ma," sapa Leon sesaat setelah dirinya menempelkan ponselnya didaun telinganya.
"Jam berapa ini Leon? Kenapa kau belum juga sampai kekantor? Lima menit lagi meeting dengan dewan direksi dan pemegang saham akan dimulai." terdengar suara menggelegar nyonya Gamsonrich. Leon terpaksa menjauhkan sedikit ponsel itu dari daun telinganya.
"Maafkan Leon Ma, Leon tidak bisa hadir," ucap Leon datar dan terkesan tenang.
"Apa maksudmu Leon? Mama sedang tidak bercanda." suara nyonya Gamsonrich meninggi.
"Leon juga sedang tidak bercanda Ma, Leon sedang mengurus sesuatu yang penting," sahut Leon masih datar, ia masih berusaha tenang karena sedang berhadapan dengan ibunya, biar bagaimanapun juga, sebagai seorang anak ia harus tetap menghargai ibunya.
"Tidak ada yang lebih penting dari urusan perusahaan kita Leon. Jadi dalam lima menit, kau sudah harus berada diruang meeting." tegas nyonya Gamsonrich.
"Maafkan Leon Ma, Leon tidak bisa," sahut Leon tetap datar. Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Leon langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Matanya nyalang menatap noda darah pada sprei diatas tempat tidur yang telah ia lihat sebelumnya, amarahnya kembali bangkit. Dengan sekuat tenaga, Leon meninju kaca lemari pakaian yang ada didekatnya hingga hancur berkeping-keping dilantaii.
"Leon?! Suara apa itu?! Apakah kau baik-baik saja?!" teriak Monaliza dari dalam kamar mandi, nada suaranya terdengar khawatir.
"Aku, aku baik-baik saja!" sahut Leon ikut berteriak supaya suaranya terdengar oleh Monaliza. Ia segera menelpon seseorang dari ponselnya.
"Cepat, perintahkan beberapa orang kemari, untuk membereskan kekacauan didalam kamarku," perintah Leon dari ponselnya.
__ADS_1
"Baik tuan," sahut seseorang dari sambungan telepon.
...***...